Scandal: Mistery and Memory


Title : Scandal: Mistery and Memory

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Jessica Jung

–          Victoria Song

–          Choi Sulli

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : It’s The Showtime!

Pagi ini salju berjatuhan dengan deras. Butir-butir putih yang beku itu melayang-layang dan menghampar di sepanjang jalan. Di sudut jalan, tepatnya di depan sebuah pagar besi, gadis itu yang berbalut pakaian cukup tebal tampak tak bergeming. Sepertinya dia bimbang.

Tangannya terulur ke dalam saku mantelnya dan tampak mencari-cari sesuatu di dalamnya. Karena tak lama gadis itu memasukkan sebuah benda kecil menyerupai jepit rambuttapi bukan—ke dalamnya.

Krek. Suara derit pintu terdengar.

Senyum mengembang saat mendapati suasana sunyi dan damai saat dia memasuki rumah mewah itu. Rumah yang diam-diam dirindukannya. Mencakup seluruh isi di dalamnya.

“Selamat pagi,” sapanya riang saat mendapati sesosok tubuh tengah menuruni tangga.

Mata Donghae membelalak lebar kala dia mendapati Yoona tengah berdiri tak kurang dari delapan meter di depannya. Dengan senyum mengembang di sudut bibirnya, apakah ini mimpi?

“Ah, pagi,” balas Donghae cepat. Matanya mengerjap untuk sesaat, memastikan apakah yang dilihatnya memang benar-benar Yoona.

Yoona tak terlalu menggubris sikap Donghae yang tampak sedikit linglung dan kebingungan. Dia lantas beranjak begitu saja menuju dapur. Kembali beradu mulut dengan wajan serta panci yang terkadang membuatnya kesal.

Gadis itu mendengus sebal saat mendapati bahan yang dicarinya tak ada. Dengan tergesa dia melepas celemeknya, hendak membeli gula yang dibutuhkannya. Dia memekik tertahan saat menjatuhkan sebuah map milik Donghae dan membuatnya jatuh berantakan di lantai.

Baru saja dia akan berdiri dan melangkahkan kakinya saat tak sengaja matanya menangkap hal ganjil disana. Sebuah foto gadis yang sangat dikenalnya tampak terselip diantara kaki meja. Dia pun segera mengambilnya.

“Kenapa ada foto Jessica?” Tanyanya.

Kepalanya terasa pening seketika. Gadis itu tampak menoleh ke sana kemari, memastikan keadaan. Bagaimanapun bukankah sangat tidak lancang jika dia membuka-buka barang—yang mungkin saja adalah benda pribadi milik Donghae, hmm?

Otaknya tak bisa berfikir lebih lama lagi, dia terlalu penasara. Dengan pelan dia membuka map yang baru saja diletakkannya. Gadis itu meneguk ludah. Tiba-tiba saja air ludahnya terasa begitu tawar, padahal baru beberapa menit lalu dia minum kopi. Sedikit aneh, apa dia mati rasa (lagi)?

“Kau sedang apa?” Teriak Donghae.

Samar Yoona masih bisa mendengar teriakan Donghae. Sekalipun dia merasa seolah mati rasa, nyatanya pemuda itu masih tetap bisa menyelusup di sela-sela hatinya. Benar-benar mengagumkan.

Langkah kaki terdengar semakin mendekat, tapi dia tak juga berhasil mengontrol emosinya. Nafasnya masih tercekat. Tampak dia tersengal-sengal. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang kapan saja siap meluap.

“Kau sudah tahu, kan?” Teriaknya. Menepis tangan Donghae yang hendak menyentuhnya.

Helaan nafas berat yang keluar dari hidung Donghae sempat menerpa lehernya. Memberikan sensasi aneh disana. Pemuda itu lantas beranjak ke hadapannya. Mencari kontak mata Yoona dengan segera.

Donghae berdecak kesal saat tak berhasil mengunci tatapan mata Yoona. Membuat pemuda itu menjadi kelabakan sendiri, tak mengerti apa yang tengah dirasakan Yoona kini.

“Apa aku harus percaya?” Tanyanya tak yakin.

Tak perlu menunggu lebih lama lagi—sampai harus melihat air mata berharga itu jatuh—Donghae segera merengkuh Yoona ke dalam pelukannya. Gadis itu terlalu lelah, tenaganya tak sebesar tenaga Donghae. Dia hanya bisa diam diposisinya. Sesak memenuhi dada Donghae saat memeluk gadis itu.

“Di dunia ini, siapa lagi yang harus aku percaya? Bahkan dia, orang yang paling aku percayai—melebihi aku mempercayai diriku sendiri bisa melakukan semua ini? Bukankah ini lucu?” Gumamnya.

Hening. Tak ada sahutan yang terdengar. Donghae hanya bisa memejamkan matanya. Menengadah ke atas, menatap langit-langit rumahnya dengan harapan ada jawaban tertulis di atas sana. Benar-benar sial! Dia pun ikut gila sekarang!

