Scandal: We Were in Love


Title : Scandal: We Were in Love

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Kwon Yuri

–          Kim Hyoyeon

–          Lee Sungmin

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : The Reason…

Bunga-bunga tampak mekar secara bersamaan hari ini. Dimana bermacam-macam warna cantiknya mewarnai sepanjang taman, seiring dengan jalanan kota Seoul. Sang kupu-kupu pun tak mau ketinggalan untuk menyerbunya, menikmati harinya.

Yoona pun begitu. Gadis itu sedang menikmati hari-harinya dimana kini dirinya merasa sedang melayang, terbang jauh di atas sana. Percaya selalu, setelah dia jatuh ke lantai dasar, tak berselang lama dia pun akan naik ke puncak tertinggi.

Konser Nayarina, hadirnya Lee Hyukjae begitu memberikan arti yang mendalam untuknya. Sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Kejutan? Ah, seharusnya dia sudah bisa menduganya. Usahanya tak mungkin sia-sia bukan?

Dering telepon dari handphone di sampingnya tampak mengalihkan fokusnya. Setengah fokusnya tentu saja masih pada jalanan yang membentang dihadapannya. Setengahnya lagi kini focus pada handpone yang telah beralih dalam genggamannya.

“Hallo,” sahutnya pendek. Tanpa melihat sang penelepon. Suaranya begitu riang, sesuai dengan suasana hatinya yang begitu baik hari ini.

“Yoona, bagaimana perasaanmu?” suara lembut seorang gadis, milik Jessica Jung. Di seberang sana, gadis itu tengah tersenyum tulus, mendapati sahabatnya begitu sumringah. Walalu hanya dari mendengar suaranya saja.

“Aku bahagia Jess. Terima kasih untuk kejutannya,” ucap Yoona tulus. Kenapa rasanya matanya menjadi memanas seperti ini? Dia bahagia, terlalu bahagia.

“Aku ikut bahagia untukmu.”

Yoona tersenyum penuh rasa syukur. Walau kini, dia belum sempat berbicara dengan Hyukjae, tapi setidaknya dia sudah tahu keberadaan pemuda itu. Tidak ingin terburu-buru, karena dia percaya pemuda itu kini tak akan pergi lagi. Tidak akan lari darinya.

Mobil itu berhenti di depan sebuah toko bunga. Gadis itu turun dan melangkah menuju tempat dimana bunga-bunga yang tengah mekar terpajang rapi.

“Ada yang bisa saya bantu?” sapa pelayan ketika Yoona melangkahkan kakinya masuk ke toko bunga itu. Tampak seorang gadis remaja tengah tersenyum tipis padanya.

Yoona tampak memilih bunga-bunga yang sekiranya cocok. Akhirnya pilihannya jatuh pada bunga cantik yang terpajang diantara bunga mawar. Krisan kuning. Bunga yang begitu disukai oleh orang Tionghoa itu akhirnya menarik perhatian Yoona.

“Bunga itu sangat indah,” tutur gadis remaja disamping Yoona. Entah sejak kapan gadis itu berada disana, Yoona pun tak tahu. “Pasti untuk orang yang istimewa,” lanjutnya. Sedang Yoona hanya tersenyum tipis.

*

Seorang pria paruh baya dengan kacamata yang melekat pada wajahnya itu tampak sibuk mengamati sebuah foto yang ada di depannya. Sebuah foto seorang pemuda tampan dan gadis cantik tengah berpelukan di salah satu pusat perbelanjaan di Korea.

Rahangnya menegang. Kini perlahan dia melepas kacamatanya. Mengelapnya dengan tissue, lantas memakainya lagi. Apa yang dilihatnya masih sama. Gambar yang sama dengan tokoh yang sama pula. Apa dia berharap tiba-tiba gambar itu dapat berubah? Dunia ini bukan dunia sihir dimana tiba-tiba ada sebuah keajaiban.

Seringaian kecil nampak terlihat dari sudut bibirnya. Merasa apa yang dipikirkannya kini benar-benar menjadi kenyataan. Segala hal tampaknya begitu susah untuk dimengerti. Melihat hari esok, dia sangat ingin melakukannya.

“Kau tahu ini?” tanyanya pada pemuda disampingnya. Otot-otot pemuda itu juga nampak mulai menegang. Tangannya mengepal kuat, setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

“Tidak,” jawabnya tegas. Pemuda itu Lee Sungmin, sedang pria dihadapannya adalah Lee Sooman.

Keheningan menyelimuti keduanya. Berbagai pikiran memenuhi otak mereka berdua. Dimana sebuah solusi atas apa yang akan terjadi tengah dipikirkan keduanya. Mengusahakan seluruh kemampuan otak mereka untuk mencarinya.

