Raindrops


tumblr_lyg9msMsqs1r94v2zo1_500

Raindrops by jeanitnut

Biarkan hujan mengecup keningmu. Biarkan hujan menjadi alasan untukmu tersenyum. Biarkan hujan menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu.

Rintik hujan masih terdengar. Aku bisa mendengarnya dengan jelas. Mataku terpejam rapat menikmati sensasi yang tak sering aku dapat seperti ini. Rasanya seperti berada di surga. Semua jelas nyata seperti apa yang aku rasakan.

Tap.

“Sulli kau sangat cantik hari ini.”

Luhan.

Sebuah garis lengkung yang menghiasi bibirku perlahan menipis dan akhirnya menghilang. Tuhan, kenapa rasa yang aku punya tak bisa aku lepas? Mengapa perasaan indah yang bertabur kala rintik hujan tak menghilang. Hari ini kau menurunkan rintik hujan itu, lalu mengapa kau tak mencabut perasaan yang aku punya?

Aku tertunduk sengsara selama beberapa menit.

“Hana, aku mencarimu di sepanjang kampus. Ternyata kau disini…”

Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum. Rasanya sakit. Bodoh.

“Maaf…”

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin memberikanmu ini.”

Byun Baekhyun, dia sahabatku. Tanganku terulur untuk sekedar mengambil map yang diberikannya. Senyum mengembang disudut bibirku. Tulus.

“Terimakasih oppa, kau memang yang terbaik,” ujarku.

Kami menikmati rintik hujan bersama di atas balkon. Berbagi kenyamanan dalam diam. Baekhyun memberikan satu earphonennya untukku. Ah, aku bahkan tak menyadari jika sedari tadi dia memanggilku. Aku terlalu menikmati rintik hujan pagi ini. Seperti itulah.

Petir menyambar. Lalu hujan sialan itu turun membasahi bumi. Brengsek.

“Ayo kita pergi dari sini,” ajak baekhyun.

Dengan cepat aku menggeleng. Mataku menatap tajam hujan yang turun di depanku. Aku membenci hujan yang mengingatkanku tentang kejadian sebulan yang lalu. Aku membenci hujan yang membawamu pergi darikumembuatmu tak terjamah lagi olehku. Aku membenci hujan yang merubahmu menjadi orang lain—mengabaikanku.

“Dia memuji gadis lain seperti dulu dia memujiku. Bagaimana cara dia mengatakan ‘kau sangat cantik hana’ aku masih mengingatnya. Saat aku merasakan perasaan bahagia tak tertahan untuk pertama kalinya.”

Dari sudut mataku, aku bisa melihat baekhyun tengah menatapku tajam. Aku tidak menoleh ke arahnya, mataku masih menatap lurus ke depan seolah hujan menjadi indah seketika.

“Kenangan itu tak mungkin hilang hanya dalam hitungan hari kan? Aku setiap hari berusaha mengingat, berapa lama waktu yang aku habiskan untuk menangisi kepergian ibuku. Tapi tak berhasil. Yang aku tahu pasti sangat lama.”

Aku bangkit berdiri dan berjalan ke depan. Tanganku terulur ke depan sehingga kini aku merasakan dinginnya air hujan menusuk tulang tanganku. Baekhyun menyusulku, aku bisa mendengar langkah kakinya mendekat ke arahku.

“Luhan kejam kan? Bagaimana dia bisa melupakanku secepat ini? Aku mencintainya dan rasanya aku hampir gila kehilangannya. Tapi dia, bahkan sudah memuji gadis lain di depanku. Apakah aku tidak berarti untuknya? Apakah di matanya aku bukanlah siapa-siapa?”

Baekhyun menarik tanganku dan menggenggamnya. Hangat. Tapi tak sehangat genggaman tangan luhan.

“Aku mencintai Luhan. Xi Luhan, apa salahku? Tolong jawab! Mengapa kau menyiksaku seperti ini? Lebih baik aku mati!”

“Hana! Kau bicara apa? Aku mohon jangan seperti ini, masih banyak orang yang menyayangimu. Pikirkan baik-baik ayahmu…dan aku.”

