Scandal: New Day, New Life and New Song


Title : Scandal: New Day, New Life and New Song

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Lee Sungmin

–          Kahi

–          Kim Hyoyeon

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : The Begining of Our Story

Dunia musik dan dunia tari tentu tak jauh beda. Kedua dunia itu sama-sama berasal dari dunia seni. Keduanya pun saling berkaitan satu sama lain. Letak perbedaannya mungkin hanya kepada minat penikmatnya saja. Penyuka musik mungkin akan lebih banyak dari pada penyuka tari. Tapi tetap tak dapat dipungkiri jika musik akan lebih lengkap dengan tari.

Im Yoona yang kini telah resmi menjadi kekasih seorang penyanyi pun dengan (sedikit) terpaksa mulai mempelajari dunia baru itu. Dia akan mulai melangkah ke kehidupan barunya. Jika dulu dia sudah memperlajari dunia tari, tentu tak kan sulit untuk mempelajari dunia musik bukan?

Kalian jangan berfikir jika Yoona ingin menjadi seorang penyanyi, karena itu salah besar. Gadis itu hanya mulai mempelajari bagaimana kehidupan seorang penyanyi. Dikenal dan dipuja ratusan orang diseluruh penjuru dunia tentu menjadi satu hal yang membanggakan. Dia pun ingin tahu bagaimana perasaan seorang Lee Donghae? Apakah dia mulai memiliki perasaan khusus untuk pemuda itu? Ah, sepertinya itu terlalu jauh.

Dengan membuka telinga lebar-lebar serta memfokuskan otaknya pada apa yang baru saja disampaikan oleh Sungmin, Yoona pun sedikit demi sedikit mulai memahami dunia Donghae. Sebagai seorang penari balet yang tidak begitu dikenal masyarakat, dia tentu tidak perlu pusing-pusing untuk memikirkan apa yang terjadi di luar sana.

“….kau harus bersabar menghadapi para penggemar Donghae. Terkadang mereka yang terlalu memujanya akan beranggapan seolah Donghae adalah miliknya. Mereka akan melakukan seagala cara, termasuk meneror, kepada siapapun gadis yang dekat dengan Donghae. Apalagi…”

Sungmin menggantungkan kalimatnya begitu saja, membuat Yoona penasaran. Gadis itu bisa melihat Sungmin tengah menatap Donghae yang duduk manis sambil membaca koran disampingnya. Pemuda itu nampak acuh saja.

“Apalagi?” tanya Yoona penasaran.

Sungmin tak langsung menjawab pertanyaan Yoona. Pemuda itu menghela nafas sejenak, raut khawatir tiba-tiba terlukis di wajahnya. “Apalagi Donghae mengatakan jika dia mencintaimu, walaupun itu hanya pura-pura,” kata Sungmin.

Yoona hanya merengut kesal. Benar saja, gadis itu bahkan hampir berteriak tak percaya saat dua hari yang lalu dalam konferensi pers pemuda itu mengatakan jika dia mencintai Yoona. Saat itu, gadis itu bisa merasakan hawa panas yang tiba-tiba merayapi dirinya. Tatapan membunuh dari para penggemar pemuda itu.

“Karena sebelumnya, Donghae tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Jadi sebelum hal yang tidak terduga terjadi, aku memberitahumu lebih dulu Yoona-ya,” kata Sungmin lagi.

“Kau tidak perlu khawatir, mereka tidak akan melakukan hal yang membahayakanmu,” kata Donghae tiba-tiba. Membuat Yoona dan Sungmin menoleh ke arahnya.

“Kau tidak pernah tahu bagaimana tatapan mata mereka padaku. Jangan meremehkan mereka Hae,” kata Yoona tegas. Gadis itu ingin sekali menerkam Donghae dan membuangnya ke laut. Pemuda itu selalu saja menganggap segalanya begitu mudah.

“Baiklah, sepertinya aku harus pulang dulu. Kelas mengajarku akan segera dimulai. Terima kasih Sungmin-ah atas pelajarannya,” kata Yoona seraya berdiri dari duduknya. Mengambil tas selempang yang tadi dibawanya dengan segera.

“Tunggu!” teriak Donghae saat Yoona mulai melangkahkan kakinya. Terpaksa, dia pun menoleh untuk menatap Donghae.

“Apa?” tanya Yoona malas.

