Scandal: How Precious You Are!


Title : Scandal: How Precious You Are!

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Kwon Yuri

–          Jessica Jung

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : It’s (not) a Drama

Pemandangan yang terlihat semakin lama kian memudar. Langit biru yang biasanya terlihat cerah menjadi gelap. Rasa sakit dan begitu lemah terasa di seluruh persendian. Lelah. Kepala selalu saja terasa berat, seakan-akan kapan saja kepala itu akan meledak begitu saja dengan mudahnya, mengeluarkan seluruh isi yang ada di dalamnya.

Yoona menghela nafas untuk kesekian kali saat mendapati tatapan tajam teman-temannya. Well, sebenarnya ini bukan kali pertama teman-temannya menatapnya dengan tatapan tajam dan bergidik geli. Setiap hari bahkan dia harus melihat tatapan tajam itu.

Air mata yang sejak beberapa menit lalu ditahannya kini semakin mendesak keluar. Sekali saja dia menunduk, air mata itu akan tumpah. Sekuat tenaga dia memantapkan hatinya, mengatur emosi yang ditahannya.  Sesekali dia pun menengadahkan kepalanya sebagai upaya agar air mata itu berhasil dihentikannya.

Masa-masa dimana seharusnya menjadi masa paling indah untuk gadis seusianya berubah dalam sekejap. Dia sadar sejak awal jika kebahagiaan yang diimpikannya tidak akan begitu mudah untuk didapatkannya. Bahkan sampai dia beranjak menjadi dewasa.

“Yoona,” teriakan seorang gadis yang menggema di seluruh lorong memecah lamunan Yoona. Membuat gadis itu mengganti ekspresi wajahnya dan berbalik.

Yoona tersenyum mendapati Jessica tengah berlari-lari kecil ke arahnya. Jessica Jung, gadis cantik yang dikenal Yoona sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan sejak saat itulah mereka menjadi sahabat yang tidak terpisahkan. Keduanya saling melengkapi satu sama lainnya.

Kesamaan diantara keduanya menjadikan persahabatan itu bertahan sampai sekarang. Mereka selalu ada dalam suka maupun duka. Saling mendukung satu sama lain. Menangis bersama, tertawa bersama.

“Kenapa mereka menatapku seperti itu?” tanya Yoona pelan. Tapi cukup keras terdengar di telinga Jessica yang berdiri tidak lebih dari lima belas sentimeter dari Yoona.

Jessica pun mengedarkan matanya ke sekeliling. Dia tidak terlalu pusing mendapati tatapan tajam teman-temannya. Mereka iri pada Yoona. Itulah pemikiran yang selalu terbersit dalam benaknya.

“Entahlah,” jawab Jessica acuh. Membuat Yoona hanya bisa menghela nafas pasrah. Kembali mengingat hal buruk yang baru saja menimpanya.

Sebuah berita paling buruk didapatkannya pagi ini. Saat dimana harapan yang telah dipupuknya dalam hati harus mati bahkan sebelum berkembang. Tidakkah itu menyakitkan? Jujur saja, dia sudah sangat berharap akan harapan itu. Yang membuatnya berani merubah dirinya menjadi sosok yang begitu…kejam?

“Kau kenapa?” tanya Jessica mendapati Yoona yang masih mematung ditempatnya. Sedang dia sudah mulai berjalan menjauh.

“Beasiswa itu, aku tidak mendapatkannya,” jawab Yoona lirih. Seketika perkataan Yoona membuat Jessica terkejut.

Im Yoona, siswa yang mahir menari dan sering mendapat pujian dari para guru. Dengan berani dia mendaftarkan diri untuk mendapat beasiswa di Juilliard. Hal itu didukung oleh para guru, tapi tidak kedua orang tuanya. Karena memang sejak awal, orang tuanya tidak mengijinkannya untuk menjadi seorang penari.

“Bagaimana bisa? Bukankah kemarin lusa Miss Fei mengatakan kau mendapatkannya?” tanya Jessica bingung. Gadis itu dapat memahami perasaan Yoona kali ini. Impian gadis itu, akan hilang seiring kegagalannya. Dan dia tidak bisa membiarkannya.

Yoona hanya menggeleng lemah. Rasanya dia tidak sanggup menerima kenyataan ini. Tapi semua sudah terjadi, lalu apa dia bisa protes? Protes akan takdir yang telah digariskan untuknya? Jawabannya tidak.

“Oh Yoona, kenapa kau terlihat begitu menyedihkan? Apa yang terjadi padamu sayang?” tanya seorang gadis yang dikelilingi oleh ‘dayang’nya. Gadis yang dikenal sebagai dewi sekolah dan paling berkuasa. Gadis itu kini mulai mendekat ke arah Yoona.