Baekhyun menarik tubuhku, membenamkannya ke dalam pelukan. Aku menurut. Air mataku jatuh begitu saja. Deras. Sederas hujan yang turun. Aku sesenggukan. Baekhyun semakin mempererat pelukannya padaku. Aku tak kuasa untuk menolaknya, karena faktanya aku membutuhkannya. Aku tahu ini tidak benar.

Dress biru tua selutut yang aku kenakan benar-benar membuatku terlihat berbeda. Cantik. Ini kali pertama aku memuji diriku sendiri. Ah, mengapa aku menjadi seperti ini? Aku bahagia tak terhingga. Akhirnya setelah seminggu ini aku tidak bertemu dengannya, dia mengajakku makan malam. Luhan, kekasihku.

Aku melirik jam kecil di tangan kiriku, masih menunjukkan pukul delapan malam. Mataku mengarah ke pintu café, menunggu kedatangannya. Tidak biasanya luhan telat. Ada apa ini? Mengapa seminggu ini aku merasa ada sesuatu yang berubah darinya?

“Nona kau mau pesan apa?”

Pertanyaan seorang barista itu menyadarkanku. Mataku masih mengarah pada pintu café, dimana sebenarnya kau Luhan?

“Secangkir coklat panas,” jawabku akhirnya.

Jam masih terus berjalan. Setiap detiknya terasa sangat cepat atau karena aku sedang bahagia sehingga waktu terasa begitu cepat? Entahlah. Sebagian perasaan bahagia yang aku miliki itu kini berubah menjadi kecemasan, ketakutan.

Aku menyeduh coklat panas sejenak setelah beberapa menit lalu barista mengantarkannya padaku. Hangat, tidak panas lagi. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas dan dia tak kunjung datang. Gerimis mulai berjatuhan. Para pengunjung sudah mulai berdiri dan keluar.

Perasaanku semakin tak karuan. Berbagai skenario busuk mengahampiri otakku. Bagaimana jika Luhan mengalami kecelakaan saat membeli bunga untukku? Bagaimana jika Luhan terjebak hujan di jalan sepi. Bagaimana…bagaimana…

Ting tong.

Seorang pemuda tampan berdiri diambang pintu. Senyum merekah dari sudut bibirku. Dia tersenyum ke arahku dan seolah semua penantianku terbayar. Luhan mengenakan plaid dan demi tuhan dia terlihat begitu tampan. Bagaimana bisa tuhan membiarkan eksistensinya di dunia ini?

“Maafkan aku, aku ketiduran…”

Dia duduk di depanku dan mengatakan permintaan maafnya dengan wajah tanpa dosa. Aku tertawa kecil. Tanganku reflek menyentuh rambutnya yang tampak basah terkena hujan. Aku menyisirnya dengan tanganku.

“Tidak apa-apa. Sekarang kau sudah ada disini, aku bahagia,” balasku.

Luhan menatapku dengan tatapan yang tidak dapat aku tafsirkan. Jujur saja ini membuatku sedikit tak nyaman. Aku menggosok-gosok kedua tanganku, hujan turun semakin deras sehingga seketika aku merasa dingin menusuk kulitku.

Kami makan malam selama kurang lebih tiga puluh menit. Aku merasa makanan yang aku telan adalah makanan paling enak yang pernah aku rasakan. Tidak bertemu dengan luhan selama seminggu ternyata memberikan efek yang begitu luar biasa untukku. Aku begitu merindukannya dan ingin selalu menatapnya—walau hanya sekejap.

Luhan merengut kesal saat seorang barista menghampiri kami dan mengatakan bahwa café akan segera tutup. Dia bangkit berdiri dan menggenggam tanganku. Hujan masih senantiasa turun membasahi bumi. Kami menunggu dalam diam di depan café. Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya, kedua tangan kami masih saling bertautan.

“Ada apa?” ujarku.

Luhan tampak terkejut mendengar pertanyaanku. Sudah beberapa kali aku mendengar dia menghela nafas berat. Pasti ada sesuatu yang ingin dikatakannya, tetapi sulit.

“Selamat ulang tahun Hana…”

Dia membisikkannya tepat di telingaku. Tapi ini tidak benar, ini salah. Ada apa dengan nada suaranya? Mengapa aku mendengar sebuah kesedihan disana? Perasaanku semakin tak enak. Lalu dia melepaskan genggaman tangan kami.