“Jangan beritahu dia,” perkataan Sooman membuat Sungmin tersenyum tipis. Tahu dengan benar jika pria disampingnya itu begitu peduli pada sahabatnya.

*

Perasaan manusia susah untuk diselami. Terkadang perasaan itu justru akan membuat kita terjebak dalam sebuah teka-teki dimana tak seorang pun dapat memecahkannya. Menyisakkan diri kita sendiri yang dipaksa untuk mencari jawabannya.

Pemuda yang tengah menatap langit biru di atas sana tengah merasakan kebingungan yang diakibatkan oleh perasaan yang dimilikinya. Hanya dalam satu malam perasaannya bisa berubah total, tidak sesuai dengan yang dikehendakinya.

Bayangan gadis itu terus menari-nari di otaknya tanpa bisa dia mencegahnya. Menggelengkan kepalanya selama puluhan kali sebagai usaha melenyapkan bayangan itu pun telah dilakukannya. Tapi bayangan itu tetap bertahta di sana. Tidak bisa menghilang begitu saja.

Suara langkah kaki seseorang tidak membuatnya beralih. Masih sibuk menyelami perasaannya sendiri yang membuatnya kelabakan. Ini tidak bisa dibiarkan. Itulah pemikiran-pemikiran yang selalu melintas di benaknya.

Donghae tersentak kaget saat mendapati seikat bunga krisan kuning dihadapannya. Tangannya terangkat untuk menyingkirkan bunga cantik itu. Dan kini, didapatinya sosok gadis dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Membuat seketika perasaan lega menyelimutinya.

“Terima kasih kau sudah datang,” kata Yoona tulus. Seperti yang dikatakan pemuda itu, berkat dialah seluruh bangku penonton terisi penuh tanpa celah.

“Untukku?” tanya Donghae bingung. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah bunga krisan di genggaman Yoona.

Sebagai jawaban, gadis itu hanya mengangguk. Lantas melangkahkan kakinya menuju pintu, dimana kini di luar sana dia mendapati sebuah taman dengan ayunan yang melengkapi. Tampak di atas sana langit begitu indah untuk dipandangi.

Yoona tidak pernah tahu jika di sudut belakang rumah pemuda itu memiliki taman luas yang begitu indah. Terang saja, karena memang dia tidak pernah peduli. Tidak peduli dengan apapun juga yang berhubungan dengan pemuda itu. Sampai akhirnya kejadian kala itu, dimana kini perasaannya mulai berubah. Pelan-pelan. Sedikit demi sedikit.

“Krisan kuning. Bunga yang cantik,” gumam Donghae seraya mengamati bunga krisan yang kini telah beralih dalam genggamannya. Sambil berjalan ke meja terdekat dan meletakkannya di dalam vas bunga.

“Kau pengamat bunga? Wow, menakjubkan,” kata Yoona takjub. Gadis itu tidak mengerti efek apa yang diberikan atas perkataannya barusan. Untuk pertama kalinya, gadis itu berbicara basa-basi dengan Donghae. Membuat pemuda itu tersenyum sumringah.

“Kau memberikan ini untuk apa?” tanya Donghae, tanpa menjawa pertanyaan gadis itu. Sekali saja, tidak apa-apa kan dia membuat gadis itu kesal?

Sekarang, keduanya saling memandang langit. Bersama. Saling berdampingan.

“Kau tidak mau?” tanya Yoona ketus. Kembali pada sifatnya semula. Lagi-lagi perubahan sikap gadis itu justru membuat Donghae semakin melebarkan senyumnya. Sebuah perasaan ingin waktu berjalan lebih lambat merasukinya.

“Krisan kuning melambangkan sebuah persahabatan dan pengagum rahasia,” ujar Donghae lagi. Membuat Yoona kini menolehkan kepalanya ke arah pemuda itu. Yang kini justru membuat mata keduanya bertemu.

Yoona tampak berdehem dan mengalihkan pandangannya. Kembali menatap langit di atas sana. Tangannya bersedekap di depan dada. Rambut panjangnya sedikit berkibar tertiup angin, sehingga membuat Donghae yang tepat berdiri disampingnya merasakan kelembutan rambutnya. Membuat pemuda itu ingin menyentuhnya.

“Mana yang kau pilih?” tanya Donghae lagi. Berusaha mendesak gadis disampingnya untuk berbicara. Secara samar sehingga gadis itu tak akan mengabaikannya begitu saja.

Yoona tampak menghela nafas berat. Kakinya mulai berjalan maju, sehingga posisinya kini berada di depan Donghae. Kedua tangannya masih bersedekap di depan dada.

Selama beberapa menit, hanya ada keheningan yang menyelimuti. Suara angin semilirlah yang mengisi gendang telinga keduanya. Secara tiba-tiba Yoona berbalik memandang Donghae. Menatap mata pemuda itu dengan tatapan tajam. Menjerat pemuda itu sehingga kini dia tidak akan bisa melepaskan kontak mata mereka berdua.

