Journey of Love


yona

Journey of Love by jeanitnut

Sebuah kisah tentang perjalanan antara Aku, Kamu dan Ampera.

For my long-distance-friendship Yona.

**

Ampera? Pernahkah kalian mendengarnya? Nama sebuah jembatan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Sering sekali orang menyebut-nyebut jembatan yang katanya memiliki keindahan yang luar biasa itu. Saat tengah malam, kita dapat menikmati gemerlap lampu hias disekeliling ampera.  Jembatan yang membentang di sungai Musi itu terlihat sangat indah di malam hari, cocok untuk berduaan dengan kekasih atau pun keluarga.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya saat Yona tengah berjalan-jalan di taman kompleks perumahannya, dia bertemu seorang gadis sebayanya yang ternyata adalah orang Indonesia. Gadis itu sempat berbincang-bincang dengannya sebentar di sebuah café. Gadis itu yang ternyata berasal dari kota Palembang menceritakan tentang jembatan Ampera. Dan itulah salah satu alasan yang membuatnya berdiri di sini sekarang, di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II.

Gadis itu melepas kacamata hitam dari matanya. Membetulkan posisi poni yang menutupi hampir sebagian wajahnya. Kemudian, berjalan ke luar gedung tersebut dan hendak memanggil taksi. Tangannya tengah membuka pintu taksi tersebut saat tak sengaja tangannya bersentuhan dengan tangan orang lain. Gadis itu pun segera menoleh dan mendengus kesal.

Mulutnya hendak mengeluarkan bermacam cacian untuk orang yang mengganggunya itu. Dia pun mendongak karena ternyata orang di sampingnya jauh lebih tinggi darinya. Mata bulatnya melotot sempurna, pemuda di sampingnya membuatnya membeku seketika. Tampan sekali.

“Apa yang kau lakukan?” bentaknya. Gadis itu telah kembali dari keterkejutannya.

Pemuda di sampingnya tak langsung menjawab. Pemuda itu tengah memamerkan sebuah senyum yang diyakininya akan membuat gadis-gadis langsung jatuh pingsan. Tetapi tidak untuk Yona Park. Gadis itu tidak sebodoh dan semelankolis gadis-gadis di luar sana.

“Aku yang lebih dulu melihat taksi ini. Jadi aku yang berhak menaikinya,” sahut pemuda itu.

“Hei Tuan. Jangan mentang-mentang kau laki-laki lalu kau bisa seenaknya. Kau pikir aku buta? Jelas-jelas aku yang menyetop taksi ini. Apa tidak lebih baik kau pergi memeriksakan matamu itu hah?” maki Yona. Gadis itu sudah terlalu lelah dengan penerbangannya, sekarang yang diinginkannya hanyalah mandi lalu tidur nyaman.

Namun sayangnya pemuda itu tak menyerah begitu saja. Tawa mengejeklah yang terdengar dari mulutnya. Membuat Yona semakin ingin memakannya utuh tanpa perlu direbus atau pun dipanggang.

“Hei Nona. Jaga bicaramu! Kau itu orang mana? Tidak pernah bersekolah? Kenapa nada bicaramu kasar sekali?” katanya sambil tersenyum.

“Brengsek!” maki Yona. Untung saja pemuda di hadapannya itu cukup tampan, kalau tidak mungkin sudah dia tendang sampai jatuh tergeletak ke aspal. “Terserah kau saja! Semoga kau SELAMAT sampai tujuan, Tuan!” ucapnya kasar sambil berlalu.

Pemuda itu hanya tersenyum samar. Menikmati sebuah hiburan kecil, cukup membuatnya senang.

*

Suasana di Novotel Palembang Hotel tengah ramai oleh pengunjung. Maklum saja, Novotel adalah salah satu hotel terbaik di Palembang. Hotel ini terletak di jantung pusat kota baru dan hanya lima belas menit dari Bandara Sultan Mahmud. Hotel ini memiliki 194 kamar tamu yang nyaman dengan desain yang indah, serta menawarkan fasilitas modern seperti TV satelit, mini bar dan kamar mandi luas dengan perlengkapan mandi.

Pemuda itu sedikit bernafas lega saat mendapati suhu udara di hotel itu. Setelah melewati perjalanan dari bandara –yang tidak terlalu lama memang- sudah membuatnya tidak nyaman. Suhu udara di Indonesia memang berbeda dengan Korea, negara asalnya.

Pemuda itu berjalan ke arah resepsionis. Sejenak mengeluarkan kartu pengenalnya dan sesaat gadis cantik yang berada di balik meja resepsionis itu tersenyum ke arahnya.

“Selamat datang, Tuan Aiden. Reservasi kamar anda nomor 123. Ini adalah kunci kamar anda. Jika anda membutuhkan bantuan, jangan segan-segan untuk menghubungi kami. Semoga tidur anda nyenyak malam ini,” kata resepsionis itu sopan. Aiden hanya mengangguk-angguk mengerti.