Yoona hanya menoleh sekilas ke arah gadis itu dan melanjutkan langkahnya. Kwon Yuri, anak dari pemilik sekolah yang ditempatinya. Memang sejak awal gadis itu tidak menyukai Yoona. Entah apa yang membuatnya begitu membenci Yoona.

Hari-hari berlalu begitu cepat. Semakin hari semangat yang selalu menghiasi hidup Yoona kian memudar. Gadis itu menjadi pemurung. Setiap harinya dia hanya datang ke sekolah, belajar, pulang ke rumah, dan kemudian tidur. Membuat Jessica menjadi begitu khawatir akan kondisi sahabatnya itu.

“Yoona,” teriak seseorang, membuat Yoona akhirnya menoleh. Kini terlihat Hyukjae yang berjarak hanya beberapa meter darinya tengah berlari ke arahnya. Melihat pemuda itu  mau tak mau membuat Yoona tersenyum.

Hyukjae tersenyum manis melihat Yoona yang juga tengah tersenyum ke arahnya. Perasaan lega dan marah seketika merayapi hatinya. Pemuda itu lekas menarik tangan Yoona dan membawanya menjauh. Sampai akhirnya mereka tiba di taman sekolah.

“Lihatlah ini,” kata Hyukjae seraya menyodorkan sebuah lembaran—semacam brosur atau iklan—pada Yoona. Membuat gadis itu hanya bisa mengernyitkan dahinya.

“Kau bisa mencoba mendapatkan beasiswa ke Juilliard dengan mengikuti tes. Jika satu hal baik itu telah berlalu, pasti akan ada hal baik lain yang akan datang menghampirimu. Jika hal baik itu ternyata bukan yang terbaik untukmu—bukan jalan untukmu, percayalah pasti Tuhan telah merencanakan satu hal terbaik untukmu. Aku percaya kau pasti bisa melakukannya Yoona,” tutur Hyukjae.

Yoona menatap haru pemuda disampingnya. Selalu, pemuda itulah yang selalu bisa membuatnya tersenyum bahagia. Menyisipkan setitik kebahagiaan dalam hidupnya yang tidak selalu bahagia. Tapi kini, semua hanya ada pada masa lalu. Seiring kedewasaannya, hal itu telah berganti menjadi sesuatu yang menyakitkan.

“Terima kasih Oppa,” ujarnya tulus. Hyukjae hanya tersenyum tipis, bahagia dirasakannya saat melihat raut wajah Yoona yang tertutup awan mendung kini telah hilang.

*

Duduk ketiga orang itu dalam suasana canggung yang tidak semestinya singgah. Ketiganya tentu bukan orang asing yang baru beberapa menit lalu saling kenal. Ketiganya bahkan sudah saling mengenal sejak beberapa tahun lalu.

Tidak ada suara yang terdengar, tampaknya enggan untuk memulai pembicaraan. Sesekali satu sama lainnya terlihat saling melirik. Hanya dalam tahap itu saja interaksi diantara mereka selama beberapa menit.

“Kesalahan di masa lalu, bagi sebagian orang akan menjadi kenangan pahit yang selalu berusaha untuk dilupakan karena cukup menyesal telah mengalaminya. Bertahun-tahun lamanya aku berusaha untuk melupakan kesalahan itu, tapi nyatanya tidak bisa. Perasaan egois dan rasa harga diri yang begitu tinggi membuat sebagian orang berani bertindak diluar batas kewajaran,” kata Yuri memecah keheningan.

Yoona mendongak menatap gadis dihadapannya. Begitupun dengan Donghae. Keduanya sama-sama tidak mengerti dengan maksud ucapan yang baru saja dilontarkan Yuri.

Lagi-lagi kini Donghae harus membicarakan tentang masa lalu, bersama Yuri. Walau kali ini dengan objek dan subjek yang berbeda.

Semua orang pasti mempunyai masa lalu, dimana masa lalu itu telah terisi oleh kenangan manis maupun pahit. Kenangan manis yang akan selalu teringat hingga dewasa, yang bisa menjadi sebuah motivasi dan semangat.

“Kau tahu, aku sangat iri padamu Yoona,” lanjut Yuri sambil menatap Yoona. Membuat gadis yang ditatapnya hanya bisa memandang bingung.

Yoona masih mengingat saat-saat dimana mereka masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Saat dimana Yuri yang selalu bersikap sinis padanya, secara terang-terangan memperlihatkan jika memang tidak menyukai Yoona. Tapi sedikitpun tidak pernah terpikirkan olehnya jika Yuri—gadis paling sempurna disekolahnya kala itu—ternyata iri padanya. Lalu, apa alasannya?

