Decision


2012-02-18_yoona

Decision by jeanitnut

Karena setiap orang memiliki keputusan masing-masing, dan keputusan itu entah akan berakhir bahagia atau justru mengahasilkan sebuah kesedihan.

Langit sore yang begitu indah terpancar lewat celah-celah jendela yang terbuka. Angin sejuk sesekali meniupkan gorden oranye kamar itu dan menerbangkannya. Gadis itu masih berdiri mematung disana. Mata sayunya menatap ke satu titik. Bukan pada keindahan matahari yang dapat memukau mata, hanya pada jalanan lengang di depan sana. Tatapannya kosong.

Dalam sekali hentakan kaki dia berpaling, lantas tangannya dengan segera menarik gorden untuk menutup jendela kamarnya yang berada di lantai dua itu. Helaan nafas berat terdengar saat dia menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya. Lelah dirasakannya.

“Kenapa hidup harus sesulit ini? Pada siapa aku harus bertanya?”

Tawa kecil terdengar dari bibirnya setelah gumaman itu, tawa miris tepatnya. Dia pun lantas berjalan ke arah almari di sudut kamar setelah menengok sejenak jam yang menggantung di dinding. Setelah almari itu terbuka, kini menampakkan berbagai gaun yang indah dihadapannya. Lagi-lagi dia menghela nafas. Tangannya menimang-nimang manakah gaun yang menurutnya cocok dikenakannya. Pilihannya jatuh pada gaun berwarna peach selutut.

Drrtt…drrtt…

Dering telepon itu mengalihkan perhatiannya. Agak ragu dia pun mengangkatnya.

“Kau akan datang kan Im Yoona? Kau harus menunjukkan padaku bahwa ini pilihanmu yang benar, bukan pilihanku. Bagaimana rasanya, kau puas?”

Nafasnya tercekat, bahkan dia nyaris menjatuhkan handphone yang digenggamnya. Suara itu, ah bukan, nada yang digunakan sang penelepon itu menyakitinya. Tapi haruskah dia menyalahkan pemuda itu? Matanya memanas, tapi dia tidak serapuh itu membiarkan air matanya mengalir sia-sia. Karena rasanya sekarang apapun yang akan dilakukannya percuma saja.

Gadis itu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Kini dia benar-benar tahu bahwa pemuda yang baru saja meneleponnya marah padanya. Hatinya mencelos saat medapati pemuda itu memanggilnya dengan nama Korea-nya, untuk kali kedua. Setelah insiden setahun lalu, pertengkaran mereka, dan untuk kali pertama pemuda itu memanggilnya dengan sebutan Im Yoona.

Krek.

Suara derit pintu terbuka, membuatnya segera mengatur emosinya. Dia tersenyum mendapati seorang gadis cantik memasuki kamarnya. Kerutan terlihat di dahi gadis itu. Oh baiklah berhenti berpura-pura dihadapan adikmu Calista.

Are you okay? Jessica menunggumu dibawah,” katanya. Dia mendesah sesaat mendapati perkataan adiknya. Krystal memang terkesan bersikap dingin seperti Jessica, berbeda dengan dirinya yang terbilang lebih ramah diantara tiga bersaudara itu.

I’m okay,” jawabnya tak yakin.

You are not, Cal. Berhenti berpura-pura dihadapanku! Aku tidak bodoh seperti Jessie.”

Perkataan Krystal itu sontak membuat Yoona membelalakkan matanya. Adiknya itu benar-benar, bagaimana bisa dia mengatai kakaknya sendiri ‘bodoh’? Oh well, mungkin tata karma di kota London ini dengan menyebutkan nama saja tanpa embel-embel ‘kakak’ pada orang yang lebih tua tidak masalah. Tapi tetap saja kan mengatai orang tidak dianjurkan.

“Krys, dia tidak bodoh. dia hanya terlalu polos, oke?”

Whatever.

Yoona mendesah melihat sikap acuh adiknya. Berbeda dengan Jessica yang meskipun dingin tetapi sebenarnya gadis itu sangat polos, sedang Krystal, gadis itu terkesan acuh tapi peduli. Mata Krystal mengarah pada gaun yang dipegang Yoona, membuat gadis itu hanya bisa menatapnya bingung.

“Ada apa? Kau mau memijam gaunku?” tanya Yoona langsung.

Krystal melotot. Gadis itu kini sudah mengenakan gaun selutut berwarna putih. Cantik. Dia bangkit berdiri, sebelum menutup pintu kamar Yoona dia berbalik. “Gaunmu hampir sama dengan Jessica, berdandanlah dengan cantik siapa tahu keputusan ayah akan memihak padamu. Semoga beruntung Cal.”

