Scandal: The Return of The Past


Title : Scandal: The Return of The Past

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Lee Sungmin

–          Choi Jinri (Sulli)

–          Henry Lau

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : New Day, New Life and New Song

“….konser penyanyi muda Lee Donghae berakhir dengan tetesan darah menjadi topic paling diminati kali ini. Diduga pelakunya adalah penggemar pemuda itu yang memang ingin melukai Im Yoona, kekasih Lee Donghae. Sampai sekarang belum ada konfirmasi dari pihak managemen atau pun Donghae sendiri…”

Lee Sooman menatap reaksi pemuda yang kini duduk dihadapannya dengan pandangan mata yang masih menatap layar televisi yang baru saja dia matikan. Tatapan mata pemuda itu begitu tajam, membuat pria paruh baya itu hanya bisa menghela nafas.

“Kau tahu sendiri kan resikonya?” tanyanya, suara berat pria paruh baya itu memecah keheningan.

Donghae tak bereaksi apa-apa. Pemuda itu masih termenung, kilasan memori akan kejadian tadi malam membayanginya secara terus-menerus tanpa jeda. Tangannya masih tak bergerak, menopang dagunya sedari tadi.

Kedengarannya, konsernya semalam terlihat begitu menyeramkan. Mungkin ada yang berpikir jika tetesan darah itu akibat dari aksi pembunuhan, tapi bukan. Itu hanyalah sebuah bentuk teror dengan menggunakan darah. Penggemar Donghae tersebut cukup kaya karena dia menggunakan darah manusia sungguhan.

“Aku tahu,” sahutnya. Lantas, dia pun bangkit berdiri dan melenggang pergi begitu saja. Sooman yang sudah mengenal pemuda itu hanya bisa menatap pasrah.

“Akan banyak hati yang terluka,” gumamnya.

*

Matahari sudah berada di atas awan, tapi sebuah kamar di salah satu rumah mewah itu tampak masih gelap. Gorden yang menutupi jendela kamar itu pun masih belum terbuka sedikit pun. Padahal, di luar kamar itu suasana sangat gaduh.

Beberapa pelayan nampak berkumpul di depan televisi untuk mendengar berita yang cukup membuat mereka syok. sebuah berita menggemparkan tentang nona mudanya. Seperti kebanyakan gadis lainnya, ketika mereka berkumpul apa yang dilakukan? Bergosip. Benar sekali. Walau mereka seorang pelayan, tetapi mereka tetap manusia biasa bukan?

“Ya Tuhan aku benar-benar tak menyangka!”

“Non Yoona kasian sekali,”

“Salah dia kenapa mau berpacaran dengan artis,”

“Jaga bicaramu!”

Sayup-sayup Yoona yang berada di kamarnya masih mendengar obrolan para pelayannya itu. Gadis itu membuka mata sejenak dengan posisi masih telentang di atas kasur, berbalut selimut yang menutupi tubuhnya.

Asap mengepul keluar dari hidungnya saat helaan nafas berat terdengar. Tak menyangka jika kejadian semalam memang bukan mimpi. Dia benar-benar berharap jika kejadian itu hanyalah sebuah mimpi buruk untuknya.

Selama ini, dia hanya mendengar isu-isu yang mengatakan jika seorang penggemar bisa menjadi sangat menyeramkan. Tapi kini dia tahu apa yang mereka bicarakan itu memang kenyataan. Mereka tidak akan segan-segan melakukan teror yang menakutkan.

Dengan sedikit enggan Yoona pun bangun untuk sekedar mencuci mukanya. Sejak semalam, dia bahkan tidak menyentuh makanan sedikitpun. Dirinya terlalu lelah menghadapi semua yang menimpanya.

Gadis itu baru saja beranjak keluar kamar mandi saat handphone dalam tas selempangnya berbunyi.

“Hallo,”

“Kau baik-baik saja?” tanya suara diseberang sana yang sudah Yoona sangat hapal.

“Aku baik-baik saja Hae,”

“Baguslah.”

Tanpa minat untuk melanjutkan percakapan, dia segera menutup sambungan terlebih dulu. Tak memperdulikan jika Donghae tengah mengumpatinya sekalipun. Gadis itu segera mengganti pakaiannya dan berjalan keluar. Samar-samar gadis itu tersenyum. Ternyata, Lee Donghae tidak seburuk yang dia kira.

Para pelayan yang tengah asyik bergosip itu pun segera pergi, kembali ke rutinitas mereka semula. Yoona yang menyaksikan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Gadis itu melangkah menuju ruang makan untuk menikmati sarapan paginya.