“Penyanyi berbakat asal Korea Selatan Aiden Lee yang begitu dibanggakan oleh para dosen di seluruh penjuru Juilliard. Seorang pemuda sempurna tanpa cela.”

Perkataan gadis dihadapannya itu kini membuat Donghae berpikir keras. Memutar otaknya. Aiden Lee. Juilliard. Dia mengingatnya.

Bodoh! Setelah melihat gadis itu menari yang bahkan berhasil membuat perasaannya acak-acakan dia masih tidak menyadari bagaimana gadis itu bisa melakukannya. Seorang ballerina lulusan Juilliard. Sekolah seni yang tidak sembarang orang bisa memasukinya. Sekolah seni yang begitu terkenal di seluruh dunia. Dan Im Yoona berhasil memasuki sekolah seni itu.

“Aku mengaguminya selama setahun lamanya. Sampai akhirnya aku mengetahui fakta bahwa dia memiliki seorang kekasih. Saat itulah perasaan itu memudar, dimana bahkan aku melupakan wajahnya.”

Donghae kaget bukan main. Ekspresi itu tergambar nyata di wajah pemuda itu. Kembali mendapati sebuah kejutan. Gadis itu mengenalnya dan bahkan sempat mengaguminya. Mengetahui fakta itu semakin membuatnya tidak mengerti dengan perasaannya.

Senyum merekah dari sudut bibirnya begitu saja. Perasaan senang itu kini meliputinya. Membuat Yoona yang berada di depannya terheran-heran sendiri. Tidak percaya jika dia telah mengungkapkan salah satu rahasianya pada pemuda itu. Tidak apa-apa, karena itu hanyalah masa lalu yang tidak berarti apa-apa.

“Apa kau sudah puas?” tanya Yoona sambil tersenyum. Memotong kontak mata mereka begitu saja dan mulai melangkah pergi.

Donghae tersadar dan secara refleks tangannya menggenggam tangan Yoona. Membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Membuatnya kembali menoleh ke arah Donghae dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa kau masih mengagumiku sampai sekarang?” tanya Donghae pelan, dengan senyum masih merekah di sudut bibirnya.

Yoona menghentakkan tangan Donghae secara paksa. “Jangan bercanda Hae,” katanya sambil berlalu pergi. Terkadang, apa yang terucap tidak selalu benar adanya.

*

Pagi buta gadis itu berjalan. Saat matahari bahkan belum menampakkan sosoknya. Saat orang-orang yang berbalut selimut di dalam sebuah gedung-gedung bertingkat itu masih terlelap. Saat jalanan yang sebentar lagi akan dipenuhi mobil itu masih terlihat sepi.

Berjalan dengan sebuah tas mungil dalam genggamannya. Seketika, langkahnya terhenti begitu saja saat melihat sebuah majalah dengan cover wajah pemuda tampan yang akan ditemuinya. Dengan judul artikel besar ‘Kim Taeyeon menangis dipelukan Lee Donghae’.

Seketika sebuah perasaan aneh menyergapnya. Bukan perasaan sebagai seorang gadis yang merasa cemburu karena kekasihnya memeluk gadis lain. Bukan pula perasaan terluka melihat sang kekasih bersama gadis lain. Tapi sebuah perasaan kecewa dan marah.

Dengan berlari-lari kecil dia menyusuri jalanan. Yang dipikirkannya saat ini adalah segera ke tempat tujuannya. Sebuah majalah yang dibelinya tampak lusuh saking eratnya dia menggenggamnya.

“Donghae Oppa,” teriaknya dari luar pagar. Otaknya tidak sempat berfikir untuk menghubungi pemuda itu, karena memang niat awalnya adalah memberi pemuda itu kejutan. Kini dia mencoba mengontrol dirinya, menghirup nafas secara teratur.

“Yuri, apa yang kau lakukan?” tanya Donghae seraya membuka pintu pagar. Tampak sekali dari tatanan rambut Donghae yang masih acak-acakan menandakan jika pemuda itu baru bangun tidur.

Yuri tak menjawab pertanyaan pemuda itu. Dia berlalu melenggang masuk ke dalam rumah. Dan disanalah dia meluapkan semua emosi yang dirasakannya. Melemparkan dengan asal majalah yang ada dalam genggamannya. Membuat Donghae terkaget-kaget dan segera memungut benda itu.

“Apa yang kau lakukan Oppa? Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau berulah seperti ini?” teriak Yuri frustasi. Benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pemuda dihadapannya.

Kalian jangan berfikir jika ekspresi yang terpancar dari wajah Yuri adalah ekspresi cemburu. Bukan itu, hal ini lebih seperti semacam perasaan kecewa. Kecewa kenapa?

