Scandal: This is Our Life


 Title : Scandal: This is Our Life

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Jessica Jung

–          Lee Sungmin

–          Choi Sulli

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : Complicated

Siapakah kita? Kenapa kita dilahirkan ke dunia ini? Untuk apa kita hidup? Untuk apa kita bertahan di dunia yang kejam ini, yang terkadang menyengsarakan kita? Untuk apakah semua ini? Lalu, bagaimanakah akhirnya?

Yoona selalu bertanya-tanya, untuk apakah dia hidup di dunia ini? Untuk menarikah? Jika benar seperti itu adanya, apakah dia bisa disebut sebagai orang yang bahagia? Bahagia karena dia telah menemukan tujuan hidupnya. Alasan yang membuatnya untuk tetap bertahan, mengabaikan ribuan sarang yang kapan saja bisa menjeratnya.

“Untuk apa kita hidup di dunia ini?” Tanya Jessica lirih.

Kedua gadis itu saling duduk berhadapan di sebuah café. Café Melody, yang sering dikunjungi Yoona.

Udara sejuk membuat keduanya ikut terhanyut. Semilir angin mengibarkan rambut indah milik keduanya. Hanya suasana hening yang terdengar. Yoona tampak diam diposisinya. Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Jessica tampak diacuhkannya.

“Ada apa?” Tanya Yoona. Raut wajah gadis itu begitu khawatir, melihat sahabat baiknya terlihat begitu sedih.

Hujan memang tak selalu menghantarkan rindu. Tak selalu bisa menyamarkan air mata. Tak selalu bisa membawa pergi segala penat. Karena terkadang dia mengirimkan sebuah pesan tersirat dalam tetesan airnya.

Yoona menghela nafas sejenak melihat Jessica yang diam diposisinya. Di luar sana, hujan tampak turun membasahi bumi. Tetes-tetesnya pun lambat laun mulai menghilang. Setengah berharap, gadis itu bisa melihat indahnya pelangi.

“Tidak bisakah kau ceritakan padaku?” Pinta Yoona.

Jessica masih tampak termenung di tempatnya. Pandangan matanya masih focus menatap hujan di luar sana, hujan yang seakan ikut merasakan kekecewaan yang dirasakannya.

“Kedua orang tuaku, mereka bercerai,” ujar Jessica lirih. Sebuah senyuman pedih tampak menghiasi sudut bibirnya. Membuat Yoona yang melihatnya seolah ikut merasakan kepedihan yang tengah dirasakan gadis itu.

Petir menghantam sebuah pohon di seberang jalan tepat di depan café itu. Kilatnya seolah menertawakan Jessica.

Yoona menunduk. Perkataan yang baru saja terlontar dari bibir Jessica seketika membuatnya tersentak kaget. Benar-benar tidak menyangka jika keluarga Jessica yang diliputi kebahagiaan dan cinta itu kini terlah menghilang. Segala perasaan indah itu seolah hilang dengan mudahnya.

Dia iri. Iri melihat kehidupan keluarga Jessica. Dulu, saat dia berada di tengah-tengah keluarga gadis itu, dia selalu merasakan kasih sayang sebuah keluarga. Kehangatan sebuah keluarga yang tidak bisa dikecapnya.

“Mereka bilang mereka saling mencintai dan akan hidup bahagia untuk selamanya. Lalu, sekarang? Apakah ini akhir dari semuanya? Semua yang mereka katakan memang hanya omong kosong!” Sungutnya.

Perkataan manis, sebuah janji yang terucap begitu meyakinkan dengan mudahnya teringkari seiring dengan berjalannya waktu. Seolah tujuan hidup yang dicarinya telah berubah. Kita hidup bukan sekedar untuk makan, minum, tidur dan mandi. Tapi kita hidup untuk mencari cinta, mencari sebuah kebahagiaan.

“Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita impikan Jess. Karena hidup seperti kopi, yang rasa pahitnya akan selalu kita kecap dan rasa. Dan tak elak kita akan menikmati kenikmatan yang disuguhkannya,” ucap Yoona.

Jessica menatap Yoona dalam. Gadis itu tampak tersenyum tipis, menyambut senyuman yang diberikan sahabatnya. Inilah gunanya sahabat, menghibur di saat duka, memberi nasihat di saat lalai.

“Apapun keputusan mereka, pasti adalah yang terbaik. Kita tidak harus menghalangi kebahagiaan mereka, karena kita memiliki kebahagiaan masing-masing. Hanya saja mungkin kita masih belum bisa menemukan kebahagiaan itu,” lanjut Yoona.