Brak. Tepat saat pintu kayu itu tertutup sebuah sepatu berhak lima senti melayang. Yoona melotot sempurna mendengar perkataan omong kosong adiknya. Omong kosong? Tapi hatinya diam-diam mengamini perkataan adiknya. Oh Tuhan maafkan dia.

Kedua gadis cantik itu duduk berdampingan di ruang tamu. Entah dimana keberadaan anggota keluarga lainnya. Yoona menatap gadis cantik disampingnya, kakanya. Ini pertama kalinya Yoona melihat Jessica tampak begitu cantik dan berkilau. Membuat dirinya entah mengapa merasa begitu rendah.

“Kau bahagia Jess?” tanya Yoona basa-basi.

Jessica tersenyum menatap adiknya, membuat Yoona tercekat. Senyum yang ditunjukkan Jessica, sudah berapa tahun Yoona tak melihat senyum seperti itu. Sejak kakaknya patah hati tiga tahun lalu karena pemuda bernama Kris itu, dia tak pernah lagi menjumpai senyum kebahagiaan seperti yang ditunjukkannya kini. Jadi, keputusannya tidak salah kan…

“Aiden pemuda yang menyenangkan, dan aku percaya dia orang yang setia. Pancaran teduh matanya selalu membuatku merasa tenang. Saat dia menatapku, aku ingin waktu berhenti saat itu juga. Aku merindukan saat-saat dimana jantungku berdetak cepat, saat dimana aku memiliki alasan untuk tersenyum seperti saat dimana aku menyebutkan namanya.”

Brengsek. Yoona mengutuk dirinya sendiri, kenapa pula Jessica harus menyebutkan tentang pemuda itu. Aiden menatap Jessica, tiba-tiba saja dia jadi berpikir apakah tatapan mata pemuda itu saat menatap Jessica akan sama dengan saat Aiden menatapnya.

“Dan aku tidak tahu apakah aku sudah gila karena pesonanya. Aku sangat berterima kasih karena akulah yang dipilih untuk bersamanya, bukan kau atau Krystal.”

Lagi-lagi Jessica tersenyum. Tak tahukah gadis itu adiknya sedang mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk tidak menonjoknya? Yoona benar-benar merasa seolah dunia menjungkirbalikkan hidupnya. Kepalanya pening, asinnya darah dirasakannya saking kuatnya dia menggigit bibir bawahnya.

“Bagaimana menurutmu? Apa pendapatmu tentang Aiden?” tanya Jessica tiba-tiba.

Yoona tersentak kaget. Segera dia tersenyum ke arah Jessica. Matanya menerawang, haruskah dia menceritakan tentang siapa Aiden sebenarnya? Yoona bahkan yakin jika dia mengenal Aiden lebih dari Aiden mengenal dirinya sendiri. Harus dari sisi manakah dia memberikan pendapatnya tentang pemuda itu?

“Dia pemuda yang baik, seperti yang kau katakan tatapan matanya yang begitu teduh itu mampu membuat semua orang merasa nyaman berada di dekatnya. Dia pemuda yang bertanggung jawab dan setia. Dia sangat menyukai anak kecil dan…”

Yoona tercekat saat menyadari apa yang baru saja dikatakannya. Dia melirik ke samping, tatapan ganjil dari Jessica didapatinya. Bodoh! Apa yang baru saja kau katakan Calista, batinnya.

“Aku pernah tidak sengaja melihatnya bermain dengan anak kecil,” jelasnya. Jessica tersenyum mendengar penuturannya.

“Kau menyukainya?” tanya Jessica acuh.

“Eh?” Yoona membelalakkan matanya. Tangannya bergerak gelisah. Apa maksud pertanyaan kakaknya barusan. Disatu sisi dia ingin kakaknya tahu yang sebenarnya dan membatalkan semuanya, tapi disisi lain dia ingin melihat senyum kebahagiaan itu selalu menghiasi wajahnya. Dan kedua orang taunya, kedua orang tua Aiden, semua tidak akan semudah yang dibayangkannya.

“Kau menyukainya jika dia menjadi kakak iparmu?” ulang Jessica.

Tidak. Aku menyukainya jika saja dia menjadi tunanganku Jess.

Yoona hanya tersenyum dan memainkan bola matanya, seolah dia sedang menimang-nimang jawaban atas pertanyaan Jessica. Matanya teralih saat kedua orang tuanya turun dan menyerukan nama Jessica. Di belakangnya tampak Krystal sedang memandang Yoona dengan tatapan aneh, membuat Yoona hanya melotot ke arahnya. Jangan sampai gadis kecil itu menghancurkan segalanya.