“Kau cemburu?” tanya Donghae sambil tersenyum. Dan sekarang sebuah koran telah melayang ke arah pemuda itu.

Yuri marah. Bukankah gadis itu sudah mengatakan jika jalinan kisah antara dia dan Donghae telah berakhir. Semuanya tidak bisa kembali seperti dulu. Dimana kini perasaan itu telah memudar, telah berubah seiring berjalannya waktu. Perasaan takut akan terulangnya kejadian pahit itu membuatnya tidak bisa mengulang masa lalu.

“Semuanya tidak bisa sama Oppa. Luka yang kau torehkan akan selalu melekat di sini,” kata Yuri sambil menunjuk dadanya. Matanya tampak menerawang jauh. Membuat Donghae kembali diliputi rasa bersalah itu.

“Tatapan matamu telah berubah. Perlahan-lahan kau akan menyadari jika perasaanmu juga berubah. Dan akan ada waktu di mana kau tidak perlu bersembunyi dari takdir,” lanjut Yuri. Kali ini sebuah senyuman turut menghiasi sudut bibirnya.

“Maafkan a” belum sempat Donghae menyelesaikan kalimatnya, Yuri telah meletakkan jari telunjuknya di bibir pemuda itu. Mengisyaratkannya untuk diam.

“Aku hanya tidak ingin kau mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya Oppa. Aku tidak ingin Yoona merasakan sakit itu, walau mungkin dalam kadar yang berbeda. Tapi percayalah, dengan seperti ini kau hanya akan melukai perasaannya. Perasaan gadis tak berdosa yang telah membantumu,” ujar Yuri. Kini dia mulai berdiri, memunggungi Donghae.

Donghae menyimak setiap detail perkataan gadis itu. Meresap dalam otaknya. Menyadarkannya akan satu hal. Selama ini, perasaannya untuk gadis itu memang bukan sebuah cinta tulus yang tak terlupakan. Tapi sebuah perasaan bersalah yang terus membelitnya. Karena kini, disaat gadis itu datang dihadapannya justru sesosok gadis lain yang memenuhi pikirannya.

Segalanya memang telah berbeda. Waktu telah membuat segala hal yang nyata menjadi memudar. Semua yang dikatakan Yuri memang benar. Dari dulu sampai detik ini gadis itu masih selalu benar.

“Aku masih ingat saat kau membuangku,” gumam Yuri menerawang. Dia kini berbalik menatap Donghae. Saat melihat tak ada raut penyesalan di wajah pemuda itu dia menjadi lega. Raut penyesalan itu kini tergantikan oleh sebuah senyuman.

Masa lalu memang harus dikisahkan, dan masa depan harus diperjuangkan. Sekalipun dengan susah payah, bercucuran keringat maupun ribuan tetes air mata yang akan jatuh. Karena untuk mencapai kebahagiaan itu butuh perjuangan.

Sepasang kekasih yang tengah menikmati indahnya senja itu terlihat begitu bahagia. Tawa tak pernah meredup, suara renyah itulah yang mengisi kekosongan. Duduk berdua di atas rumput di pinggir danau membuat mereka langsung berinteraksi dengan alam.

“Terima kasih Oppa. Berkat kaulah hidupku menjadi lebih berwarna. Mengubahku menjadi sosok Kwon Yuri yang baru. Yuri yang melupakan sikap egoisnya, Yuri yang berhasil mengalahkan kesombongannya.”

Kwon Yuri, gadis cantik yang memiliki ambisi besar. Menganggap dirinya paling sempurna. Segala hal di dunia ini yang dinginkannya harus didapatkannya. Gadis itu terdaftar sebagai salah satu mahasiswa di New York University.

Pertemuannya dengan Donghae berawal ketika keduanya tak sengaja bertemu di sebuah toko music. Ada sebuah ketertarikan di antara keduanya. Keistimewaan yang dimiliki keduanya menjadikan magnet sehingga keduanya ingin selalu bertemu satu sama lain.

Pertemuan mereka tidak berhenti begitu saja. Sampai akhirnya sebuah pernyataan cinta yang manis diungkapkan Donghae di depan danau Camplain. Tempat yang penuh kenangan untuk mereka berdua.

Tiga tahun hubungan mereka berjalan dengan lancar. Dimana Donghae bisa merubah sifat buruk Yuri hanya dalam beberapa bulan saja. Dengan caranya Donghae berhasil membuat gadis itu bertekuk lutut dihadapannya. Kepercayaan dan kejujuran selalu mereka pegang.