Jessica tampak tersedak mendengar penuturan Yoona. Segera gadis itu mengambil tissue dari dalam tasnya. Sudut bibirnya tampak basah, lengan kemejanya pun sedikit basah terkena teh yang tengah diminumnya.

“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan kebahagiaan itu?” Tanya Jessica. Menatap Yoona dalam, seolah mencari ketulusan dari mata milik sahabatnya itu.

Mata Yoona menerawang jauh. Mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, membuatnya tersenyum senang. Lega dirasakannya.

“Sepertinya begitu,” jawab Yoona sekenanya.

Jawaban yang keluar dari bibir Yoona sontak membuat Jessica penasaran. Dengan segera gadis itu mendongak, berusaha menggali informasi dari tatapan mata Yoona. Dia merasakan kesenangan sekaligus pedih saat melihat mata indah Yoona begitu berbinar.

“Sica-ya, jangan menatapku seperti itu,” ujar Yoona risih melihat tatapan Jessica yang seakan mengintimidasinya.

Jessica segera mengubah ekspresi wajahnya, tak ingin membuat Yoona menjadi khawatir. Gadis itu pun tersenyum tipis. Tangannya masih menggenggam secangkir tehnya.

“Apa yang telah terjadi? Sepertinya aku melewatkan kejadian yang penting,” tanyanya lagi.

Yoona tampak ragu-ragu, antara ingin mengutarakannya dan tidak. Dia terlalu takut, takut jika apa yang telah dilaluinya bersama pemuda itu hanyalah sebuah bunga tidur yang kapan saja ketika ayam berkokok akan buyar begitu saja.

“Dia mencintaiku,” katanya pelan.

Jessica diam di posisinya. Seketika dia meletakkan secangkir tehnya ke atas meja. Tangannya tiba-tiba terasa gemetar, sehingga kini dia hanya bisa menggenggam ujung kemejanya dengan erat. Tersembunyi dibalik taplak meja.

Dia yang dimaksudkan Yoona, tentu saja Jessica paham. Dia adalah Lee Donghae.

“Dan aku mencintainya,” lanjut Yoona malu-malu. Rona merah muda tampak menghiasi pipinya.

Deg. Dan seketika jantung Jessica terasa berhenti. Kebahagiaan yang dirasakannya kala mendengar cerita Yoona hilang berganti kepedihan. Tidak ada setitik kebahagiaanpun yang tersisa di sana. Benar-benar kejam.

“Aku bahagia jika kau bahagia,” ujarnya, setelah beberapa saat hanya ada keheningan yang menyelimuti. Keduanya kini tampak tersenyum tipis.

Tapi semua itu hanyalah sebuah kamuflase, yang ditunjukkan oleh Jessica. Mengatasnamakan bahagia di atas sebuah kepedihan. Terkadang, jalan pikiran manusia memang tidak masuk akal.

*

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh malam saat suasana rumah itu terlihat begitu hidup. Tidak seperti beberapa jam yang lalu, yang hanya ada keheningan menyelimuti.

Suara langkah kaki tampak menggema, membuat seorang gadis yang tengah duduk tenang di depan televisi sambil bertopang dagu itu mendongak. Kakinya refleks melangkah begitu saja menuju sumber suara.

“Yoona,” kaget Donghae. Pemuda itu tersenyum sumringah saat mendapati Yoona tengah berdiri di depannya.

“Kau kemana saja?” Tanya Yoona langsung. Gadis itu pun hanya bisa mengekor di belakang Donghae saat pemuda itu melangkah masuk.

Keduanya kembali duduk di ruang keluarga. Donghae tampak melonggarkan dasinya dan melemparnya asal. Membuat Yoona yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal.

“Kau mau makan atau minum?” Tanya Yoona lagi. Gadis itu mulai sedikit paham jika Donghae sedang dalam mood yang buruk. Mengingat tidak biasanya pemuda itu mengacuhkannya.

Donghae menoleh sekilas, memberikan senyum terbaiknya untuk Yoona. Lantas, dia mulai berdiri.

“Aku sedang ingin makan jjangmyeon,” katanya singkat. Kini, Donghae pun mulai melangkahkan kakinya menjauh, tak lupa dia memberikan sebuah senyuman untuk Yoona.

Kini, di ruangan itu hanya menyisakan Yoona di sana. Gadis itu pun segera beranjak pergi ke dapur. Dengan cekatan dia memasukkan jjangmyeon ke dalam panci.