Satu masalah seperti ini tidak akan menyurutkan semangat hidupnya. Dia selalu mengingat tujuan akan apa yang tengah dilakukannya selama ini. Dia bukan tipe gadis yang mudah menyerah hanya karena sebuah duri melukainya. Jika tidak, mana mungkin dia sekarang bisa seperti ini?

“…penyanyi muda Lee Donghae sepertinya memang sangat mencintai kekasihnya. Terbukti dari tindakannya yang begitu melindungi Im Yoona saat di konsernya. Berita selengkapnya…”

Yoona tersenyum tipis membaca kalimat yang tertera di salah satu kolom koran harian yang dibacanya. Sepertinya selain berbakat dalam menyanyi, Donghae juga berbakat menjadi actor. Itulah kira-kira isi hati gadis itu menanggapi kalimat yang baru saja dibacanya. Setidaknya dia harus bersyukur karena pemuda itu masih menganggapnya ada.

Samar-samar dalam hatinya dia merasa terharu mengingat apa yang dilakukan Donghae untuknya. Mengingat hubungan mereka berdua yang jauh dari kata akrab, dia dapat menyimpulkan jika Donghae adalah pemuda yang baik. Ngomong-ngomong, dia jadi teringat kalau dia bahkan belum mengucapkan terima kasih pada pemuda itu. Sekalipun itu hanya bagian dari rencana, dia akan mencoba untuk bersikap lebih baik pada Donghae.

*

Apa hal yang paling menyenangkan ketika cuaca panas sedang datang? Berenang bukan? Kolam renang berstandar internasional itu pun kini tak diabaikan lagi seperti hari-hari yang lalu. Tampak dua pemuda tampan tengah berenang di dalamnya.

“Kau sudah menemukannya?” tanya Donghae di sela-sela jeda berenangnya. Pemuda yang duduk di pinggir kolam itu hanya tersenyum tipis.

“Belum,” jawab Henry. Pemuda itu sudah meminta bantuan kepada rekannya untuk ikut mencari gadis itu, tentu saja tanpa memberitahu apa tujuannya. “Kau tenang saja, aku pastikan tidak sampai seminggu aku akan menemukannya,” tambahnya.

Donghae hanya mengangguk-angguk mengerti. Dia sangat percaya pada sepupunya itu, semua hal yang diatasinya akan selalu berhasil. Kembali, dia mulai berenang lagi. Kali ini Henry pun ikut menyusul.

“Pacar pura-puramu itu terlalu berbahaya Hyung,” kata Henry. Kali ini keduanya telah selesai berenang dan berada di ruang santai. Dua gelas jus jeruk mengisi meja yang berada di ruangan itu.

Tampak kerutan di dahi Donghae saat mendengar perkataan sepupunya. Tidak mengerti dengan konteks kata berbahaya apa yang dimaksudkan sepupunya itu. “Berbahaya? Maksudmu?”

Henry berfikir sejenak. Apa yang dimaksudkannya kini hanyalah pikirannya saja yang (mungkin) akan menjadi sebuah kebenaran kelak. “Gadis itu terlalu cantik,” akunya.

Donghae hanya tertawa mendengar perkataan sepupunya. Hei, Henry tidak sedang bercanda. Donghae tak memperdulikan reaksi Henry yang tengah menatapnya sebal. Pemuda itu hanya memanggap ucapan sepupunya itu sebagai sebuah candaan.

“Aku tidak bercanda Hyung,”

“Jadi maksudmu kau menyukainya?”

Sebuah bantal sofa kini telah melayang menimpuk wajah tampan Donghae. Raut kesal kembali terpancar dari wajah Henry. Pemuda itu benar-benar berpikir jika Donghae memang sudah tidak waras.

“Kau sangat mengenalku Hyung,” katanya kemudian.

Donghae hanya tertawa melihat sepupunya yang sedang kesal. “Aku tahu kau tidak mudah untuk menyukai seseorang. Dan aku juga tahu kau tidak mudah memuji seseorang Henry,” kata Donghae sambil tersenyum.

Apa yang dimaksudkan Donghae jelas adanya. Henry tidak serta merta memuji seseorang. Harus ada alasan kuat yang bisa membuat seseorang itu benar-benar patut untuk dipuji. Dan Yoona telah memenuhi syarat itu. Sejauh ini, kelebihan gadis itu dimata Donghae adalah kecantikan alaminya yang mau tak mau harus diakuinya.