Sampai pada akhirnya sebuah pilihan sulit menghampirinya. Lee Donghae, yang lebih dikenal sebagai Aiden Lee memiliki bakat menyanyi yang luar biasa. Sebuah tawaran dari sebuah management asal Korea Selatanasal pemuda itu—membuatnya terpaksa harus melepas gadis itu.

Dia punya pilihan. Untuk mempertahankan gadis itu dengan resiko akan menghambat karirnya atau melepaskannya dan meraih mimpinya. Pilihan kedua menjadi pilihan terakhirnya. Di tempat yang sama saat dia meminta gadis itu menjadi kekasihnya, dia melepaskannya. Disaksikan beningnya air danau.

“Aku akan ke Korea,” kata Donghae singkat seraya memberikan sebuah map berisi kontraknya dengan SM Entertainment.

Awalnya Yuri tersenyum sumringah, ikut merasakan kebahagiaan yang menghampiri kekasihnya.

“Mari kita berpisah Yuri-ya,” kata Donghae pelan. Seketika ucapan pemuda itu membuat Yuri mematung ditempat. Lidahnya kelu. Hendak melakukan protes tapi sebuah fakta bahwa hubungan mereka akan menghambat karir pemuda itu membuatnya hanya bisa diam. Sampai sosok pemuda itu menghilang, dia masih diam di tempatnya semula. Diiringi suara isak tangis yang mulai terdengar.

Kesalahan fatal yang dilakukan Donghae pada masa lalu. Pemuda itu menyakiti Yuri sampai sedalam danau yang menjadi saksinya. Bukan perpisahan baik-baik yang akan meninggalkan sebuah kenangan manis. Tapi perpisahan yang menyimpan luka dan penyesalan. Dia memang brengsek.

“Aku akan memaafkanmu jika kau berjanji tidak akan menyakiti Im Yoona,” gumam Yuri. Gadis itu sungguh-sungguh mengucapkannya. Inilah pilihan terakhirnya. Hal terbaik yang bisa dilakukannya.

Donghae mengernyitkan dahinya. Benar-benar tidak mengerti akan sikap gadis dihadapannya. “Kenapa kau begitu tidak ingin Yoona tersakiti?” tanya Donghae langsung.

“Karena…karena…,” ucap Yuri menerawang. Kembali mengingat masa lalunya. Seakan semua sudah direncanakan sedemikian rupa. Sebuah takdir yang digariskan Tuhan untuknya. “Kau akan menyesal jika sampai membuatnya menderita.”

*

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Kita akan dihampiri sebuah kegelapan atau kita akan dusuguhi sebuah kebahagiaan. Dalam kebingungan itu kita hanya bisa mengira-ngira. Kita menduga-duga. Kita berprasangka. Apakah yang akan terjadi? Kejadian baikkah? Burukkah? Kita hanya tinggal menunggu sampai esok datang.

Duduk sendiri dengan secangkir kopi yang menemani membuatnya merasa tenang. Ada kalanya menunggu menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mendebarkan. Menunggu orang yang begitu kau rindukan kehadirannya. Menunggu orang yang begitu ingin kau temui melebihi siapapun.

Senyum terus tersungging dari sudut bibirnya. Lonceng cafe itu nampak berbunyi. Seketika Yoona menolehkan kepalanya menatap pintu. Mendapati sesosok pemuda yang amat dirindukannya itu kini tengah berjalan. Menjadi begitu tampan dalam balutan kemeja garis-garis berwarna biru army.

“Im Yoona,” ucapnya sambil tersenyum. Pemuda itu merentangkan kedua tangannya. Dan tanpa menunggu lebih lama lagi, kini Yoona sudah berada dalam pelukan Lee Hyukjae. Pelukan penuh kenyamanan yang didapati Yoona.

Senyum merekah masih menghiasi wajah keduanya. Kini, mereka mulai beranjak dari posisinya. Duduk berhadapan di sebuah café. Pemuda itu tak menyadari jika kedua tangan gadis dihadapannya tengah berpegang erat pada meja dihadapannya.

“Bagaimana kabarmu Oppa?” tanya Yoona. Nada kerinduan begitu kental dari ucapannya.

Hyukjae hanya tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti dulu. Senyum yang selalu ditunjukkannya kepada Yoona. Dia berbicara dengan cara yang masih masa. Tatapan matanya pun masih sama. Lantas, apakah perasaannya masih sama pula?

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” balasnya. Tangannya terangkat ke atas, memanggil pelayan. Karena tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampirinya.

“Seperti yang kau lihat. Aku begitu merindukanmu Oppa,” balas Yoona tulus. Dengan pemuda inilah seolah dia menjadi begitu berbeda. Seperti bukan Im Yoona yang biasanya, tapi Im Yoona yang sesungguhnya.

Hyukjae hanya tersenyum tipis menatap gadis dihadapannya. Harus diakui jika dia juga merindukan gadis itu. “Aku juga merindukanmu Yoongie.”