“Mungkin ini adalah ulang tahun terakhirmu yang bisa kita rayakan bersama sebagai sepasang kekasih. Kita berpisah sampai disini.”

Sekujur tubuhku mati rasa. Dingin menusuk hingga ke tulang-tulangku. Mataku memanas, tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Luhan berlari pergi, aku menyusulnya.

“Xi Luhan apa maksudmu?” teriakku. Aku membenci hujan yang menyamarkan suaraku.

Aku terus berteriak kesetanan memanggil namanya. Puluhan kali hingga suaraku nyaris habis. Tapi dia tak berbalik. Audi putih itu membawanya menjauh, meninggalkanku yang masih berdiri terguyur hujan.

Nafasku ngos-ngosan. Pening menyerang seketika. Aku terduduk di tanah. Sejak saat ini aku tahu semua tak kan sama lagi. Aku tidak akan bisa tertawa riang di bawah guyuran hujan.

Hari ini langit tampak cerah. Sedari tadi aku tak melihat adanya tanda-tanda hujan akan turun. Otakku masih segar, sehingga aku meng-iya-kan ajakan Baekhyun untuk makan siang bersama. Dan disinilah aku sekarang, berdiri di depan kelasnya.

“Kau sudah lama?” tanyanya khawatir.

Aku tersenyum menyambutnya. “Hmm…ya sekitar satu jam.”

“Apa? Aku kan sudah mengatakan bahwa aku keluar kelas jam satu. Astaga Hana, kau benar-benar sudah tidak waras ya?”

“Oppa kau mau melihatku menangis lagi seperti kemarin hah? Aku sedang tidak berselera untuk membuang air mata, kau tidak lihat langit sedang cerah?”

Dia tersenyum menatap langit. Dan tanpa aku duga tiba-tiba dia menarik tanganku. Kami berlari menyusuri koridor, rambutku menjadi acak-acakan tertiup angin. Tapi ini menyenangkan. Terima kasih Baekhyun-ssi…

Kami tiba di salah satu café yang berjarak kurang dari seratus meter dari kampus. Baekhyun masih menarik tanganku dan mengajakku berlari.

Bruk.

“Hei! Kalau jalan pakai mata bodoh. Tsk. Kau tidak lihat hasil ulahmu? Lihat sekarang bajuku jadi basah kuyup.”

Aku tersentak kaget mendengar bentakan itu. Saat aku mendongak, mataku berhasil melotot dengan sempurna. Luhan berdiri di depanku dengan tatapan tajam mengarah padaku. Dia marah, aku mengenali jenis ekspresinya ini. Dia marah karena aku menabrak gadis disampingnya atau….

Aku melirik tangan kananku yang masih berpegang erat dengan tangan baekhyun.

“Hei, bisakah lain kali kau hati-hati? Kau pikir kau anak kecil yang bisa leluasa berlari dan bermain? Ini café bukan lapangan!”

Hatiku mencelos. Luhan membentakku? Aku tidak salah mendengar kan? Tanganku bergetar hebat, aku bisa merasakan tangan Baekhyun yang menggenggamku semakin erat. Tubuhku rasanya tak bertenaga lagi.

“Bisakah kau bersikap lebih lembut pada seorang gadis?!” Tandas Baekhyun.

Luhan mengabaikannya dan pergi bersama kekasihnya? Mungkin. Baekhyun membimbingku duduk. Dia menatapku khawatir. Aku sudah berjanji untuk tidak menangis hari ini. Aku pun tersenyum menenangkannya, menyiratkan kata bahwa aku baik-baik saja.

“Kau tidak harus menahan perasaanmu sendiri di depanku Hana? Kita teman, kau bebas mengekspresikan perasaanmu.”

Aku tersenyum haru mendengar perkataan Baekhyun. Dia memang yang terbaik. Seandainya Tuhan tidak mengirimkannya padaku, aku tidak tahu bagaimana aku sekarang. Apakah aku masih kuat menghadapi semua ini?

“Tidak apa-apa oppa, aku benar-benar baik-baik saja.”

Well, sudah puluhan kali aku mensugesti diriku sendiri dengan kalimat aku-baik-baik-saja. Bodoh memang mengingat apa yang aku lakukan. Hanya karena patah hati aku bersikap seperti ini, bukankah ini lucu? Aku nyaris gila dan mengklaim mantan kekasihku sebagai milikku seorang, seolah gadis lain tak boleh menyentuhnya.