“Terserah kau saja Hyung!” teriak Henry kesal sambil berlalu pergi.

*

Nama sebuah kelompok penari balet Nayarina nampaknya kini semakin terkenal saja. Banyak orang yang sering mengucapkan nama itu diberbagai keadaan. Mau tak mau hal ini membuat Sulli, salah satu anggota Nayarina menjadi bahagia.

“Yoona Onnie, terima kasih banyak,” ucapnya tulus pada Yoona. Baru saja, beberapa menit yang lalu latihan usai. Hanya menyisakan beberapa ballerina saja di ruangan itu.

Yoona seketika menoleh saat mendengar sebuah suara lembut itu. Gadis itu sudah cukup lama mengenal Choi Jinri yang akrab disapa Sulli, hubungan mereka pun cukup dekat. “Terima kasih untuk apa?” tanya Yoona bingung.

Kedua gadis cantik itu berjalan menuju kursi yang berada di depan ruangan. Setelah melakukan tarian selama beberapa jam tentu membuat mereka lelah bukan? Sama seperti berolahraga, menari pun membutuhkan cukup banyak energi.

“Karena kau Nayarina menjadi lebih dikenal. Ayahku, untuk pertama kalinya, akhirnya dia tersenyum padaku ketika aku pulang,” kata Sulli bahagia. Pancaran kebahagian begitu terlihat dari wajah cantiknya.

Yoona yang melihatnya hanya bisa tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan yang gadis itu rasakan. Satu hal yang membuatnya begitu dekat dengan Sulli adalah: karena mereka mempunyai kisah perjuangan hidup yang hampir sama. Hanya saja Sulli lebih beruntung dari pada dirinya.

“Kau harus bekerja keras Sulli-ya,” kata Yoona memberikan semangat untuk gadis itu. Sejujurnya, dia pun butuh semangat kali ini. Hari-hari yang harus dilaluinya masih sangat panjang dan dia tahu betul jika semakin lama akan menjadi semakin rumit.

Ya Tuhan memikirkan hal itu membuat hatinya semakin perih saja. Lagi-lagi bayangan masa lalu kembali menghampirinya. Dia tak pernah menginginkan jika luka lama yang dipendamnya selama bertahun-tahun itu kembali hadir. Tapi bagaimana pun dia berusaha, tetap saja dia tak kan pernah bisa melupakannya begitu saja.

“Jessica!” teriak Yoona saat melihat bayangan sahabat baiknya di lorong. Sudah lama sekali dia tak melihat gadis itu, terhitung sejak gadis itu meminta bantuannya.

“Baiklah, aku pamit dulu Onnie,” kata Sulli sambil bangkit berdiri. Yoona hanya membalas dengan senyuman. Dia pun bangkit berdiri dan beranjak menghampiri Jessica.

“Yoona kau tampak lebih kurus,” komentar Jessica saat melihat Yoona berdiri dihadapannya. Sejenak kedua gadis itu saling meluapkan kerinduan dengan saling berpelukan.

“Benarkah? Aku begini karena aku begitu merindukanmu Jess,” canda Yoona. Dia bersungguh-sungguh saat mengatakan jika dia begitu merindukan sahabatnya. Kalau masalah itu menjadi penyebab  tubuhnya menjadi lebih kurus, tentu itu hanya sebuah alibi.

“Kau baik-baik saja kan?” tanya Jessica lagi. Gadis itu begitu menghawatirkan sahabatnya. Jujur saja saat melihat wajah gadis itu, perasaan aneh menyusup dalam hatinya. Entah perasaan apa itu, dia pun masih tak mengerti.

“Seperti yang kau lihat. Kau kemana saja hah? Tega sekali tak menghubungiku. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu,”

“Aku pergi ke Jepang, Ayahku sakit. Tapi aku sudah kembali sejak tiga hari yang lalu. Aku bahkan melihat konser Lee Donghae. Kau mengagumkan Im Yoona,”

“Astaga! Kenapa kau tak bilang padaku. Mengagumkan? Kau menghinaku Jess,”

“Kau benar-benar sukses membuat Elfishy ingin membunuhmu,”

Perkataan terakhir Jessica itu sontak membuat Yoona kembali merinding. Apalagi nada bicara yang digunakan Jessica saat mengucapkannya begitu dingin. Seolah-olah gadis itu juga ingin membunuhnya. Bagaimanapun, Jessica adalah salah satu anggota Elfishy. Ingat itu.