Mata Yoona begitu berbinar mendengar perkataan Hyukjae. Perasaan senang meluap begitu saja. Menggantikan perasaan kecewa dan penuh penantian yang dirasakannya selama ini.

Pemuda itu masih mengingat panggilan namanya. Memanggilnya dengan cara yang sama. Nada suara dengan tempo yang sama. Membuatnya terdengar begitu istimewa di telinganya.

“Kudengar kau sudah memiliki kekasih? Bisakah kau mengenalkannya padaku?” tanya Hyukjae sambil tersenyum. Pertanyaan pemuda itu kini justru membuat Yoona salah tingkah. Tidak terpikir olehnya jika pemuda itu akan menanyai pertanyaan seperti ini.

“Ah itu…sebenarnya…bukan…”

“Aku turut bahagia melihatmu bahagia,” potong Hyukjae cepat. Ketulusan terpancar dari matanya saat mengucapkan kalimat itu.

Yoona diam. Kini dia berusaha menyelami mata pemuda itu. Mencari apakah ada perasaan sakit yang menyerang pemuda itu. Tapi nihil. Dia tidak menemukannya. Pancaran mata pemuda itu begitu tulus. Membuat sebagian hati Yoona seraya disayat.

“Oppa…” ujarnya pelan. Tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Berbagai kata yang ingin diutarakannya menguap begitu saja kala mereka duduk berhadapan. Ya, semuanya memang tidak semudah yang dibayangkannya.

“Kau masih gadis cantik yang paling aku sayangi. Gadis yang ingin aku lindungi. Percayalah, aku ingin melihatmu bahagia. Menjadi seorang kakak yang berhasil mengantarkan adiknya pada sebuah kebahagiaan.”

Jeder. Bagai tersambar petir di siang bolong. Perkataan pemuda itu menyayat hati Yoona sampai ke dalamnya. Begitu menusuk. Menyakitkan. Membuatnya ingin mati.

“Kau tahu, sejak pertama kali melihatmu aku merasa ingin melindungimu. Dari luar, kau terlihat ceria dan bersemangat. Tapi, mengenalmu selama bertahun-tahun sudah cukup untukku mengenal siapa sosok Im Yoona yang sesungguhnya.”

Mata Yoona memanas. Jadi beginikah perasaan Hyukjae untuknya? Menganggapnya sebagai seorang adik? Selama bertahun-tahun ternyata perasaannya tak pernah terbalas. Perasaan itu terbuang sia-sia.

“Oppa…,” lirihnya. Tangannya beralih mencengkeram ujung taplak meja demi menguatkan hatinya. Berusaha membendung air mata terus mendesak untuk keluar.

“Sampai akhirnya aku pergi dari hidupmu. Kau tetap gadis yang sama, ceria dan penuh semangat. Bahkan kau tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Aku bangga pernah mengenalmu Yoongie.”

Yoona tidak kuasa mendengar semua perkataan pemuda dihadapannya. Ingin rasanya dia enyah sekarang juga dari sana. Membuang kesempatan bertemu pemuda itu tidak apa-apa, asal dia tidak harus mendengarkan semua perkataan pemuda dihadapannya.

“Dan satu hal yang aku sesalkan, kau tidak jujur padaku. Sekali saja, aku ingin kau meluapkan semua perasaanmu dengan leluasa. Menangislah jika kau ingin menangis. Tertawalah jika kau ingin tertawa. Kau tidak harus menyembunyikannya.”

Perkataan pemuda itu semakin membuat Yoona kesulitan bernafas. Disaat seperti ini, saat pemuda itu memintanya untuk meluapkan emosinya kenapa kini justru sebuah senyuman yang diperlihatkannya? Kemana air mata yang ingin menyeruak keluar tadi?

“Kau mengenalku dengan sangat baik Oppa,” ucap Yoona pelan.

Bukan waktu yang singkat untuk Yoona mengenal Hyukjae. Bertahun-tahun adalah waktu yang teramat panjang untuk bisa memahaminya. Dia mengenal pemuda itu sebaik pemuda itu menganal Yoona. Tahun-tahun yang panjang dan berliku. Tahun-tahun yang menorehkan segala rajutan kisah, rasa, jejak ingatan, kenangan. Dia bahkan menganggap jika dia terlalu mengenal seorang Lee Hyukjae.

Setiap perubahan dalam diri pemuda itu seiring berjalannya waktu dia tahu semua. Membuatnya sedih saat pemuda itu pergi meninggalkannya. Membuatnya tak bisa melihat perubahan dalam diri pemuda itu.