“Kenapa kau tidak tertawa? Aku bahkan ingin tertawa puas sekarang, tapi kenapa bibirku tak sanggup mengeluarkan suara tawa itu? Ah, apa yang salah denganku sebenarnya?”

Donghae semakin mengeratkan pelukannya. Menyalurkan rasa nyaman disana, seolah dia ingin mengambil alih perasaan sedih yang dirasakan Yoona.

“Im Yoona…kalau kau ingin menangis, menangislah. Aku mengijinkanmu menangis di pelukanku, sepuasnya,” kata Donghae pelan.

Setelahnya pemuda itu pun mengendurkan pelukannya. Dengan harapan gadis itu akan meluapkan emosinya sekarang juga. Tapi alih-alih harapannya untuk terkabul, justru dia mendengar suara tawa (menyakitkan) yang keluar dari bibir gadis itu.

“Untuk apa aku menangis? Sekarang saatnya tertawa Donghae Oppa,” gerutunya.

Donghae tersenyum miris. Sebuah penghianatan, dia memang tidak pernah mengalaminya secara langsung. Tapi dengan melihat detail ekspresi di wajah Yoona, dia dapat menyimpulkan satu hal: rasanya sangat menyakitkan (melebihi perasaan menyesal yang pernah dideranya).

“Im Yoona! Dengarkan aku baik-baik!” Katanya. Kedua tangannya kini menangkup kedua pipi Yoona, tentunya setelah pemuda itu menganggkat dagunya sehingga memaksa gadis itu untuk menatapnya.

Yoona terlalu bodoh untuk bisa melepaskan tatapan mata itu. Betapa menghanyutkannya, dia tak bisa mengabaikannya. Biarlah untuk saat ini dia berlayar di dalamnya. Toh dia kan sedang mati rasa? Jantungnya tak akan berdegub seperti biasanya bukan?

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku,” bisiknya.

Saat senandung tawa menjadi sebuah luka, yang begitu menohoknya. Rasa yang dijaganya dalam balutan selimut hangat, sebuah kepercayaan dan harapan pada suatu masa itu menghianatinya. Dia bisa apa selain tertawa?

Tapi dia mendengar perkataan Donghae. Terima kasih Tuhan, dia akhirnya sadar.

Matanya mengerjap sekali. Memotong tatapan mata pemuda itu segera saat merasakan hawa panas mulai menjalari kakinya. Dadanya bergemuruh. Nafasnya terasa tercekat. Kesadaran itu menghantamnya telak. Membangunkannya dari mimpi berjalannya.

“Di dunia ini, apakah memang benar-benar tak ada seorang pun yang membutuhkanku? Bahkan sahabat yang sangat aku sayangi ternyata justru,” ujarnya sarkatis, terpotong. Yoona terlalu takut jika pertahanannya akan benar-benar runtuh. Dia tak sanggup mengatakan kelanjutannya.

“Aku. Aku membutuhkanmu,” kata Donghae segera.

Lamunan yang bersembunyi dibalik kelamnya senja, yang berisi sebuah doa hanyalah sebuah ketidakjelasan. Mata yang tertutup pun tak mampu menahan kepedihan yang tiba-tiba datang kembali menghampirinya. Secara tiba-tiba dan tak terduga.

“Kau memang selalu berhasil merebut kepercayaan yang aku punya Hae. Sekalipun saat ini hanya ada segelintir, maukah kau tetap merebutnya?” Tanya Yoona.

Donghae tersenyum tipis saat mendapati Yoona tengah tersenyum menatapnya. Akhirnya, Tuhan masih mau mendengar doa-doanya, untuk senantiasa memberikan kekuatan untuk gadis itu. Pemuda itu pun melepaskan tangannya yang semula melingkar di punggung Yoona dengan terpaksa. Dan pelan.

“Tentu saja!” Sahutnya mantap.

Cerita kehidupan memang penuh misteri, dengan berjuta rasa yang tumbuh disana. Penuh dengan tanya, kebohongan, penghianatan, pengingkaran, dan juga dipenuhi dengan sejuta kemunafikan. Seharusnya, tidak ada waktu untuk menyesal, karena itulah hidup yang sudah seharusnya mampir di sisi kehidupannya.

*

Dinginnya musim salju menusuk tulang. Baju sehangat dan setebal apapun rasanya hanya mampu menolong sedikit saja dari musim dingin yang beku ini. Dengan langkah terseok-seok pemuda itu menerobos salju yang mulai pekat, topi fedora hitamnya sedikit menyamarkannya.

Pandangan matanya mengarah pada sebuah kafe di sudut jalan. Pemuda itu menghela nafas sejenak sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe, sehingga menimbulkan suara berdenting kala dia membuka pintu.