“Kau tidak ada pertunjukan bulan ini?”

“Aku belum tahu,” jawabnya jujur. Rasanya gadis itu memang harus menari seharian untuk menjernihkan kepalanya. Mengembalikan semangat hidupnya yang mulai meredup.

“Kabari aku secepatnya,” kata Donghae lagi. Tanpa mengindahkan perkataan Donghae, Yoona pun berlalu menjauhi rumah pemuda itu.

*

Bermacam ekspresi terpancar dari wajah tampannya saat melihat sebuah artikel di internet yang tengah dibacanya. Setengah tak percaya melihat respon yang didapatinya. Awalnya, niat pemuda itu hanya ingin melihat bagaimana reaksi penggemarnya tentang hubungannya dengan Yoona. Tapi kali ini, dia malah mendapati sebuah kejutan kecil. Artikel berjudul ‘Mari Berantas Yoonabitch’ membuatnya benar-benar tercengang. Isi artikel itu kurang lebih ajakan para penggemarnya untuk membuat Donghae dan Yoona putus.

Donghae mengambil segelas air putih yang berada disamping mejanya. Membaca artikel itu membuatnya kehilangan begitu banyak energi. Tiba-tiba rasa takut menyelusup ke dalam hatinya tanpa dia memintanya. Apa yang dia khawatirkan?

“Mereka tidak mungkin setega itu,” gumamnya. Tangannya terulur hendak mengambil handphone yang tergeletak di sofa. Keinginan untuk menghubungi gadis itu tiba-tiba melintas di otaknya.

“Ada apa?” tanya suara diseberang saat sambungan telah tersambung.

“Kau tidak bisa berbasa-basi sedikit ya?”

“Aku sedang malas. Ada apa kau menghubungiku?”

Donghae berfikir sejenak. Matanya menatap layar laptop yang ada dihadapannya. Nafasnya tiba-tiba tercekat begitu saja. “Jangan lupa, sebentar lagi konserku,” katanya. Tidak mengatakan maksud sebenarnya. Dia masih berfikir jika itu hanyalah reaksi awal para penggemarnya saja, mereka tak akan benar-benar melakukannya. Tenangkan dirimu Lee Donghae!

“Aku tidak pikun Hae!” sahut Yoona. Tak sempat Donghae berkata, telepon telah terputus. Membuat Donghae lagi-lagi merengut kesal karena diabaikan gadis itu begitu saja.

Matanya kini beralih pada sebuah tas kecil yang ada disampingnya. Beberapa jam lalu, Kim Hyoyeon, salah satu desainer terkenal telah mengantarkan sebuah gaun yang dipesannya. Gaun yang dipersiapkannya untuk Yoona. Dia bahkan hampir lupa untuk memberikannya pada gadis itu.

“Pacarmu pasti akan sangat cantik sekali memakai gaun ini. Kau harus membayar mahal untuk itu,” kata Hyoyeon kala itu.

Segera dia menutup laptopnya asal dan menyambar kunci mobilnya sambil membawa tas kecil itu dalam genggamannya. Melajukan mobilnya menuju lokasi dimana kekasihnya telah berada. Perasaan cemas tiba-tiba menjalari tubuhnya sejak dia membaca sebuah artikel sampah itu.

Bersamaan dengan melajunya mobil pemuda itu, sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah itu. Sesosok gadis berkacamata hitam yang berada di dalam mobil itu hanya menatap rumah itu, tanpa berniat untu turun atau pun masuk ke dalamnya.

*

Anak kecil dengan paras yang masih menggemaskan itu berjejer rapi dengan rambut dikuncir satu ke atas. Menarik perhatian orang yang berlalu-lalang. Orang yang tanpa sengaja melihat mereka pun akan berhenti sejenak hanya untuk melihat pemandangan mengagumkan itu.

Yoona hendak memutar tubuhnya saat tak sengaja matanya menangkap sesosok pemuda yang baru saja keluar dari sebuah mobil yang begitu dikenalnya. Gadis itu segera menurunkan tangannya yang terangkat ke atas. Dengan cekatan mengambil sebuah sweater berwarna putih miliknya.

“Kakak keluar sebentar, kalian lanjutkan latihan sendiri,” pamitnya pada anak kecil dihadapannya.