“Iri? Maksudmu?” tanya Yoona langsung.

Yuri tersenyum tipis. Sepertinya memang benar yang dipikirkannya selama ini, Yoona tidak tahu apa-apa tentang kejahatan yang telah dilakukannya.

“Kwon Yuri, kau pikir kau siapa? Jangan berpikir jika semua hal di dunia ini dapat kau ubah hanya karena kau berkuasa. Ubahlah sikapmu jika kau tidak ingin menyesal nantinya. Suatu saat, kau akan menyesali semua perbuatan kejimu. Kau akan mendapatkan balasannya,” kata Hyukjae kala itu. Yuri tidak bisa menyembunyikan raut ketakutan saat mendapati Hyukjae tiba-tiba menemuinya.

Yuri yakin sekali jika Hyukjae mengetahui segalanya, entah darimana dia pun tidak tahu. Tapi sepertinya pemuda itu tidak mengatakannya pada Yoona. Terkadang, segala sesuatu yang begitu kejam dan menyakitkan memang tidak harus dikatakan. Dan kini, kesempatan untuk mengungkapkan semua kebenaran itu ada di depan matanya, dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Awalnya, Yuri tidak mengerti dengan maksud perkataan Hyukjae. Tapi perkataan pemuda itu begitu menancap dihatinya, sehingga membuatnya memikirkan perkataan itu. Sampai akhirnya ayahnya datang membawa kabar buruk jika dia ditolak masuk ke Juilliard. Dia hancur. Dia menangis terisak sepanjang malam. Sejak saat itulah dia menyadari apa maksud perkataan Hyukjae.

“Sejak kau datang, semua orang menjadi memperhatikanmu. Aku benci itu. Aku memaksa ayahku untuk merahasiakan beasiswa yang kau terima dan memberitahu semua orang seolah-olah kau tidak berhasil mendapatkannya. Akulah yang membuatmu kehilangan beasiswa itu,” kata Yuri pelan.

Yoona bangkit berdiri. Dan beberapa detik berikutnya tanpa bisa dicegah tangannya telah menampar pipi Yuri. Tatapan mata Yoona begitu nanar. Antara marah dan sedih bercampur jadi satu.

Ekspresi Yuri masih tenang, seakan hal yang dilakukan Yoona memang sudah sepantasnya didapatkannya. “Maafkan aku,” sambungnya. Nada penyesalan begitu terdengar saat dia mengutarakannya.

Tangan Yoona terkepal kuat. Gigi-giginya saling bergemeletuk menahan amarah. Rasanya ingin sekali Yoona merusak wajah cantik Yuri. Gadis itu tidak pernah tahu bagaimana berharganya beasiswa itu untuk Yoona kala itu. Bagaimana frustasinya dia setelah kehilangan harapan itu.

“Kau hebat sekali Yuri-ya,” kata Donghae angkat bicara. Merasa sudah beberapa lama dia terdiam menyaksikan sebuah reuni dihadapannya. Pemuda itu marah. Kecewa dirasakannya, tidak percaya jika Yuri yang dikenalnya bisa setega itu.

Yuri tersenyum tipis mendapati nada sindiran dalam perkataan Donghae. Ah, tentu saja bukan sebuah pujian yang akan diberikan akan tindak kejahatannya.

“Kaulah yang hebat Oppa. Aku sangat bersyukur karena bertemu denganmu. Akhirnya aku sadar akan sikap egois yang selalu melekat padaku,” kata Yuri tulus. Setulus hati gadis itu mengucapkan terima kasih untuk Donghae. Berkat pemuda itulah Yuri tumbuh menjadi sosok yang lebih baik.

Yoona tersenyum tipis. Otaknya kini sudah mulai mendingin. Melupakan masa lalu yang begitu pahit, rasanya tidak akan sesulit yang dipikirkannya karena dia sudah pernah mencobanya. Dan kini, ada seseorang yang selalu mendukungnya, menggantikan peran Hyukjae yang telah pergi darinya.

“Aku mungkin tidak akan memaafkanmu jika aku mengetahuinya waktu itu. Tapi sekarang semuanya telah terjadi. Maaf karena aku telah menamparmu, apakah sakit?” kata Yoona seraya tersenyum.

Donghae menatap tak percaya saat mendengar perkataan Yoona. Kembali, gadis itu membuat Donghae terpesona. Dengan sikap kedewasaan yang ditunjukannya. Bagaimana bisa gadis itu melupakannya begitu saja? Semudah itukah dia memaafkan seseorang yang hampir merenggut impiannya?