Bulan ini seharusnya menjadi tahun ketiga kami. Tapi sayangnya semua tidak seindah mimpiku. Tepat di hari ulang tahunku yang ke dua puluh kami berpisah. Dia membuangku. Luhan bodoh itu mencampakkanku. Aku tidak boleh seperti ini, berhenti mengingat kenangan kalian Hana atau kau akan merapuh lagi.

“Boleh aku bicara?” tanya Baekhyun.

Dahiku otomatis mengkerut mendengar pertanyaannya. “Tentu saja oppa,” jawabku.

“Tapi kau harus berjanji tidak akan menangis?” tanyanya lagi.

Aku mengangguk.

“Masalah ini, kau harus segera menyelesaikannya. Kau harus tahu dimana titik kelemahan dan kesalahanmu sehingga kalian berpisah. Jangan bersikap seperti ini, jangan kau berfikir dengan seperti inimenangisi kepergiannya tanpa tahu alasan pasti akan membuatnya kembali padamu. Karena gerimis dan hujan tidak turun sepanjang hari hana. Dimana aku bisa melihat kau tersenyum bahagia—tulus di saat musim panas nanti?”

Aku tertegun mendengar perkataan Baekhyun. Ini pertama kalinya dia mengangkat topic pembicaraan tentang masalahku dan Luhan. Aku tahu aku bodoh dengan membiarkan Luhan mengencani gadis lain sementara aku masih menganggap bahwa dia milikku. Tidak pernah ada kata putus keluar dari bibirku, hanya dari bibirnya dan aku tidak sudi untuk meng-iya-kannya.

“Temui dia, selesaikan masalah kalian. Percayalah bahwa perlahan kau akan merasa ringan, semua akan indah pada waktunya Hana. Karena aku, pernah merasakan perasaan ini—dulu. Walau dalam kadar yang berbeda.”

Aku mengulum senyum. Tanganku terangkat dan mengambil jus melon yang dipesan Baekhyun untukku. Rasanya masih sama, sesak disana. Mungkin aku memang harus mendengarkan perkataan Baekhyun…

“Terima kasih oppa.”

Hari ini aku mengurung diri di rumah. Sejak pagi buta aku membuka mata yang terpikirkan olehku hanyalah perkataan Baekhyun. Dia benar. Aku memang harus mengakhiri segalanya secepatnya. Jika tidak…aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Mungkin aku akan mati perlahan dengan perasaan sengsara.

Aku sendiri tidak ingat sudah berapa lama aku tidak menikmati hidup. Maksudku, menonton televisi, duduk manis di rumah dan berbagai kegiatan rumah lainnya. Sepanjang hari di musim semi ini aku hanya menghabiskan waktu di kampus dan…bersama Luhan.

Aku menghela nafasjengah. Hujan turun lagi. Kakiku melangkah menatap tetes hujan dari kaca jendela. Cukup deras. Aku pun lantas menutup gorden dan kembali meringkuk di depan televisi.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanya bibi Jung.

Aku tersenyum ke arahnya dan mengucapkan terima kasih atas coklat panasnya. Layar televisi sedang menampakkan sebuah iklan minuman, bubble tea. Luhan.

Ting tong.

Suara bel berdenting itulah yang menyadarkanku. Aku melepas selimut tipis abu-abu yang aku kenakan dan berjalan ke arah pintu. Bibi jung yang melihatku berjalan akhirnya kembali ke dapur. Pasti ayah.

“Ayah kenapa selarut ini baru pulang?” rengekku.

Dia tersenyum dan membelai rambutku. Kenakak-kanakan sekali.

“Lihat siapa yang datang bersama ayah,” ujarnya.

Seorang wanita muda berseragam serupa dengan ayahku berdiri disana. Dengan rambut bergelombang dia masih terlihat muda, aku memperkirakan usianya masih belum menginjak angka empat. Sesaat aku seperti mengenali wanita itu, tapi siapa…

“Kau Hana kan?” tanyanya.

Aku memandangnya, senyuman itu…aku mengenalnya. Senyum keibuan yang sangat aku rindukan.