Gadis itu mulai berjalan ke arah pemuda yang juga tengah berjalan ke arahnya. Senyum nampak tersungging di bibir pemuda itu, tapi tidak di bibir Yoona. Pemuda itu terlalu sering ditemuinya, lama-lama dia pun menjadi malas melihat rupa pemuda itu.

Sejujurnya pria itu memiliki wajah yang tampan, lekuk wajahnya begitu sempurna. Percayalah, jika setengah dari penggemarnya akan mengkaui jika awal mula mereka tertarik padanya adalah karena wajah tampannya.

“Kau sedang menari?” tanya Donghae basa-basi.

“Aku mengajar,” jawab Yoona malas. Gadis itu tak menatap Donghae saat berbicara. Matanya lebih memilih untuk menatap indahnya taman dengan bermacam-macam bunga yang tumbuh di sana.

“Ini,” kata Donghae seraya menyerahkan sebuah tas kecil yang tadi dibawanya. Yoona tak segera mengambil tas itu, dahinya mengernyit pertanda bahwa dia sedang bingung. “Gaun untukmu,” jelas Donghae.

Yoona segera meraih tas itu dan membukanya. Sebuah gaun selutut berwarna biru mudalah yang kini di dapatinya. Gaun itu simple dan sangat sesuai dengan selera Yoona.

“Kau perhatian sekali padaku Hae,” kata Yoona.

Donghae tertawa kecil menanggapi perkataan Yoona. “Sepertinya kau terlalu percaya diri sekali Im!” balas Donghae. “Baiklah, aku pergi,” pamitnya.

Yoona hanya tersenyum tipis dan berlalu pergi. Pikirannya tengah berkecamuk saat ini. Konser Donghae, jujur saja sejak semalam dia memikirkan masalah itu. Tiba-tiba saja dia merasa ketakutan, dia sendiri bahkan tak tahu apa yang sebenarnya dirasakannya kini.

Tatapan tajam para penggemar Donghae selalu melayang diotaknya, menghantuinya setiap detik. Dia pun menjadi berpikir bagaimana jika kelak Donghae menikah? Apakah penggemarnya akan tetap meneror istrinya? Atau yang lebih parah mereka akan membunuh istrinya? Ya Tuhan.

“….Aku sangat mencintainya….”

Perkataan yang begitu manis itulah yang menyebabkan beban semakin berat dipikul Yoona kini. Sebuah kebohongan besar yang semakin membuatnya menderita. Kini, ada rasa dimana dia menyesali keputusannya untuk membantu pemuda itu.

“Yoona, kau kenapa?” sebuah suara membuyarkan lamunan Yoona.

“Oh Miss Kahi, tidak ada apa-apa,” jawab Yoona cepat. Gadis itu segera menghilangkan bayangan-bayangan mengerikan yang mulai menghantuinya. Tiba-tiba saja dia pun mulai sadar jika dunia Donghae memang dunia yang sangat mengerikan.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Kahi lagi. Wanita itu segera berjalan ke ruangannya. Yoona pun mengikuti langkah kaki wanita muda yang dihormatinya itu.

“Ada sebuah tawaran untuk Nayarina. Seperti yang aku bilang, dengan adanya skandal antara kau dan Donghae, Nayarina akan lebih di kenal Yoona. Ini berkasnya, kau bisa membacanya dulu,” kata Kahi setelah keduanya tiba di sebuah ruangan yang cukup besar. Yoona menimang-nimang kertas yang disodorkan wanita di depannya.

“Pikirkanlah baik-baik, jangan sampai kau menyesal nantinya,” nasihatnya.

Yoona pun hanya mengangguk dan mulai berjalan pergi. otaknya benar-benar ingin meledak saat ini. Beberapa hari yang lalu, dia memang sangat ingin menari. Tetapi dengan menari di depan umum seperti ini, apakah dia siap dengan kondisi mentalnya yang sedang buruk seperti ini?

*

Hari yang sangat panjang dan panas. Udara kota Seoul nampaknya benar-benar tidak bersahabat untuk mereka yang tengah berada di luar ruangan. Keringat membanjiri para pedagang kaki yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar.

Donghae menghapus peluh yang menetes di dahinya. Setelah lima jam dia mempersiapkan segala sesuatu untuk kesempurnaan konsernya, lelah didapatinya. Pemuda itu tahu jika konser sempurna seperti yang diharapkannya mungkin akan susah, tapi tidak ada salahnya kah jika dia berusaha memberikan yang terbaik untuk para penggemarnya?