“Aku hanya bercanda Yoona,” kata Jessica lagi saat melihat raut wajah Yoona yang tiba-tiba menegang. Gadis itu kemudian tertawa, berusaha mencairkan suasana.

“Kau membuatku takut Jess,” kata Yoona jujur. Gadis itu akhirnya bisa menghela nafas lega. “Datanglah ke rumahku. Aku akan menceritakan apa yang tengah menimpaku selama kau tak ada,” kata Yoona kemudia.

Jessica hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan sahabatnya itu. Kini, bermacam-macam pikiran tengah memenuhi pikirannya. Berbagai emosi menguasai dirinya, membuatnya semakin merasa perih.

*

Lantunan nada lembut yang keluar dari sebuah grand piano hitam yang terletak di samping tangga itu begitu mendamaikan hati. Donghae yang tengah memainkannya pun begitu menikmati apa yang dikerjakannya. Disaat seperti ini, dia merasakan dunia begitu damai. Segalanya begitu mudah untuknya.

Im Yoona, gadis itu sudah sangat baik karena bersedia membantunya. Tanpanya, mungkin karir Donghae akan hancur hanya dalam beberapa jam. Apa yang telah dicapainya akan dirampas dari genggamannya.

Lalu, sekarang dia telah menjerumuskan gadis itu pada sebuah lubang menyeramkan yang siap menerkamnya. Dia tidak akan diam saja melihat semua itu. Seperti janjinya pada Sungmin, dan pada dirinya sendiri untuk selalu melindungi gadis itu.

Suara langkah kaki yang menggema tak membuat pemuda itu kehilangan fokusnya. Masih dengan gesit mencatat not-not balok dalam kertas partiturnya. Sebuah lagu indah yang akan diciptakannya. Dan lagi-lagi untuk seorang gadis yang menghuni setengah hatinya.

Yoona, yang sejak lima belas menit lalu berdiri dengan tangan saling bersedekap hanya bisa tersenyum melihat apa yang ada dihadapannya. Tanpa ingin membuat Donghae berpaling, dia pun akhirnya ikut menikmati alunan piano yang dimainkan pemuda itu.

“Yoona,” suara terkejut kentara sekali diucapkan Donghae. Setelah menyelesaikan goresan terakhir di kertas partiturnya dia pun berbalik.

“Lagu itu, masih untuk gadis yang sama bukan?”

Donghae tersenyum tipis menanggapi ucapan gadis dihadapannya. Penilaiannya jika gadis itu pintar memang tidak salah. Jika sebagian orang diluar sana menafsirkan lagu ‘Y’ adalah untuk Yoona, tetapi gadis itu justru tidak. Dia memang tampak berbeda, dan tentu semakin mengagumkan saja.

Donghae mulai berjalan pergi, meninggalkan Yoona yang masih asyik memandang sebuah grand piano milik pemuda itu. Tak berselang lama Donghae pun kembali dan menghampiri gadis itu.

“Apa ini?” tanya Yoona saat tiba-tiba Donghae memberikan sebuah foto seorang gadis cantik dihadapannya. Ada raut terkejut yang terpancar dari wajah Donghae, tapi Donghae tak terlalu memperhatikannya.

Sebuah foto seorang gadis cantik dengan payung ditangannya. Sekilas, kalian akan berfikir jika gadis itu adalah Im Yoona. Keduanya begitu mirip.

“Dia cinta pertamaku,” ujar Donghae. pemuda itu kini beralih duduk di sofa, dan Yoona pun tengah berjalan menyusulnya.

“Kau masih mencintainya,” tanggap Yoona. Bukan sebuah pertanyaan, tapi pernyataan. Gadis itu kini bisa menebak-nebak jika Donghae masih sangat mencintai gadis itu. Bahkan, lagu-lagu indah yang diciptakan pemuda itu teruntuk gadis di foto itu.

“Dia cinta pertamaku, wajar bukan?”

Yoona hanya tersenyum tipis, matanya menerawang jauh. “Cinta pertama memang susah untuk dilupakan. Bagaimanapun menyakitkannya sebuah hubungan cinta pertama karena kandas misalnya, dia masih tetap bagian dari kenangan yang indah, sehingga sebagian orang masih berharap untuk mengulangnya kembali. Termasuk kau,”

Donghae hanya tersenyum tipis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi perkataan Yoona. Apa yang disampaikan gadis itu memang benar, jika diijinkan dia bahkan ingin memutar masa lalu. Saat hubungan cinta pertamanya masih begitu indah.

