Scandal: The End of Our Story


Title : Scandal: The End of Our Story

Cast :

–          Im Yoona

–          Lee Donghae

Other Cast :

–          Choi Sulli

–          Henry Lau

–          Jessica Jung

Rating : PG-13

Genre : Romance, AU

Length : 4.000+ words

Disclaimer : This is mine and I hope you like it! I’m not the owner of the picture.

**

Previous : Mistery and Memory

Seperti kebanyakan dongeng yang dikisahkan, selalu dimulai dengan kata alkisah. Maka, dongeng yang dijalani Yoona pun berawal dari alkisah di sebuah jalan sepi, ditengah malam yang sunyi di kota Seoul.

Berawal dari sebuah skandal yang tercipta diantara keduanya dan mengalirlah kisah-kisah lainnya. Menggurat takdir, membuatnya belajar akan kekuatan takdir. Menguapkan kenangan masa lalu, melepaskan sebuah sesuatu yang berharga.

“Aku berharap bisa membekukan saat ini, di sini, sekarang juga dan hidup disini selamanya,” ucap Donghae mantap.

Yoona menolehkan kepalanya ke samping. Sejenak menghentikan aktivitas menatap langit senjanya. Hatinya memberontak untuk mengelak saat sebuah keinginanseperti yang dikatakan Donghae baru sajaitu juga menyusup dalam hatinya.

“Aku sudah memutuskan untuk tidak melepasmu. Dan sekarang, aku pun sudah siap untuk menerima semua resikonya. Bagaimana denganmu?” Tanyanya.

Yoona mengalihkan pandangannya cepat-cepat. Memproses perkataan Donghae dengan baik. Tangannya bergerak gelisah. Karena jujur saja, dia masih tak sanggup untuk menjawabnya.

Hingga detik ini. Dongeng yang dijalaninya belum habis. Masih terus berlanjut. Hingga entah kapan. Dia hanya bisa berharap waktu segera menunjukkan batas akhir dari perjalanannya. Terlalu lama, ini semakin membuatnya ingin mati karena memikirkannya.

“Kau siap kehilangan para penggemarmu?” Tanya Yoona.

Gadis itu dapat melihat sebuah garis lengkung yang terbentuk dari sudut bibir Donghae. Dahinya mengernyit sejenak. Lagi-lagi pemuda itu membuatnya bertanya-tanya. Dan kali ini dia berfikir: apakah Lee Donghae memang sudah gila?

“Tentu saja. Aku bersedia kehilangan semuanya, asal itu bukan kau Im,” jawabnya lantang.

Sial! Yoona hanya bisa terpaku mendengar ucapan Donghae. Sihir apa yang diberikan pemuda itu padanya sehingga menimbulkan efek mematikan seperti ini. Dia hanya bisa mengalihkan perhatiannya. Tersenyum tipis.

“Kau gila!” Bentak Yoona. Perkataan gadis itu justru membuat Donghae tersenyum.

Pemuda itu tampak menghela nafas sejenak. Matanya melirik sekilas ke arah Yoona yang berdiri tepat disampingnya, tapi gadis itu tampak mengacuhkannya.

“Aku akhirnya mengerti tentang kehidupan ini sejak bertemu denganmu. Tentang masa laluku yang ternyata hanyalah berisi sebuah penyesalan. Tentang duniaku yang ternyata sangat kejam. Kau membantuku mengetahuinya,” tutur Donghae.

Yoona menyimak setiap kata yang diucapkan Donghae. Dia pun hanya bisa mengangguk dalam hati. Karena dia juga merasakan hal yang sama. Bahwa dia telah belajar banyak dari skandal yang dijalaninya. Hidup tidak selalu bahagia, karena rasanya tak akan sama dengan gula.

“Aku juga belajar banyak, mensyukuri setiap detik yang aku lewati. Aku akhirnya mengerti bahwa tanpa dongeng masa lalu itu tak akan ada dongeng hari ini. Dan dongeng hari ini menentukan dongeng di masa depan. Itulah bagaimana guratan takdir yang tercipta,” jawab Yoona.

Donghae hanya tersenyum tipis mendengarnya. Pemuda itu lantas berdiri bangkit dari posisinya. Yoona yang melihatnya hanya bisa mendengus kesal. Menyadari bahwa maksud yang sesungguhnya dari percakapan mereka belum diungkapkan Donghae.

“Kau tahu…” ucap Donghae, menggantung.

Yoona menunggu selama beberapa saat, tapi tampaknya Donghae tak berniat melanjutkannya juga. Akhirnya dia pun bangkit, berjalan mendekat ke arah pemuda itu. Kedua tangannya dimasukkannya ke dalam saku mantelnya.