“Maaf nona, nama anda tidak terdaftar di hotel kami. Mungkin anda salah,” sebuah perdebatan kecil membuat Aiden menoleh. Pemuda itu hampir tak percaya. Di hadapannya, telah berdiri gadis yang ditemuinya di bandara tadi tengah berdebat dengan salah satu resepsionis.

Aiden merasa gadis itu membutuhkan bantuan. Mengingat gadis itu sudah merelakan taksi untuknya, dia harus membalas budi baiknya. “Permisi, ada masalah apa?” tanya Aiden sopan.

Aiden tidak terlalu memperthatikan reaksi yang ditunjukkan oleh gadis di sampingnya. Tapi sepertinya bola mata gadis itu nyaris keluar.

“Nona ini, dia bilang dia telah memesan kamar di sini. Tapi setelah kami cek, tidak ada orang Korea bernama Yona Park yang memesan kamar di hotel ini,” jelas resepsionis itu sopan dan lemah lembut. Berbeda sekali dengan ucapannya kepada Yona. Gadis itu hanya menggumam pelan, dalam hati dia mengutuk sahabatnya. Gadis itu tidak ikut campur mengurus masalah penginapan karena sahabatnyalah yang memesankannya.

“Kau orang Korea?” tanya Aiden. Pemuda itu menoleh ke arah gadis di sampingnya yang tengah menunduk memandang lantai dengan pandangan penuh kekesalan. Pemuda itu tersenyum tipis, merasa lucu melihat tingkah gadis di depannya.

“Ah iya,”

“Siapa nama koreamu? Mungkin saja reservasi di hotel ini memakai nama aslimu.”

“Yurin. Park Yurin,”

Aiden hanya mengangguk-angguk mengerti kemudian berbincang kembali dengan sang resepsionis. Beberapa detik kemudian senyum pun merekah dari bibirnya. Benar saja, ternyata reservasi hotel gadis itu memakai nama Koreanya.

“Kau baik juga. Terima kasih,” ucap Yona tulus.

Saat ini keduanya tengah berjalan beriringan. Aiden hanya tersenyum kecil dan berjalan ke kamarnya. “Bukan apa-apa, sebenarnya niatku sebenarnya adalah berkenalan dengan resepsionis tadi,” sahutnya ringan. Seketika Yona hanya melongo ditempatnya. Merutuk dalam hati atas ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya.

*

Pemandangan lampu kota yang terlihat dari atas memang indah sekali, jauh lebih indah dari bintang-bintang yang bersinar di atas sana. Lampu kerlap-kerlip serta sorot lampu mobil di jalanan menambah pesona kota Palembang di malam hari.

Yona tengah menyaksikan keindahan itu dari jendela kamarnya. Setelah berdebat tak bermutu dengan resepsionis tak-punya-sopan-santun beberapa menit lalu membuat moodnya benar-benar anjlok. Ditambah lagi, pemuda yang menolongnya itu ternyata tidak benar-benar berniat menolongnya, tetapi hanya menggunakan kesempatan saja. Sialan!

Gadis itu segera mengeluarkan isi kopernya dan memasukkannya ke dalam lemari. Mengambil selembar kertas dan berjalan ke arah tempat tidurnya. Sebuah peta kota Palembang tengah berada dalam genggamannya. Gadis itu tak berniat menyewa tour guide atau semacamnya.

“Kalau kita bertemu lagi, akan kubalas kau. Jaga ucapanmu Park Yurin jangan mudah percaya orang. Ingat itu! Ingat!” gumamnya pada diri sendiri.

Ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan yang amat sangat. Maklum saja, selama ini gadis itu tidak pernah dipermalukan seperti tadi. Sebenarnya dia tidak dipermalukan, hanya saja dia malu pada dirinya sendiri atas tindakannya dan perkataannya yang gegabah itu. Seharusnya dia sudah bisa menduga dari awal jika Aiden memang pemuda menyebalkan. Dan sekali menyebalkan, seterusnya akan tetap menyebalkan!

*

Suasana pagi yang sejuk menambah semangat Aiden untuk sekedar berjalan-jalan di sekeliling hotel. Setelah menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk mengistirahatkan matanya, keadaannya sudah jauh lebih baik. Awalnya, Aiden memang terpaksa mengunjungi kota itu karena tuntutan pekerjaan. Setidaknya pemuda itu tidak merasa menyesal telah datang ke kota ini. Dan sepertinya dia harus mesnyukuri pertemuannya dengan gadis itu, Yona Park.

Tas ransel tengah berada di punggungnya. Isi di dalamnya hanya dompet saja sebenarnya. Pemuda itu tak berniat berdiam diri di hotel, lebih baik dia berjalan-jalan menikmati liburannya dari pada tidur-tiduran.

Pemuda itu tengah mengamati sesosok gadis mungil yang tengah meregangkan otot-ototnya. Gadis itu mengenakan rok selutut berwarna biru dengan sebuah tas selempang kecil berwarna putih. Gadis itu sepertinya sadar jika sedang diamati karena sesaat dia menoleh ke arah Aiden.