“Kalian sudah saling mengenal? Astaga padahal aku sengaja tidak meceritakan tentang kalian satu sama lainnya.”

Ayahku tampak berdecak kagum. Aku memutar memoriku, dimana aku pernah melihat wanita muda ini. Dimana…dimana…kau harus mengingatnya Hana. Rasanya sesak sekali.

“Dia pernah datang ke rumahku bersama Luhan dan terman-temannya…”

Dor. Rasanya seperti tertusuk duri lalu di tembak mati. Aku mengingatnya, wanita ini adalah ibu Luhan. Aku mengabaikan pekataannya yang belum selesai, rasanya terlalu mengerikan. Aku bertemu dengannya dan mengaku sebagai teman Luhan. Dan sekarang, rasanya semua sudah jelas. Bisakah aku meminjam mesin pemutar waktu? Tolong.

“Jadi ayah…dia adalah…”

Nafasku tercekat, tak sanggup melanjutkan apa yang ingin aku katakan. Dunia kejam sekali.

“Dia tante Lexy, calon ibumu.”

Tanganku terkepal kuat menahan tangis. Aku bisa merasakan asinnya darah yang keluar dari bibirku saking kuatnya aku menggigitnya. Sekuat tenaga aku berusaha tersenyum dan mengontrol emosiku.

“Aku harus pergi sekarang, temanku sudah menunggu,” pamitku.

Ayahku berteriak memanggil namaku. Malam ini sedang hujan deras dan aku pergi tanpa sweater atau pun payung. Sempurna sekali.

Aku berlari menuju halte terdekat dan menaiki bus dalam keadaan basah kuyup. Air mata masih senantiasa mengalir turun menuruni pipiku. Aku tidak peduli bisikan-bisikan orang yang berada satu bus denganku. Aku tidak peduli apapun saat ini. Aku hanya peduli pada hatiku.

Satu jam kemudian aku tiba di halte dekat rumah Luhan. Aku berlari kencang menerobos hujan yang turun semakin deras. Kini aku tiba di depan pagar tinggi menjulang yang pernah aku masuki tempo dulu.

Pagarnya tak terkunci. Aku menerobos masuk. Aku berhenti di depan pintu rumah Luhan. Nafasku ngos-ngosan. Dingin menjalari seluruh tubuhku.

“Luhan keluar!” Teriakku membahana. Aku membenci hujan yang menyamarkan suaraku. Selalu.

“XI LUHAN KELUAR!”

Tidak ada jawaban. Tidak ada tanda-tanda pintu di depanku akan terbuka.

“Luhan aku mohon keluar!”

Ceklek.

Teriakan ketiga itu mampu membuat Luhan mendengarnya. Tepat saat dia muncul dibalik pintu, aku berlari ke arahnya. Menciumnya. Lembut. Dingin. Singkat.

Aku menunduk di depannya. Tak sanggup menatap matanya. Mengetahui fakta bahwa dia tidak membalas ciumanku rasanya sungguh menyakitkan. Dia benar-benar tidak menganggapku lagi. Aku menangis di depannya, cukup lama dan dia hanya berdiri di depanku. Dengan pandangan nanar ke arahku.

Hujan mulai reda. Hanya ada tetes-tetes kecil yang masih tersisa. Aku merasa tubuhku terangkat. Aku mendongak, menatap Luhan tapi dia menatap lurus ke depan. Dalam gendongannya seperti ini rasanya sakit sekali.

Luhan mendudukkanku di kursi kamaryang aku yakini adalah kamarnya setelah melihat boneka Donald Duck pemberianku disana. Dia berjalan ke luar dan tak berapa lama seorang wanita paruh baya datang memberikan sebuah piyama padaku.

Aku berganti pakaian lalu duduk diatas ranjang. Pening kembali menyergapku. Wanita paruh baya itu menyodorkan secangkir coklat ke arahku dan tanpa ragu aku menyeduhnya. Dalam diam wanita itu kembali membantuku merebahkan diri.

“Terima kasih,” ujarku.

Wanita itu hanya tersenyum lantas beranjak pergi. Aku berusaha memejamkan mataku tapi tidak bisa. Suara langkah kaki seseorang terdengar. Aku masih memejamkan mata.