“Kenangan apapun dimasa lalu akan menjadi begitu indah, walaupun saat itu menyakitkan. Cinta pertama memberikan harapan pada hati yang betul-betul masih kosong, sehingga pengalamannya segera mengisi ruang-ruang hampa yang selama ini belum terisi apa-apa.”

Donghae menatap gadis dihadapannya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Pemuda itu hanya mengulum senyum sejenak. Lagi-lagi, dia mendapat kuliah pagi yang begitu bermakna dari Im Yoona. Dan kali ini, dia tak berniat membantahnya.

“Sepertinya kau sangat berpengalaman,” sahut Donghae, setelah beberapa saat tak terlihat tanda-tanda Yoona akan melanjutkan.

Yoona hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Donghae. Pikirannya tiba-tiba melayang pada masa empat tahun silam, begitu kental perbedaannya kini. “Begitulah. Ngomong-ngomong, terima kasih karena kau telah menolongku. Setelah kupikir-pikir kau memang baik, Hae,” tanggapnya. Tak bermaksud mengalihkan pembicaraan sebenarnya, hanya saja dia tak tahu harus merespon bagaimana.

“Bukan apa-apa. Kau sudah banyak menolongku, rasanya aku tidak pantas membuatmu menjadi kesulitan seperti ini,” balas Donghae sambil tersenyum.

“Sedikit menyulitkan memang, tapi itulah pilihanku. Sepertinya kita bisa menjadi teman. Aku akan ikut membantu menemukan gadis ini,” ujar Yoona seraya menyerahkan kembali foto cinta pertama Donghae. Senyum gadis itu terasa sangat kaku saat mengutarakannya, walau tak terlalu kenatara.

“Benarkah? Aku akan sangat berterima kasih, sayang. Dan ingat, jangan kau ceritakan masalah ini kepada siapapun,” kata Donghae antusias. Pemuda itu tak tahu saja jika kini jantung Yoona tiba-tiba serasa berhenti berdetak. Oh tentu saja bukan karena dia telah membocorkan rahasia Donghae. Hanya saja mendengar panggilan pemuda itu membuatnya menjadi seperti ini.

“Aku sangat mengerti,” jawab Yoona sambil menekankan kata sangat dalam ucapannya.

*

Kenapa rumah-rumah mewah di perkotaan begitu terlihat sepi? Bandingkah saja dengan rumah-rumah dipedesaan. Rumah itu tentu saja tak berdiri sendiri, disekelilingnya pun terdapat rumah-rumah yang tak kalah mewah saling berjejer rapi.

Hampir satu tahun Yoona menempati rumah mewah di kawasan elit kota Seoul tapi bahkan dia tak mengenal tetangganya secara menyeluruh. Mungkin hanya sekitar dua atau tiga orang saja yang dikenalnya.

Kesunyian itu kembali membawa Yoona untuk (terpaksa) menengok masa lalunya. Tiba-tiba saja pemuda itu hadir ke dalam mimpinya. Membisikkan kata-kata semangat untuknya. Mimpi hanyalah mimpi. Seperti halnya memori, sebagian orang befikir jika memori adalah sebuah kekuatan dan memori hanyalah sebuat memori. Sebagian lagi berfikir jika memori adalah yang paling penting. Mimpi pun bisa jadi sangat penting, yang memiliki kekuatan untuknya tetap berdiri.

“Kau melamun?” perkataan itu sontak menyadarkan Yoona. Dia segera berbalik saat mendapati suara lembut sahabatnya.

“Oh Jessica, akhirnya kau datang juga,” sahut Yoona senang. Disaat seperti ini, biasanya dia akan menceritakan semua keluh kesahnya pada gadis itu. Dengan begitu dia akan merasa jauh lebih tenang.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jessica seraya duduk disamping Yoona. Meletakkan tas yang dibawanya ke atas meja.

“Hyukkie,” jawab Yoona lirih. Segera Jessica pun paham apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu. Lee Hyukjae, pemuda tampan yang dikenalnya sewaktu mereka masih duduk dibangku sekolah menengah. Ah, tentu saja Jessica dan Yoona sudah saling mengenal sejak itu.

“Kau merindukannya?” tanya Jessica. Yoona hanya menghela nafas berat, berusaha mengingkari hatinya yang sebenarnya. Di dalam hati gadis itu, mengatakan jika dia merindukan pemuda itu.

Jessica yang melihat Yoona menjadi seperti ini mau tak mau ikut menjadi sedih. Tiba-tiba saja sebuah ide yang begitu cemerlang terlintas diotaknya. Sebuah rencana yang mungkin akan mengantarkannya pada sebuah kebahagiaan yang dinantikannya.