Aiden tersenyum tipis dan berjalan ke arah gadis itu. Seketika rasa senang merayapi hatinya. Gadis itu seperti mainan untuknya. Berdebat dan membuatnya kesal mempunyai nilai kepuasaan tersendiri untuk Aiden.

“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Aiden basa-basi.

Yona hanya tersenyum mengejek, seolah-olah pertanyaan Aiden sudah sering diutarakannya untuk gadis-gadis lain. “Cih! Siapa dirimu sehingga menanyakan hal itu? Suamiku?” balas Yona.

“Oh sayang! Kenapa kau? Tamu bulanan?” balas Aiden menanggapi. Sepertinya tidak susah membuat gadis di depannya itu kesal. Senyum semakin merekah di bibirnya.

“Gila kau!” sahut Yona kesal dan berlalu pergi. Aiden tertawa puas mendapatkan sebuah hiburan menarik di pagi ini. Pemuda itu segera berjalan dan memberhentikan sebuah taksi. Taksi itu pun melaju dan membawanya ke sebuah restoran.

Beberapa menit kemudian pemuda itu telah selesai menikmati sarapan paginya dan bergegas untuk menikmati wisata di kota Palembang.

“Sial!” umpatnya pelan. Pemuda itu telah melupakan sesuatu. Bagaimana dia bisa berjalan-jalan dengan leluasa kalau dia sendiri buta jalan? Parahnya peta yang dibawanya tertinggal di hotel. Kalau dia kembali ke hotel, itu hanya akan membuang waktu saja.

Pemuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri, setengah berharap jika Yona Park juga tengah menikmati sarapan di restoran ini. Dan jika itu benar-benar terjadi dia akan menganggap jika pertemuannya dengan gadis itu memang sebuah takdir. Satu-satunya orang yang dikenalnya saat ini hanyalah gadis itu. Walau enggan meminta bantuan padanya, tapi itulah yang terbaik.

Harapannya terkabul. Tampak dua orang sedang menghabiskan sarapan di sudut restoran. Gadis itu bersama temannya mungkin, Aiden pun hanya bisa menduganya. Gadis yang duduk di sebelah Yona sepertinya adalah gadis asli Indonesia. Matanya bulat, rambutnya hitam bergelombang dan kulitnya tidak pucat seperti orang Korea pada umumnya.

Aiden segera berjalan ke arah mereka. Pandangan matanya bertemu dengan Yona saat berjarak kurang dari dua meter dari arah gadis itu. Merasa diabaikan Aiden pun mendekat dan menggeser sebuah kursi di samping Yona dan duduk di sana.

“Hallo, Yona! Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di sini,” sapa Aiden riang. Sedang gadis di sampingnya tetap acuh. Menganggap kehadiran Aiden hanyalah angin lalu.

“Kau teman Yona? Aku Aiden,” kata Aiden kepada gadis didepan Yona.

“Aku Jeany, senang bertemu denganmu. Kau teman Yona dari Korea?” tanya gadis itu.

“Ya, tentu saja,”

“Dia bukan temanku!”

Kedua ucapan itu berasal dari Aiden dan Yona. Keduanya mengucapkan secara bersama-sama dan mau tak mau membuat Jeany tertawa. Lucu sekali mereka ini, pikirnya.

“Oh baiklah. Sepertinya aku harus segera pergi, nanti aku akan menghubungimu Yona,” pamitnya. Yona hanya tersenyum dan melambaikan tangannya mengantar kepergian Jeany. Gadis itulah yang memperkenalkan Ampera padanya.

“Mau apa kau?” tanya Yona langsung pada Aiden. Nampak raut kesal masih terpancar di wajahnya.

Aiden menggeser tempat duduknya berganti menghadap ke arah Yona. Pemuda itu memberikan sebuah senyuman manis untuk gadis itu. Tapi nyatanya, senyuman manisnya dan berefek apapun pada gadis itu.

“Petaku hilang. Bisakah kita pergi jalan-jalan bersama?” usulnya. Berjalan-jalan dengan gadis itu sepertinya sangat menyenangkan. Itulah yang dipikirkan Aiden sejak tadi. Sepanjang hari dia akan terus tertawa puas saat melihat gadis itu kesal.

“Kencan maksudmu?” tanya Yona. Dahi gadis itu tampak menyernyit, tidak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut pemuda dihadapannya.

Aiden tidak menjawab. Tangannya telurur dan menggenggam tangan Yona lembut. Mata Yona nampak membelalak melihat perlakuan pemuda itu. “Tolong aku, sayang,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Seketika Yona tersadar dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Aiden. Harus dia akui, jika genggaman itu terasa hangat. Bahkan terlalu hangat. Tapi usahanya sia-sia saja karena kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Aiden. “Dasar sinting! Lepaskan tanganku!” bentaknya. Aiden hanya tertawa puas berhasil membuat gadis itu kesal, untuk kesekian kali.

*

Kaki jenjang gadis itu melangkah dengan langkah panjang-panjang. Bibirnya mengerucut tanda dia sedang kesal. Suara pemuda yang sedari tadi memanggilnya diabaikan begitu saja. Beberapa orang yang berjalan disekeliling sungai Musi pasti akan mengira jika mereka berdua adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar.