Semua yang telah mereka lalui bersama, saat-saat yang penuh tawa, canda serta duka, setiap mimpi yang telah terukir. Tapi semua itu kini telah berubah. Persepsi yang dipikirkan gadis itu salah. Gadis itu tidak mengenal dengan baik pemuda dihadapannya. Atau bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dan begitupun dengan pemuda itu. Keduanya sama-sama tidak mengenali perasaan masing-masing.

Tangan Hyukjae terulur ke depan, memberikan sebuah kartu—semacam kartu undangan—berwarna merah marun ke hadapan Yoona. Gadis itu hanya melirik sekilas. Terlalu takut untuk menerima kenyataan yang sebentar lagi akan diterimanya. Jangan katakan…jangan katakan…

“Minggu depan, aku akan bertunangan. Aku sangat mengharapkan kau datang, bawalah kekasihmu,” tutur Hyukjae pelan. Tuhan tidak mendengar Yoona. Seketika melumpuhkan saraf pendengarannya.

Gelak tawa yang terdengar saat keduanya bersama kini berubah menjadi kekecewaan. Sebuah fakta sederhana mampu memporak-porandakan kebahagiaan yang disusunnya. Dengan mudahnya menghancurkan segala harapannya. Bahkan dalam hitungan detik. Bagaimana bisa tahun-tahun yang telah dinantikannya menjadi hancur? Sirnalah semua. Seluruh mimpi, harapan, angan, janji. Adakah yang tersisa untuknya? Luka dan kerinduan akan masa lalu. Semuanya menguap begitu saja.

“Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu Yoongie,” kata Hyukjae pelan seraya melangkah pergi. Sebuah perpisahan baik-baik, bukan perpisahan sepihak yang tempo dulu dilakukannya.

Yoona masih diam tak bergerak diposisinya semula. Seiring dengan menghilangnya sosok Lee Hyukjae senyum yang menghiasi bibirnya lenyap secara perlahan-lahan. Tergantikan oleh ekspresi keputusasaan di wajahnya.

*

Otot-otot rahangnya mengeras. Tangannya mengacak-acak rambutnya. Frustasi. Itulah yang kini dirasakan Donghae. Mendapati lagi-lagi sebuah masalah mengerikan dihadapannya.

“Apa yang kau pikirkan Hae-ya?” tanya Sungmin menuntut. Mata pemuda itu ikut berkilat-kilat menahan amarah.

Donghae menghela nafas berat. Tidak mengerti takdir apa yang tuhan gariskan untuknya. masalah datang silih berganti menghampirnya tanpa jeda. Membuatnya membawa seseorang tak berdosa yang harus ikut merasakannya.

“Aku tidak tahu kalau akan seperti ini,” jawab Donghae lirih. Dia sendiri dalam keadaan bingung. Dan kini, Sungmin datang untuk menghakiminya. Ya Tuhan apa yang harus dilakukannya?

Brak. Sungmin menggebrak meja dihadapannya. Kini, keduanya tengah berada di salah satu ruangan di gedung SM Entertainment. Sontak perbuatan itu membuat Donghae terlonjak kaget. Sebuah kejutan karena biasanya Sungmin tidak akan semarah ini.

“Kau kenapa?” tanya Donghae pelan. Berusaha untuk tetap sabar dan tidak ikut terpancing emosi karena perbuatan Sungmin. Dialah yang melakukan kesalahan, tidak ada gunanya dia membela diri.

“Kau meminta bantuan Yoona dan sekarang kau sendiri merusaknya. Lalu apa maumu? Kau hanya akan menyakiti orang yang tidak bersalah Hae,” ucap Sungmin lantang. Penuh dengan keyakinan.

Donghae tampak berpikir sejenak, meresapi setiap perkataan pemuda dihadapannya. Ya, dia tahu resiko yang harus ditanggungnya. Seperti apa akibat yang akan dideranya karena masalah ini. Dan juga gadis itu, Yoona pun yang tidak tahu apa-apa akan ikut terjerat.

Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otaknya. Bagaimana dengan Yoona? Apakah gadis itu sudah mengetahui masalah ini? Tanpa menunggu waktu lebih lama dia pun segera menghubungi Yoona. Mengabaikan Sungmin yang kini menatapnya dengan tatapan tajam.

“Kau dimana?” tanya Donghae gusar. Takut-takut jika gadis itu kini tengah dalam masalah. Bagaimana pula jika wartawan itu menyerbunya dengan berbagai pertanyaan? Semua di luar perkiraan mereka. dan bodohnya Donghae melupakannya.

“Cafe Melody,” jawabnya pelan. Serak.

“Tunggu aku!” kata Donghae singkat. Pemuda itu tidak terlalu memperdulikan nada suara Yoona yang terdengar begitu pilu. Berbeda dari hari-hari sebelumnya yang begitu ketus.