Kepalanya menoleh ke samping. Saat mata Donghae menatapnya, dia pun segera mengontrol emosinya. Tanpa sadar tangannya mengepal kuat dalam saku mantelnya. Matanya menyiratkan sebuah ketertarikan akan perkataan Donghae.

“Salju malam ini turun deras, kau akan tidur nyenyak malam ini,” sambung Donghae.

Yoona nyaris hendak menendang kaki Donghae. Dia tidak bodoh. Dia cukup tahu jika apa yang baru saja dikatakan pemuda di sampingnya bukanlah yang sebenarnya. Bukan yang diinginkannya.

“Ya sepertinya kau benar, aku akan pergi tidur sebentar lagi,” kata Yoona. Kentara sekali nada kesal dalam perkataannya.

Donghae cukup peka, karena pemuda itu segera menarik tangan Yoona sebelum gadis itu melangkah semakin jauh. Dia pun hanya menatap bingung pada Yoona.

“Kau kenapa? Marah?” Tanya Donghae segera.

Asap mengepul keluar dari hidung Yoona. Gadis itu membalikkan badannya dan melepaskan genggaman tangan Donghae. Sebelum pemuda itu semakin menjeratnya, dia telah mengantisipasinya lebih dulu untuk tetap berpijak di tanah.

“Tidak,” jawabnya singkat seraya menggeleng.

“Kau bohong!” Kata Donghae cepat.

“Tidak,” jawab Yoona defensif. Raut wajahnya terlihat semakin kesal saat Donghae tengah menghakiminya seperti sekarang.

“Kau kesal,” balas Donghae (lagi).

Yoona berdecak kesal dan hendak melangkahkan kakinya pergi. Dalam hati dia bertekat untuk mengacuhkan Donghae. Tentu saja, jika dia bisa.

“Kau sengaja membuatku kesal kan?” Tanya Yoona. Senyum tipisbukan jenis senyum tulus—tersungging dari sudut bibirnya.

Donghae tampak tersedak kaget saat tiba-tiba Yoona berbalik dan hendak melangkah pergi. Pemuda itu segera menarik tangan Yoona, tapi gadis itu menepisnya. Membuatnya terkaget-kaget untuk sejenak.

“Kau tahu, aku merasa bahwa perjalanan ini terlalu lama. Aku ingin segera mengakhirinya,” ujar Donghae.

Dor! Seolah peluru tembak sedang menembus jantungnya. Yoona refleks diam ditempatnya. Seolah nyawanya telah melayang bersamaan dengan perkataan pemuda itu. Donghae ingin mengakhirinya? Mengakhiri hubungan mereka? Benarkah?

“Oh…,” gumamnya. Dia bahkan tak tahu harus memberi respon seperti apa. Dia hanya berharap dia bisa membekukan waktu saat ini, seperti yang dikatakan Donghae beberapa saat lalu.

“Jadi, maukah kau berdiri disampingku untuk merasakan akhir perjalan ini?” Lanjut Donghae.

Seketika Yoona berbalik. Gadis itu tidak peduli dengan matanya yang nampak berkaca-kaca. Merasa pemuda di depannya sedang mempermainkannya. Kurang ajar sekali dia! Mentang-mentang dia tahu bahwa Yoona sudah tergila-gila padanya lalu dia bisa mempermainkannya?

“Kau ingin kita berpisah?” Tanya Yoona lirih.

Yoona dapat melihat raut terkejut di wajah Donghae saat pertanyaanyang dikeluarkannya dengan susah payah itu terlontar dari bibirnya. Dia bahkan nyaris menangis dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri saat mengucapkannya.

“Apa maksudmu?” Tanya Donghae. Dahinya mengernyit, sedang senyum yang tersungging dari sudut bibirnya semakin memudar.

“Tolong! Bicaralah dengan jelas Oppa,” kata Yoona lirih.

Tiba-tiba saja percakapan-percakapannya dengan Donghae menyeruak. Dia membenci permikiran-pemikiran yang ada dalam otaknya bahwa Donghae hanya menipunyamungkin dengan tujuan agar dia melayang lantas pemuda itu akan menjatuhkannya.

Dia tidak siap mendapati setiap perkataan yang diucapan Donghae hanyalah sebuah gombalan tak bermutu untuk menghiburnya. Sebuah kata perpisahan manis yang akan dikenangannya.

Donghae yang berdiri di depannya tampak mengernyitkan dahi. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran, mungkin pemuda itu menyadari bahwa Yoona, yang berdiri di depannya tampak berkaca-kaca. Dalam pantulan cahaya bulan, akan sedikit memberikan penerangan untuknya.