“Hana…apa kau sudah tahu semua sekarang? Bagaimana perasaanmu? Aku senang kau datang kesini, tapi tidak dengan kondisi seperti ini. Ini semakin membuatku sengsara kau tahu…”

“Aku tahu melupakanmu tidak akan semudah mencintaimu. Aku sudah berusaha untuk menjauhimu tapi kenapa kau justru seperti ini? Aku pernah berjanji untuk tidak menyakitimu tapi apa yang aku lakukan? Aku bahkan sudah menyakitimu sampai sejauh ini.”

Tangan halus itu mengusap air mataku. Aku sendiri bahkan tidak sadar jika air mata itu sudah menganak sungai di pipiku.

“Apa yang aku lakukan memang egois, tapi semuanya semata-mata hanya untuk membuatmu membenciku. Tapi ternyata aku salah, semua yang aku lakukan justru membuatmu sengsara. Maafkan aku Hana. Aku sungguh-sungguh minta maaf…”

Aku tidak tahan lagi untuk tidak membuka mata. Dia menangis. Sesak berlipat yang aku rasakan. Tangan kananku segera menghapus air mata yang turun di pipinya. Ini kali pertama aku melihat Luhan menangis. Dan tangis itu untukku.

“…apa kau mencintaiku?”

Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak bertanya. Aku tahu jawaban yang akan diberikannya tidak akan berarti apa-apa, tapi setidaknya itu akan cukup membuatku merasa lega.

“Kau adalah hal kedua yang paling aku inginkan di dunia ini setelah kebahagiaan ibuku. Dan dari semua kata yang ada di dunia ini, tidak ada satu pun yang dapat menjabarkan bagaimana bisa aku tidak mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Lee Hana.”

Air mataku kering, tidak ada yang keluar. Garis lengkung mulai terbentuk dari sudut bibirku. Aku menggenggam tangan Luhan dan dia membelai rambutku. Sebelum aku tertidur lelap, aku masih bisa mendengarnya menyanyikan lagu pengantar tidur. Dia mengecup puncak kepalaku pelan. Dan aku sadar bahwa aku berada di tempat yang benar. Rumah keduaku.

Kedua tanganku terentang sempurna, mataku terpejam menikmati sejuknya angin pagi. Rambutku berkibar-kibar tertiup angin. Indah. Segar. Damai.

“Kau sudah bangun?”

Aku menoleh dan tersenyum saat melihat Luhan datang menghampiriku. Tangan kanannya memegang sebuah mangkuk yang aku yakini berisi bubur. Aku berjalan menyusulnya dan duduk di balkon kamar.

“Selamat pagi,” sapaku.

Luhan menatapku aneh sedangkan aku hanya tersenyum membalasnya. Aku meletakkan kembali mangkuk ke tangannya. Dia tampak mengernyitkan dahi.

“Suapi aku…oppa,” pintaku.

Mendengar permintaanku itu terang saja membuatnya membelalakkan mata. Demi tuhan saat ini dia terlihat sangat lucu, ingin aku menyentuh wajahnya. Tapi aku tidak bisa—takut melakukannya.

Sesendok demi sesendok bubur itu akhirnya masuk ke lambungku. Luhan tersenyum manis melihat mangkuk yang beberapa menit lalu terisi penuh itu kini kosong tak berisi. Dia bangkit berdiri menatap matahari yang sudah mulai meninggi. Aku menyeruput teh hangatku lalu menyusulnya.

“Bagaimana dengan ayahku? Kau sudah memberitahunya?”

“Aku mengarang cerita, maafkan aku.”

Dahiku mengernyit otomatis. Apa maksudnya?

“Mereka tidak tahu tentang hubungan kita. Aku memberitahu mereka bahwa kau sedang ada masalah dengan kekasihmu lalu datang padaku. Aku pikir ini pilihan yang terbaik, lebih baik mereka tidak tahu tentang hubungan kita. Apa kau marah?”

Bagaimana aku bisa marah? Aku tidak boleh egois.

“Tidak apa-apa. Kau sudah tahu masalah ini sejak lama?”

Luhan menghela nafas berat. Matanya menatap langit, menengadah ke atas. Aku bisa melihat raut sedih yang meliputi wajahnya.

“Aku tidak tahu jika hubungan mereka ternyata sudah sejak lama. Ibu tidak pernah membawa ayahmu kesini, ya mungkin hanya sekedar mengantarnya pulang.”