Tak berapa lama, Donghae tampak menuruni tangga dan seketika aroma sedap memenuhi rongga hidungnya. Pemuda itu kini mengenakan kaos oblong berwarna biru safir.

“Kau sudah selesai?” Tanya Donghae saat melihat Yoona.

“Ah ya, tentu saja. Kau mau makan dimana?” Balasnya.

Donghae mendekat ke arah Yoona. Pemuda itu segera mengambil semangkuk jjangmyeonyang asapnya terlihat masih mengepul—dan membawanya menjauh. Yoona pun lagi-lagi hanya bisa mengekor di belakang Donghae.

Donghae berhenti di sebuah bangku kayu yang menghadap langsung ke taman belakang rumahnya. Yoona pun turut duduk di samping pemuda itu. Menikmati bintang malam yang tengah bersinar terang di atas sana.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Donghae. Pemuda itu mulai menyantap jjangmyeonnya dengan lahap.

Yoona menolehkan kepalanya sekilas ke arah pemuda di sampingnya. “Kau,” sahutnya.

Donghae tertegun. Seketika dia menghentikan aktivitas makannya. Untuk saat ini, mendengar penuturan gadis di sampingnya tentu jauh lebih menarik dibanding makan.

“Tiba-tiba aku teringat tentang Hyukjae,” kata Yoona menerawang.

Ah, bukankah Yoona bilang sedang memikirkan Donghae? Lalu, kenapa sekarang gadis itu justru membicarakan Hyukjae? Apakah dia sengaja memancing emosi Donghae, huh?

“Ehm.” Terdengar Donghae tengah berdehem.

Pada saat kita merenungkan masa lalu, akan selalu ada saat-saat yang mengubah kita, diri kita, hidup kita. Seperti yang dirasakan Yoona kini. Hidupnya benar-benar berubah. Perasaannya masih tetap tak mempunyai celah, tetapi berubah pengisinya.

“Kenapa? Kau tidak rela dia pergi?” Tanya Donghae ketus. Pemuda itu mulai menyantap jjangmyeonnya kembali. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan nada kesal dari setiap perkataannya.

Pertanyaan Donghae membuat Yoona tertawa kecil. Malam ini, dia melihat sosok Donghae yang begitu berbeda. Apakah pemuda itu cemburu? Ya Tuhan! Yang benar saja.

“Kau cemburu?” Goda Yoona. Gadis itu masih tertawa kecil melihat Donghae yang sedang kesal. Tawanya semakin membahana saat melihat Donghae yang sedang menyantap jjangmyeonnya dengan cepat. Terlihat sekali jika pemuda itu sedang kesal.

Donghae seketika meletakkan mangkuk kosong itu ke atas meja setelah dia mengunyah suapan terakhir jjangmyeonnya.

Brak.

Suara mangkuk dan meja yang saling beradu itu pun mengalihkan perhatian Yoona. Tawanya mulai sedikit pelan, hanya tersisa tawa kecil yang terdegar.

Donghae menoleh ke arah Yoona. Dan dalam gerakan cepat dia meraih tangan Yoona sehingga membuat gadis itu menghadapnya.

“Kalau aku cemburu, memangnya kenapa?” Tanyanya menantang.

Yoona seketika menghentikan tawanya. Hawa panas menjalari pipinya. Dan benar saja, saat ini pipinya pasti merona merah. Segera, dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan Donghae. Gadis itu berdehem sejenak untuk mengontrol emosinya.

“Aku hanya berpikir. Kau tahu Hae…,” kata Yoona. Gadis itu sengaja menggantungkan kalimatnya. Membuatnya Donghae yang berada disampingnya penasaran akan kelanjutannya. Sedikit demi sedikit raut kesal di wajah pemuda itu pun mulai pudar.

“Kau membuatku sadar, ternyata sejak awal, aku tak pernah dibiarkan sendirian,” lanjutnya. Seiring dengan perkataan yang dilontarkan Yoona, senyum mulai tersungging dari sudut bibir Donghae.

“Pertemuan kita, skandal yang kita buat, mungkin adalah rencana Tuhan untuk menunjukkan kebahagiaan yang telah direncanakan untukku. Menunjukkan bahwa dia tidak pernah membuatku sendirian. Bahwa akan ada orang yang menyayangiku datang silih berganti. Apakah aku salah?” Kata Yoona lagi. Gadis itu kini menatap Donghae, meminta pendapat pemuda itu atas perkataannya.

“Tidak, kau benar. Inilah cara Tuhan menunjukkan kebahagiaan yang telah direncanakannya untuk kita,” balas Donghae sambil tersenyum.