“Kau…serius?” tanya Yuri ragu. Tidak percaya jika dia akan memperoleh kata maaf itu dalam waktu sesingkat ini. Im Yoona memang gadis yang baik. Menyadarkannya, jika dia harus membalikkan kesedihan yang telah dibuatnya menjadi sebuah kebahagiaan untuk Yoona.

“Tentu saja,” jawab Yoona. Gadis itu kini menoleh ke arah Donghae. Sedikit tertegun saat mendapati ternyata pemuda itu tengah menatapnya dalam.

*

Sahabat terbaik adalah mereka yang bisa menerima perubahan dan tidak mundur dari sahabatnya. Sahabat datang begitu saja mengurangi semua kekurangan yang ada dan kita juga menambah kelebihan yang ada pada mereka. Saling melengkapi dan mengisi.

Begitulah definisi sahabat terbaik untuk Yoona. Ada satu orang yang berhak menyandang gelar sahabat terbaik untuknya, dia adalah Jessica Jung.

“Hai Yoona,” kata suara diseberang.

Beberapa saat, setelah Yoona bertemu Yuri, kini dia sadar akan berartinya Jessica untuknya. Sahabat yang selalu ada untuknya. Mendukungnya dalam keadaan apapun. Tanpa gadis itu, mungkin (dulu) Yoona sudah menyerah pada mimpi-mimpinya. Melupakan semua cita-citanya dan memilih yang lain.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Yoona.

Diseberang sana, Jessica tampak mengernyitkan dahinya. Tapi sesaat kemudian dia tersenyum. “I’m okay,” sahut Jessica ceria.

Yoona tersenyum tipis mendapati jawaban Jessica. “Terima kasih karena telah menjadi sahabatku Jess,” kata Yoona tulus.

Untuk beberapa saat tidak ada suara yang terdengar. Entah Jessica masih mendengarkan Yoona atau mungkin gadis itu justru tengah tertidur.

“Kau masih disana?” tanya Yoona kemudian saat selama dua menit belum juga terdengar sahutan dari Jessica.

“Aku bahagia bisa mengenalmu Yoona,” suara Jessica terdengar. Membuat Yoona hanya bisa tersenyum tipis.

Yoona sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Jessica. Sahabat yang selalu mengerti perasaannya. Saat tak ada kata terucap, diam mampu mengungkapkan segalanya. Tidak semua orang dapat mengerti perasaan Yoona, tapi Jessica mengerti akan hal itu. Lalu, apakah Yoona mengerti akan perasaan Jessica? Mengerti isi hatinya terdalam?

*

Udara sejuk mulai terasakan saat sebuah mobil yang dikemudikan Donghae memasuki kawasan Mokpo. Bau air laut dan amisnya ikan-ikan seketika memenuhi rongga penciuman. Sesekali Yoona harus menutup hidungnya untuk menahan bau yang sedikit menusuk hidungnya itu.

“Kau serius mengajakku ke rumah orang taumu?” tanya Yoona. Tangan gadis itu sedikit gemetar, tidak biasanya dia seperti ini. Berkali-kali dia meyakinkan hatinya sendiri jika hal ini bukanlah apa-apa.

Donghae sesekali menolehkan kepalanya menatap Yoona. Sebuah senyuman terukir manis saat mendapati raut wajah Yoona yang begitu tegang. Dalam benaknya kini terbayang respon apa yang akan ditunjukkan ibunya pada Yoona.

“Lima menit lagi kita sampai,” kata Donghae menjawab pertanyaan Yoona.

Di depan sana kini sudah tampak rumah-rumah penduduk dan beberapa orang yang nampak berlalu lalang. Kebanyakan dari mereka menuju ke arah utara dan bisa dipastikan jika mereka akan menuju ke laut.

Mobil Donghae berhenti melaju di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar besi setinggi satu meter yang membatasinya dengan jalanan. Tampak jalan setapak yang disekelilingnya dikelilingin oleh rumput-rumput—yang entah apa namanya—tampak begitu subur.

“Kau tidak ingin turun?” tanya Donghae saat mendapati Yoona yang masih duduk diam di tempatnya.

“Eh?”

“Kita sudah sampai,” terang Donghae. Dagunya tampak menunjuk sebuah rumah yang berada di samping Yoona. “Ayo turun,” ajak Donghae seraya turun dari bangku mengemudinya. Disusul oleh Yoona.

Donghae berjalan dengan langkah riang menyusuri jalan setapak yang membentang sekitar dua meter sebelum mereka tiba disebuah pintu kayu. Rumah Donghae tampak sederhana, dengan pekarangan yang cukup luas.

