Good Bye, Noona


Good Bye, Noona! by jeanitnut

Kisah mereka berakhir disini. Di atas jembatan sungai Seine. Gadis yang dicintainya telah pergi.

Gadis berambut ikal sebahu itu menatap lurus ke depan. Matanya sayu, tak seperti biasanya yang selalu berbinar cerah. Ekspresi wajahnya sendu, tak seperti biasanya yang dapat menampilkan berjuta macam ekspresi dalam seharinya.

Langkah kaki seseorang mendekat, tapi gadis itu masih bertahan diposisinya. Tangannya mencengkeram kuat tali jembatan. Dinginnya angin malam yang menusuk kulitnya diabaikannya. Dia bahkan tak mengenakan syal ataupun sweater untuk menahan dinginnya malam. Hanya berbalut sebuah celana jeans panjang serta kemeja putih yang membungkus tubuhnya.

“Jangan mendekat. Berhenti disana Kris!”

Pemuda yang bejarak satu meter dibelakang gadis itu tersentak kaget mendengar ucapannya. Ekspresi kekecewaan jelas terlihat nyata dari wajahnya. Tapi hanya semenit, karena pemuda itu lantas mengabaikan perkataan gadis di depannya dan berjalan mendekat.

“Jangan menyiksa dirimu sendiri Jessie.”

Tubuh Jessica menegang saat tiba-tiba pemuda itu memeluknya. Mengecup puncak kepalanya. Dan dengan bodohnya dia membiarkannya. Dia bisa apa jika hatinya membutuhkannya? Haruskah dia menendang pemuda itu dan membiarkannya mati membeku di sungai Seine?

Tangan Kris mencari-cari keberadaan tangan Jessica, dan setelah menemukannya pemuda itu segera menariknya dan menggenggamnya erat. Membagi kehangatan dengan gadis itu. Jessica menutup matanya sejenak, menikmati kehangatan saat tangan kokoh itu menggenggamnya.

“Aku bersyukur kau sangat pendek sehingga aku bisa dengan mudah memelukmu sepeti ini,” gumam Kris.

Jessica membuka matanya. Gadis itu terkekeh kecil mendengar perkataan pemuda dibelakangnya. Dia terkadang merasa sangat kesal karena perbedaan tinggi antara dirinya dengan Kris saat keduanya berdiri bersampingan. Rasanya, dia ingin mematahkan kaki pemuda itu sehingga dia tidak terlihat terlalu kecil.

“Ini bukan lelucon Kris. Aku tidak pendek,” balas Jessica.

“Kau pendek Jessie.”

“Kau yang terlalu tinggi!”

Kris tertawa geli melihat nada kesal dalam ucapan Jessica. Pemuda itu membenahi rambut Jessica yang menjuntai menutupi wajahnya. Diselipkannya rambut itu ke belakang telinganya. Lantas, Kris kembali mengecup puncak kepala Jessica. Wangi shampoo strawberry seketika merasuki hidungnya, wangi kesukaannya.

“Aku hanya bercanda Jessie, kau sensitif sekali.”

“Apa? Ini sama sekali tidak lucu Kris. Dan sekarang bukan saatnya untuk bercanda.”

Kris menghela nafas jengah. Dia mengerti benar maksud perkataan Jessica. Tujuan pemuda itu menemui Jessica, keduanya sama-sama mengerti. Tapi tidak ada salahnya kan Kris ingin menikmati saat-saat paling membahagiakan dalam hidupnya walau hanya beberapa menit saja?

“Berbaiklah padaku Noona. Hanya beberapa menit saja, eo?”

Jessica tersenyum memaksa. Kris memanggilnya Noona? Pentingkah perbedaan itu ditunjukkannya? Gadis itu lantas berbalik sehingga kini dia bisa dengan leluasa menatap wajah tampan pemuda di depannya. Wajah dingin yang selalu disukainya. Memikat sekaligus menakutkan.

“Aku merindukanmu,” gumamnya. Tangannya terangkat untuk sekedar menyikap beberapa helai rambut yang menutupi dahi Kris. Tangan gadis itu lantas menyentuh pipi pemuda itu dan mencubitnya.

“Jessica Jung, apa yang kau lakukan?” geram Kris.

Jessica tertawa puas melihat raut wajah Kris. Gadis itu bahkan harus menutup mulutnya dengan tangan kirinya agar tawanya tak semakin meledak. Jessica menghentikan aksi tawanya saat Kris menatapnya tajam. Tatapan yang paling menyebalkan untuknya karena tatapan itu akan membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Kris menggenggam tangannya lembut dan mendekatkan wajah ke arahnya. Jessica menutup matanya saat Kris mengecup bibirnya, singkat saja. Pemuda itu lantas membenahi poni yang menujuntai menutupi sebagian mata Jessica.

“Ini tempat umum Kris,” kata Jessica mengingatkan.

Kris mengangkat alisnya tak mengerti dengan maksud Jessica. Pemuda itu kembali menggenggam tangan Jessica. Dingin. Dia pun segera meremasnya dan memasukkannya ke dalam saku matelnya. Jessica tersenyum memandangnya.

“Jangan melakukan hal-hal yang memalukan disini.”

“Memang aku melakukan apa?”