Keduanya tersenyum. Menatap bintang yang tengah bersinar terang di atas sana. Membagi kehangatan dengan saling bergenggaman tangan.

*

Rasanya baru saja Yoona melihat langit tampak cerah. Tiada satu awan pun yang tampak. Bahkan sinar matahari tampak menerobos, masuk ke sela pori-pori gadis itu. Menembus sweater tipis berwarna putih yang dikenakannya.

Gadis itu tengah berbelanja di supermarket terdekat yang dapat ditempuhnya dengan berjalan kaki dari rumah Donghae. Dengan langkah riang dia melewati sepanjang jalan yang menghubungkan antara rumah Donghae dan supermarket.

Semuanya berjalan semestinya, dengan tempo yang normal. Yoona memilah-milah bermacam sayuran yang dibutuhkannya. Senyum manis masih selalu tersungging dari sudut bibirnya. Sampai akhirnya beberapa menit yang lalu…

Pandangannya memudar. Matanya sulit untuk terbuka, seakan ada lem yang melekat di sana. Bau amis pun tampak tercium dari sweater yang dikenakannya. Rambutnya terasa basah, entah apa yang berada di sana.

“Kau! Entah siapa namamu gadis kurang ajar! Berani-beraninya kau mengambil Donghae Oppa dari kami!”

Teriakan itu sontak membuat Yoona tersadar. Gadis itu mendongak, dipaksakan matanya untuk dapat melihat siapakah sosok gadis yang tengah mencaci-makinya. Dari sudut matanya, Yoona dapat melihat sekumpulan gadis berseragam sekolah menengah atas dengan kedua tangan di pinggang menatapnya. Gadis-gadis remaja itu tampak tersenyum melecehkannya.

Buk. Yoona menutup matanya seketika saat lagi-lagi warna putih itu membanjirinya. Tepung yang diletakkan di atas rambutnya. Disusul dengan bau telur yang menenuhi rongga penciumannya.

Dalam pendengarannya yang sedikit terganggu, dia masih bisa mendengar tawa mengejek dari gadis-gadis di depannya. Dalam hati Yoona tertawa, mengingat perkataan yang baru saja dikatakan salah satu penggemar Donghae. Donghae milik mereka, apa mereka sudah gila?

Ingin sekali saat ini Yoona membalas perbuatan mereka. Melempari mereka dengan segala belanjaan yang baru saja dibelinya. Tapi otaknya masih bisa bekerja dengan benar. Untuk apa dia melakukannya? Bukankah dia akan sama saja seperti mereka jika membalasnya?

“Sejak awal kami memang tidak menyukaimu. Asal-usulmu tidak jelas pula! Lebih baik Donghae Oppa kami bersama dengan Taeyeon Onnie dari pada kau!”

Sebuah senyum tersungging dari sudut bibirnya. Detik berikutnya, berganti dengan sebuah cairan yang jatuh menuruni pipinya. Dia memangis.

“Cih! Apa kau pikir setelah kami melihatmu seperti ini kami akan menyukaimu? Jangan pernah bermimpi!”

Untuk kali ini saja, Yoona berharap jika Tuhan mendengar doanya dalam sekali ucap. Turunkan hujan untuknya. Hujan yang akan menyamarkan air matanya. Membawa pergi kesedihannya.

Dengan pelan Yoona mulai bangkit berdiri. Bersamaan dengan itu pula sebuah tangan tampak memeganginya. Dan detik selanjutnya dia merasa seperti melayang, kakinya tidak berpijak di bumi lagi. Dia terlalu pusing untuk memikirkan apa yang terjadi. Terlalu terhanyut dalam kehangatan yang dirasakannya.

“Apa yang telah kalian lakukan?!” Teriak Donghae.

Samar, Yoona masih bisa mendengar teriakan itu. Dia pun masih bisa mengenali milik siapa suara itu.

Perjalanan yang dilaluinya terasa begitu cepat. Kini, Yoona sudah duduk di ruang tamu rumah Donghae. Perlahan, dia merasakan wajahnya tidak setebal seperti yang dirasakannya tadi. Matanya pun tidak sesulit tadi untuk di buka.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Donghae panik.

Hal pertama yang dilihat Yoona adalah wajah Donghae yang tengah mentapnya dengan raut wajah cemas. Dia pun hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Berusaha menenangkan kekasihnya.

“Maafkan aku,” kata Donghae lirih.

Yoona mendongak. Tangannya mengambil alih sapu tangan yang berada di tangan Donghae. Dia pun mulai membersihkan wajah dan tubuhnya.