“Tunggu! Sepertinya kau salah paham Yoona. Bagaimana mungkin aku bisa mengakhiri hubungan kita jika yang ingin aku katakan adalah, aku hanya ingin menghabiskan setiap menit dari sisa hidupku bersamamu. Maukah kau?” Ujarnya.

Entah setan apa yang merasuki tubuh Yoona. Seolah ada kekuatan besar yang mendorongnya, dia berlari dan memeluk Donghae denga erat. Membuat Donghae hanya bisa terpaku ditempatnya. Tapi pemuda itu lantas membalas pelukan Yoona.

“Dan aku tak akan sekuat itu untuk bisa menolak tawaran yang kau suguhkan, untuk bisa berpura-pura lupa tentang eksistensimu dan seluruh perjalanan rumit yang telah kita lewati bersama. Karena inilah yang aku inginkan selama ini, berdiri disampingmu Donghae Oppa.”

*

Dengan tubuh letih, Sulli mengusap tetes keringat yang jatuh menuruni pelipisnya. Sesaat dia berkaca pada kaca ruang tari di depannya yang menampilkan sosoknya secara menyeluruh. Dia tersenyum, bahagia.

Dengan langkah ringan gadis itu berjalan ke luar ruangan. Matanya menangkap sosok tubuhyang tak dikenalinya—berjalan ke arahnya. Maka, dia pun berhenti di tempatnya.

“Kau kenal Im Yoona?” Tanyanya.

Sejenak Sulli mengamati sosok pemuda di depannya. Dari wajahnya dia dapat menyimpulkan jika pemuda itu bukan keturunan asli Korea, walau nada bicaranya mirip orang Korea. Mata pemuda itu tampak menjelajah ke sekeliling gedung tari Nayarina.

“Namaku Henry, aku sepupu Donghae. Kau pasti tahu kan?” Jelasnya.

Sulli hanya membulatkan bibirnya. Ada apa gerangan tiba-tiba sepupu Donghae menemuinya? Ah tentu saja menemui Yoona, bukan dia.

“Yoona Onnie tidak ada.”

“Aku tidak mencari Yoona.”

Sulli mengernyitkan dahinya saat mendengar jawaban Henry. Gadis itu lantas berjalan ke kursi tunggu di depan gedung. Henry tampak mengekor dibelakangnya.

“Lalu untuk apa kau kesini?”

“Bertemu denganmu.”

Sulli mengerjap sesaat mendengar jawaban Henry. Perasannya tiba-tiba terasa teraduk-aduk. Mereka tidak saling mengenal, jadi bagaimana mungkin Henry datang untuk menemuinya?

“Kita tidak saling mengenal.”

“Aku mengenalmu Sulli.”

“Oke baiklah baiklah. Jadi katakan saja apa yang ingin kau bicarakan ehm Henry?” Jawab Sulli menyerah. Jujur saja dia tidak ingat jika pernah bertemu dengan Henry. Atau mungkin pemuda itu hanya mengarang saja? Entahlah.

“Apa yang kau ketahui tentang orang tua Yoona?” Tanyanya.

Pertanyaan itu cukup membuat Sulli tercengang. Bagaimana ini? Dia tidak siap menjawab pertanyaan yang dilontarkan Henry. Apa yang harus dikatakannya?

“Dengar, aku hanya ingin membantu Donghae Hyung. Dia ingin membuat Yoona yakin pada keputusannya, bahwa Donghae bisa membuatnya bahagia. Dan hal pertama yang ingin dilakukannya yaitu melalui kedua orang tuanya,” jelas Henry.

Sulli menimang-nimang untuk memberitahu tentang orang tua Yoona atau tidak. Bagaimanapun mereka punya tujuan yang sama, yaitu ingin membuat Yoona bahagia dengan kembali berkumpul bersama keluarganya. Dia menghela nafas sejenak.

“Kami memiliki kisah yang hampir sama. Saat pertama kali aku melihatnya menari aku bisa merasakan bagaimana perasaannya. Melalui tariannya dia menyampaikan tentang perjuangannya untuk bisa berdiri di atas panggung,” ujarnya.

Sejenak Sulli menatap Henry. Dengan isyarat matanya Henry meyakinkan gadis itu bahwa dia dapat mempercayainya. Maka mengalirlah cerita tentang keluarga Yoona.

Keluarga Yoona yang melarangnya untuk menjadi seorang ballerina. Tapi dengan nekatnya, gadis itu kabur ke rumah neneknya. Tekatnya sangat kuat, sampai akhirnya dia berhasil mendapatkan beasiswa penuh di Juilliard.

Sejak saat itulah Yoona tidak pernah bertemu dengan orang tuanya. Dia pernah berkata bahwa dia tidak membenci mereka, tapi dia justru terlalu takut untuk bertemu mereka. Takut jika dia akan di buang.