“Kau sendirian?” Tanya pria paruh baya sesampainya dia di salah satu kursi kafe.

Donghae hanya mendengus mendengar pertanyaan retoris dari pria paruh baya itu. Perasaannya tak karuan. Entah kenapa setiap berhadapan langsung dengan direkturnya itu dia selalu merasa tak nyaman. Seolah pria paruh baya itu akan merebut kebahagiaannya hanya dalam sekejap.

“Apa yang kau pikirkan? Kau benar-benar mencintai gadis itu bukan?” Tanya Sooman lagi.

Donghae ingin sekali pergi. Kenapa rasanya pertanyaan pria paruh baya itu terkesan sangat retoris ditelinganya? Lalu, untuk apa dia duduk diam disini?

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Donghae langsung, terlihat jelas pemuda itu merasa tak nyaman dan ingin segera mengakhirinya.

Sooman mengulurkan tangannya, mengambil secangkir teh yang dipesannya. “Aku hanya ingin kau bahagia,” ujarnya. Jujur.

Alis Donghae terangkat. Tak percaya mendengar perkataan pria paruh baya di depannya. “Kau bercanda Tuan?” Tanyanya. Tawa kecil menghiasi bibirnya.

Ekspresi Sooman begitu serius. Membuat Donghae terpaksa mengganti ekspresi tawanyayang terkesan melecehkan itu dengan senyum tipis. Mulia sekali keinginan direkturnya ini, pikirnya.

“Sejak awal, bukankah aku sudah bilang bahwa kau memang tertarik padanya? Awalnya, mungkin hanya sekedar tertarik karena gadis itu berbeda, dia tidak mudah kau taklukkan. Tapi setelah melihatmu seperti ini, aku yakin kau memang mencintainya. Ah, mungkin kau sangat mencintainya?”

Perkataan Sooman membuat Donghae tersenyum. Pria itu memang benar-benar mengenalnya. Terkadang, seseorang yang terkesan begitu dingin dan tak bersahabat, justru dialah yang benar-benar mengerti kita. Dan orang yang begitu dekat dengan kita, terkadang malah buta, tak tahu apa-apa. Hidup memang serba aneh.

“Ya, kau memang benar. Dia berbeda…,” gumam Donghae.

“Kalian berbeda Hae-ya. Jangan pernah kau melupakannya,” lanjut Sooman.

Perbedaan, Donghae tidak pernah melupakannya tentu saja. Perbedaan inilah yang membuat segalanya terasa begitu rumit. Selama dia dan Yoona mempunyai kepercayaan yang sama, itu masih bisa ditoleransi.

“Memangnya kenapa kalau kami berbeda? Bukankah perbedaan justru akan memperindah hubungan kita?” Tanyanya acuh.

Sooman tertawa kecil menyaksikan sikap sok polos yang sedang dimainkan Donghae. “Kau sangat mengerti maksudku Hae,” ujarnya.

Donghae tersenyum tipis. Satu fakta yang memberinya kekuatan baru, untuk tetap bertahan pada posisinya dan tidak mundur. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang mendukungnya, termasuk Ibunya yang bahkan bersedia menemuinya di Seoul. Apakah ini sebuah pertanda jika dia memang harus melenyapkan perbedaan itu?

“Terima kasih, paman,” ucapnya tulus.

*

Sesungguhnya setiap manusia memiliki dongengnya masing-masing. Seperti sebuah drama yang harus dimainkannya, dalam dongeng itu pun bercerita. Ah seperti sebuah naskah mungkin. Dongeng yang berkenaan dengan masa lalu, masa kini, dan masa depannya.Tertulis disana.

Bolehkah dia menyebutnya sebuah dongeng? Walau pada kenyataannya cerita hidupnya memang tak seperti dongeng tentang putri cantik dan pangeran tampan di suatu negeri antah berantah. Hanya sebuah kisah sedih yang mungkin juga tak sampai mengharu biru menggetarkan rasa. Tidak ada pula sepatu kaca yang tertinggal di sebuah jamuan pesta.

Kisah yang dijalaninya membaur dalam guratan-guratan takdir yang terkadang indah dan patut untuk disyukuri. Dongeng yang tidak sekadar dongeng omong kosong, yang berisi kebahagiaan abadi. Ini adalah dongeng special yang belum tertulis endingnya. Menunggu dia untuk memainkan dramanya lagi.

“Hallo! Apa kabar semua?” Sapanya.

Hari ini, Yoona memulai kehidupannya (seperti biasanya) lagi. Bukan berarti selama seminggu lebih ini dia tidak hidup, hanya saja dia seperti berjalan di luar dunianya. Luka hati yang dirasakannya telah berhasil disembuhkannya? Mungkin.