“Untuk apa?”

“Kau menjadi seperti ini, karenaku.”

Yoona menghentikan aktivitasnya. Gadis itu menoleh ke arah pemuda di sampingnya.

“Aku tidak apa-apa Donghae Oppa,” katanya menenangkan.

Donghae masih tampak begitu khawatir melihat Yoona. Tangan pemuda itu tampak terkepal kuat.

“Aku tidak akan menyerah hanya karena hal ini,” lanjut Yoona. Membuat Donghae akhirnya tersenyum menatapnya. “Apa kau bahagia bersamaku?” Tanya Yoona lagi.

“Eh?” Kaget Donghae. Sedikit heran mendapati pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Yoona. “Bagaimana bisa kau bertanya hal seperti itu padaku? Seharusnya, akulah yang bertanya seperti itu padamu.”

Yoona tersenyum tipis. “Tidak. Karena saat aku memutuskan untuk bersamamu, aku berjanji untuk mebuatmu bahagia. Bagaimana bisa aku melihatmu menderita setelah kau membuatku bahagia? Aku mohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

 *

Kita ada di dunia ini karena cinta. Cinta yang diberikan oleh kedua orangtua kita. Kita pun hidup untuk cinta. Dan suatu hari nanti, kita akan kembali ke cinta.

Sulli menghela nafas sejenak sebelum memutuskan untuk menekan sebuah bel di salah satu rumah mewah di kawasan elit kota Seoul itu. Setelah menguatkan hatinya, dia pun mulai menekannya.

Tak berselang lama seorang wanita paruh baya tampak datang mendekat ke arahnya. Dia pun membungkuk sekilas saat wanita itu mempersilahkannya masuk.

“Nona mencari siapa?” Tanyanya.

Sulli tersenyum tipis. Sejenak, dia menikmati pemdangan yang disuguhkan rumah mewah itu. Salah satu rumah impiannya. Seandainya saja rumah itu dapat dinikmatinya. Ah, sepertinya dia sudah mulai melantur.

“Apakah Tuan dan Nyonya Im ada di rumah?” Tanya Sulli.

Wanita paruh baya itu tampak menghela nafas pasrah. “Seperti yang non lihat, rumah ini begitu sepi. Sejak kepergia nona muda, rumah ini seperti tak berpenghuni,” jawabnya.

Sulli hanya mengangguk-angguk mengerti. Mengamati sekelilingnya, dan memang benar. Rumah itu memang tampak begitu rapi seolah rumah itu di huni, tapi suasana yang ada di dalamnya begitu berbanding terbalik, rumah itu seolah mati. Tak berpenghuni. Kosong.

“Sayang sekali nona Yoona memutuskan untuk pergi dan ikut neneknya. Sejak saat itu, rumah ini seperti pajangan, Tuan dan Nyonya hanya sekedar mampir di sini,” lanjutnya.

Hidup adalah sebuah perjalanan yang harus kita lewati. Lebih dari itu, hidup adalah perjalanan untuk mencari kebahagiaan. mencari kasih sayang dari orang-orang disekeliling kita, yang mencintai kita apa adanya. Yang akan memberikan rasa hangat dan nyaman untuk kita. Yang selalu membagi tawa dan peluk hangatnya tanpa kenal lelah.

Sulli tersenyum tipis. Walau secara utuh, dia tidak memahami kehidupan keluarga Yoona. Gadis itu hanya bisa memahami sedikit kehidupan ‘kakak angkatnya’ itu. Karena mereka memiliki sejarah yang hampir sama. Tentang perjuangan unutuk meraih mimpi dan citanya.

Segera dia pun mengambil kertas dan menuliskan beberapa digit nomor disana.

“Jika mereka pulang, bisakah bibi menghubungiku?” Pintanya. Dia pun menyerahkan selembar kertas itu padanya.

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum menyanggupi. Sulli pun segera bangkit berdiri dan pamit. Dia menoleh sekilas menatap rumah mewah itu sebelum taksi yang ditumpanginya membawanya pergi.

Hanyal inilah hal yang dapat dilakukannya. Mengembalikan cinta itu ke tempatnya berasal, ke rumahnya. Sebuah rumah yang nyaman, yang membuatnya tak ingin pergi lagi, karena di dalamnya dihuni oleh orang-orang yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang lebih hidup, manusia yang penuh cinta, manusia yang bahagia.

Salah satu impiannya, membuat seseorang yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya kembali hidup bahagia di tengah keluarganya. Seperti dirinya yang akhirnya kembali pulang.