“Donghae-ya,” kata seorang wanita paruh baya dengan cerita saat membukakan pintu. Yang diyakini Yoona jika dia adalah ibu Donghae. Untuk beberapa saat keduanya saling melepas kerinduan, mengabaikan Yoona yang masih berdiri mematung dengan tangan yang sedikit gemetar.

Pandangan mata ibu Donghae kini jatuh pada gadis cantik dibelakang anaknya. Donghae nampak paham dengan tatapan ibunya. Pemuda itu tersenyum tipis dan segera menarik tangan Yoona dan memperkenalkannya pada ibunya. Yoona nampak sedikit kaget saat tiba-tiba Donghae menggenggam tangannya.

“Selamat sore bibi,” sapa Yoona sambil tersenyum manis. Dengan takut-takut Yoona mulai mendongak sehingga kini dia bisa menatap ibu Donghae secara langsung.

“Dia Yoona, kekasihku,” imbuh Donghae. Ibu Donghae hanya mengangguk-angguk mengerti dan segera membukakan pintu. Masih dengan menggenggam tangan Yoona, kini Donghae berjalan masuk ke dalam.

Ibu Donghae tampak menjelaskan kamar yang akan ditempati Yoona bermalam. Sedangkan Donghae sesekali hanya menimpali. Menunjukkan pada Yoona dimana letak kamar mandi atau dapur jika (mungkin) Yoona membutuhkan sesuatu.

“Ehm.”

Donghae dan Yoona menghentikan langkahnya saat tiba-tiba ibu Donghae menghentikan langkahnya. Mata ibunya tampak menunjuk sesuatu. Dan dengan segera, Donghae melepaskan pegangan tangannya pada Yoona. Pemuda itu seketika menjadi salah tingkah dan segera pamit pergi.

Kini, menyisakan Yoona yang tiba-tiba merasakan ketegangan kembali. Beberapa saat yang lalu, saat Donghae menggenggam tangannya gadis itu merasakan ketenangan. Dan kini, dia harus kembali menghadapi ketegangan itu. Sendirian.

“Beristirahatlah, kau pasti lelah,” kata ibu Donghae sambil tersenyum. Membuat Yoona ikut tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.

*

Berjalan-jalan dimalam hari memang bukan hal yang buruk. Apalagi jika kita bisa menikmati udara segar yang masih bersih dan belum bercampur dengan asap kendaraan. Suatu hal langka yang bisa didapatkan di jaman yang sudah maju seperti ini.

Kedua orang itu tengah berjalan beriringan. Dalam balutan hoodie yang memberikan kehangatan tubuh untuk keduanya. Sesekali mereka pun saling berbincang-bincang.

“Sekarang aku tahu alasan kenapa Yuri begitu melindungimu,” kata Donghae memecah keheningan.

Otaknya memutar percakapan-percakapannya dengan Yuri yang melibatkan Yoona. Donghae masih ingat saat dimana Yuri memintanya untuk tidak menyakiti Yoona. Dan kini, dia paham betul apa maksud perkataan gadis itu.

“Maksudmu?”

“Yuri pernah bilang padaku untuk tidak menyakitimu, atau tidak aku akan menyesalinya.”

Yoona tercengang mendengar penuturan Donghae. Tidak percaya jika Yuri mengatakan hal seperti itu pada Donghae. Seseorang yang dulu membecinya, kini justru melindunginya. Ya Tuhan!

“Sepertinya ibuku menyukaimu,” kata Donghae. Mengganti topic tiba-tiba.

Yoona menolehkan kepalanya ke samping. Dalam hati dia begitu lega mendengar perkataan Donghae. Syukurlah jika memang ibu Donghae menyukainya. Saat mendapati tatapan mata wanita itu, entah kenapa membuatnya tenang.

“Benarkah?” sahut Yoona semangat.

Donghae tersenyum tipis dan menolehkan kepalanya sekilas. “Saat mendapati tidak ada riasan berlebihan dari wajahmu, aku sangat yakin jika ibuku akan menyukaimu. Dia orang yang baik,” kata Donghae (lagi).

Yoona tersenyum tipis. Sejak awal, dia memang menduga jika ibu Donghae memang orang yang baik. Alasan utama kenapa dia menjadi begitu tegang saat bertemu wanita itu adalah dia takut jika wanita itu akan bertanya macam-macam padanya. Apa yang harus dijawabnya?

“Sudah berapa gadis yang kau kenalkan pada ibumu?” tanya Yoona.