Bukankah lucu saat dia mengucapkan pada Donghae bahwa sebuah cobaan akan membuatnya semakin kuat, justru dia malah hancur? Untuk kali ini, dia hanya bisa bertopang pada apa yang dikatakan pemuda itu. Bahwa dia dibutuhkan. Dan itu cukup untuk menjadi alasan dia tetap berpijak di dunia ini.

“Aku sangat merindukanmu Yoona Onnie,” teriak Sulli. Gadis itu tersenyum seraya berlari dan memeluk Yoona. Ah, apa kabar ya gadis cantik itu?

Untuk beberapa saat Yoona kembali berbaur dengan teman-temannya. Gadis itu tampak celingukan dan menjadi gusar sendiri saat tak mendapati sosok yang sangat ingin ditemuinya disana.

“Kau kenapa Onnie?” Tanya salah satu rekannya.

Gadis itu hanya menggeleng seraya tersenyum. Lantas, dia pun kembali melanjutkan tariannya. Otot-ototnya terasa kaku. Kakinya sedikit kesulitan untuk bergerak meliuk-liuk. Dia harus menyesuaikan diri dan memfokuskan pikirannya hanya untuk menari.

Sekilas sesosok bayangan gadis cantik bermbut panjang itu menarik perhatiannya. Didepan pintu sana, berdiri Jessica, tengah tersenyum tipis menatapnya. Yoona hendak lari menemuinya kalau saja dia tidak ingat sedang apa dia saat ini.

Sebuah kata maaf tersirat tertangkap Yoona dari gerakan bibir Jessica. Konsentrasi gadis itu pecahlah sudah. Kenyataan kehilangan sahabat itu kembali memudarkan semangatnya. Rasa kehilangan tempat untuk berbagi.

Gadis itu memutar-mutar tubuhnya. Matanya terpejam, berusaha memfokuskan pikirannya. Dan sialnya kakinya memang benar-benar tidak bersahabat. Gadis itu nyaris jatuh terkilir kalau saja tidak ada seseorang yang menahan keseimbangannya. Menangkap tubuhnya.

“Kau baik-baik saja?”

Suara merdu yang sangat dikenalnya itu membuatnya tersadar. Matanya terbuka lebar, nyaris keluar saat mendapati dia dalam pelukan Donghae. Dengan tatapan penuh haru (dan sebagian tampak menjijikkan) di ruangan itu.

Yoona mengangguk dan segera melepaskan diri dari pelukan Donghae. Pelukan yang akan membuatnya betah berada disana, setidaknya seperti itulah yang dirasakannya dalam kondisi normal seperti ini.

“Baiklah, kita akhiri latihan hari ini,” katanya gugup.

Barisan yang tertata rapi itupun akhirnya buyar. Menyisakan Yoona dan Donghae berdua disana. Yoona tampak berjalan mengambil tas dan sweater yang dipakainya tadi. Sedang Donghae hanya mengekor dibelakangnya.

“Terima kasih Hae,” kata Yoona tulus.

Donghae hanya menanggapinya dengan acuh. Merasa apa yang baru saja dilakukannya bukanlah apa-apa. Dan memang begitulah kenyataannya. Dia bahagia karena bisa melindungi kekasihnya.

Kini, duduk keduanya di depan gedung. Menatap tumpukan salju yang hampir menutupi seluruh tanaman dan pepohonan yang tumbuh di pekarangan. Masih mengenakan pakaian menarinya yang cukup tipis, sesekali Yoona harus mengeratkan sweaternya.

Selama beberapa menit hanya ada keheningan yang menyelimuti. Tiba-tiba saja Donghae melepas jas hitam yang dikenakannya dan menyampirkannya di tubuh Yoona. Gadis itu menoleh sekilas hendak mengucapkan terima kasih. Tapi melihat ekspresi Donghae yang tampak tersenyum dan memandang lurus ke depan, dia pun membatalkannya.

“Menurutmu, lebih baik mana antara kehilangan sahabat ataukah kehilangan musuh?” Tanya Donghae memecah keheningan.

Yoona tak bergeming. Kenapa pemuda itu harus mengangkat topic yang paling dihindarinya? Sahabat, setelah ini, apakah dia masih akan mengatakan sebuah kata sampah itu?

“Kau pilih mana?” Tanya Donghae lagi.

Demi Tuhan untuk kali ini saja Yoona ingin membungkam mulut Donghae. Apakah karena pemuda itu tahu jika dia masih belum bisa ikhlas menerima kenyataan, makanya dia kembali membahasnya? Sial sekali kalau memang begitu faktanya.

“Tidak ada, karena keduanya sama-sama memiliki arti penting di dalam kehidupan. Kehilangan musuh, berarti kita kehilangan tempat untuk berkaca, sedang kehilangan sahabat berarti kita kehilangan tempat kita untuk berbagi,” balas Yoona.