“Kau tenang saja. Aku akan membantumu Yoongie,” kata Jessica akhirnya. Raut wajah gadis itu seketika menjadi begitu antusias. Tak percaya jika sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya. Sedikit menyesali kenapa dia baru menyadarinya.

 “Apa yang akan kau lakukan? Jangan melakukan hal-hal yang aneh Jess,” kata Yoona memperingatkan. Dia sudah cukup lama mengenal sahabatnya itu. Jessica termasuk gadis yang berani, tidak takut pada apapun. Dia juga tipe gadis yang nekat dan begitu ambisius untuk meraih apa yang dinginkannya.

“Kau tunggu saja kejutan dariku,” katanya sesaat kemudian. Masih dengan tersenyum, dia melangkah pergi menjauhi Yoona.

*

Malam yang biasanya dihiasi oleh berjuta bintang sehingga menampakkan pemandangan mengagumkan itu kini tampak tak bisa dinikmati. Awan hitam yang menghalangi begitu banyak sehingga bintang-bintang itu tak dapat bersinar.

Pemuda yang sedang dalam keadaan berbaring di atas ranjang itu tak dapat menikmati tidurnya dengan nyenyak semenjak dua hari yang lalu. Keringat dingin kini telah membasahi kaos yang dikenakannya. Padahal, suhu udara di kamarnya tak bisa dibilang panas. Sebuah AC yang terpasang pun menyala tanpa hambatan sedikitpun.

Kini dia terbangun dengan nafas terengah-engah. Segera dia beranjak mengambil segelas air putih yang telah tersedia di laci sampingnya. Meneguknya hanya dalam sekali teguk, habis tak bersisa.

“Ini tidak akan terulang lagi. Aku tidak akan membiarkannya,” gumamnya tersengal-sengal. Dia masih berusaha mengatur nafasnya yang tidak beraturan.

Mimpi paling buruk yang pernah dialaminya. Ketika dia kembali teringat pada kejadian sewaktu konsernya tempo dulu. Pemuda itu yakin jika salah seorang penggemarnya memang telah merencanakan aksi untuk meneror Yoona. Dia melihat dengan samar gadis berambut hitam panjang itu melemparkan sekantong darah tepat ke arah Yoona. Sangat disayangkan karena suasana malam itu begitu gelap, akan sangat susah mencari siapa pelakunya.

Terdengar sebuah getaran dari handphone yang disimpannya di laci, segera dia pun mengambil handphone itu. Ternyata sebuah pesan singkat dari sepupunya.

‘Hyung aku menemukannya. Dia akan segera menemuimu. Aku malam ini kembali ke Aussie, maaf karena tidak berpamitan denganmu secara langsung. Good luck!’

Sejenak mimpi buruk itu lenyap begitu saja. Tergantikan dengan sebuah euforia yang dirasakannya. Tak hentinya ucapan syukur diucapkannya, dengan senyum masih tersungging di bibirnya.

“Wanita itu seperti soal matematika. Awalnya kau akan merasa sulit untuk memecahkannya, tapi dengan usaha sedikit kau akan menemukan jawabannya. Sederhana tapi membuat penasaran,”

Donghae mengingat perkataan Henry waktu itu, saat dia menugaskan sebuah misi untuknya. Apa yang dikatakan sepupunya itu memang benar. Mencarinya saja sudah begitu sulit, apalagi memahami perasaannya.

Kini, dia pun sadar, apa yang telah dilakukannya kini dengan memacari gadis yang bahkan tak dikenalnya adalah sebuah kesalahan besar. Dia telah membuat lebih dari lima orang gadis di luar sana menderita karenanya. Tapi bukankah mereka tetap bisa memilih? Itu tidak sepenuhnya salahnya bukan? Ah, Lee Donghae memang akan merasa selalu benar, kecuali jika dihadapan Im Yoona. Pemuda itu selalu merasa jika perkataan gadis itu selalu benar, dan dengan (amat) terpaksa dia harus mengalah.

Perasaan tak sabar untuk melihat matahari terbit begitu diinginkannya kini. Merasa jika jarum jam itu berjalan begitu lamban, aku pun terkadang merasa seperti itu. Pemuda itu melirik jam yang terdapat dilaci. Jarum jam masih menunjukkan pukul 01.20, apa yang seharusnya dia lakukan? Tidak mungkin kan dia bersiap-siap dari sekarang?