“Jessie kita harus segera berangkat,” ujar wanita paruh baya itu.

Jessica menoleh ke sampingnya. Kedua tangannya terlurur ke depan, membuat Yoona hanya bisa mengerutkan kening. Sesaat kemudian Jessica memeluknya, membuatnya tersentak kaget. “Kau cantik hari ini, terima kasih Cal,” bisiknya.

Yoona mengerjap, sedikit bingung dengan perkataan kakaknya barusan. Dia hanya tersenyum dan membalas pelukan kakaknya. “Aku akan selalu berdiri disampingmu dan mendukungmu Jess,” balas Yoona.

Yoona memejamkan matanya, berdoa semoga dia bisa menepati janji yang diucapkannya. Keduanya melepaskan pelukan dan tersenyum. Adegan singkat itu membuat kedua orang tua mereka tersenyum haru, sedang Krystal, gadis itu hanya menatap langit-langit rumahnya acuh, seolah dia adalah gadis kecil yang tidak mengerti apa-apa.

“Sampai jumpa nanti Cal, kami berangkat dulu,” pamit ayahnya.

Yoona hanya mengangguk. Dia memang sengaja untuk berangkat disaat jam-jam sudah menunjukkan acara akan segera dimulai. Alasannya simple sebenarnya karena dia berangkat bersama Krystal dan tentu saja gadis itu tidak sudi menghadiri acara pesta semacam itu. Dan bersyukur pula Yoona, sehingga dia tidak harus terlalu lama bertemu Aiden.

“Kau mau menangis dulu, atau mungkin kita harus bermain-main dulu di mall hmm?” tanya Krystal.

Sebuah bantal sofa melayang melewati kepalanya, refleks dia menghindar saat Yoona melemparkannya. “Kau keterlaluan Krys,” bentak Yoona. Sedangkan Krystal hanya tertawa melihat tingkah kakaknya.

“Aku penasaran, sebenarnya kau dan Aiden itu saling mencintai atau tidak?” tanya Krystal memecah keheningan.

Setelah berdiam diri selama setengah jam semenjak perginya Jessica dan kedua orang tuanya, sebuah pesan singkat masuk ke handphone Yoona. Pesan itu memang bukan berisi terror yang membahayakan hidupnya atau semacamnya, hanya sebuah pesan singkat dari Donghae.

Temui aku di lorong kanan gedung atau aku akan menyeretmu di depan Jessica. Lima belas menit lagi.

Alhasil, dengan kecepatan diatas rata-rata Yoona memacu mobilnya, membuat Krystal terkadang mengumpatinya. Dia tidak peduli, hanya saja sekarang dia harus segera sampai atau pemuda itu akan menghancurkan segalanya.

“Calista, did you hear me or not?”

Yoona mendengar nada kesal dari pertanyaan Krystal, dia menoleh sekilas dan menarik pedal gas. Membuat Krystal yang tidak siap hampir membentur kaca mobil.

“Kau masih terlalu kecil untuk mengerti Krys, berhenti bertanya,” balas Yoona.

But I’m not stupid sista. Bagaimana bisa aku melihat salah satu kakakku tersenyum bahagia sedangkan yang lain menangis sengsara. Kau pikir aku harus diam saja, begitu?”

Yoona mengendurkan kecepatan mobilnya, tertegun dengan perkataan Krystal. Gadis itu menatap Krystal yang juga tengah menatapnya. Untuk kali ini, Yoona benar-benar melihat Krystal serius, tidak ada tanda-tanda gadis itu akan mengerjainya.

Yoona menarik nafasnya dalam-dalam, kembali dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, mengingat sudah tidak jauh lagi mereka akan tiba. “Aku mencintainya dan dia pun begitu mungkin, setidaknya sampai sekarang aku masih mencintanya entah bagaimana dengannya.”

Krystal mengangguk-angguk mengerti. “Lalu mengapa dia mau bertunangan dengan Jessica? Ehm maksudku, apa alasan dia menerima pertunangannya dengan Jessica. Kalian sudah putus?”

Pertanyaan Krystal yang bertubi-tubi itu sedikit membuat Yoona pusing. Dia kembali menarik nafasnya, memasukkan oksigen sebanyak-sebanyaknya sebagai persiapan jika satu jam kedepan dia tak bisa menghirup oksigen dengan bebas.

“Aku mengancamnya dan kami belum putus, dia menolak saat aku memutuskannya,” jawab Yoona.

Krystal menatap bingung ke arah Yoona. “Mengancam?” tanyanya lagi.