“Kau masih marah? Baiklah, aku minta maaf,” kata Aiden terengah-engah. Pemuda itu tidak menyangka jika gadis didepannya itu sangat kuat dalam berlari.

Yona tidak menanggapi ucapan Aiden. Gadis itu tengah mencari-cari tempat yang sekiranya bisa didudukinya untuk menikmati keindahan sungai Musi. Sebenarnya, keindahan sungai Musi akan terlihat lebih menakjubkan jika dilihat dari atas jembatan Ampera. Tapi kali ini, gadis itu ingin menikmati keindahan sungai Musi dengan menaiki Ketek.

Sebuah Ketek telah terparkir dihadapan gadis itu. Dia begitu antusias untuk menikmati sungai yang airnya sangat jernis itu menggunakan Ketek, mengingat dia pun belum pernah menaikinya. Merasa pemuda yang mengikutinya tadi hanya diam mematung, dia pun akhirnya angkat bicara.

“Kau mau ikut tidak?” tanyanya. Dia sudah berbaik hati menawarkan, awas saja kalau sampai pemuda itu kembali membuatnya kesal. Gadis itu tidak akan segan-segan untuk menendangnya.

Aiden segera beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan menghampiri gadis itu. Dia pun tak kalah antusias saat menaiki alat transportasi yang menurutnya aneh itu. “Kau memang baik, Yona,” katanya tulus.

Selama kurang lebih satu jam kedua anak manusia itu tengah larut dalam keindahan sungai Musi. Sungai itu memang sudah cukup terkenal, mengingat dulu merupakan salah satu sungai terpanjang di Asia Tenggara. Keduanya seolah seperti anak kecil yang terpukau melihat pemandangan yang menakjubkan. Berbagai macam ekspresi kekaguman terdengar dari bibir keduanya.

Setelah merasa puas berkeliling sungai Musi, keduanya memutuskan untuk beristirahat sejenak seraya menikmati teh asli Indonesia. Keduanya tengah duduk di sebuah batu didekat sungai. Yona sangat menikmati pemandangan yang terhampar di hadapannya. Begitupun Aiden, pemuda itu merasa seolah-olah segala permasalahan yang membelitnya terangkat begitu saja.

“Kau tidak ingin seperti mereka?” tanya Aiden memecah keheningan. Jari telunjuknya tengah menunjuk dua orang yang tengah duduk sambil saling menyuapi makan satu sama lain di bawah sebuah pohon yang-entah-apa-namanya.

“Apa?” tanya Yona bingung. Aiden hanya mengarahkan matanya supaya gadis itu melihat ke arah yang ditunjuknya. Demi Tuhan, seketika dia merasa mual dan ingin muntah. Bagaimana mungkin ada orang yang pamer kemesraan di depan umum seperti itu.

Merasa gadis di depannya tidak menyukai pemandangan itu, Aiden segera melancarkan aksinya untuk membuat gadis itu kesal. “Kau kenapa? Ingin seperti mereka? Aku bisa melakukannya,” kata Aiden ringan, tanpa dosa.

Yona mengepalkan tangannya seketika, berniat memukul pemuda dihadapannya itu jika berbuat macam-macam. Lama-lama kalau pemuda itu melakukan hal-hal tak terduga yang membuat jantungnya berpacu cepat akan berbahaya. “Jangan macam-macam Aiden!” ancamnya.

Aiden menampilkan wajah anak kecil tanpa dosa. Tangannya memegang pergelangan tangan Yona dan menurunkan kepalan tangannya. “Tenanglah, aku hanya bercanda!” katanya tenang.

Yona menurunkan kepalan tangannya. Mendorong bahu Aiden keras sehingga membuat pemuda itu sedikit mundur ke belakang. “Ini sama sekali tidak lucu, sayang! Kau tahu?” dengusnya.

Aiden hanya terkikik geli. Tawa kembali terdengar dari bibirnya. Sedang Yona hanya mendengus. Mengacuhkan pemuda yang tengah tertawa renyah disampingnya. Walau harus diakui, suara tawa itu begitu indah.

*

Sebuah kedai kecil yang terletak di pinggir sungai Musi itu tampak ramai dipenuhi pengunjung. Hampir seluruh kursi yang ada telah ditempati. Aiden segera mencari tempat duduk yang kosong dan memesan makanan.

Berbagai macam makanan khas Palembang ada disana. Berbagai jenis pindang menghiasi keragaman wisata kuliner di kedai itu. Ada pindang ikan, yang terdiri dari pindang ikan patin, ikan baung, dan ada juga pindang tulang.

“Kau pesan apa?” tanya Aiden pada Yona. Gadis itu tengah duduk di sebuah kursi dari bambu kuning yang memang disediakan di kedai itu.

“Terserah kau saja,” sahutnya pelan.