Tiba-tiba saja bayangan masa lalunya kembali hadir. Dia tidak ingin menghindarinya, karena ini bukan tentang pemuda bernama Lee Hyukjae, tapi tentang gadis itu, Kwon Yuri. Gadis yang menjadi musuhnya itu justru datang dan secara tak langsung membantunya. Inikah jawaban sebuah kalimat bahwa musuh bisa menjadi sahabat, dan begitupun sebaliknya?

*

Semuanya masih sama, bahkan sampai esok saat matahari kembali datang. Perjalanan hidup masih panjang dan terus berlalu. Meninggalkan setiap detik memori yang terekam. Melewati tiap menit perjalanan demi perjalanan. Meninggalkan dan melewati, seakan semua berlalu tanpa arti.  Jika bukan kita yang mengalah, lalu siapa lagi?

“Kau membenci hujan. Ah, mungkin hanya di saat tertentu, yang terkadang membuatmu merana, menyiratkan sebuah pesan yang tak dapat kau tangkap maknanya. Tapi aku tidak. Aku selalu mencintai hujan, apalagi setelah hujan reda. Karena kita sama-sama mencintai pelangi.”

Yoona menautkan alisnya, jari jemarinya saling mengetuk-ngetukkan di pagar balkon kamarnya. Ralat, lebih tepatnya kamar Donghae. Sore ini, keduanya saling berdiri menatap semburat senja yang begitu indah.

“Aku pernah membenci hujan. Sekali. Saat hujan tak bisa membantuku sama sekali, mengabaikan setiap perkataan yang aku ucapkan. Namun, semua yang kini terlewati membuatku sadar, bahwa aku tidak bisa membencinya. Yang aku genggam saat ini adalah, kita sama-sama pernah membenci hujan. Lalu, akankah kau dan aku bisa sepaham, selamanya?”

Sialan! Apasih yang sedang dibicarakan Donghae? Mengapa sekarang pemuda itu suka sekali bermain kata? Setiap kata yang terlontar dari bibir pemuda itu justru semakin membuat Yoona bingung. Membuatnya hanya bisa mendengus kesal. Otaknya terlalu payah untuk menangkap apa arti semua yang dikatakannya.

“Kadang, aku merasa kau terlalu indah, dan tak akan pernah terjamah. Pernah, aku merasa bahwa aku harus berkaca untuk sadar diri. Namun, setelah sekian lama kita bersama, aku sadar, bahwa semua memang begini adanya.”

Ya Tuhan! Apa lagi yang dibicarakan pemuda itu? Apa dia senang membuat Yoona pusing seperti ini? Atau dia ingin membuat Yoona amnesia karena otaknya terlalu keras berfikir?

Yoona senang, amat senang mendengar perkataan pemuda itu. Yang intinya, pemuda itu merasa bahwa dia indah? Ya, setidaknya itulah yang berhasil ditangkapnya.

Mulutnya hendak terbuka saat tangan Donghae tiba-tiba terangkat. Jari terlunjuk pemuda itu menempel di bibirnya. Membuatnya harus menelan protes yang hendak dikeluarkannya. Oh, oke biarlah dia yang mengalah. Tidak apa-apa jika memang dia harus bungkam untuk sementara.

“Dengan memandangmu seperti ini, hanya menatap senyummu, aku merasakan kebahagiaan. Aku mensyukuri setiap kebersamaan kita. Aku pun menyukai semua yang kita punya saat ini. Karenamu, kesedihan yang dulu pernah singgah, perlahan-lahan pergi, menghilang tanpa jejak.”

Well, sampai kapan pemuda itu akan membuat Yoona membisu? Gadis itu mengalihkan perhatiannya pada langit senja di atas sana. Tangannya mencengkeram kuat pagar besi. Takut-takut jika kapan saja dia akan jatuh terlunglai di atas pijakannya.

“Hanya saja, kadang hadir sedikit penyesalan itu. Mengapa aku harus menjadi Lee Donghae?”

“Memangnya kenapa? Kau ingin menjadi siapa?” Potong Yoona cepat, sebelum Donghae membungkamnya dengan tatapan matanya ataupun tindakan-tindakan yang dapat membahayakan jantung Yoona.

“Aku tidak bisa protes. Justru aku merasa bodoh. Saat teringat waktu yang aku lewatkan dengan percuma. Padahal harapan itu sebenarnya masih ada. Tapi dengan bodohnya aku membuangnya ke tong sampah begitu saja.”

Kali ini Donghae tertawa. Entah apa yang ditertawakannya Yoona tidak peduli. Dia hanya bisa diam, merekam setiap perkataan pemuda itu dan akan mencari jawabannya jika kondisinya sudah membaik. Dalam arti, saat dia sedang sendiri, bukan dalam keadaan terpesona seperti ini.

“Aku tidak peduli sekarang. Karena semua telah tampak. Aku akan menjalaninya tanpa beban, walau mungkin suatu saat nanti aku akan mendapati kehancuran.”