“Aku mengancamnya jika dia menolak pertunangan ini, aku akan membencinya. Lagi pula aku tahu orang tuanya tetap akan memaksanya, orang tuanya sangat kolot dan membatasi dengan siapa-siapa saja dia boleh berteman apalagi menjalin hubungan.”

“Kau bodoh atau apa?” Yoona menyipitkan mata mendengar Krystal lagi-lagi mengatai kakaknya. “Jadi kau mengorbankan kebahagiaanmu untuk Jessica? Aku kira dia memang dengan senang hati menerima pertunangan ini.”

“Kau terlalu kecil untuk mengerti Krys, hidup ini pilihan. Dan sekali saja aku ingin membuat Jessica bahagia, kau tidak lihat bagaimana wajah Jessica saat membicarakan Aiden? Aku bahkan bisa menafsir jika kadar perasaan yang dimiliki Jessica untuk Aiden hampir sama dengan yang aku punya, padahal Jessica baru mengenalnya sebulan.”

Yoona mencengkeram pedal kemudi dengan kuat. Sesak dirasakannya saat kembali harus mengungkit tentang Aiden. Inilah pilihan yang telah diambilnya, pilihan terbaik menurutnya. Tidak ada yang perlu disesali Calista, batinnya.

Keheningan menyergap. Krystal menatap kakaknya dengan tajam, tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Terlalu baik dan naïf. Yoona kembali melajukan mobilnya setelah lampu berubah warna menjadi hijau.

“Dengarkan aku, aku memang masih kecil tapi aku tidak bodoh untuk mengerti hal semacam ini. Aku hanya merasa kau terlalu memaksakan Cal, jika saja kau tidak memaksa Aiden aku yakin dia akan menolak bahkan melawan perintah orang tuanya. Aku dapat memastikan bahwa dia sangat mencintaimu. Dan kau juga mencintainya. Jadi…”

“Krys kau tidak ingin turun?” Yoona memotong ceramah panjang lebar Krystal saat keduanya sudah sampai disebuah hotel mewah di pinggiran kota London. Hotel mewah itu berubah menjadi sangat indah dengan lampu kerlap-kerlip serta bunga yang menghiasi. Hotel milik keluarga Aiden. Dia pernah kesini bersama pemuda itu.

“Orang dewasa memang kadang tidak waras!” umpat Krystal seraya turun dari mobil.

Yoona mencegah gadis itu masuk dengan tangannya. Krystal hanya menaikkan alisnya tanda tak mengerti mengapa kakaknya itu mencegahnya masuk. “Aku akan menemui Aiden, kau mengerti apa yang harus kau katakan pada ayah dan ibu, kan?”

Krystal berdecak tak sabar dan menghempaskan tangan Yoona. “Iya bawel,” sahutnya dan berlari masuk ke dalam.

Yoona menatap papan nama hotel itu sekali lagi sebelum berjalan berlawanan arah dengan pintu masuk. Dia berdecak kesal saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Dia terlambat dua menit.

Mengenakan sepatu berhak lima senti membuat Yoona kesulitan untuk berlari, belum lagi gaun selutut yang dikenakannya berkibar-kibar tertiup angin. Dinginnya malam tak membuat peluh yang hendak menetes didahinya tertahan. Rambutnya yang digulung ke atas bahkan ada beberapa yang menjuntai menutup sebagian penglihatannya.

“Apa yang akan dilakukannya?” gumamnya seraya terus berjalan. Yoona menghela nafas lega saat melihat siluet seorang pemuda yang tengah bersandar pada dinding. Dia berhenti sejenak untuk mengatur nafas dan membenahi penampilannya.

Dengan langkah kaki teratur dia berjalan mendekati pemuda itu yang masih tetap berdiam diposisinya. Yoona mengangkat tangannya untuk sekedar mengusap peluh yang menetes. Matanya berusaha terbuka lebar sekedar untuk memandang pemuda yang berjarak sepuluh meter darinya. Samar, lampu temaram yang menerangi lorong itu tak terlalu terlihat.

“Kau sudah lama?” tanya Yoona saat dia tiba. Pemuda itu membuka matanya, Yoona bahkan tak menyadari jika sedari tadi mata Aiden tertutup. Yoona bersyukur karena lampu temaram yang menerangi sedikit menyamarkan sosok pemuda itu sehingga dia tak perlu melihat pesonanya. Karena saat ini, dia yakin pemuda itu pasti terlihat sangat tampan.

“Ck. Kenapa lampu disini gelap sekali? Aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas, ayo ikut aku,” katanya seraya menggandeng tangan Yoona. Gadis itu hanya bisa melongo mendapati kejadian tiba-tiba itu. Darah disekujur tubuhnya berdesir saat tangan kokoh itu menggenggam tangannya dengan erat. Kembali rasa nyaman itu menyinggahinya.