“Mungkin juga kita yang terlalu acuh dengan hubungan mereka…”

Kami sama-sama diam. Merenungi semua yang telah terjadi. Memang, tidak ada yang bisa berubah.

“Apa kau dan Baekhyun berpacaran?” tanya Luhan tiba-tiba.

Aku menatapnya tapi dia mengalihkan pandangan. Mungkinkah dia cemburu?

“Jangan salah paham, aku hanya merasa aneh dengan hubungan kalian.”

“Tidak. Kami hanya berteman. Bagaimana denganmu dan Sulli?”

Luhan menggenggam tanganku. Hangat.

“Aku hanya memanfaatkannya untuk membuatmu membenciku,” jawabnya jujur.

Aku menatapnya tak percaya. Bagaimana dia bisa melakukan hal sepicik itu?

“Ayo kita jalan-jalan, hari ini langit tampak cerah,” ajaknya.

Luhan membawaku kembali ke kamar. Ada sebuah gaun selutut berwarna ungu terong disana. Ada label harga yang masih tertera. Aku menatap luhan tapi dia hanya memasang wajah datar.

“Kau ingin melihatku berganti pakaian?” tanyaku.

“Apa?!”

Dia tersentak kaget lalu pergi. Aku segera berganti pakaian sambil tertawa kecil. Menikmati setiap detik tawa yang bisa aku torehkan karenanya.

Dua puluh menit kemudian kami sampai di taman. Luhan membimbingku duduk disalah satu bangku taman. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Mataku terpejam menikmati udara sejuk yang masih bisa kunikmati. Darahku mengalir deras saat tangan Luhan membelai rambutku.

“Setelah semua ini, bagaimana bisa aku menganggapmu sebagai seorang adik? Bukankah ini tidak adil?”

Dia tertawa. Palsu.

Saat Luhan menggengam tanganku lembut, aku tahu ini akan segera berakhir. Kisah cinta kami harus berakhir disini. Indah sekaligus menyakitkan.

“Kita pasti bisa,” balasku. Lebih kepada untuk meyakinkah diriku sendiri. Aku pasti bisa.

Gerimis turun. Tetes airnya menyentuh kulit tanganku. Aku masih tetap duduk diam tak bergerak, mengabaikan orang-orang yang mulai berlalu-lalang pergi. Luhan, dia masih tetap diposisinya. Kami menyukai gerimis yang menyatukan kisah kami.

“Kelak aku berharap saat kita bertemu, aku bisa benar-benar menganggapmu sebagai seorang adik. Adik yang seharusnya aku cintai sewajarnya, bukan sebagai seorang gadis.”

Tetes gerimis menyamarkan suara lembutnya, tapi perkataan itu justru menusuk telak ke ulu hatiku. Dia tidak akan memandangku sebagai seorang gadis lagi, aku tahu itu.

Dingin itu tergantikan oleh kehangatan saat dia mengecup puncak kepalaku. Lalu kedua kelopak mataku. Dan terakhir dia mengecup pipi kiriku. Seluruh alirah darahku mengalir deras. Jangtungku berdetak secepat roller coaster bergerak.

Dan hari ini aku tahu. Semua ini telah berakhir, bukan dibawah guyuran hujan, hanya tetes gerimis yang sangat aku sukai.

Aku menatap langit abu-biru kota New York. Musim semi keduaku dimulai hari ini. Di negeri nan jauh dari sana aku mulai menata kehidupan baruku yang sempat porak-poranda. Dua tahun lalu.

Kakiku melangkah menuju sebuah bangunan bertingkat di sudut kota New York. Senyum aku berikandengan tulus kepada orang-orang barat yang aku temui sepanjang jalan. Tahun keduaku disini, sudah cukup waktu untukku menyesuaikan diri.

“Kau penghuni baru apartemen ini?” Tanya seorang gadis berambut pirang dengan aksen inggris kentalnya.

Aku menjawabnya dan tersnyum. Memasukkan koper besar yang aku bawa. Pilihanku untuk berpindah apartemen setelah sebelumnya apartemenku terasa begitu sepi sepertinya memang benar. Banyak sekali gadis sebayaku yang menyewa apartemen disini.

“Aku Clara, kau?”