“Setiap orang yang melihatnya menari akan berkata bahwa dia adalah seorang ballerina yang hebat. Tariannya akan merangsang sel-sel saraf kita untuk focus padanya. Sepanjang pertunjukan tidak ada pasang mata pun yang akan lepas darinya,”

“Jadi, kau juga memiliki kisah seperti itu?”

“Aku masih jauh lebih beruntung dari Yoona Onnie. Kedua orang tuaku akhirnya sadar bahwa inilah duniaku. Dan mereka tidak bisa melarangku karena yang menjalani ini semua adalah aku sendiri dan…”

Sulli tampak menggantungkan kalimatnya. Tersadar bahwa tak seharusnya dia membicarakan masalah pribadinya dengan pemuda di sampingnya. Dia berdehem sejenak untuk menetralkan emosinya.

“Aku ingin mengenakan pointe shoessepatu khusus untuk menari balet—dan melakukan pirouette—gerakan berputar di tempat setelah melihatnya. Aku pun belajar tarian solo—varitation darinya.”

Henry tampak mengangguk-angguk mendengar jawaban Sulli. Akhirnya dia mendapatkan informasi yang cukup banyak untuk membantu sepupunya. Dengan sopan dia bangkit berdiri.

“Terima kasih untuk semu informasinya. Senang bertemu denganmu nona Choi Sulli,” pamit Henry.

Sulli hanya tersenyum simpul dan mengangguk. Mengantar kepergian Henry tanpa berucap apapun. Dia hanya berharap, semua akan berjalan semestinya. Dan dia bisa bertemu dengan pemuda itu lagi.

*

Donghae memang sudah gila. Mungkin ‘tidak wajar’ adalah kata yang lebih tepat untuk mendeskripsikan tentang dirinya. Terhitung sejak dia bertemu dengan Yoona. Mulai saat itulah dia menjadi seseorang yang baru. Dia membunuh semua tujuannya dan menggantikannya dengan satu tujuan baru yaitu: melindungi seorang gadis bernama Im Yoona.

Dia tidak memahaminya sejak awal. Tapi ketika gadis itu tampak begitu rapuhseolah hanya dengan sekali sentuh dia akan hancurtujuan hidupnya telah berubah. Tidak ada tawar menawar. Dia mengorbankan segalanya di atas tujuannya.

“Kau serius ingin mengajakku berkencan tanpa penyamaran apapun?” Tanya Yoona.

Hari ini keduanya sedang berkencan seperti layaknya pasangan muda lainnya. Ini terasa berbeda dan begitu nyata, karena keduanya muncul tanpa penyamaran. Tanpa topi, tanpa kacamata, tanpa syal yang biasanya selalu menyamarkan sosok keduanya. Donghae masih berstatus sebagai seorang artis saat ini, jangan lupakan itu!

“Cepat atau lambat, mereka semua akan mengetahuinya. Jadi untuk apa kita bersembunyi?” Tanyanya balik.

Yoona menghela nafas sejenak. Jika seperti ini, apalagi yang bisa dilakukannya? Donghae sudah meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan segera berakhir. Dan hingga detik inipun dia akan tetap bertahan disamping pemuda itu. Tidak akan mengeluh karena dia selalu mengingat saat-saat dimana hatinya terasa hancur hanya dengan membayangkan bahwa Donghae tidak berdiri di sampingnya.

“Ah, cinta itu memang sederhana. Manusialah yang menjadikannya penuh ukiran rumit, dan berbelit-belit,” ujar Donghae.

Yoona yang semula menyenderkan kepalanya di bahu Donghae segera menjauh. Dia menatap bingung pemuda disampingnya. Sedang Donghae dengan sengaja membuatnya bertambah linglung dengan menggenggam tangannya erat dan menatap matanya dalam.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Kalimat yang baru saja diucapkannya Donghae serasa membius Yoona. Gadis itu mematung ditempatnya. Seluruh sistem sarafnya rusak sudah.

Lagi-lagi donghae merangkai aksara indah itu dan membiarkan Yoona menjawabnya. Sejak kapan sih merangkai aksara menjadi puisi menjadi hobinya? Kenapa dia tidak merangkai aksara dan menuliskannya dalam harti saja? Setidaknya Yoona tidak akan mati penasaran mencari jawabannya.

Begitu sederhana, namun memiliki arti yang luar biasa dan mendalam, menyentuh serta menggetarkan hati. Begitu halus dan mengena. Kandungan maknanya tak kan sesederhana mengungkapkannya.

Yoona mengutuk dalam hati. Dia masih belum terbiasa dengan aksara-aksara indah yang dirangkai Donghae. Mau sampai kapan dia harus belajar untuk terbiasa? Rasanya seumur hidup pun dia masih belum mampu untuk terbiasa. Dan ini artinya, dia harus tetap berdiri di samping Donghae untuk selamanya…

“Kau mengerti maksudku kan?” Tanya Donghae setelah jeda beberapa saat.