Donghae segera menyambar kunci mobil dan kemeja disampingnya. Tidak memperdulikan perkataan Sungmin yang tengah meneriakinya. Dia akan menghadapi amukan sahabatnya itu setelah urusannya selesai. Dia harus melindungin gadis itu. Seperti janjinya pada Yuri dan pada dirinya sendiri.

Audi A5 itu membelah jalanan yang padat. Menyebabkan pengemudi mobil yang dilewatinya mengumpat pelan. Menerobos lampu merah begitu saja. Otaknya tidak bisa berfikir dengan benar. Teringat kembali nada suara Yoona yang begitu…sedih? Semakin meyakinkan dirinya jika gadis itu tengah dalam masalah.

Donghae menghela nafas lega saat mendapati cafe Melody masih sepi seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda kehadiran para wartawan yang siap menyerbunya. Segera dia berlari memasuki cafe, tanpa mengindahkan sapaan pelayan yang menyambutnya.

Peluh menetes dari pelipisnya saat dia akhirnya melihat gadis itu. Duduk seorang diri dengan pandangan menerawang di sudut cafe. Tampak dihadapan gadis itu dua buah cangkir, menandakan jika beberapa menit lalu gadis itu tidak sendiri.

“Ayo kita pergi!” kata Donghae. Tidak ada reaksi apapun yang terjadi. Gadis itu seperti tidak mendengar perkataan Donghae. Tidak melihat jika pemuda itu kini sudah berdiri dihadapannya.

“Im Yoona, ayo kita pergi. Akan aku jelaskan di mobil,” teriak Donghae lagi. Merasa kesal karena gadis di hadapannya tampak mengacuhkannya.

Masih tidak ada reaksi yang ditunjukkan Yoona. Donghae mengamati gadis itu baik-baik. Dan dia mendapatkannya. Sebuah ekspresi yang tidak pernah dilihatnya dari gadis itu. Ekspresi kesakitan. Terluka.

Karena tidak mendapatkan respon yang berarti dengan berani dia menarik tangan Yoona dan membawanya pergi. Oh sial! Kini, di luar berlarian para wartawan yang siap menerkamnya dengan berjuta pertanyaan. Dengan gesit dia membuka pintu penumpang dan memasukkan Yoona secara paksa.

Di dalam mobil pun Yoona hanya diam. Tidak berucap walau sepatah katapun. Membuat Donghae menjadi gusar sendiri. Tidak mengerti apa penyebab perusahan sikap gadis itu? Apakah karenanya? Otaknya sibuk memproses kejadian barusan. Gadis itu tidak datang ke cafe sendiri, paling tidak tadi dia bersama seseorang. Mungkinkah orang itu penyebabnya?

Donghae tidak tahan lagi melihat Yoona yang terlihat seperti mayat hidup seperti ini. Lebih baik dia melihat gadis itu dalam keadaan kesal, asalkan gadis itu tetap ceria.

Donghae membelokkan mobilnya disebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota Seoul. Rumah itu cukup besar dan mewah. Dengan sebuah taman luas menghiasi halamannya.

Setengah menyeret Donghae membawa Yoona melangkah menuju pintu. Tidak ada hal lain yang dipikirkannya kini, selain melarikan Yoona jauh-jauh dari para wartawan. Dan disinilah tempat yang tepat.

“Hyoyeon-ah bisakah kau menolongku?” kata Donghae saat seorang gadis cantik membukakan pintu. Kim Hyoyeon, ya setidaknya gadis itulah yang mengerti dengan keadaan Donghae. “Terima kasih,” kata Donghae seraya masuk, masih dengan menyeret tangan Yoona.

Setibanya di dalam rumah, Hyoyeon nampak bingung. Tatapan matanya mengarah ke arah gadis disamping Donghae. Dia tahu Yoona tentu saja. Yang dia bingungkan adalah sikap gadis itu. diam tak bergerak seperti patung.

Donghae tampak paham, mengisyaratkan pada Hyoyeon untuk meninggalkan mereka berdua. Sehingga kini di ruang tamu itu hanya menyisakan Donghae dan Yoona.

Donghae menatap gadis disampingnya, tangannya terangkah hendak mengangkat dagu Yoona sehingga gadis itu kini menatapnya. Tatapan gadis itu sesaat menyiratkan sebuah kepedihan. Donghae yang tidak mengerti apa-apa menjadi bingung seketika. Dan akhirnya sebuah air mata jatuh menuruni pipi gadis itu. Membuat Donghae segera tersadar dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Memberikan sebuah kenyamanan seperti beberapa menit lalu dirasakan gadis itu.

**

Leave your comment, please. I’d be very happy:-)

Next : It’s (not) a Drama

25 comments

  1. yeay akhirnya hae meluk yoona *bikin pesta*
    seperti biasa tidak diragukan lagi ffnya keren chingu
    lanjut bc next chap

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s