*

Dari ekor matanya, Donghae dapat melihat gadis itu tengah duduk membelakangi pintu. Menatap sebuah buku tebal dipangkuannya. Gorden kamarnya tampak berkibar-kibar tertiup angin.

Dengan langkah pelan,tanpa bermaksud membuat Yoona terkejut apalagi terganggudia berjalan mendekat. Kedua tangannya masih terlipat di depan dada.

“Ehm, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” kata Donghae memecah keheningan.

Yoona hanya melirik sekilas ke arah Donghae. Tampak dia masih menekuni sebuah buku tebal yang tengah dibacanya. “Ada apa?” Respon Yoona.

Donghae tampak berdehem sejenak. “Aku ingin mengajakmu untuk tampil di konserku, apa kau bersedia?” Tanya Donghae.

Yoona mengernyit mendengar permintaan Donghae. Setengah tidak percaya mendengar permintaan tiba-tiba pemuda itu. “Apa kau yakin?” Tanya Yoona ragu.

“Tentu saja. Apa hanya ingin menunjukkan pada mereka bahwa kau adalah milikku. Apa kau bersedia?” Tutur Donghae, tanpa bermaksud memaksa.

Yoona tersenyum tipis mendengar penuturan Donghae. gadis itu segera menutup bukunya dan berbalik, memandang Donghae seraya tersenyum. “Memangnya dengan mengajakku tampil di konsermu akan menunjukkan bahwa aku milikmu, begitu? Bukankah sejak awal memang kita adalah pasangan kekasih?” Tanya Yoona.

Donghae tampak salah tingkah. Dia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sesaat, pemuda itu tidak menyimak apa yang dilontarkan Yoona. justru, dia tengah mengamati gadis itu dengan lekat. Garis wajah Yoona, sempurna.

“Ehm. Aku hanya ingin membuat mereka menerimamu, bahwa kaulah yang terbaik untukku. Bahwa kita hidup dalam dunia yang sama,” katanya kemudian.

Yoona nampak diam di tempatnya, masih duduk di kursi kayu, sedang Donghae berdiri dihadapannya.

“Kau mengerti maksudku kan?” lanjut Donghae.

Yoona hanya tersenyum tipis. Bukan cinta namanya jika jarak mampu melumpuhkan perasaan sekuat ini. Bukan sayang namanya jika dia menyerah kepada jarak yang dijalani sejak awal. Sebuah perbedaan, yang menjadikan jarak untuk kebersamaan keduanya.

“Aku berjanji, akan membuat mereka berpikir ulang untuk membenciku. Membuat mereka menyesal pernah meragukanku. Dan membuat mereka yakin, bahwa akulah yang terbaik untuk Lee Donghae,” kata Yoona mantap.

Hanya diam yang selalu menertawakannya disaat-saat seperti ini, saat dia meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin nanti, dilain hari dia akan memberanikan diri melawan mereka, yang selalu menghujatnya dengan caci-maki. Dan dia akan selalu diam diposisinya, menunggu dunia berpihak padanya. Tidak perlu ragu, karena semua nyata adanya.

Donghae tersenyum manis. Selalu menyukai saat-saat dimana dia harus mendengar lantunan kata yang menenangkan hatinya keluar dari bibir kekasihnya. Semoga semuanya baik-baik saja. Satu doa yang selalu dipintanya: kekutan dan kebahagiaan untuk gadis itu.

*

Donghae menatap pemuda dihadapannya dengan bingung. Tampak kerutan di dahinya. Melihat Sungmin yang tengah tersenyum menatapnya sontak membuatnya begidik geli.

“Aku sudah menandatanganinya,” katanya seraya menyerahkan map ditangannya.

Sungmin tersenyum tipis seraya mengambilnya. Dengan seksama pemuda itu membacanya.

“Kenapa tiba-tiba? Apa kau mempunyai rencana yang tidak aku ketahui?” tanya Sungmin menyelidik.

Donghae tersenyum tipis. Tidak heran saat mendapati sahabatnya mengetahui ada sesuatu yang tengah direncanakannya. Begitu mudahnya seorang sahabat memahami perasaannya.

“Apa ini tentang Yoona?” tanya Sungmin lagi. Donghae hanya mengangguk sekilas. “Aku bangga menjadi sahabatmu Hae,” lanjutnya. Mata pemuda itu kembali focus membaca dokumen di tangannya.

Donghae menatap Sungmin dengan bingung. Tidak mengerti dengan jalan pikiran pemuda di hadapannya.