Aiden pun memutuskan untuk memesan ikan patin. Mereka menikmati makan siang ikan patin dengan nasi jagung. Makanan itu awalnya terasa agak aneh di lidah keduanya, tetapi setelah beberapa suapan mereka pun menikmatinya. Selain itu perut mereka pun memang harus di isi karena jam makan siang sudah lewat.

Keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju Benteng Kuto Besak. Benteng tersebut terletak tak jauh dari sungai Musi. Aiden pun segera mengabadikan pemandangan yang belum sempat diabadikannya karena terlalu asyik menikmati pemandangan yang tersaji.

“Aiden, tolong ambilkan foto untukku,” pinta Yona. Gadis itu menunjukkan ekspresi wajah memohon.

“Aku tidak mau!” tolak Aiden sambil berjalan ke depan. Yona hanya mendengus kesal dan menyusul Aiden. Sepanjang perjalanan, gadis itu terus memikirkan cara supaya dia bisa membuat Aiden menurut padanya.

Benteng Kuto Besak mempunya ukuran panjang 188,75 meter, lebar 183,75 meter dan tinggi 9,99 meter. Suatu kebanggaan sendiri bagi orang Palembang karena Benteng Kuto Besak merupakan satu-satunya benteng yang berdinding batu dan memenuhi syarat perbentengan yang dibangun atas biaya sendiri untuk keperluan pertahanan dari serangan Eropa dan tidak diberi nama pahlawan Eropa.

Setelah berkeliling bangunan tua itu akhirnya mereka pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Setelah memalui perdebatan panjang dengan Aiden tentunya, akhirnya mereka kembali ke hotel.

“Sampai jumpa besok,” kata Aiden. Yona seketika mengernyitkan dahinya. Sampai jumpa besok? Maksudnya?

“Sampai jumpa besok?” tanyanya.

“Besok kita kencan lagi, sayang,” sahut Aiden sambil mengedikkan matanya. Yona seketika mengepalkan tangannya hendak memukul pemuda itu kalau saja dia tidak segera melesat ke kamarnya. Yona masih mendengar tawa yang keluar dari bibir pemuda itu.

Aiden segera menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Sepertinya dia tidak salah memilih liburan di kota ini. Benarkah? Atau semua itu hanya sebuah alibi? Entahlah, semuanya masih belum kentara, masih terlihat samar-samar.

*

Gorden putih yang menutup kaca jendela sebuah hotel itu tengah berkibar di terpa angin. Sensasi angin sejuk yang masuk seketika membuat gadis yang tengah terbaring diatas tempat tidur itu beranjak dari tempatnya. Tangannya telentang menikmati udara sejuk yang didapatinya.

Setelah seharian menikmati kota Palembang, gadis itu terlalu lelah sampai-sampai saat matahari tengah berada di atasnya dia baru terbangun. Segera saja gadis itu beranjak untuk mandi.

Beberapa menit kemudian gadis itu telah siap dengan tas selempang yang selalu dibawanya. Berjalan ke luar dari ruangannya dan tak lupa mengunci pintunya. Gadis itu seketika memundurkan langkahnya saat mendapati seorang pemuda tampan tengah berdiri bersandar disamping pintunya.

“Apa yang kau lakukan?” kaget Yona.

“Menyapu,” jawabnya asal.

Yona segera membenahi posisinya dari keterkejutannya. “Hah?” gumamnya.

Aiden hanya mendengus kesal. “Tentu saja menemuimu, bodoh!” kata Aiden.

Dihina seperti itu oleh Aiden tentu saja membuat Yona kesal. Dengan sigap gadis itu menendang pergelangan kaki Aiden dengan keras sehingga pemuda itu sedikit merintih kesakitan. Untuk pertama kalinya, Yona merasa puas berhasil mengalahkan Aiden.

Ternyata Aiden benar-benar membuktikan ucapannya kemarin. Pemuda itu terus membuntuti Yona sampai gadis itu tiba di depan hotel. Dia memang berniat mengajak Yona jalan-jalan bersama. Saat akan memasuki taksi pun dengan cekatan Aiden ikut masuk ke dalam taksi tersebut. Membuat Yona diam tak berkutik dan hanya bisa mendengus kesal.

Taksi itu membawa mereka ke Museum Sultan Mahmud Badarudin II sesuai dengan tujuan Yona. sedang Aiden hanya mengikuti tanpa bisa protes apa-apa. Toh, dia sendiri kan yang memutuskan untuk mengikuti gadis itu?

Akan sangat disayangkan jika berlibur ke Palembang tidak mengunjungi museum ini. Museum ini terletak di dekat dan menghadap sungai Musi. Arsitekstur gedung bertingkat dua ini merupakan perpaduan antara pengaruh Eropa dan Palembang.

“Museum ini keren sekali,” kata Yona takjub. Sedari tadi gadis itu sibuk mengagumi arsitekstur bangunan museum itu.

“Kenakan-kanakan sekali,” sahut Aiden.

Yona seketika menoleh. “Kau iri? Sungguh, aku tidak menyangka Aiden,” balas Yona.