Jessica berdecak kesal. Saat-saat dia harus berdebat hanya karena masalah kecil seperti ini, adalah saat-saat yang paling mendebarkan dan membahagiakan. Sifat keras kepala yang dimiliki keduanya menjadikan perdebatan itu begitu indah.

“Jangan menciumku di tempat umum,” bentak Jessica.

Kris tertawa kecil. Membuat Jessica menatapnya kesal.

“Bagaimana kalau kita ke hotel? Itu yang kau mau?”

Kris menyeringai, membuat Jessica hanya bisa melotot menatapnya. Kris menarik tubuh Jessica dan membenamkannya ke dalam pelukan. Keduanya berpelukan selama kurang lebih lima belas menit. Tidak ada satu kata pun yang terucap diantara keduanya. Hanya semilir angin dan derasnya air sungai mengalir yang terdengar.

Jessica melepas pelukannya saat mendapati handphonenya bergetar. Gadis itu haya tersenyum tipis mendapati raut kesal Kris saat tiba-tiba dia melepas pelukannya. Kris memandang wajah serius Jessica saat membaca pesan yang tertera di layar ponsel. Raut wajah Jessica seketika diliputi awan mendung. Dan tanpa melihat pesan itu pun, Kris sudah tahu siapa pengirimnya.

“Haruskah sekarang?” tanya Kris pada Jessica. Gadis itu berusaha tersenyum, tangannya terkepal kuat.

“Aku akan pergi keNew York.”

Kris menatap tajam gadis didepannyauntuk kedua kalinya. Jessica tak menghindar, gadis itu pun menatap tajam pemuda di depannya. Dia tersenyum, sebisa mungkin dia memaksakan sebuah garis lengkung di sudut bibirnya.

“Kris…”

Kris menghela nafas mendengar panggilan gadis di depannya. Pemuda itu lantas mengatur emosinya, kini matanya sudah tidak setajam semula. Hanya tatapan teduh yang tunjukkannya, masih menatap gadis cantik di depannya.

“Aku ingin menangis dihadapanmu, hanya untuk sekali ini. Apa kau mengijinkannya?”

Kris tertegun, dia pun tersenyum dan mengangguk. Selama kurang lebih sepuluh menit Jessica menangis dihadapannya, sedangkan dia hanya melihat kejadian itu dengan perasaan tak karuan. Dia membiarkan Jessica menangis, dan untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu menangis. Ternyata rasanya seperti ini, sesak. Seolah dia bisa merasakan arti setiap air mata yang turun dari mata indah milik gadis didepannya.

“Jangan menangis lagi, kau sudah pendek, jika menangis seperti ini kau akan terlihat semakin jelek Jessie.”

Jessica terkekeh, gadis itu mulai mengatur nafasnya yang tidak teratur. Dengan lihai tangan Kris mulai menghapus sisa-sisa air mata yang masih tersisa di pipi gadis itu, membelainya lembut seolah pipi itu adalah barang porselen yang dengan sekali sentuh saja akan pecah.

“Aku tahu Krystal jauh lebih cantik dariku,” gumam Jessica.

Kris mendesah, wajahnya mengeras. Dia benar-benar tak menyukai perkataan Jessica. “Jangan pernah menyamakan dirimu dengan adikmu, kau mengerti?”

Jessica hanya mengernyit bingung, tapi dia hanya diam. Kedua orang itu saling memandang satu sama lain. Menikmati setiap jengkal wajah didepannya. Sebentar lagi, mereka tak akan bisa menikmati saat-saat seperti ini. Keduanya sangat mengerti akan hal itu.

Jessica bergerak maju, dengan sedikit berjinjit dia mencium Kris. Kedua tangannya dilingkarkan di leher pemuda itu, sedangkan Kris, dia segera paham dan menunduk. Jessica melepaskan ciuman mereka dan berbisik tepat di telinga Kris.

“Krystal sangat mencintaimu, jagalah dia untukku. Terima kasih, Wufan.”

Kris memandang gadis di depannya dengan tatapan tak percaya. Benarkah ini saatnya? Haruskah dia melepas gadis yang dicintainya?

“Haruskah aku merelakanmu?”

“Ini bukan pilihan Kris!”

Jessica tersenyum menenangkan. Digigitnya bibir bawahnya untuk sekedar memantapkan hatinya. Ini bukan saatnya untuk dia menangis dan berjalan mundur. Ini saatnya untuk dia melupakan, merelakan dan melepaskan.

“Bolehkah aku memelukmu? Untuk yang terakhir kalinya.”

Jessica mengangguk. Keduanya berpelukan, sangat erat.

“Aku mencintaimu Kris.”

Jessica pergi, berlari. Kris hanya diam diposisinya, inilah yang diinginkan gadis itu. Kisah mereka berakhir disini. Di atas jembatan sungai Seine. Gadis yang dicintainya telah pergi. Jessica Jung.

Good bye Noona.”

Kris-Sica LOL

ada yang suka couple ini nggak? aku lagi gila karena couple ini, so selingan aja ya. kalau banyak yang respon aku mungkin bakal bikin oneshootnya hehe^^

33 comments

  1. Unnie! Aku pernah baca ini pas searching di google tp anehnya…..nama website wordpressnya bukan ini. atau aku yg keliru?
    Ini bagus! Gak kepikiran ternyata Krystal begitu….

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s