Setelah mendapati sebuah kejutan dengan skandal yang diciptakannya, dia yakin betul jika penggemarnya sebagian besar merasa kecewa padanya. Maka, dia pun akan berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka. Menghilangkan anggapan buruk mereka tentang hubungannya dengan Yoona. Dan berarti secara samar dia ingin melindungi gadis itu? Entahlah.

“Kau sudah melihatnya bukan?” tanya Sungmin. Tak butuh waktu lama Donghae pun paham apa maksud perkataan managernya itu. “Hidupmu tak akan sama seperti dulu lagi. Aku kira mereka akan lebih mengerikan Hae. Berhati-hatilah!”

“Aku tahu. Semoga itu hanya reaksi keterkejutan mereka saja,” balas Donghae.

“Lindungi Yoona. Jangan sampai kau melibatkan dia dalam masalah yang lebih sulit lagi. Kau harus bersyukur karena dia mau menolongmu,” lanjut Sungmin sambil berlalu.

Entah hanya perasaannya saja atau memang benar, dia merasa jika Sungmin sangat ingin melindungi Yoona. Donghae hanya diam. Memikirkan perkataan Sungmin dengan baik-baik. Tentu saja, dia memang harus melindungi gadis itu. Dia tak kan membiarkan orang lain tersakiti lagi hanya karena dirinya. Memang benar, dia tidak memiliki perasaan apapun pada gadis itu. Mungkin belum. Tapi dia merasa bertanggung jawab pada gadis itu. Semata-mata karena dia telah bersedia menolongnya.

“Donghae-ya, Henry menunggumu di ruang tunggu,” teriak salah satu rekan Donghae. Segera dia beranjak pergi dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.

“Hallo sepupu. Bagaimana kabarmu?” kata Donghae seraya memeluk pemuda tampan dihadapannya. Henry Lau, sepupu Donghae yang menetap di Australia untuk menuntut ilmu di sana. Donghae mengundang secara khusus sepupunya itu untuk menghadiri konser tunggal pertamanya.

“Kau sangat terkenal Hyung,” balas Henry.

“Benarkah? Apakah kau juga salah satu penggemarku?” tanya Donghae dengan raut wajah antusias. Sedang pemuda didepannya hanya tertawa kecil. Sesaat kemudian raut wajah serius kembali terlihat di wajah tampannya.

“Ada apa Hyung?” tanya Henry segera. Pemuda itu yang sudah mengenal Donghae selama puluhan tahun tentu saja sudah hapal betul gelagat sepupunya itu. Donghae bukanlah orang yang tanpa maksud mengundangnya jauh-jauh untuk sekedar menonton konsernya. Toh, dia kan tetap bisa menyaksikannya lewat televisi.

“Kau sangat mengenalku Henry,” sahut Donghae sambil tersenyum. Tak merasa heran jika sepupunya itu bisa langsung menebak apa maksud tersirat dari apa yang dilakukannya.

“Aku ingin kau melakukan dua hal untukku. Kau bersedia kan?” tanya Donghae dengan wajah memohon. Dia tak kan berpura-pura jika sudah berada di hadapan sepupunya itu. Hanya dengan Henrylah dia bisa dengan leluasa mengungkapkan perasaannya tanpa ragu-ragu. Sayang sekali karena pemuda itu memilih melanjutkan pendidikannya di Australia.

“Apa imbalan yang akan kau berikan untukku?”

“Biola yang kau inginkan,”

“Deal!”

Keduanya pun saling tersenyum lebar dan berjabat tangan. Donghae hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sepupunya itu. Pemuda itu tak menyesal karena telah memanggil Henry karena yang bisa menolongnya saat ini hanyalah pemuda itu. Dan dia percaya sepenuhnya pada pemuda itu.

*

Gadis itu hanya bisa mengumpat pelan, menyesali apa yang menimpanya. Dengan sangat terpaksa dia masuk ke dalam sebuah bus untuk pergi ke gedung tari dikarenakan ban mobilnya yang tiba-tiba bocor. Dia pun tak mungkin menunggu mobilnya hingga diperbaiki mengingat jam telah menunjukkan pukul sepuluh, sedang pagi ini dia mengajar pukul setengah sebelas.