Mata Yoona melotot. Kesal mendengar pertanyaan Donghae yang terkesan mencemoohnya. Donghae jelas mengerti bahwa dia tidak bisa berpikir dengan benar, bagaimana mungkin dia bisa mencerna maknanya? Bernafas pun dia kesulitan.

“Cinta sejati kadang sulit untuk diungkapkan, cinta itu hanya mampu dirasakan, tak bisa dibahasakan atau dilukiskan dengan kata. Dan cinta sederhana akan mengajarkan kita untuk mencintai dengan cara sewajarnya.”

Sedikit demi sedikit Yoona mulai menyusun kalimat-kalimat yang terngiang di otaknya. Dia sedikit paham dengan ucapan Donghae. Cinta sederhana.

Mencintai dalam kadar sewajarnya saja, tidak perlu berlebihan karena justru rasa cinta itu bisa berubah menjadi benci. Cinta apa adanya berarti mampu menerima kelebihan sekaligus kekurangannya.

“Sebentar lagi, kau akan mengetahui siapa orang-orang yang benar-benar mendukungmu dan mecintaimu,” sahut Yoona.

Akhirnya dia paham kemana arah pembicaraan Donghae kali ini. Yoona bisa melihat banyak orang tengah menatapnya. Matanya jatuh pada sekumpulan gadis yang tengah membawa kembang api dan tersenyum ke arahnya. Ini siang bolong, tidak mungkin kan mereka akan menyalakan kembang api?

“Hallo Donghae Oppa, Yoona Onnie, kami adalah pendukung kalian,” ujar salah satu gadis tadi setelah berjalan mendekat. Seorang gadis berambut ikal dengan mata belo.

Kentara sekali raut terkejut di wajah Donghae dan Yoona. Tapi dalam hati mereka bersyukur, mereka bahagia. Karena faktanya diantara sekian banyak penggemarnya, masih ada orang yang mendukungnya. Inikah yang disebuh penggemar sejati?

“Kalian telah memberikan percikan-percikan api kebahagiaan untuk kami. Membuat kami belajar banyak tentang arti sebuah kehidupan. Kami adalah pendukung kalian, Pyrotechnic,” kata gadis bermata sipit serta berambut lurus sebahu dengan penuh semangat.

Penggemar sejati sering melekat pada mereka yang sangat mencintai idolanya. Mereka akan berupaya melindungi sang idola dengan cara apapun. Tapi terkadang cinta itu melebihi batas dan terkadang berubah menjadi obsesi. Sama halnya seperti mereka yang membenci Yoona karena dia berhubungan dengan Donghae.

Ada pula yang bependapat bahwa ternyata orang yang memiliki ketertarikan terhadap seseorang atau sesuatu yang didasari oleh perasaan benci adalah penggemar yang sesungguhnya. Karena keantuasiasan seseorang yang berdasarkan benci dan suka perbedaannya sangat jauh.

Yoona menerima sekantong kembang api dengan perasaan bahagia. Tidak ada setitik keraguan pun di dasar hatinya.

“Terima kasih,” ujarnya tulus.

Donghae pun tersenyum tulus. Pemuda itu menatap gadis disampingnya. “Jadi?” Tanyanya mengambang.

Yoona hanya tersenyum tipis. Beralih memandang para penggemar Donghae yang mulai berjalan menjauh.

“Mereka akhirnya mendukung kita. Dan untuk apa aku harus melepaskan?”

*

Konser kedua Donghae terasa begitu megah dengan tata panggung yang dilengkapi layar raksasa, kembang api, water splash, dan lighting yang memukau. Konsep yang dirancang memang tidak sederhana, ini memberikan kesan mewah dan mahal.

Donghae dalam balutan kemeja putih yang dipadukan dengan jas hitam tampak menaiki panggung. Senyum masih senantiasa terlukis di bibirnya. Dia menggenggam mikrofon di tangannya dan hendak mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai pembukaan.

“Selamat malam semuanya. Apa kabar? Terima kasih telah hadir di sini,” sapanya riang.

Yoona, yang berdiri di sisi panggung tampak gemetar. Gadis itu sedang dilanda kalut. Matanya menerobos gelapnya ruangan hanya sekedar mencari-mencari dimana keberadaan penggemar Donghae. Bagaimana mungkin dari sekian banyak bangku hanya terisi seperempatnya saja?

“Sejujurnya aku sendiri tidak mengerti, bagaimana definisi seorang penggemar sejati. Yang aku tahu dia adalah seorang penggemar yang akan selalu mendukung idolanya. Menerima semua kekuarangan dan kelebihannya. Turut berbahagia dengan segala keputusan yang diambilnya.”