Aiden hanya terkikik kemudian menyusul Yona yang tengah berjalan menjauh. Beberapa saat kemudian pemuda itu menghentikan langkahnya. Tertegun menyaksikan pemandangan dihadapannya. Yona tengah tertawa riang menyaksikan sebuah lukisan yang terpajang rapi di dinding. Segera Aiden mengarahkan kamera yang dibawanya, mengabadikan momen langka itu. Entah sejak kapan pemuda itu merasa jika tawa gadis itu sangat indah. Dan melihatnya tertawa seperti itu, kenapa membuat getaran aneh di dadanya muncul?

*

Langit sudah mulai petang saat keduanya mulai berjalan ke Ampera. Penutup jalan-jalan mereka kali ini adalah Ampera. Jembatan yang sebenarnya menjadi alasan kenapa Yona bersedia berkunjung ke kota Palembang. Karena Amperalah gadis itu dapat mengenal sosok pemuda disampingnya itu. Segalanya masih samakah setelah dua hari yang mereka lewati? Aku tidak tahu.

Keduanya bersandar pada pagar pembatas besi jembatan. Yona tampak sangat terpukau menyaksikan pemandangan yang disuguhkan dihadapannya. Bagaimana aku bisa menjelaskan pemandangan itu? Tapi percayalah itu luar biasa.

Indahnya gemerlap lampu yang terdapat disekeliling jembatan itu menjadi salah satu factor yang menjadikan jembatan itu begitu memukau. Indahnya sungai Musi dari atas jembatan dapat kau lihat dan akan menjadi berpuluh kali lipat lebih indah.

“Kau suka?” tanya Aiden ragu. Suasana hati Yona sedang bagus malam ini dan dia tidak ingin menghancurkannya. Yona pun hanya mengangguk dan tersenyum senang.

Angin malam meniupkan anak rambut gadis itu. Aiden yang berada disamping gadis itu pun terkena kibaran anak rambut Yona. Refleks, tangan pemuda itu terulur dan mengacak-acak rambut gadis itu.

“Heh! Apa yang kau lakukan?” bentak Yona. Rambutnya sudah acak-acakan dan Aiden malah mengacak-acak rambutnya. Dengan segera Yona berjinjit dan menjitak kepala Aiden. Pemuda itu tak sadar karena tengah asyik mengabadikan indahnya Ampera.

Setelah berhasil menjitak kepala Aiden, Yona segera berlari mengikuti arah jembatan. Angin malam masih bertiup kencang dan mengibarkan rambut panjang gadis itu. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan Aiden.

Yona tampak terengah-engah sehingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak. Aiden yang berada lumayan jauh dibelakang Yona juga tampak mulai mendekat. Keduanya duduk berselonjor dengan nafas terengah-engah. Biarlah angin malam menemani kebisuan mereka.

*

Malam telah larut, dan perut keduanya telah memberontak meminta di isi. Akhirnya keduanya pun memutuskan untuk beranjak sejenak mencari pengganjal perut. Mereka memutukan untuk makan di sebuah café kecil yang terlihat gemerlap oleh lampu-lampu.

Suasana hati keduanya tengah diliputi perasaan gembira saat ini. Terbukti, senyum masih terus tersungging dari bibir keduanya. Tapi tetap saja hal tersebut tidak lantas membuat keduanya akur. Sesekali masih terdengar nada kesal keluar dari mulut Yona karena ulah Aiden. Pemuda itu memang telah memutuskan jika membuat Yona kesal adalah hobi barunya.

Setelah beberapa menit menghabiskan santapan malam mereka, akhirnya mereka kembali memutuskan untuk ke Ampera. Baik Yona maupun Aiden masih belum puas menikmati pemandangan di sana. Sebenarnya Yona yang memaksa, sedang Aiden dia ingin segera ke hotel untuk tidur.

“Ini sudah larut, kau bisa sakit,” kata Aiden.

“Kau peduli padaku? Aku terharu sekali, Aiden,” balas Yona.

Aiden mulai paham tentang watak gadis itu. Keras kepala. Dan mau tak mau akhirnya dia pun memutuskan untuk mengikuti Yona. Dia tidak mungkin kan setega itu membiarkan seorang gadis berjalan sendirian tengah malam seperti ini?

Malam ini adalah malam terakhir Yona bisa menikmati udara sejuk kota Palembang. Gadis itu memang tidak berencara untuk liburan panjang, dia harus kembali ke rutinitasnya semula. Kalau boleh jujur, dia bahkan ingin tinggal di sini lebih lama lagi. Ngomong-ngomong apakah Aiden sudah tahu jika besok pagi Yona akan kembali ke Korea? Sepertinya belum.

Yona pun sepertinya belum berniat memberitahu Aiden. Ingat! Pemuda itu bukan siapa-siapa. Dia hanyalah pemuda menyebalkan yang kadang membantunya. Hanya itulah posisi Aiden saat ini.

“Kau pulang kapan ke Korea?” tanya Aiden. Well, sepertinya Yona memang ditakdirkan untuk memberitahu Aiden tentang kepulangannya besok. Gadis itu pun menghembuskan nafas sejenak sebelum menjawab.