Aiden membawanya ke lorong yang lebih dekat dengan ruang utama sehingga disana lampu yang menerangi lebih terang. Sepanjang jalan Yoona terus menundukmemandang tangannya yang digenggam pemuda itu sehingga dia bahkan tak menyadari jika Aiden sudah berhenti. membuat Yoona menubruknya.

“Are you okay? Kau tampak tidak baik-baik saja,” tanya Aiden seraya tersenyum meremehkan. Yoona segera menyentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Aiden, membuat pemuda itu tersentak kaget.

Yoona mendongak menatap pemuda itu yang juga tengah menatapnya. Glek. Dia menelan ludah saat melihat wajah tampan pemuda itu tepat di depannya, hanya berjarak tiga puluh senti dan itu cukup membuatnya menahan nafas. Aiden bahkan terlihat jauh lebih tampan dari apa yang dibayangkannya. Dalam balutan jas hitam serta kemeja putih yang membalutnya, rambut pendek pemuda itu—yang dia sendiri tidak tahu sejak kapan dia memotongnya—terlihat sangat sesuai dengannya.

Tersadar, Yoona berjalan dan bersandar pada tembok disamping Aiden, membuat pemuda itu hanya berdecak kecil karena objek pemandangannya menghilang. Keheningan menyelimuti keduanya, berkutat dengan pikiran masing-masing.

Yoona mengerjap dan menolehkan kepalanya ke samping saat tangan Aiden menggenggam tangannya erat. Aiden tak mengindahkan tatapan gadis disampingnya, dia hanya memandang lurus ke depan. Mata teduh yang biasanya berbinar itu kini tampak layu, membuat Yoona merasakan sesak.

“Jangan dilepaskan! Kau sudah menyakitiku sejauh ini, apa ini belum cukup untukmu?”

Aiden mengucapkannya entah sebagai gumaman atau memang sengaja menyindir Yoona. Dan telak, perkataan pemuda itu menancap ke ulu hati Yoona. Gadis itu meringis menahan sakit yang dirasakannya. Apakah dirinya sekejam itu?

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” Karena tak kunjung mendapat respon dari gadis disampingnya, Aiden kembali bertanya. Tangan kirinya semakin mencengkeram erat tangan Yoona, membagi kehangatan diantara dinginnya udara London dimalam hari.

Yoona menghela nafas hati-hati, berupaya agar tak terlalu kentara. “I’m really happy,” gumamnya.

Gadis itu tak tahu jika jawaban yang diberikannya menyulut kemarahan pemuda disampingnya. Yoona dapat merasakan Aiden meremas tangannya sehingga dia merasakan tangannya berdenyut-denyut. Dia menoleh ke samping dan mendapati tatapan tajam Aiden yang menghujaninya.

“Lepaskan tanganku, kau menyakitiku Aiden Lee,” lirih Yoona.

Aiden tersentak kaget mendengar lirihan gadis itu. Segera dia melepaskan tangan Yoona. nafasnya tak teratur menahan emosinya. Pemuda itu kini berjalan ke depan Yoona sehingga kini keduanya berhadapan. Tangan kanannya menarik dagu Yoona, membuat gadis itu kini terpaksa mendongak dan menatapnya.

“Maafkan aku….”

Yoona memalingkah wajahnya yang terasa panas. Berhadapan dengan pemuda itu setelah dua tahun menjalin hubungan nyatanya tetap membuatnya gugup dan berdebar tak karuan. Mata teduh itu, seperti kata Jessica, benar-benar menenangkan dan seolah memiliki kemampuan untuk menghipnotis orang.

Aiden tetap berdiri di depan gadis itu, dia menghela nafas beratkentara—saat mendapati Yoona justru memalingkan wajahnya. “Kau harus ingat jika aku melakukan ini semua karena aku mencintaimu Calista. Jika saja kau tidak memintaku untuk melakukannya, aku akan dengan senang hati keluar dari rumah saat ayahku meminta.”

Seolah ada sengatan listrik di tembok tempatnya bersandar, Yoona menjauh dari tembok itu—hanya satu senti—saat mendengar penuturan kelewat jujur dari Aiden. Dia kini harus mengakui jika adiknya Krystal memang bukan anak kecil lagi. Semua yang dikatakan gadis itu adalah kebenaran. Tapi dia bisa apa? Semua adalah pilihannya dan dia tidak akan mengingkari janjinya sendiri untuk mendukung Jessica.

“Jadi bagaimana perasaanmu sekarang? Jawab sejujurnya dan jangan membohongin dirimu sendiri,” tuntut Aiden.