Yoona melangkah dengan pelan menaiki sebuah bus kota yang dirasanya cukup sepi sehingga dia tak perlu berdesak-desakkan dengan para penumpang lainnya. Gadis itu duduk di bangku nomor tiga dari depan, sendirian.

Selama beberapa menit perjalanan suasana tampak begitu sepi. Yoona masih menundukkan kepalanya, tak berani mengangkatnya. Takut-takut jika dia bertemu dengan penggemar Donghae dan mereka mengenalinya. Oke, mungkin kalian sudah berfikir jika dia sudah paranoid.

“Yoonabitch!”

Sebuah kata itu kontan membuat Yoona meneguk air ludahnya. Dengan hati-hati dia menengok ke samping dimana di sana duduk dua gadis sebayanya yang tengah memegang sebuah majalah yang bersampul fotonya dengan Donghae.

“Kalau aku bertemu dengannya, aku akan mencakar wajahnya sampai hancur,” kata gadis disamping Yoona (lagi). Kembali, Yoona hanya bisa meneguk air ludahnya. Segera, dia mengeluarkan sebuah topi yang telah dipersiapkannya dari rumah. Hei, gadis itu sudah mulai memahami hidup barunya kini.

Yoona bernafas lega saat akhirnya dia bisa turun di halte dekat dengan gedung tarinya. Dengan setengah berlari dia melesat menuju gedung itu. Nafasnya begitu tersengal-sengal sesampainya di dalam gedung. Kahi pun yang melihat raut pucat di wajah gadis itu segera menghampirinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kahi sesampainya di hadapan Yoona. Wanita muda itu menyodorkan sebotol air putih ke hadapan Yoona. Segera Yoona meneguknya dan menghirup udara dalam-dalam.

“Ya, aku baik-baik saja Miss,” jawab Yoona akhirnya.

“Kau tidak baik-baik saja Yoona,” kata Kahi. Wanita itu sudah cukup lama mengenal Yoona, dan dia pun sudah paham dengan gelagat yang ditunjukkan gadis cantik itu.

Yoona hanya menghela nafas berat. Dia memang tidak bisa berbohong, apalagi dihadapan wanita yang kini berdiri dihadapannya. “Aku bertemu penggemar Donghae. Kau pasti bisa menebak apa yang terjadi Miss,” jawab Yoona pelan.

Kahi hanya menghela nafas sejenak lalu duduk disamping gadis itu. “Hidup ini penuh pilihan Yoona. Sejak kecil, kita sudah dihadapkan dengan berbagai pilihan yang akan sangat menentukan kemana langkah kita selanjutnya. Kita memilih apakah kita mau belajar atau bermalas-malasan, memilih untuk patuh kepada kedua orang tua kita atau membangkang mereka, memilih untuk jujur atau bohong dan sebagainya,”

“Seperti sekarang ini, kau telah memilih untuk menjadi seorang penari balet. Semakin dewasa, kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang semakin sulit dan kompleks. Beberapa orang mengira jika garis hidupnya berjalan tanpa pilihan, tapi mereka salah. Karena sesungguhnya hidup mereka penuh dengan pilihan setiap harinya,”

Yoona mendengar dengan seksama apa yang tengah diucapkan wanita didepannya. Memahami kata demi kata yang terlontar dari bibirnya. Dia merasa bahagia mendapatkan nasihat saat hatinya tengah dilanda kebingungan seperti ini. Walau Ibunya tak bisa memberikan masukan untuknya, setidaknya ada orang yang bersedia mendengar keluh kesahnya. Biasanya, dia akan mengungkapkan ceritanya dihadapan Jessica. Ngomong-ngomong, dimanakah gadis itu kini?

“Meski sebagian orang menjalani hidup dengan paksaan, sadar atau tidak sebenarnya kita bisa memilih apa yang hendak kita putuskan setiap saat. Dan setiap keputusan yang kita ambil akan berdampak pada masa depan kita, bahkan orang disekeliling kita juga. Untuk itu kita perlu mempertimbangkan secara matang untuk mengambil setiap langkah karena memutuskan sebuah pilihan bukanlah perkara mudah,”

“Kau benar Miss,”

“Dan jika kita sudah memutuskan suatu pilihan itu, kita harus mempertanggungjawabkannya apapun yang terjadi, baik atau pun buruk dampak pilihan itu. Kau mengerti kan?”