“Maksudmu?” Tanyanya langsung.

Sungmin hanya tersenyum simpul. Meletakkan dokumennya sejenak sebelum menjawab. “Kau benar-benar mencintainya,” katanya kemudian.

Donghae hanya tersenyum tipis. Tidak berniat menyangkal atau pun membenarkan perkataan sahabatnya itu. Perasaannya, tidak bisa dijabarkan hanya dengan sebuah kata cinta. Mungkin kata itu memang memiliki begitu banyak makna dan arti.

“Aku akan membantu kalian. Semoga masalah ini cepat selesai, tidak akan ada lagi pengganggu hubungan kalian,” ujar Sungmin.

Sungguh-sungguh dia mengatakannya. Perubahan setelah seorang Im Yoona datang dalam hidup Donghae, membuat pemuda itu melihat perubahan dalam diri sahabatnya itu. Sejak awalnya, Sungmin memang sudah bisa menduganya, jika Yoona memang bukan gadis biasa. Dan melihat keduanya kini, perubahan yang terjadi, membuatnya tersadar. Mungkin itulah yang disebut dengan kekuatan cinta?

Cinta menjadikan segalanya indah, meski harus dilalui dengan penderitaan. Dan itulah yang sedang dialami oleh Donghae dan Yoona.

Donghae menatap sahabatnya. “Terima kasih Sungmin-ah,” balasnya tulus.

Sungmin hanya mengangguk. Tangannya menepuk-nepuk pundak Donghae. Kakinya pun mulai melangkah pergi. Sehingga menyisakan Donghae dalam ruangan itu seorang diri.

“Aku juga berharap demikian, semoga semuanya berjalan seperti apa yang kita inginkan,” gumamnya.

Perjalanan ini mungkin terlalu cepat untuknya. Segala perubahan yang dilaluinya terkesan sangat instan. Tapi jika dia mau meniliknya lebih jauh, kembali mengkaji apa yang telah dilaluinya, segala perubahan itu memiliki proses. Ada senang dan ada pula sedih.

Mungkin Donghae terlalu bersemangat melesat hingga tak sempat mampir ke persinggahan. Tapi hatinya terlalu kuat, yakin akan perasaan yang dimilikinya. Tak ada keraguan atas segala keputusannya menyangkut gadis itu.

*

Sore ini, dengan menikmati indahnya matahari yang akan pulang, keduanya menatap bersama. Seperti dalam novel-novel yang pernah aku baca, hal itu terlihat begitu romantic dan membuat kalian yang membacanya menjadi begitu iritermasuk aku sendiri.

Setiap orang memiliki pandangan sendiri-sendiri tentang suasana romantis. Ada kalanya seseorang menganggap bergandengan tangan di tengah suasana ramai adalah hal romantis. Ada pula yang beranggapan jika hal itu adalah hal yang menjijikkan.

“Apa kau kesulitan?” Tanya Donghae. Yoona hanya menggeleng.

Sore ini, keduanya tengah berlatih untuk konser Donghae. Keduanya akan menari bersama. Awalnya memang terlihat agak canggung, mengingat Donghae yang tidak biasa menari. Tapi setelah mencoba akhirnya Donghae bisa mengikuti tarian Yoona.

Music tampak mengalun merdu, begitu menenangkan.

“Apa ini tidak terlalu romantis, Oppa?” Tanya Yoona di sela-sela latihan.

Donghae menunduk, menatap Yoona yang jauh lebih pendek beberapa senti darinya. Yoona tampak sedikit gugup dan segera mengalihkan perhatiannya. Menatap tenggelamnya matahari dari balik kaca.

“Maksudmu?” Tanya Donghae bingung.

Yoona menghela nafas sejenak. Melepaskan tangannya dari genggaman tangan Donghae. Membuat pemuda itu semakin bertambah bingung.

Tarian yang akan ditunjukkan Yoona dan Donghae adalah sebuah tarian yang cukup romantis. Dimana dalam tarian itu seolah bercerita tentang mereka berdua. Dua orang yang sedang jatuh cinta dan bagaimana susahnya perjuangan mereka. Diiringi lagu Mozart akan semakin membuat suasana menjadi semakin romantis.

“Tarian kita, bercerita…”

Donghae tampak mulai paham dengan maksud Yoona. Gadis itu takut. Takut jika setelah konser ini Donghae akan mendapatkan masalah, masalah yang mungkin disebabkan olehnya.