Yoona menguatkan hatinya, dia berbalik dan menatap mata Aiden. Tangannya terkepal kuat. “Aku bahagia, benar-benar bahagia. Jangan memaksaku menjawab pertanyaan yang sudah aku jawab Aiden.”

Wajah pemuda itu mengeras, membuat Yoona mundur dan kembali bersandar pada tembok. Jujur saja, ekspresi Aiden saat ini membuatnya takut. Bukan ekspresi kemarahan yang ada disana, tapi ekspresi kekecewaan yang seakan ikut merobek hatinya. Mungkin ini terlihat sangat mendramatisir, tapi begitulah faktanya.

“Kau berbohong!”

Yoona menghela nafas lelah. Lama-lama dia pun merasa kesal sendiri harus dipojokkan seperti ini. Bukan tanpa sebab dia memutuskan seperti ini, dan lagi dia tidak pernah memaksa pemuda itu untuk melakukannya. Oke dia memaksanya, tapi setidaknya dia pun akan merasa baik-baik saja jika pemuda itu menolaknya.

“Jangan menyudutkanku Lee Donghae! Apa jawaban yang ingin kau dengar dariku, huh?” balasnya tak kalah sengit.

“Aku ingin kau mengatakan kau sakit dan memintaku untuk membatalkannya sayang,” jawab Aiden. Yoona bisa melihat pemuda itu tengan menyeringai, membuat bulu kuduknya meremang seketika.

Are you crazy?”

Because of you!”

Dengan berani Yoona berjalan mendekat ke arah Aiden sehingga kini hanya menyisakan jarak sepuluh senti diantara keduanya. Matanya menatap balik mata pemuda itu yang tengah menatapnya tajam.

“Kau bisa menolak jika kau tidak mau, kenapa kau tidak melakukannya?!” tanya Yoona. suaranya bahkan naik beberapa oktaf dan tampak menggema disepanjang lorong. Entahlah bagaimana jadinya jika terdengar oleh orang lain.

Yoona tersentak kaget saat tiba-tiba Aiden berjalan mendekat ke arahnya, membuatnya harus mundur tiba-tiba. Bodoh! Karena dibelakangnya adalah tembok. Aiden berhenti saat berjarak kurang dari lima senti dari gadis itu. Sedangkan Yoona, gadis itu dibuat semakin gugup saja. Ingin dia memalingkan wajahnya tapi mata teduh pemuda itu seakan mengunci penglihatannya.

“Kau ingin tahu kenapa?”

Yoona hanya bisa menelan ludah saat kedua tangan Aiden kini seakan menguncinya. Matilah dia!

“Lebih baik aku menikah dengan kakakmu dan bisa melihatmu dari pada aku harus melihat kau membenciku.”

Aiden mengucapkannya dengan pelan namun tegas, terdengar begitu jelas—sangat jelas ditelinga Yoona. Gadis itu belum sempat bereaksi akan keterkejutannya saat tiba-tiba kedua tangan Aiden menangkup pipinya, membuatnya mendekat ke arahnya.

Mata Yoona melotot sempurna saat tiba-tiba pemuda itu mencium bibirnya lembut. Bukan hanya sentuhan kecil seperti biasanya, Aiden melumat bibirnya dan membuat Yoona nyaris tak bisa bernafas. Gadis itu masih melotot sempurna sampai beberapa detik kemudian Aiden melepaskan ciumannya.

“Kau sangat cantik hari ini, dan menggulung rambutmu seperti itu adalah kesalahan besar. Aku menyukainya tapi aku juga tidak suka melihat pemuda lain menikmati leher indahmu Calista.”

Yoona terperangah mendengar pujian pemuda di depannya. Pipinya merona merah dan gadis itu tidak sadar jika hal itu membuat Aiden kelabakan sendiri. Pemuda itu tidak tahan untuk mencium gadis cantik itu lagi.

“A-apa yang a-akan kau lakukan?” tanya Yoona gugup saat Aiden kembali menangkup kedua pipinya. Pemuda itu tersenyum manis, membuat jantung Yoona berdetak semakin cepat. Membuatnya nyaris ingin pingsan mendapati perlakuan tiba-tiba Aiden.

“Ciuman perpisahan sayang…,” gumamnya.

Hati Yoona mencelos, kini dia kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa setelah ini dia tidak bisa menatap wajah rupawan itu dengan leluasa. Ada ruang disana yang membatasinya. Yoona menutup matanya saat Aiden kembali menciumnya lembut.