“Besok,” jawabnya. Suaranya terdengar sangat berat, seakan tak rela saat mengatakannya.

“Apa?” kaget Aiden. Pemuda itu sontak menoleh ke arah Yona. “Kau tidak betah di sini?” tanyanya lagi.

“Bukan begitu. Aku sudah harus kembali bekerja lusa,” jawab Yona.

Untuk beberapa saat hanya ada keheningan yang menyelimuti. Aiden tengah larut dalam pikirannya sendiri. Hatinya seketika kosong. Besok, dia tak akan bisa melihat raut kesal wajah gadis itu lagi.

“Ayo kita pulang!” ajak Yona seraya berdiri. Aiden pun menyusul Yona yang sudah mulai berjalan. Keduanya berjalan kaki menyusuri jalanan kota yang sudah mulai sepi.

“Terima kasih atas bantuanmu,” ucap Yona tulus. Aiden hanya menggumam pelan mendengarnya. Pemuda itu tengah berfikir keras apa yang akan dilakukannya. Dia tidak ingin mengalami hal yang bernama penyesalan.

Sesampainya di hotel keduanya saling berpisah. Yona tersenyum dan mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Aiden. Pemuda itu melangkah pergi, tapi sesaat memberhentikan langkahnya saat teringat sesuatu.

“Yona, penerbanganmu jam berapa?” tanyanya sambil tersenyum.

“Jam sembilan pagi. Kenapa? Kau tidak berniat mencuri tiketku kan?” sahut Yona asal. Tiba-tiba saja gadis itu merasa sisi lain dalam hatinya terasa kosong. Ada apa ini?

“Aku ini kaya, ingat itu!” balas Aiden setengah bercanda. Kemudian pemuda itu pun meneruskan langkahnya kembali ke kamar. Yona pun segera masuk ke kamarnya. Hatinya tengah dilanda kegundahan saat ini, dia pun akhirnya memilih untuk tidur.

*

Kira-kira pukul tujuh Yona sudah terbangun. Dengan cekatan dia mengemasi barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper besar miliknya. Sesekali terdengar umpatan pelan saat ada barang yang tertinggal padahal kopernya sudah terkunci.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit gadis itu keluar dari kamar. Menemui resepsionis untuk mengembalikan kunci kamar.

“Terima kasih sudah menginap di sini, Nona. Semoga perjalanan anda kembali ke Korea menyenangkan,” kata resepsionis itu sopan.

“Terima kasih,” sahutnya pelan. Sesaat matanya mengitari seluruh penjuru hotel. Berharap dia akan bertemu dengan pemuda itu. Walau bagaimanapun dia kan harus tetap berpamitan dengan Aiden. Aiden memang menyebalkan, tapi setidaknya pemuda itu telah banyak membantunya.

Sampai taksi yang dipesannya datang, ternyata Aiden tak muncul juga. Yona hanya bisa menghela nafas pasrah dan menaiki taksinya. Matanya menoleh sekali lagi, untuk yang terakhir kali ke hotel yang ditempatinya itu dari kaca jendela.

Ruang tunggu pagi ini tidak terlalu ramai seperti ketika gadis itu tiba di sana beberapa hari yang lalu. Dia tidak suka menunggu. Tapi apa boleh buat ternyata pemberangkatannya diundur selama setengah jam. Kalau tahu begini, lebih baik dia memutuskan untuk menemui Aiden dulu, pikirnya.

Empat puluh lima menit dihabiskannya dengan bermain game yang tersedia di handphonenya. Dia bahkan tak sadar jika ada seseorang dengan koperl besar ditangannya tengah mengamatinya. Sampai akhirnya terdengar bunyi tanda jika pesawat yang akan menuju ke Korea akan segera berangkat. Dia pun masuk dan duduk di bangku nomor lima dari depan. Gadis itu memilih tempat di dekat jendela agar dia bisa menikmati pemandangan yang tersaji.

Pikirannya kacau. Hatinya tiba-tiba saja menolak, seolah apa yang dilakukannya sekarang adalah salah. Tapi kenapa? Otaknya penuh dengan gambar pemuda itu, Aiden Lee. Apakah dia benar-benar telah jatuh hati pada pemuda itu? Menyebalkan!

Matanya serasa memanas. Dia harus segera mengalihkan pikirannya agar tidak memikirkan pemuda itu lagi. Lupakan, lupakan, lupakan! Katanya seolah menyemangati dirinya sendiri. Dia pun memandang lurus hamparan rumput serta bunga-bunga yang dilihatnya dari kaca jendela pesawat.

“Hallo, bisakah kau bergeser sedikit?” tanya sebuah suara dari sampingnya.

Yona tak berniat sama sekali untuk bergeser. Gadis itu hanya memanggap suara itu sebuah angin lalu.

“Nona, bisakah kau bergeser?” kata suara itu lagi.

Masih tetap sama. Pandangan Yona masih lurus ke depan dan tak berniat sama sekali untuk sekedar menoleh.