“Bagaimana jika para penggemarmu justru akan semakin membenciku? Aku hanya tidak ingin mati di saat konsermu,” ujar Yoona. Ah, tentu saja perkataan terakhir gadis itu hanyalah sebuah candaan. Imajinasinya terlalu liar. Mereka di luar sana pasti tidak akan setega itu padanya, kan?

Yoona tersentak kaget saat tiba-tiba Donghae menarik tubuhnya. Sehingga kini membuat mereka saling berhadapan. Yoona mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Donghae.

“Dengarkan aku!” pinta Donghae.

Dengan terpaksa Yoona menatap mata Donghae. Tanpa memubuang waktu atau menyia-nyiakan kesempatan, segera Donghae mengunci tatapan mata milik gadis itu.

Kedua tangannya diletakkan di pundak Yoona. Memberikan rasa nyaman tersendiri untuk gadis itu. Ingin rasanya dia berlari dari sana saat terkunci dalam tatapan mata teduh itu. Ingin merekamnya dan memutar ulang saat dia menginginkannya.

“Di dunia ini, tidak ada hal lain yang aku inginkan selain bersamamu. Dan mereka, aku ingin mereka menerimamu. Kau percaya padaku, kan?” Ujar Donghae.

Untuk sesaat Yoona mematung ditempatnya. Persendiannya serasa lumpuh mendadak, tak bisa digerakkan. Selalu seperti ini, saat pemuda itu menguncinya dalam tatapan mematikan miliknya.

“Kau romantis sekali, Hae,” katanya tulus.

Donghae seketika melepaskan kedua tangannya dari pundak Yoona. Perkataan gadis itu seolah menyindirnya. Dia pun segera mengalihkan pandangan matanya.

“Kau menyukainya? Aku bersedia menatapmu dan mengucapkan kata-kata puitis setiap hari jika kau mau,” kata Donghae sambil tersenyum.

Seketika, suara tawa terdengar. Tawa renyah milik Yoona. Gadis itu tertawa puas melihat reaksi yang ditunjukkan Donghae. bersyukur karena dengan begini akan menyamarkan perasaannya yang berdebar. Tatapan kesal Donghae tampak diabaikannya begitu saja.

Yoona segera menghentikan tawanya saat melihat Donghae mulai berjalan pergi. Gadis itu segera mengontrol emosinya dan berdehem sejenak.

“Bagiku, romantis bukanlah ketika kita tengah menatap hujan yang merintik menyapa bumi di bangku taman bersama. Bukan pula ketika kita tengah menyambut pulangnya sang mentari dari balik jendela. Tapi, ketika aku bisa melihat kau tersenyum, hanya untukku,”

Donghae menghentikan langkahnya. Diam diposisinya, masih membelakangi Yoona.

“Ketika aku merasakan hangatnya jemarimu saat memelukku. Membawaku melayang, menerobos panas matahari yang menyeruak.  Kau memang tidak pandai merangkai aksara indah, tapi kau selalu berhasil mengubur airmata dan mendatangkan tawa.”

Sebuah garis lengkung mulai terlihat dari sudut bibir Donghae. Entah sejak kapan, seorang Im Yoona pandai bermain kata. Yang terkadang membuat Donghae bertanya-tanya, benarkan sosok yang berdiri disampingnya adalah Im Yoona yang dikenalnya? Kemanakah Im Yoona yang selalu bersikap dingin padanya?

Donghae dapat mendengar suara langkah kaki yang terdengar semakin keras ditelinganya. Dan detik berikutnya dia hanya bisa tersenyum senang saat gadis itu tengah memeluknya dari belakang.

“Ketika aku masih bisa memelukmu seperti ini dan diam-diam kau akan tersenyum manis tanpa seorangpun mengetahuinya.”

Dan entah sejak kapan, Donghae begitu menyukai setiap permainan kata yang selalu dilontarkan Yoona. Yang memaksanya untuk mulai belajar menerima kenyataan, bahwa gadis itu juga mencintainya.

**

Next : It’s The Showtime!

Leave your comment, please. I’d be very happy:-)

Ada yang bingung atau mau ditanyakan? Tinggalin komen aja ya~

30 comments

  1. waaahhh…lnjutin dong chingu..
    aq suka bgd kata2 ‘saat kau tersenyum hanya untukku’. aish,,so sweet bgd
    aq bner2 ska part ini
    romantisnya dapet bgd..tp msih bner2 pnsaran ma sica,,

  2. kenapa mereka so sweet banget ?bikin iri deh.kata kata nya juga bikin geregetan sendiri, ko bisa sih bikin kata kata sepuitis ini ?

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s