*

Suara langkah kaki menggema disepanjang lorong kala gadis itu melangkah. Raut lelah masih melekat di wajah cantiknya. Sebuah jepit rambut berwarna kuning yang menghiasi rambutnya semakin menambah kecantikannya.

Sudah banyak orang mengakui kecantikan seorang Im Yoona. Lebih dari lima pemuda dari berbagai kalangan pun telah jatuh hati pada gadis itu. Dari bermacam profesi dan kehalian. Ada seorang guru, dokter, penari, pengacara atau bahkan seorang mahasiswa yang mengatakan jika jatuh hati pada gadis itu.

Ketika mereka mengutarakan isi hatinya, Yoona dengan santai hanya menjawab “Terima kasih,” sambil tersenyum manis. Setelahnya, gadis itu akan bersikap seperti biasa. Seolah-olah tak pernah ada kejadian seperti pernyataan cinta dan berbagai hal serupa. Dia pun akan menjalani harinya seperti sedia kala.

Kalian jangan pernah berfikir jika dia penyuka sesame jenis, karena hal itu sangat tidak mungkin. Gadis itu masih akan merasakan sebuah getaran aneh kala dia berdekatan dengan Donghae. Apakah berarti gadis itu menyukai Donghae? Belum untuk saat ini. Yang memenuhi pikirannya masih pemuda yang sama, Lee Hyukjae. Aku sudah menjelaskannya di atas.

Gadis itu menimang-nimang sebuah map dalam genggamannya sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam. Tampak asap mengepul dari hidungnya saat dia menghembuskan nafas berat. Senyum ditunjukkannya saat melihat Kahi yang tengah memandangnya dengan tatapan bingung.

“Ada apa?” tanya Kahi, tepat saat Yoona duduk di kursi dihadapan wanita itu.

Tanpa menjawab pertanyaan Kahi, dia menyerahkan map dalam genggamannya. Setelah merenungkan dan memikirkan secara matang-matang, akhirnya dia memutuskan untuk menandatangani sebuah proposal tersebut. Nayarina, akan tampil dalam sebuah pertunjukkan tari.

“Aku sudah memutuskan untuk menerimanya,” kata Yoona kemudian. Terlihat jelas ekspresi terkejut sekaligus senang di wajah Kahi.

“Benarkah? Itu bagus sekali Yoona,” sahutnya bersemangat. Yoona hanya tersenyum dan bangkit berdiri.

“Aku pergi dulu, Miss,” pamitnya.

Bukan tanpa alasan yang kuat Yoona menandatangani proposal itu. Apalagi, kejadian beberapa saat lalu cukup membuatnya terkejut. Bahkan sangat terkejut. Walaupun pernah terpikir olehnya jika suatu saat kejadian itu juga akan terjadi.

Kondisi mentalnya tidak cukup bagus saat ini. Dan karena itulah dia mengambil keputusan yang cukup nekat untuk tetap tampil bersama Nayarina. Kenapa begitu? Kembali pada Lee Hyukjae yang saat ini entah berada dimana. Gadis itu ingin memberitahu pada dunia, pada Lee Hyukjae jika dia sedang mencari pemuda itu. Dengan adanya pertunjukan itu, bukan tidak mungkin wajahnya akan muncul di layar televisi atau media cetak. Satu yang diharapkannya, Lee Hyukjae akan mengetahui keberadannya.

“Aku harus menemukanmu, Oppa.”

*

Suasana tampak begitu cerah di luar sana. Awan biru terlihat begitu indah untuk dinikmati. Burung-burung pun saling bersahut-sahutan memamerkan suara merdu yang dimilikinya. Keadaan itu begitu berbanding terbalik dengan keadaan di dalam rumah mewah milik Donghae.

Suasana dingin itu berubah menjadi panas. Ruangan terang berubah menjadi gelap dan membuat suasana menjadi sesak. Tapi anehnya hal itu hanya dirasakan oleh Donghae seorang, normalkah? Sejak semalam dia terus duduk terpaku di depan grand piano miliknya. Sesekali dia bangkit untuk mengambil air minum.

Tangannya dengan lihai menekan tuts-tuts piano dan memainkan lagu yang sama secara berulang-ulang. Ini bukan tentang lagu yang baru diciptakannya saat Yoona memergokinya. Tapi ini tentang lagu yang diciptakannya berdasar pengalaman pribadinya.

“Kau kenapa?”