Ciuman manis itu terasa asin tercampur air mata yang jatuh menyusuri pipi Yoona. Aiden melepaskan ciumannya, tangannya mengusap lembut pipi Yoona. Gadis itu hendak menunduk tapi Aiden justru menarik dagunya, membuatnya kembali harus menatap wajahnya.

“Kau tidak ingin memandang wajahku dengan sepuasnya? This is the last time…”

Sesak kembali dirasakan Yoona, ah tidak hanya dia, pemuda itu pun merasakannya. Tangannya menghapus sisa-sisa air mata yang masih mengalir dari mata indah milik ‘mantan’ gadisnya. Dia tersenyum tulus memadang Yoona.

Well, jika memang begini jalannya dia bisa apa? Aiden sendiri pun tak yakin jika dia menolak pertunangan ini apa resiko yang akan ditanggungnya. Mungkin dia bisa hidup dijalanan tanpa kekayaan yang selalu menyertainya, tapi bersama Calista?Dia akan berpikir ulang.

Thanks for everything…”

Aiden tersenyum tulus. Dadanya sesak saat kembali mendapati air mata Yoona mengalir lagi. Dia tidak menyukai gadis itu menangis. Sebisa mungkin, dia akan menghindari matanya untuk melihat Yoona menangis.

“Ini terakhir kalinya aku melihatmu menangis, berjanjilah padaku,” pinta Aiden. Yoona mengangguk. Sebisa mungkin dia tersenyum saat melihat punggung Aiden yang semakin menjauh. Seiring langkah kaki yang menggema itu, bertambah pula paku yang ditancapkan ke jantungnya, satu persatu.

Yoona menghapus dengan kasar air mata yang jatuh saat punggung Aiden menghilang dari penglihatannya. Selamat tinggal Lee Donghae, selamat berbahagia Aiden…

“Jadi seperti itukah ciuman selamat tinggal? Manis sekali.”

Yoona terpaku saat mendengar pertanyaan itu. Dia pun segera berbalik dan mendapati adiknya Krystal sedang berdiri disana. Yoona mengedarkan matanya ke sekeliling, mencari-cari sekiranya gadis itu datang bersama orang lain.

“Apa yang kau lakukan Krys?” tanya Yoona.

Krystal mengabaikan pertanyaan kakaknya dan berjalan mendekat ke arah Yoona. “Kau kejam sekali menyiksa Aiden,” kekehnya.

Shut up! Kau tidak tahu apa-apa. Apa yang kau lakukan? Sejak kapan kau disini?”

“Beruntung sekali kamar mandi ada di dekat sini, sehingga aku tak sengaja mendengarmu. Sejak kau berkata bahwa ‘aku bahagia’ dengan semua yang terjadi sekarang aku sudah berada di dekat sini,” jawab Krystal tenang. Gadis itu kini ikut bersandar pada tembok disamping Yoona.

Yoona tertegun mendengar jawaban adiknya, meskipun dia tak ingat kapan kiranya dia mengucapkan kalimat ‘aku bahagia’ tapi yang jelas itu sebelum dia dan Aiden berciuman. Oh shit! Jadi adiknya mengetahui semuanya.

Dia kembali tertegun, kamar mandi. Jangan-jangan bukan hanya Krystal yang mendengar pembicaraannya dengan Aiden. Bodoh kau Calista!

“Dan Krys…dengan siapa kau kesini?”

“Aku.”

Yoona membeku saat mendengar suara dingin itu. Milik Jessica. Yoona melirik Krystal dan menatapnya tajam.

Sorry Cal…”

Angin sore yang berhembus itu tak segan-segan mengibarkan rambut Yoona. Gadis itu sedang bersandar pada pagar yang mebatasi balkon kamarnya. Garis lengkung senantiasa terukir di sudut bibirnya. Matanya berbinar menatap sebuah mobil yang sangat dikenalnya berada di depan pagar rumahnya.

Aiden keluar dari mobil itu dan menatapnya. Keduanya saling tersenyum.

Tak sengaja memori indah sekaligus mengharukan itu kembali terkuak. Kejadian itu begitu cepat, saat tiba-tiba Jessica menarik tangan Yoona—setengah menyeretnya maju ke depan. Yoona masih dalam keadaan terkejut sekaligus bersalah karena telah membongi kakaknya. Gadis itu tersadar saat sebuah tangan hangat menggenggam tangannya.

Are you okay?” bisik Aiden.

“Eh?” Yoona terperanjat mendengar bisikan merdu ditelinganya. Gadis itu lantas menoleh dan mendapati mata teduh itu tengah menatapnya—berbinar bahagia.