Mata Donghae nampak menerawang, seperti mengingat-ingat sesuatu. “Belum ada. Kau yang pertama,” jawabnya.

Yoona tertegun sesaat mendapati jawaban Donghae. Dia bahkan tidak sadar jika refleks kakinya berhenti melangkah. Sehingga kini membuat jarak antara dia dengan Donghae.

“Kau kenapa?” tanya Donghae bingung saat melihat Yoona tampak mematung ditempatnya.

“Ehm…tidak,” sahut Yoona seraya melangkahkan kakinya mendekat ke arah Donghae. Tiba-tiba, dia merasakan pipinya kian memanas sehingga kini dia hanya bisa menunduk. Tidak ingin jika Donghae melihat pipinya yang bersemu merah. Ya Tuhan, apa yang salah dengannya?

Suasana kembali sepi dan sedikit canggung. Yoona tidak tahu harus mengangkat topic apa sebagai bahan pembicaraan antara dia dengan Donghae. Sedikit saja dia melakukan kesalahan, akan berakibat fatal seperti saat ini misalnya.

“Ngomong-ngomong, bagaimana jika ibumu bertanya macam-macam tentang hubungan kita?” tanya Yoona. Gadis itu barus tersadar jika kemungkinan ibu Donghae akan menanyainya macam-macam. Tidak mungkinkan ibu Donghae tidak mengetahui akan skandal yang menimpa anaknya?

“Aku rasa dia tidak akan bertanya macam-macam. Kau tenang saja, dia bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Sekalipun kehidupan anaknya sendiri,” jawab Donghae.

Yoona hanya mengangguk-angguk paham. Semoga. Semoga apa yang dikatakan Donghae benar adanya. Karena sesungguhnya dia tidak ingin memulai sebuah kebohongan (lagi) dalam hidupnya. Apalagi kini, dia harus membohongi ibu Donghae.

“Hujan! Ayo cepat!” teriak Donghae tiba-tiba. Membuat Yoona tersentak kaget dan hanya bisa menurut pasrah saat Donghae menarik tangannya dan membawanya berlari.

Keduanya berlari ditengah tetes-tetes gerimis yang mulai turun. Donghae berlari kencang sekencang angin yang mulai bertiup. Pemuda itu tidak sadar jika dibelakangnya Yoona tengah mengikutinya dengan nafas terengah-engah.

Donghae menghentikan larinya saat mendapati genggaman tangan Yoona terlepas dari genggamannya. Segera dia berbalik dan berjalan ke arah Yoona yang saat ini tengah duduk di jalan.

“Kau baik-baik saja?” kata Donghae panic saat mendapati lutut Yoona yang berdarah. Disamping gadis itu, tampak sebuah batu besar yang diyakininya adalah penyebab jatuhnya gadis itu.

“Naiklah!” kata Donghae kemudian. Suaranya terdengar samar, dikalahkan oleh suara hujan yang mulai deras.

Yoona diam ditempatnya. Matamya mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari jika mungkin ada tukang ojek yang bisa mengantarkannya menuju rumah Donghae. Tapi nihil, suasana tampak begitu sepi. Maklum saja, malam semakin larut dan hujan turun semakin deras.

“Naiklah!” kata Donghae lagi. Kini pemuda itu mulai menarik paksa tangan Yoona dan melingkarkan di pundaknya. Yoona mau tak mau kini mulai menaiki punggung Donghae. Membuat pemuda itu tersenyum puas. Secara samar, Yoona pun tersenyum dalam gendongan pemuda itu.

“Bisakah kau membawa ini?” tanya Donghae seraya menyodorkan kantong plastic berisi makanan yang dipegangnya. Yoona hanya mengangguk dan segera mengambilnya. Melindunginya di dalam hoodie yang dikenakannya.

Ibu Donghae yang tidak menduga akan kedatangan anaknya yang tiba-tiba itu meminta Donghae dan Yoona untuk membeli makanan di luar. Dan atas usul Yoona, keduanya membeli makanan dengan berjalan kaki. Tapi siapa sangka, jika langit cerah siang ternyata berubah menjadi hujan di malam hari.

Hujan semakin deras dan sesekali petir menyambar. Donghae mulai kebingungan saat tidak mendapati tempat yang bisa digunakannya berteduh. Perasaan khawatir tentang keadaan Yoona menyelimutinya.

Yoona merasakan kehangatan dan kenyamaan saat berada digendongan Donghae. Tapi, kehangatan itu masih tak sebanding dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuhnya sehingga kini dia merasa menggigil.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae cemas.

Yoona hanya mengangguk sekilas. Lidahnya terlalu kelu sehingga dia tidak bisa berucap.