Yoona nyaris melorot dari posisinya kalau saja dia tidak segera berpegangan erat pada pilar disampingnya. Apa maksud Donghae mengatakan semua ini? Dia sempat melihat Jessica dan Kahi tengah tersenyum dan mengangkat tangannya ke udaramemberikan semangat untuknya.

Seperti itulah mereka, yang tengah berdiri di depan sana dengan senyum mengembang di sudut bibirnya. Terima kasih Elfishysebutan nama penggemar Donghaeatas dukungan kalian selama ini. Konser ini aku persembahkan untuk kalian semua,” katanya tulus.

Suasana mendadak menjadi begitu hening. Yoona melangkahkan kakinya ke atas panggung saat Sungminsebagai pembawa acara memanggilnya. Yoona sempat berpapasan dengan Donghae. Pemuda itu hanya tersenyum tipis untuk memberinya dukungan.

“Aku merasa tidak pantas berdiri di sini. Seolah aku menang karena telah menghancurkan dunia kalian, antara Donghae dan Elfishy. Apa yang aku katakan apa adanya, seperti yang Donghae inginkan, aku tidak ingin bersembunyi. Kami ingin mengakhiri drama ini.”

Bisik-bisik mulai terdengar. Yoona cukup terkejut saat berbondong-bondong para remaja mulai memasuki ruangan. Lalu, kemana saja mereka tadi? Apa mungkin setelah mendengar perkataan Yoona mereka tertarik kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam?

“Mungkin kalian berfikir bahwa Donghae tidak membutuhkan kalian lagi. Dia bahkan memilih untuk tetap bersamaku. Aku tahu pasti kalian sangat membenciku dan kecewa pada keputusannya, dan sekarang aku mengerti. Pasti kalian merasa bahwa aku telah merebut Donghae. Setelah Donghae bersamaku, dia akan melupakan kalian. Tapi itu adalah pemikiran bodoh.”

Yoona melirik Donghae sekilas, tampak kerutan samar di dahi pemuda itu. Dia pun memutuskan untuk tetap memandang lurus dan berkonsetrasi pada apa yang hendak disampaikannya.

“Karena pada dasarnya Lee Donghae adalah manusia biasa, sama seperti kita. Hanya saja dia berkesempatan mejadi sosok yang dipuja oleh kalian. Tidak dapat dipungkiri bahwa dia tidak dapat berdiri tanpa kalian. Walau dia terlihat kokoh berdiri, tapi tanpa kalian dia bukanlah apa-apa.”

Hening. Seperti tak ada penghuni di dalamnya. Yoona bahkan merasakan tangannya yang begitu dingin. Dia gemetar.

“Kalian harus tahu bahwa Donghae sangat menyayangi kalian. Dia hanya ingin kalian ikut merasakan apa yang dia rasakan. Sebuah kejujuran yang dijunjungnya. Dia tidak berniat menyembunyikan apapun dari kalian lagi. Jadi, semua terserah kalian.”

Yoona mengakhirinyajika ini bisa disebut sebagai pidato mungkin yang disampaikannya adalah sebuah pidato singkat—dengan membungkuk. Tak berselang lama, saat dia menghilang dari panggung tepuk tangan menggema.

“Terima kasih Yoona,” kata Donghae tulus. Pemuda itu lantas menarik Yoona ke dalam pelukannya.

Panggung mendadak menghadirkan suasana yang baru dan menggugah. Bergerak dari konsep sederhana, rutinitas manusia sehari-hari. Beberapa orang mulai memasuki panggung. Inilah cerita hari ini. Antara Lee Donghae dan Im Yoona. Di tengah sebuah skandal yang terjadi keduanya mengalami sebuah insiden ‘jatuh cinta’ yang membuat mereka berdiri saat ini.

Musik klasik mulai melengking dan bergelombang. Penonton serentak mendongak menatap ke atas panggung. Penari yang beberapa saal lalu menghilang. Yoona muncul dengan kostum serba putih. Stocking putih, rok dan baju putih serta sepatu balet putih. Rambutnya di ikat sepenuhnya ke atas sehingga menampakkan keindahan dahinya. Dengan sentuhan pita pink di rambutnya, semakin membuat penonton terkesima melihat penampilannya di sana.

Dia melompat tinggi ke udara dalam ketinggian tertentu, menghirup udara sejenak dan cepat disela-sela gerakannya. Tak kentara. Beberapa detik kemudian dia terhentak kembali ke lantai panggung. Dia mangangkat tubuhnya tinggi-tinggi dengan tumpuan satu kaki sementara kaki yang lain terangkat ke atasgerakan piroutte. Dia berputar, berputar dan berputar lagi.