Yoona tersenyum tulus menatap wanita dihadapannya. Benar-benar bersyukur telah mengenal wanita itu. “Aku sudah memutuskan untuk membantunya. Tuhan juga telah membuka jalan untukku agar bisa menunjukkan pada ‘mereka’ bahwa aku bisa berdiri di sini.”

“Oke. Sepertinya suasana hatimu tidak seburuk tadi. Silahkan lanjutkan mengajarmu,” kata Kahi sambil mulai bangun dari posisinya. Yoona pun ikut bangun berdiri.

“Terima kasih Miss,” katanya tulus sebelum Kahi benar-benar menghilang dari pandangannya. Sebuah nasihat yang sangat bermakna untuknya. Dia tak ingin menyesali skandal yang telah dibuat Donghae. Dia akan menganggap jika hal itu adalah suatu petunjuk untuknya.

*

Sebuah ruang yang luasnya kira-kira 5m x 5m itu nampak sangat berantakan. Berbagai buku tergeletak tak beraturan di lantai. Sebuah computer dengan peralatan lengkap seperti koneksi internet, sound dan microfon telah tersedia di sana.

Kedua pemuda itu sibuk mengamati sebuah foto seorang gadis manis di tangan Donghae. Tanpa sadar pemuda itu menahan nafas saat melihat foto gadis di layar itu. Perasaan rindu yang mendalam kembali merayapinya.

“Seminggu yang lalu Sungmin melihatnya,” kata Donghae tiba-tiba..

“Lalu?”

“Kau sudah tahu tentang skandal yang sedang menimpa sepupumu ini kan?”

Henry hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Berusaha mencerna dengan cepat apa maksud ucapan sepupunya itu. “Kau dan Sungmin pasti akan sangat sibuk,” kata Henry.

“Dan karena itulah aku meminta bantuanmu. Aku tidak ingin kehilangan jejaknya lagi. Aku tidak ingin orang lain tahu tentang dia, terutama Lee Sooman. Pria itu sudah cukup pusing memikirkan masalah yang aku buat. Aku percayakan masalah ini padamu.”

Henry kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Kali ini, dia sudah paham betul tentang maksud sebenarnya sepupunya itu memanggilnya. Segera Henry menepuk pundak Donghae, bermaksud memberikan semangat untuk pemuda itu.

“Berapa lama kau libur?” tanya Donghae akhirnya. Salah satu alasan Henry dengan senang hati bersedia kembali ke Korea karena pemuda itu memang tengah libur.

“Dua minggu,” katanya singkat. Mata Donghae melotot mendapati jawaban sepupunya itu.

“Apa?” teriak Donghae. Henry yang hanya berjarak beberapa meter dari pemuda itu segera menutup telinganya.

*

Teknik tari balet bisa dibilang lumayan rumit. Belajar menari tarian itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar, tidak menutup kemungkinan jika kita bisa menjadi seorang ballerina yang hebat. Satu hal yang terpenting adalah kemauan.

Seperti halnya Im Yoona, balet adalah jiwanya. Tak mudah perjuangan gadis itu untuk mencapai posisinya sekarang ini. Bukankah ada peribahasa: raihlah mimpi sampai ke negeri China? Seperti halnya gadis itu, dia belum merasa puas dengan apa yang dicapainya kini.

Dia mengingat jelas nasihat yang didapatinya dari Kahi, seolah perkataan wanita itu terus terngiang di pikirannya. Selama dua puluh dua tahun dia hidup di dunia ini, tak pernah dia mendapatkan nasihat berharga seperti itu, sekalipun dari kedua orang tuanya,

“Kakak, kenapa kakak pintar sekali menari?” tanya salah satu anak didik Yoona.

Yoona hanya tersenyum tipis menanggapinya. Gadis itu seketika mencondongkan tubuhnya, mensejajarkan tubuhnya dengan anak itu. “Karena kakak belajar,” jawabnya.

“Kakak belajar dari Ibu kakak?” tanyanya lagi. Raut wajah Yoona seketika berubah mendung. Mendengar kata ‘Ibu’ membuatnya kehabisan nafas seketika. Matanya menjadi panas, ingin mengeluarkan cairan yang paling dibenci Yoona.