“Sebentar lagi kita sampai,” kata Donghae samar-samar.

Yoona merasa pusing saat Donghae berlari semakin kencang. Lututnya terasa perih saat dinginnya air hujan mengalir melewatinya.

“Omma, buka pintunya!” teriak Donghae sesampainya di rumah. Baju yang dikenakannya tampak sudah basah kuyup.

“Ya Tuhan! Ayo cepat masuk,” kata ibu Donghae. Wanita itu pun terlihat menjadi panic saat melihat Yoona berada dalam gendongan Donghae.

Kini, Yoona duduk di sofa dengan tangan yang gemetar. Wajahnya terlihat begitu pucat.

“Hae-ya, lututnya berdarah. Cepat ambilkan obat!” perintah ibu Donghae.

Dengan segera Donghae menuju dapur, mengambil kotak P3K yang berada disana. Secepat kilat dia berlari menuju ke ruang tamu. Kecemasan meliputinya saat mendapati Yoona tampak begitu pucat, sedang darah terus mengucur dari lutunya.

Dengan cekatan ibu Donghae segera membersihkan luka Yoona dan mengobatinya. Sedang Donghae kini mulai mengeringkan rambut Yoona dengan handuk.

“Kau baik-baik saja?” tanya Donghae khawatir. Yoona tampak tersenyum dan mengangguk, membuat Donghae merasa lega seketika. Tangan kanannya menggenggam tangan Yoona, berusaha memberikan kehangatan agar gadis itu tidak terlalu menggigil.

“Bawa dia ke kamar, biarkan dia berganti baju. Omma akan mempersiapkan makanan untuk kalian,” kata ibu Donghae.

Lagi-lagi, Donghae hanya mengangguk. Yoona mulai beranjak berdiri, tapi sesaat kemudian dia tersentak kaget saat tiba-tiba Donghae sudah membopongnya. Membuatnya seketika merasakan kehangatan mulai menjalari tubuhnya. Dia yakin sekali jika kini pipinya pasti bersemu merah.

“Turunkan aku!” kata Yoona lirih. Takut-takut, dia mendongak sehingga kini dia bisa melihat wajah Donghae secara dekat. Melihat senyuman menawan pemuda itu yang tiba-tiba saja membuatnya merasakan gejolak aneh yang singgah dihatinya.

“Kau akan menyesal jika memintaku menurunkanmu,” kata Donghae seraya tersenyum. Ibu Donghae yang melihat keduanya yang kian menjauh pun hanya bisa tersenyum.

*

Udara pagi yang menyejukkan seketika didapatkan Yoona saat membuka jendela. Matahari tampak masih malu-malu, belum memperlihatkan keindahannya secara seutuhnya.

Yoona merapatkan sweater yang dikenakannya dan mulai berjalan keluar kamar. Menuruni anak tangga, dan seketika bau masakah memenuhi rongga hidungnya. Segera dia berjalan ke arah dapur.

Disana berdiri ibu Donghae dengan celemek yang terpasang ditubuhnya. Wanita paruh baya itu tampak asyik berkutat dengan bawang dan cabai yang tengah dipotongnya. Tidak menyadari jika kini Yoona sudah berdiri tidak kurang dari lima meter darinya.

“Bibi, ada yang bisa aku bantu?” tanya Yoona.

Ibu Donghae tampak sedikit kaget saat mendapati Yoona sudah berdiri dibelakangnya. “Kau sudah baikan?” tanyanya.

Yoona hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Kepalanya sudah tidak pusing, dan kakinya sudah tidak seperih semalam. Hanya saja dia harus tetap berhati-hati jika berjalan.

“Donghae pemalas sekali, dia tidak akan bangun sebelum jam tujuh,” kata ibu Donghae tiba-tiba. Membuat Yoona hanya bisa tersenyum tipis. Kini, dia pun mulai memotong-motong sayuran yang hendak dimasak.

Yoona merasa amat senang bisa memasak bersama dengan ibu Donghae. Saling bertukar informasi tentang resep makanan. Merasakan kehidupan bahagia sebuah keluarga yang lama tidak didapatkannya.

“Yoona, apa kau mencintai Donghae?” tanya ibu Donghae tiba-tiba.

Yoona tersentak kaget dan hampir saja pisau yang dipegangnya memotong jarinya. Gadis itu meneguk air ludahnya. Tidak tahu harus menjawab apa. Berbohongkah?

Ibu Donghae hanya tersenyum tipis saat mendapati Yoona yang tampak mematung. “Sepertinya Donghae sangat mencintaimu. Tatapan matanya saat melihatmu, terasa begitu berbeda. Aku bisa melihatnya,” imbuhnya.