“Sayang, bisakah kau bergeser?” tanya suara itu lagi, kali ini lebih lembut. Disampingnya telah berdiri sesosok pemuda tampan.

Dengan segera Yona menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Lancang sekali dia! pikirnya. Gadis itu hendak mencaci-maki sang pemuda sebelum dia sadar kalau pemuda itu adalah Aiden. Kaget. Gadis itu terlalu kaget sehingga tak bereaksi apa-apa saat tangan Aiden menggenggam tangannya.

Sepersekian detik kemudian gadis itu kembali tersadar. Dengan memasang wajah angkuh dia pun mulai bergeser sesuai permintaan pemuda itu. Kepalanya sedikit pusing mendapati kemunculan tiba-tiba pemuda itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yona langsung. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal itu.

“Menyusulmu,” jawab Aiden ringan, masih dengan senyum yang terlukis di wajahnya.

“Aku sedang tidak berminat untuk bercanda Aiden,” sahut Yona kesal. Entah kenapa hatinya menjadi melonjak-lonjak girang saat mendapati pemuda itu tengah duduk nyaman di sampingnya.

“Aku tidak bercanda, sayang,” balas Aiden. Matanya menatap tajam ke arah Yona. Seolah memberitahu gadis itu jika dia memang sedang tidak bercanda. “Aku menyusulmu, kau masih belum paham?” lanjutnya.

Yona yang saat itu diliputi kebingungan hanya menggeleng. Kepalanya terasa pening. Hatinya melonjak-lonjak menunggu perkataan Aiden.

Aiden ingin sekali tertawa saat melihat wajah gadis didepannya. Belum pernah dia melihat ekspresi kebingungan yang begitu lucu. Dia pun kembali menggenggam tangan gadis itu. Kali ini tidak membiarkannya lepas begitu saja saat gadis itu mencoba untuk melepaskan.

“Aku tahu kau memang tidak pintar,” sahut Aiden asal. Masih ingin bermain-main dengan Yona sepertinya. Benar saja, hari ini pemuda itu belum melihat raut kekesalan dari wajah Yona.

“Kurang ajar kau! Lepaskan tanganku atau aku…akan…ehm…”

“Akan apa?” potong Aiden cepat. Sesaat ekpresi wajah pemuda itu menjadi serius. Wajahnya mendekat ke arah Yona. Sedang gadis itu tengah terbengong-bengong mendapati sikap pemuda itu. “I love you,” bisik Aiden tepat di telinga Yona.

Yona meneguk air ludahnya. Berbagai macam perasaan meliputinya. Tapi dalam hati dia pun akhirnya mengakui jika kekosongan hatinya beberapa menit lalu memang karena Aiden. Karena ternyata memang gadis itu telah jatuh cinta pada pemuda yang menemaninya dua hari ini.

Hal sama pun tengah dirasakan Aiden. Pemuda itu awalnya merasa jika membuat gadis itu kesal adalah hobinya. Tapi ternyata semua salah. Melihat raut kekesalan di wajah Yona adalah makanan pokok untuknya.

Aiden masih menyunggingkan senyum menawannya. Yona pun membalas senyum itu. “I love you, too,” balasnya. Tepat saat itulah pesawat lepas landas.

‘Selamat tinggal Ampera. Perjalanan selama dua hari ini, Journey of Love. Terima kasih untuk segalanya,’ kata Yona dan Aiden dalam hati.

**

Advertisements

6 comments

  1. AAAAAAAAAAAAAAA JEANY THANK YOU SO MUCCCCCCHHHHHHH!!!!!!!!!!! Sumpah Jen, gue gak bisa berenti senyum-senyum. Udah kayak orang gak waras gue sekarang. Sialan, Aiden bikin deg-degan abis! Dipanggil sayang gue woy! Sayang! Astaga! Gue udah gila gue udah gila. Ini keren banget Jen! Makasih banyak udah mau nyempetin waktu untuk bikin ff Hae-Rin gyahahaha. Great! 대박!!!! Two thumbs for you dear :’)))

    1. You are very welcome:-)
      Gue gak rela sebenarnya nulisnya, tapi ya mau gimana haha feelnya dapet nggak? Soalnya kan setting di Indo jadi agak gimana gitu hehe
      Thanks juga nyai udah comment^^

  2. Gini dong setting nya ngga harus di korea. Indonesia juga punya banyak tempat bagus ngga kalah sama luar negeri haha
    Keren jen ^^, gue suka kalo settingnya di indo 😀
    eh itu ada beberapa nama nya yang jadi donghae buka aiden hehe .-.
    Terus gue penasaran deh jeany, yona, aiden ngomongnya pake bahasa apa ya? :o*okeininggapenting wk
    Ditunggu cerita lain nya jeen =))

    1. Iya ma, gara-gara baca komentarnya penulis nih haha
      usul dong tempat yang bagus di Indo itu mana lagi-_-

      thanks koreksinya, ntar gue benerin deh. itu gue buatnya sehari doang wkwk
      thanks udah baca dan komen:-)

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s