“Tidak,” katanya singkat sambil membenahi posisinya. “Kalian lanjutkan saja latihannya,” lanjutnya. Tak ada yang tahu jika gadis itu tengah berusaha menutupi kesedihannya. Sebuah rahasia yang disimpannya selama bertahun-tahun pun terjaga aman dalam dirinya. Tak ada yang tahu, bahkan sampai saat ini…

*

Konser yang ditunggu-tunggu beribu gadis di penjuru Korea Selatan akhirnya tiba. Tiket yang dijual dengan cukup mahal itu tak menyurutkan sedikit pun minat para Elfishy sebutan penggemar Donghae. Benar saja, uang bukan seagalanya untuk mereka. Apapun untuk sang idola, tentu akan mereka lakukan.

Donghae nampak begitu gusar saat mendapati deretan bangku khusus yang telah disediakannya belum berpenghuni. Dua orang yang ditunggunya tak kunjung tiba, padahal konsernya sepuluh menit lagi akan dimulai.

“Apa yang dilakukan gadis itu sebenarnya?” gumamnya. Melirik sekilas sebuah jam tangan yang terpasang rapi di pergelangan tangannya. Dia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Im Yoona.

Pemuda itu hendak menghubungi seseorang saat akhirnya dia melihat dua orang berjalan dengan kawalan beberapa bodyguard yang disewanya. Nampak sang gadis masih menundukkan wajahnya sambil berjalan. Sedang pemuda di depannya hanya berjalan lurus sambil sesekali mengucapkan sesuatu saat para penggemarnya berteriak-teriak.

Donghae akhirnya bisa bernafas lega saat kedua orang itu duduk manis di bangku yang telah sengaja disediakan untuk mereka. Gadis itu pun tak lagi menunduk seperti tadi, kini dia mulai menegakkan tubuhnya. Sesaat matanya saling beradu dengan mata Donghae, sebelum akhirnya gadis itu beralih menatap lurus ke depan.

“Sial!” umpat Donghae. Lagi-lagi Donghae menyesali kenapa gadis itu bisa secantik ini. Terang saja, gaun rajutan desainer terkenal itu menambah pesona yang ditujukan gadis itu. “Aku akan membunuhmu Kim Hyoyeon!”

Donghae mulai melangkah menaiki panggung seiring dengan teriakan namanya yang menggema diseluruh ruangan. Pemuda itu hanya tersenyum manis melihat para penggemarnya saling berteriak memanggil-manggil namanya.

Konser pun di mulai. Pemuda itu menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri, Just Like Now. Dengan memakai sebuah bangku untuknya menyanyi ditengah panggung, memberikan kesan yang begitu menonjol akan sosok Lee Donghae. Di akhir lagu, dia bangkit berdiri seraya mengambil mawar merah yang tergeletak dikursi sebelahnya.

Donghae mulai berjalan ke setiap sudut panggung dan melemparkan tangkai demi tangkai mawar dalam genggamannya secara acak kepada para penggemarnya. Yoona yang menatapnya hanya tersenyum kecil, tak heran jika pemuda itu dicap sebagai ‘playboy’. Dia pandai merayu.

Sampai akhir lagu selesai, ternyata Donghae tak memberikan satu tangkai mawar pun untuk Yoona. Diam-diam gadis itu akhirnya bisa bernafas lega. Dia benar-benar tak ingin membuat penggemar Donghae kecewa dan bertambah membencinya.

Lagu kedua adalah My Everything, dia menyanyikannya dengan penuh penghayatan. Melalui lagu ini pula, Yoona mengakui jika pemuda itu tidak terlalu buruk dalam berbahasa Inggris. Disusul lagu ketiga, yaitu This is Love. Sebuah lagu mandarin yang belum diketahui oleh para penggemarnya. Di lagu ketiga ini Donghae mengajak sepupunya Henry untuk tampil di atas panggung.

Kehadiran Henry tentu saja membuat suasana menjadi bertambah panas. Sosok pemuda tampan yang tak pernah diketahui sebelumnya itu ternyata merupakan partner Lee Donghae. Pemuda itu dengan terpaksa karena iming-iming sebuah biola dari Donghae akhirnya menyetujui permintaan sepupunya itu.