Yoona segera tersadar dan menolehkan kepalanya. Tidak begitu percaya akan perkataan yang baru saja dilontarkan ibu Donghae.

“Aku sangat mengkhawatirkannya. Dia hidup sebagai seorang penyanyi yang dikelilingi oleh gadis-gadis cantik. Aku takut jika dia akan salah dalam memilih. Sebagai seorang ibu, aku hanya ingin melihatnya bahagia,” kata ibu Donghae lagi.

Perasaan bersalah itu kini mendera Yoona. Ketulusan doa yang diucapkan ibu Donghae seketika membuatnya merasa iri sekaligus bersalah. Donghae sangat beruntung bisa memiliki ibu yang begitu menyayanginya. Membuatnya tiba-tiba merasa begitu miris.

“Donghae sangat beruntung mempunyai ibu sebaik bibi,” balas Yoona sambil tersenyum tulus. Membuat ibu Donghae pun hanya bisa tersenyum.

Untuk beberapa saat kemudian hanya ada keheningan yang menyelimuti keduanya. Ibu Donghae tampak serius dengan masakannya. Sedang Yoona tengah berusaha mengalihkan pikirannya yang kini kembali terisi oleh Donghae. Mengabaikan perkataan ibu Donghae.

“Omma! Apa kau melihat Yoona?” teriak Donghae. Beberapa detik berikutnya pemuda itu sudah berada di pintu dapur. Nafasnya masih terengah-engah, kentara sekali jika dia baru saja berlari.

“Kau mencariku?” tanya Yoona sambil tersenyum. Donghae segera mengalihkan pandangannya menuju gadis yang berada disamping ibunya. Seketika dia pun menghela nafas lega saat mendapati Yoona berdiri sambil tersenyum disana.

“Kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkanmu Im!” kata Donghae jujur. Dan setelahnya pemuda itu kembali menuju kamarnya.

Ibu Donghae yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Wanita itu menoleh ke arah Yoona, berusaha menyampaikan sebuah pesan lewat isyarat matanya. Yoona pun hanya bisa tersenyum menatap wanita paruh baya itu.

*

Suasana ruang makan itu tampak begitu sepi. Dua orang duduk disana, Donghae dan ibunya. Sedang Yoona, gadis itu memutuskan untuk mandi terlebih dulu sebelum menikmati sarapan.

Donghae tampak sudah rapi dalam balutan kaos berwarna putih yang dikenakannya. Tidak biasanya pemuda itu bangun sepagi ini. Dan semua ini karena Im Yoona. Hampir semalaman dia tidak bisa tidur karena mencemaskan gadis itu. Dan pagi tadi, saat tidak mendapati Yoona dikamarnya, dia sangat khawatir.

“Kapan kalian akan kembali ke Seoul?” tanya ibu Donghae memecah keheningan.

Donghae mulai memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Mengunyahnya kemudian menelannya.

“Sore ini,” sahutnya. Ibu Donghae hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’.

Setelahnya, kedunya kembali menikmati sarapan pagi masing-masing. Sedang Yoona, gadis itu belum juga menyusul mereka. Donghae bahkan hampir menghabiskan sarapannya, tapi Yoona tak kunjung datang.

Donghae menolehkan kepalanya ke belakang. Berharap dia akan mendapati Yoona yang tengah berjalan ke arahnya, tapi tidak ada. Dia hanya bisa menghela nafas berat dan melanjutkan sarapannya.

Tanpa disadari, ibu Donghae tengah memperhatikan tingkah anaknya itu. Wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya.

“Dia akan baik-baik saja,” kata ibu Donghae. Yang kini perkataan wanita itu justru membuat Donghae mengernyit bingung.

“Maksud Omma?” tanyanya langsung.

“Yoona, dia sangat berharga kan?” tanya ibu Donghae balik.

Donghae tampak berpikir sejenak. Menghentikan aktivitasnya sejenak dan memandang ibunya. “Untuk saat ini, dia bahkan lebih berharga dari karirku,” jawab Donghae sungguh-sungguh.

Yoona, yang saat ini tengah berada diambang pintu seketika menghentikan langkahnya. Sedikit tercengah saat mendengar perkataan yang baru saja dilontarkan Donghae. Sebuah kebahagiaan tak ternilai harganya dirasakannya.

**

Next : The Confession

Well, aku baru ngetik sore ini. Maklum kalo kacau hasilnya-_-

Btw, kayaknya ini FF bakal jadi kayak drama (or sinetron) LOL

Advertisements

31 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s