Menit berikutnya adalah saat dimana penonton dibuat semakin tercengang. Donghae mengenakan kostum putih seperti Yoona mulai memasuki panggung. Penonton dituntut untuk bisa masuk ke dalam cerita yang diperankan Yoona. Sampai pada di titik ini, ketika Yoona sedang jatuh cinta. Tarian ini diperlihatkan lewat teknik gerak pas de deux.

Kemunculan Donghae hanya sesaat. Pemuda itu hanya muncul beberapa detik untuk menari, karena tujuan utamanya hanya menyampirkan sebuah jaket bulu berwarna pink di tubuh Yoona. Penonton terpukau pada penampilannya, tatapan matanya yang menyiratkan sebuah cinta. Lalu dia kembali menghilang. Ini adalah masa transisi dimana Yoona harus memutuskan antara dua pilihan: meninggalkan Donghae demi kebahagiaannya atau tetap berdiri disamping pemuda itu.

Dia dilanda dilema, kesedihan tampak terpancar dari raut wajahnya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar hebat membakar perasaannya. Dia membuka jaket bulu birunya dan dia pun melakukan piroutte yang indah. Melalui tarian itu, dia meluapkan emosinya.

Dengan jinjitan dua kaki tubuhnya terangkat ke udara, sementara kedua tangannya melingkar di atas kepadanya. Tubuhnya berputar dengan satu kaki, secara berulang-ulang, penonton tak dapat melihat gerakan berputar yang dilakukannya saking cepatnya. Pada saat yang sama air mata jatuh menuruni pipinya. Dia sedih.

Jessica, yang berjarak kurang dari sepuluh meter dari panggung mengenalinya. Gadis itu bahkan sempat meneteskan air matanya. Mengingat semua yang telah terlewat, dia sangat menyesalinya.

“Aku memang gadis bodoh Yoong!” Gumamnya.

Lalu Donghae masuk dan berjalan ke arah Yoona. Saat itulah Donghae melakukan gerakan lifting—gerakan yang mengharuskan penari pria mengangkat pasangannya. Mata mereka bertemu, raut sedih di wajah Yoona sirna sudah.

“Kau pasti bisa Donghae Oppa,” bisiknya.

Dan mereka berhasil. Selanjutnya, bersama, mereka menarikan adagio—tarian bertempo pelan sehingga tidak terlalu sulit untuk Donghae. Ini merupakan kejutan yang tidak terbayangkan oleh para penonton. Mereka menatap penuh haru.

Sampai akhirnya mereka mengakhiri tarian dengan membungkuk, penonton masih tampak begitu hening, sekaligus terkagum-kagum. Tepuk tangan, sorak sorai menggema memenuhi ruangan setelah beberapa menit berselang.

“Semoga setelah ini mereka akan menyukaiku,” gumam Yoona.

Donghae tertawa kecil mendengar gumaman Yoona. Mereka berjalan menjauhi panggung dengan tangan saling bertautan. Mengucapkan lantutan doa dalam hati, sebuah kebahagiaan yang akan datang menghampiri.

Senyum masih terlukis indah di wajah keduanya saat memasuki belakang panggung. Donghae serentak menghentikan langkahnya saat Yoona berhenti melangkah. Donghae pun akhirnya mengikuti arah pandang gadis itu.

“Omma…,” gumam Yoona.

Di depan sana berdiri dua orang pria dan wanita. Sulli, Henry dan dua orang lagi yang tidak diketahui Donghae. Tapi setelah mendengar panggilan Yoona tadi, dia yakin mereka adalah keluarga Yoona. Jadi, Henry berhasil membawa mereka ke sini.

Donghae tersentak saat Yoona melepas genggamannya. Gadis itu lantas memeluk ibunya. Suasana itu begitu haru. Saat dimana seorang anak akhirnya kembali bersama keluarganya. Semua orang yang melihatnya pun ikut tersenyum bahagia.

“Maafkan kami Yoongie, ternyata kau memang benar-benar hebat. Kau dilahirkan untuk menari, seperti nenekmu. Aku tidak akan memaksakan kehendak lagi, kau bisa menari sepuasnya dan kami akan mendukungmu.”

“Maafkan ayah karena telah mengabaikanmu. Memaksakan kehendak dan tidak mendengarkanmu. Jadi, maukah memaafkan kami?”

Yoona tersenyum haru. Kedua orang tuanya meminta maaf padanya, bukankah dia yang seharusnya meminta maaf? Di saat seperti ini, dia tak mampu berucap. Dia hanya mengangguk sebagai tanda bahwa dia memaafkan mereka.