Seolah dunia sedang berhenti saat gadis itu terjebak dalam tatapan pemuda di depannya. Matanya mengerjap sesaat, dia meyakinkan dirinya sendiri apakah dia sedang berhalusinasi atau mungkin saja dia sedang tertidur di pesta pertunangan kakaknya.

Are you ready?”

Perkataan Aiden itu membuat Yoona terhempas kembali ke dunia nyata. Ini bukan mimpi, dia memang tengah berada di depan pemuda itu, dalam genggamannya. Yoona menolehkan kepalanya, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat menahan kegugupan saat mendapati ratusan pasang mata sedang menghujaninya.

Yoona menatap seorang gadis cantik yang tengah tersenyum ke arahnya. Jessica, gadis itu tersenyum tipis ke arah Yoona. Pandangan mata Yoona kini beralih ke arah kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Aiden. Mereka tampak tersenyum tipis memandangnya.

“Aku harus mengucapkan terima kasih pada kakakmu, Cal,” bisik Aiden. Pemuda itu lantas menyematkan sebuah cincin dijari manisnya. Yoona mengerjap mata sesaat untuk menerima kejadian tiba-tiba yang baru saja menimpanya. Ini terlalu cepat dan mendadak.

Yoona belum benar-benar tersadar saat Krystal menepuk pundaknya. Acara pertunangan itu bahkan sudah selesai dan para tamu undangan tengah menikmati pesta.

How is your feeling now sista? Are you happy?” Yoona tersenyum mendengar pertanyaan retoris adiknya. “Aku benar kan? Ada keajaiban di pertunangan Jessica, huh?”

Yoona mengangguk acuh. “Thanks Krys…”

Krystal tersenyum dan berbalik pergi. Yoona benar-benar bersyukur karena memiliki adik seperti Krystal. Sepeninggal gadis itu, orang yang sudah ditunggunya datang. Jessica menghampirnya seraya merentangkan tangannya. Tanpa ragu, Yoona memeluk kakaknya.

“Jangan bertindak bodoh seperti ini lagi Cal. Kau tahu? Kebahagiaanmu adalah keinginanku. This is my decision, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu atas apa yang telah terjadi. Kau mengerti?”

Yoona terpaku mendengar penuturan kakanya. Lidahnya kelu tak bisa berucap, rasanya ucapan terima kasih saja tak cukup untuk menggambarkan betapa banyak kebahagiaan yang telah diberikan Jessica untuknya. Yoona tak tahu apa yang sudah dikatakan Jessica pada kedua orang tuanya dan orang tua Aiden. Dia tertegun saat ternyata mereka bahagia melihatnya dan Aiden bersatu. Jessica, kakak terbaik yang dimiliki Yoona…

“Kau melamun?”

Pertanyaan Aiden itu menyadarkan Yoona. Gadis itu hanya melirik sekilas dan membiarkan Aiden memeluknya dari belakang. Seketika rasa nyaman itu merayapinya. Angin dingin London yang bertiup kencang tak kan mampu membuatnya menggigil karena dia berada dalam pelukan pemuda itu.

“Aiden…,” gumam Yoona. Aiden hanya berdehem mendengar gumaman gadis didepannya. Pemuda itu ikut menikmati indahnya matahari terbenam. “Apa kau yakin ingin menikah denganku? Kau tidak akan menyesal?”

Aiden tertawa kecil mendengar pertanyaan gadisnya. Pemuda itu semakin mengeratkan pelukannya. “This is my decision. Dan aku tidak akan pernah menyesalinya.”

Yoona tersenyum. Keduanya menikmati langit senja bersama dengan berbagi kehangatan. Karena setiap orang memiliki keputusan masing-masing, dan keputusan itu entah akan berakhir bahagia atau justru mengahasilkan sebuah kesedihan. Dan inilah akhir dari keputusan yang diambil mereka.

Ini tuh niatnya mau bikin fanfict bergenre angst tapi hasilnya……………..T_T

Dan apa ini, otak lagi error lama vakum nulis dan ternyata jadi pervy gini LOL ada perubahan sama tulisanku nggak? kayaknya makin aneh aja-_-

Btw, ada yang suka Luhan? aku lagi dalam bikin oneshoot Donghae-Yoona-Luhan….jangan lupa baca drabbleku ‘Good Bye, Noona!’ ya, tenang aja sekarang Jessica gak bakal ngerebut Donghae soalnya dia punya Kris /slapped/

Thanks for reading Pyros. Dont forget to leave your comment^^

Advertisements

65 comments

  1. Ya ampunn tissue mana tissue\
    Fanfictnya bikinn nangis bombay thor, gak tahu mau bilang apa -_-
    Feelnya emang selalu ‘ngena’ 🙂
    Good job, thor~
    Fighting!

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s