Sebuah suara itu mengejutkan Donghae. Dia tahu siapa pemiliknya, karena hanya pemuda itulah yang bisa keluar masuk rumahnya dengan sesuka hati. Lee Sungmin.

“Kim Taeyeon?”

Sontak ucapan Sungmin membuat Donghae mengalihkan perhatiannya. Kini Donghae dan Sungmin saling berhadapan. Sungmin yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Donghae pun menambahkan.

“Lalu siapa?”

“Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak memikirkan Taeyeon,” gumam Donghae, mengganti topic pembicaraan tiba-tiba. Tanpa maksud untuk menjawab pertanyaan pemuda di hadapannya.

Kim Taeyeon, penyanyi yang sempat dikabarkan memiliki hubungan khusus dengan Donghae. Hal itu memang benar adanya. Tapi dulu, sebelum Donghae bertemu Yoona. Masalah yang dihadapinya belakangan ini membuatnya melupakan gadis mungil itu.

Tunggu! Jangan berpikir jika Donghae mencintainya. Oh tidak, itu sangat tidak mungkin. Gadis itulah yang mengejar-ngejar Donghae. Tanpa rasa sungkan dia bahkan pernah mengutarakan cintanya di hadapan public. Walau mungkin para penonton mengira itu hanyalah sebuah candaan saja. Tapi Donghae tahu yang sebenarnya. Mereka tidak saling mengenal dekat, jadi untuk apa gadis itu bercanda dengan mengatasnamakan namanya?

“Jangan bilang bahwa kau merindukannya?”

“Sedikit,” balas Donghae sambil tertawa kecil. Sungmin yang menyadari jika itu hanya sebuah candaan segera menjitak kepala Donghae.

“Baiklah, aku pergi,” pamitnya. Beranjak ke luar menjauhi Donghae. Sedang pemuda itu kini kembali berkutat dengan piano miliknya. Tak berniat bangkit sedikit pun dari kursi duduk rupanya.

Will you forgive me?

Please think twice

Think again

I won’t let go at this moment

Salah satu bait dalam lagu ‘Y’ yang diciptakannya kini menggema. Membuat siapapun yang mendengarnya akan ikut tersentuh. Pemuda itu menyanyikannya dengan sepenuh hati. Mengungkapkan kalimat yang tak dapat dia ucapkan.

Gadis itulah yang sedari tadi membuatnya berkeringat dingin seperti ini. Terhitung sudah sepuluh jam dia menanti kedatangan gadis itu, tapi kunjung datang juga. Berbagai pikiran buruk pun melintas di otaknya. Bagaimana jika gadis itu pergi? Dia marah dan tidak ingin bertemu dengannya?

Donghae tak bisa membayangkan kemungkinan terburuk itu akan terjadi. Dia tidak akan berpikir jika dia tidak bisa hidup tanpa gadis itu, karena nyatanya sampai kini dia masih hidup dan tanpa kehadiran gadis itu.

Ting tong. Suara bel berbunyi mengalihkan perhatian Donghae. Ah, pemuda itu memang tak memiliki seorang pembantu pun. Dia seorang pernyanyi, dia mampu membayar seorang pembantu tentu saja. Tapi dia berpikir, dengan menempatkan orang asing di rumahnya hanya akan membuatnya merasa tak nyaman. Selama dia masih bisa merawat rumahnya, itu tak masalah.

Dengan sedikit mendengus, dia bangkit dari posisinya dan mulai berjalan menuju pintu. Setengah berharap jika tamunya kali ini adalah Yoona. Dengan kehadiran gadis itu, mungkin bisa sedikit menghiburnya. Dia juga seorang pendengar yang baik, pikirnya.

Ya Tuhan! Apa yang baru saja dipikirkannya? Mengharapkan gadis itu? Sepertinya kau akan gila Lee Donghae.

Krek. Suara pintu terbuka. Disana, berdiri seorang gadis cantik berambut panjang tengah tersenyum ke arah Donghae. Gadis itu tak menyadari jika pemuda dihadapannya kini tengah terkejut setengah mati. Mata Donghae melotot, mulutnya menganga dan dia tak bisa begerak. Posisi itu bertahan kira-kira selama beberapa menit.

“Donghae oppa,”

Ucapan gadis itulah yang menyadarkan Donghae dari keterkejutannya. Segera dia membenahi posisi duduknya. Membalas dengan sebuah senyuman manis untuk gadis dihadapannya.

“Aku begitu merindukanmu…Kwon Yuri.”

**

Next : The Reason…

Leave your comment, please. I’d be very happy:-)

25 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s