Yoona melirik Sulli dan Henry yang berdiri di belakang orang tuanya. Sulli tampak begitu bahagia. Dia pun hanya bisa tersenyum menyampaikan terima kasih. Yoona pun berharap bahwa Sulli akan menemukan kebahagiaan seperti dirinya.

Tiba-tiba gadis itu teringat pada sosok Lee Hyukjae. Selama dia berpisah dengan orang tuanya, pemuda itulah yang selalu menjaganya, menggantikan kedua orang tuanya. Walaupun pemuda itu berada jauh di sana, Yoona yakin jika Hyukjae selalu mendoakan kebahagiaannya.

Yoona lantas berbalik memandang Donghae. Pemuda itu hanya tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Membuat Yoona tertawa kecil. Mata mereka saling memandang dalam, berusaha menyelami mata satu sama lainnya.

Kini, Donghae akhirnya mengerti bahwa mengartikan sebuah perasaan cinta tidaklah sesederhana seperti yang dipikirkannya. Kwon Yuri, rasa cinta yang disimpannya untuk gadis itu ternyata hanyalah sebuah rasa bersalah.

Dia mengerti tentang arti perjuangan hidup dan betapa kejamnya dunia ini. Segala sesuatu yang sarat akan makna ‘bahagia’ memang harus diperjuangkan. Dan dia tak kan bisa bersembunyi dari takdir lebih lama lagi.

Dia menemukan cinta sejati, seorang gadis yang ingin dilindunginya, yang menjadi orientasi kehidupannya diatas segala-galanya. Dia menemukan para pendukung sejatinya, yang tetap berdiri di depannya, tidak peduli dengan apapun yang terjadi.

Begitupun dengan Yoona, gadis itu belajar banyak hal dari skandal yang telah dilewatinya. Dia akhirnya mengetahui bahwa seorang musuh bisa menjadi seorang sahabat, begitupun sebaliknya. Dunia ini memang aneh.

Dia menjadi sosok yang lebih manusiawikarena dulu dia terlalu tidak peduli pada kehidupannya—seperti itulah yang dikatakan Jessica padanya. Dia menjadi lebih tegar dan kuat. Akan ada hal-hal kejam yang terjadi, tapi Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuannya.

Semua yang dia korbankan tidak sia-sia. Mimpinya menjadi kenyataan, dan yang terpenting, dia bisa kembali bersama orang tuanya. Dia hidup berdampingan dengan orang-orang yang disayangi dan menyayanginya.

Saat ini Donghae dan Yoona sedang berada di belakang panggung, berdiri berdampingan. Kedua orang tua Yoona, Henry dan Sulli sudah kembali ke tempatnya semula. Acara masih berlanjut, dan sebentar lagi Donghae akan menyanyikan lagu ‘Y’. Lagu ini bukan untuk Yuri, tapi untuk Yoona.

“Tidak ada yang salah dan siapa yang harus disalahkan dalam skandal ini. Semuanya berjalan sesuai takdir yang tertulis,” bisik Donghae.

 “Dan jika ada orang yang harus disalahkan, akulah orangnya. Karena aku sempat berfikir untuk bersembunyi dari takdir, pergi dari sisimu Donghae Oppa. Dan sekarang, aku tidak akan pergi, karena aku tidak bisa lari lagi darimu.”

**

Dengan ini berakhirlah sudah kisah mereka yang cukup rumit nan berbelit-belit ini LOL

Gimana endingnya? Aku ngerasa rada aneh nulisnya setelah vakum lama /plak

Thankyou so much buat yang selalu ngasih komen/sarannya ya. Tanpa kalian cerita ini gak mungkin sampai disini. See you in next FF teman-teman 🙂

Advertisements

70 comments

  1. boleh aku jujur ?? sebenernya aku paling gak suka ff dengan bahasa nirak dengan beberapa kata atau kalimat menggunakan bahasa korea.aku lebih suka ff seperti ini,tapi menurutku bahasa yg digunakan di ff ini terlalu rumit dan sulit di pahami aku saja dering mekewatkan beberapa bagian yg menurutku memusingkan.
    poit of viewnya juga membingungkan,maaf yaa kalo aku banyak mengritik

    1. wah terima kasih ya 🙂
      gpp kok, aku malah suka komen yang jujur dan membangun kayak gini. menurutku juga itu ff bahasanya aneh-_- aku aja kadang males bacanya LOL
      aku juga lagi nyoba biar bahasanya mudah dan enak dibaca hehe

  2. Eonnie ya .. maaf baru meninggalkan jejak,, aku selalu meninggalkan jejak saat crita ny selesei … dan kau tau Eonnie .. kau berhasil membuatku terharu karna cerita ini,, cerita yang sama dgn kehidupanku .. Terima kasih Eonnie ^_^

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s