Yoona menoleh dengan cepat. Matanya menatap sosok pemuda disampingnya dengan lekat. Dan amat dekat. Dia hanya bisa meneguk ludahnya saat tiba-tiba jantungnya berpacu cepat, tubuhnya serasa limbung. Kenapa pemuda itu begitu menawan?

“Aku akan terus memandangnya melalui teropong ultra milikku. Karena dia begitu bersinar. Aku tak akan pernah membiarkannya lepas dari pandanganku barang sedetikpun. Terdengar gila mungkin. Tapi memang itulah kenyataannya.”

Perkataan pemuda itu hanya mampir sejenak dalam pendengaran Yoona. Focus gadis itu tidak berada pada pendengarannya, namun pada matanya. Dia bahkan lupa, sudah berapa detik dia tak berkedip.

Saat siluet senja tertutupi mendung, yang dapat diprediksikannya sebentar lagi akan turun hujan. Saat itu pula teduh mata itu saling beradu. Diikuti sebuah senyuman yang terlukis dari kedua sudut bibirnya.

“Sebenarnya apa maksudmu Donghae Oppa?” Tanya Yoona polos.

Bres. Bersamaan dengan keluarnya pertanyaan itu dari bibir Yoona, hujan jatuh membasahi bumi. Hujan turun dimalam bersalju? Yang benar saja.

“Ayo kita masuk ke dalam,” ajak Donghae seraya menarik tangan kiri Yoona yang jatuh bebas. Membuatnya harus menunda mencari jawaban akan perkataan Donghae. Pemuda itu tak pernah tahu betapa bahagianya Yoona saat ini. Terasa bagaikan sayap beludru kupu-kupu sedang menari di tubuhnya.

*

Hari ini, Yoona kembali menari. Salju yang turun dengan deras setelah hujan semalam tidak membuatnya gentar. Dalam balutan sweater serta mantel yang dikenakannya cukup membuatnya merasa sedikit hangat. Tak lupa dia mengenakan syal yang pagi tadi sengaja diberikan Donghae untuknya.

“Ini hadiah untukmu, kau bisa sakit kalau terus menerus makan salju,” ujar Donghae seraya melemparkan syal merah marun padanya pagi tadi.

Yoona tersenyum tipis mengingatnya. Pemuda itu, terkadang bisa bersikap begitu romantis dan perhatian padanya. Tapi disisi lain, dia tampak menyebalkan.

“Yoona,” panggil seorang gadis cantik yang berdiri di ambang pintu.

Yoona mendongak dan tersenyum tipis. Victoria Song, berdiri dengan senyum merekah disana. Sudah berapa bulan dia tidak bertemu gadis itu? Semakin cantik saja.

“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Yoona seraya berjalan menuju bangku taman, menyusul Victoria yang berjalan di depannya.

Gadis itu hanya mengedikkan bahu. Membuat Yoona hanya bisa mengernyitkan dahi. Gadis itu tampak menghela nafas sejenak. Membuat Yoona memutar otaknya. Salah satu penari terbaik Korea Selatan itu menemuinya, pasti ada masalah penting.

“Aku sudah tahu semua masalah antara kau dan Jessica,” katanya.

Dan benar saja, pemikiran yang hanya terlintas di otak Yoona itu kini lolos begitu saja dari bibir Victoria. Ah, Victoria dan Jessica, keduanya memang bersahabat. Jessicalah yang memperkenalkannya pada Victoria. Bahkan, dia jugalah yang sengaja mengundang Victoria secara langsung pada pertunjukan perdananya (pertunjukan Nayarina).

“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Yoona lirih.

Garis-garis tajam yang memagari hatinya perlahan terbuka. Mungkin inilah saatnya dia untuk menyelesaikan masalah yang belum kelar. Dia tidak mungkin bersembunyi secara terus menerus. Dia tidak harus melawan takdir yang sudah digariskan untuknya.

“Aku tidak berhak untuk berucap, lebih baik kalian selesaikan secara pribadi. Satu hal yang aku yakini, Jessica tidak mungkin melakukannya tanpa alasan yang jelas Yoona,” ujarnya.

Yoona masih diam diposisinya. Mencerna setiap perkataanyang secara terpelisit mungkin juga sebuah nasihat. Setelah beberapa menit keheningan, Victoria tampak berdiri. Gadis itu tersenyum ke arah Yoona sekilas.

“Ingatlah, bahwa tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya. Aku pergi,” pamitnya.

Yoona hanya bisa menatap punggung Victoria yang kian menjauh. Dalam hati, dia ingin mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Entah dia sedang berhalusinasi atau tidak, matanya menangkap sosok gadis berambut panjang yang sangat dikenalinya sedang berjalan ke dalam gedung.

Sebelum gadis itu menghilang dari pandangannya, Yoona segera bangkit berdiri. Dengan cepat dia berlari menuju gadis itu, Jessica Jung.