Lagu ke empat sampai ke delapan tidak terlalu membuat penonton terkejut. Donghae menyanyikan lagu di albumnya. Sesekali dia pun melirik ke arah Yoona yang dilihatnya tengah melamun. Entah apa yang dipikirkannya.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, menyisakkan dua lagu saja yang belum dinyanyikan Donghae. Semua orang tengah menantikan lagu yang baru saja diciptakan oleh Donghae dan dikabarkan akan menjadi track list di album keduanya. Dua lagu baru yang diciptakannya beberapa bulan lalu, dua lagu yang tengah dinantikan seluruh isi gedung.

Sebuah lagu dengan melodi dan lirik yang sangat indah. Ah, semua orang juga mengakui jika pemuda itu memang sangat berbakat dibidang musik. Dengan tempo R&B, sebuah lagu ballad itu begitu indah untuk dinikmati.

Yoona pun yang sedang melamun akhirnya menatap pemuda itu. Mendengar intro lagunya saja, dia sudah tertarik dengan lagunya. Maka, dia pun mengikuti dan menyimak setiap kata yang terlontar dari bibir Donghae. Sesaat, gadis itu benar-benar tersihir dengan lagu yang bahkan dia sendiri tak tahu judulnya.

“Lagu yang baru saja aku nyanyikan berjudul ‘Y’. Liriknya menceritakan tentang pengalaman kisah cintaku. Aku harap kalian akan menyukainya.”

Saat lagu berakhir, akhirnya Donghae pun menyampaikan tentang lagu barunya itu. Membuat semua orang bertanya-tanya. Bahkan para penggemarnya saling berteriak. Mereka menduga-menduga apa maksud lagu ‘Y’. Satu huruf itu tentu menyimpan sebuah rahasia.

“Y? YOONA?”

Teriakan salah satu penggemar itu kontan menjadikan suasana semakin panas. Yoona yang sejak tadi menyimak dengan seksama selama Donghae menyanyikannya pun paham benar jika dugaan penggemar Donghae tentu saja salah. Gadis itu menatap Donghae yang saat ini hanya tersenyum penuh misteri, tanpa memberikan penjelasan apapun.

Suasana yang begitu gaduh itu kembali hening saat akhirnya terdengar intro musik. Ada beberapa diantara ratusan penonton yang hadir menitikkan air mata mengingat itu adalah lagu terakhir yang akan dinyanyikan Donghae.

You’re like complete and beautiful

I just can’t  be without you girl

You’re like complete and beautiful

I just can’t be without you girl

Sebuah kalimat yang tentu saja akan membuat siapapun yang mendengarnya serasa diatas awan. Begitupun para penggemar Donghae yang begitu antusias menikmati suara lembut pemuda tampan itu.

Thinking of the first time we meet

Sweet smile, sweet talk, cold hand

Everyday thinking of you

Nothing i can do (Going Crazy)

Suasana semakin hening, seakan mereka semua tengah hanyut dalam lagu yang dinyanyikan pemuda itu. Donghae pun mulai berjalan ke arah bangku penonton. Pemuda itu berjalan menghampiri kekasihnya. Menggenggam tangannya dan menuntunnya untuk naik ke atas panggung. Yoona yang masih setengah terkejut hanya bisa menurut.

You are always on my mind

Just like a fool admiring you

Be with you forever

I will protect you, i love you.. oh love

Donghae menyanyikan lagu itu dengan menatap gadis cantik yang berdiri mematung disampingnya. Asal tahu saja, jika ratusan gadis yang sedang mendengus kesal itu saat ini begitu ingin melenyapkan Im Yoona.

Cause you are so beautiful

Breath on your lips.. let me say i love you oh

Cause you are so beautiful

just be with me ( you are belong to me)

my beautiful my beautiful oh—oh

Kejadian itu begitu cepat sampai-sampai mereka yang tengah duduk menikmati tak menyadari. Donghae kini memeluk Yoona, kemeja belakang yang dikenakannya penuh dengan bercak-bercak merah seperti darah.

Yoona masih syok dengan apa yang didapatinya. Penonton pun tak kalah syok melihat kemeja Donghae kini berlumuran darah. Tanpa mereka sadari, seorang gadis cantik tengah menatap kedua orang yang berada di atas panggung itu dengan tatapan membunuh.

**

Next : The Return of The Past

Leave your comment, please. I’d be very happy:-)

19 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s