“Jessica!” Teriaknya.

Jessica tampak tak menggubris panggilan Yoona. Gadis itu justru tetap berjalan tegak. Dengan segera Yoona mencekal pergelangan tangan gadis itu dan menyeretnya paksa keluar gedung.

Duduk keduanya di bangku taman. Suasana tampak begitu hening, tidak ada yang ingin membuka percakapan terlebih dahulu. Keduanya sama-sama gusar.

“Sekarang, aku minta penjelasan darimu!” Ujar Yoona.

Jessica tampak menghela nafas berat. Matanya menerawang memandang jauh ke depan.

“Aku iri padamu. Semua yang ada padamu, bahkan kehidupanmu. Mengapa hidupmu begitu bahagia? Kau selalu dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangimu. Mengapa keberuntungan selalu berpihak padamu dan tidak pernah menghampiriku?”

Yoona diam mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir Jessica. Seolah setiap kata itu begitu menusuknya. Haruskah gadis itu mengatakan kebenarannya? Tidak bisakah dia berbohong?

“Aku berusaha mati-matian untuk memisahkanmu dengan Donghae. Akulah yang melemparkan darah padamu waktu konser Donghae. Akulah yang membuat postingan di salah satu forum para penggemar Donghae untuk memisahkan kalian berdua. Apa kau tahu itu?”

Mata Yoona berkilat marah. Batas kesabarannya semakin menipis seiring perkataan yang dilontarkan Jessica. Tapi dia sadar, dia tidak berhak. Karena itu adalah hak Jessica untuk membencinya. Yang dia sesalkan adalah, mengapa harus Jessica yang melakukannya?

“Dan apa kau tahu, akulah yang membocorkan rahasiasandiwara hubungan kalian dihadapan public. Kau tahu kenapa aku berusaha untuk memisahkanmu dengan Donghae? Kau tidak tahu? Karena aku mencintai Donghae.”

Perkataan Jessica itulah puncak dari batas kesabaran Yoona. Gadis itu tidak memperdulikan nada menyesal dan bergetar dari suara Jessica. Dia pun menoleh cepat dan beberapa detik selanjutnya…

Plak. Yoona menampar Jessica. Matanya berkaca-kaca. Jessica pun tampak tak percaya melihat perlakuan Yoona. Gadis itu hanya menatap nanar. Dan tatapan matanya, begitu menyiratkan penyesalan.

“Diam kau Jessica Jung! Kenapa kau tidak membela dirimu sendiri? Kenapa kau justru mengumbar semua kebusukanmu, hah? Sekarang bela dirimu, atau aku akan menamparmu lagi!” Teriak Yoona.

Matanya memanas. Dia pun segera mengambil nafas dalam-dalam dan mengontrol emosinya. Sedang Jessica tampak tak percaya mendengar perkataan Yoona. Gadis itu tersentak kaget, tapi sesaat dia pun tersenyum.

“Yoona, kau masih mau mendengar pembelaanku?” Tanyanya tak percaya.

“Semua yang aku katakan adalah benar. Itulah fakta yang harus kau ketahui. Yang belum kau ketahui hanyalah, aku melakukan semua ini semata-mata untuk kebahagiaanmu. Aku hanya tidak ingin Donghae menyakitimu. Sekalipun aku mencintainya, ah mungkin lebih tepatnya mengaguminya, aku tidak akan pernah membiarkannya menyakitimu,”

“Apa maksudmu?”

“Setelah aku membongkar semua sandiwaramu, dan bagaimana hubungan kalian berdua, aku sadar bahwa kalian berdua memang saling mencintai. Bukan cinta karena sebuah kebiasaanmaksudku karena kalian selalu bersama. Tapi memang cinta yang sesungguhnya,”

Yoona hanya mengangguk-angguk mendengar penutuan Jessica. Hatinya terasa lega saat mendapati bahwa Jessica masihlah sahabatnya, yang selalu melindunginya.

“Setelah hubungan kalian terbongkar, apa kau menerima terror?” Tanya Jessica penasaran.

Yoona kembali mengingat-ingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dimana dia memutuskan untuk pergi dari rumah Donghae. “Ada seseorang yang mengancamku, aku harus meninggalkan Donghae atau dia akan menghancurkan Donghae. Bukan kau kan yang melakukannya, Jess?”

Jessica menggeleng seraya tersenyum. “Bukan. Aku sudah mengatakan apa yang aku lakukan padamu semuanya. Itulah yang aku takutkan selama ini, cepat atau lambat hubungan kalian akan tercium public juga. Aku hanya mempercepat waktunya saja. Aku tidak ingin membuatmu semakin terluka setelah kesalahan yang pernah aku perbuat.”

“Jess…,” lirih Yoona. Matanya berkaca-kaca, tapi dia lega telah mengetahui kebenarannya.

“Kau tahu, aku bahkan sudah lupa seperti apa rasanya tidur sungguhan karena memikirkan masalah ini. Aku merasa sangat malu untuk bertemu denganmu. Aku merasa tidak pantas untuk menjadi sahabatmu,” ujarnya.

Yoona tersenyum tipis. Dia juga nyaris gila karena memikirkan masalah ini. “Bodoh! Aku tahu, kita sama-sama lelah. Tapi kita sama-sama tetap bertahan. Bukankah konyol jika persahabatan kita berakhir seperti ini? Aku masih mau bertahan, lalu kau?”

Jessica tidak menjawab pertanyaan Yoona. Tapi gadis itu segera memeluk Yoona. Air matanya sudah tak dapat dibendungnya, dan mengalir begitu saja.

“Maafkan aku Yoongie,” bisiknya.

*

Beberapa menit lalu dia masih bisa merasakannya. Saat rasa dingin yang membekukan ini semakin parah. Tapi sekarang saat pemuda itu datang, dengan menawarkan kehangatannya semua sirna. Dengan senyumnya, dia membantunya menemukan harapan.

“Kau sudah siap?” Tanya Donghae.

Yoona tersenyum tipis. Alisnya terangkat saat tangan Donghae mengeluarkan sebuah benda kecil dari katong jaketnya. Sebuah pita berenda. Pemuda itu lantas menyematkannya pada kain baju Yoona.

Yoona memandang pemuda dihadapannya penasaran. Mengesampingkan tingkah aneh yang dilakukan oleh tubuhnya.

“Ini apa?” Tanyanya sambil menunjuk pita dibajunya.

“Sebuah symbol, inilah awal dari semuanya,” terangnya.

Yoona memutar otak. Ingin sekali dia berteriak frustasi mendengar perkataan Donghae. Muak dengan semua permainan kata yang terlalu rumit atau mungkin dialah yang terlalu bodoh sehingga tak kunjung menemukan jawabannya.

“Bicaralah yang jelas Oppa!” Pinta Yoona.

Donghae berjalan menjauhi gadis itu. Menuju grandpiano yang terletak diseberang sana. Sialan! Jangan harap kali ini Yoona akan membiarkan pemuda itu lari begitu saja dan meninggalkan sejuta pertanyaan untuknya.

“Aku hanya ingin mengingatkanmu,” ujarnya. Dia pun mulai duduk di bangkunya. Membuat Yoona mau tak mau menyusulnya. Berdiri dengan tangan bersedekap di depan grandpiano itu.

“Mengingatkan apa? Untuk apa? Bicaralah dengan bahasa yang mudah dipahami Donghae-ssi,” kata Yoona kesal.

Sontak Donghae tertawa mendengar perkataan Yoona. Mengingatkannya pada awal-awal pertemuan mereka. Yoona yang bersikap begitu dingin padanya. Pemuda itu pun bangkit bediri dan berjalan mendekat ke arah Yoona.

“Karena aku tidak mau kau melupakan betapa berbedanya kita. Kalau kau mati dan aku hidup, sama sekali tak ada kehidupan tersisa bagiku di dunia ini. Kaulah seluruh hidupku,” ujarnya.

Oh sial! Jadi ini jawaban dari semua permainan kata Donghae beberapa hari yang lalu. Dia memang tidak bisa memahami secara jelas. Yang bisa ditangkapnya adalah pemuda itu hanya ingin mengingatkan Yoona bahwa mereka memang berbeda, tapi pemuda itu tetap akan mempertahankannya disisinya. Karena apa? Seperti yang dia katakan, bahwa jika Yoona mati dan dia hidup, sama sekali tak ada kehidupan yang tersisa baginya di dunia ini.

Seketika panas menjalari seluruh tubuhnya. Dia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Semua perkataan pemuda itu, yang sarat akan ketidakjelasan itu kini sudah lenyap. Semua ambigu itu terjawab sudah.

“Kau mengerti maksudku kan?” Ujar Donghae.

Tangannya menarik kedua tangan Yoona dan menggenggamnya erat. Lantas, dia mengecup kedua tangan Yoona. Hanya sekejap, namun sensasi itu akan teringat selamanya. Membuatnya merasa dapat melakukan apapun mulai detik ini.

**

Next : The End of Our Story

Hallo! Apa kabar semuanya?

Karena kemarin banyak yang protes katanya terlalu pendek, part ini lebih panjang deh. Semoga pada suka ya~

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kau percayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku” ada yang tahu quote ini?

Btw, next part tamat loh huehehe

Advertisements

45 comments

  1. thor, quote “bahwa tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.” ini bener bgt…..

  2. Kalau ada panas2 menjalar di tubuh berarti tandanya pipi kita lagi merona merah pas kita ketemu orang yang kita suka dong?! >.<

    Ceritanya baguss kok..

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s