“Hana…”

Angin segar menerpa wajahku saat aku membuka jendela. Apartemen ini cukup tinggi, aku bisa melihat mobil yang berlalu lalang dijalan sana. Setelah satu tahun aku menghabiskan waktuku untuk belajar, akhirnya aku bisa menikmati keindahan kota New York.

Tanganku menggenggam secarik kertas berwarna merah jambu. Kertas itu masih bagus, tidak lecek sedikitpun meskipun sudah dua tahun.

“Kau sedang melarikan diri?”

Pertanyaan Clara itu kontan membuatku terkejut. Gadis ini, apakah dia bisa membaca pikiran?

“Wajahmu, terlihat sekali Hana,” jelasnya sambil tertawa kecil.

Aku tersenyum lega menatapnya. Kembali mengingat apa yang terjadi dua tahun lalu. Sekarang, aku yakin aku siap untuk membukanya, atau bahkan membaginya…

Musim panas Korea dua tahun lalu ayahku dan tante Lexy menikah. Aku disana…bersama ‘kakakku’ Luhan. Saat itu, saat dimana aku sendiri tidak dapat merasakan perasaan apapun untuk pertama kalinya. Apakah aku sedih atau bahagia aku tak mengerti.

Luhan menyanyikan sebuah lagu indah untuk mereka. Dia menatapku sepanjang lagu dan itu nyaris membuatku pingsan ditempat. Satu tetes air mata jatuh menuruni pipiku untuk lagu yang dia bawakan. Terakhir. Benar-benar yang terakhir.

Hujan terakhir di musim semi Baekhyun pergi, setelah sebelumnya dia memastikan bahwa aku sudah cukup kuat untuk menuruni semuanya. Aku mengantarnya sampai dibandara. Dia mengatakan satu hal yang membuatku cukup tercengang.

‘Dulu, aku pernah mencintaimu Hana. Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Dan sekarang, aku rasa kau sudah baik-baik saja. Berbahagialah.’

Dia pernah mencintaiku. Dulu.

Aku pernah berpikir itu, aku tahu aku salah saat aku memeluknya sedangkan ada seorang gadis yang menunggunya. Baekhyun hanya membantuku, karena dia mengerti bagaimana mengerikannya saat-saat itu. Sekarang aku mengerti.

Aku membuka secarik kertas di tanganku. Aku sangat mengenali tulisan yang tertera disana.

Biarkan hujan mengecup keningmu.

Biarkan hujan menjadi alasan untukmu tersenyum.

Biarkan hujan menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu.

Biarkan hujan menyimpan, merekam dan mengabadikan cinta kita.

Cintailah hujan seperti kau mencintai gerimis, jangan pernah membencinya.

Aku menyayangimu Lee Hana, sebagai adikku.

Xi Luhan

Hallo! FF ini udah aku kirim di beberapa wp, tapi mungkin belom di post /sigh/

Jadi kalo menemukan kesamaan itu berarti punyaku.

Dont forget to leave comment:]

8 comments

  1. Jean, lo tau ff ini sebelas duabelas sama cerita gue. Bedanya, yg meninggal itu papah gue. Gue punya mantan dan ayahnya skarang jd ayah gue..
    Gue asli Kediri tp semenjak ibu gue nikah sama org itu, akhirnya gue mutusin buat sekolah di pasuruan breng om gue. Sedikit banyak gue bisa lah ngrasain apa yg Hana rasa..
    Keep writing ya jean!

  2. Hana itu baekhyunnya pernah suka sama kamu hlo, dulu. kamu ga sadar ya? pesona Lhan terlalu menyilaukan ya? tuh kan jadi ga dapat dua-duanya kan ya? :” balik sama baekhyun aja ya hana. mau ya? kalo mau kamu kejar atuh baekhyunnya.

    *terus bikin plot sendiri dong*
    ahhhhhhhhh, ini kenapa harus berakhir seperti ini hjean? :” sedih.

    1. aduh ini tulisan jadulku pasti alay hahahaha
      hana tau kok baekhyun suka dia tapi kan emang pesona luhan tiada dua \pengalaman\ \ngomongkedirisendiri\

      kenapa harus seperti ini? karena jeany nulisnya wkt galau eaaat
      makasih ya^^

      1. hahaha curhatan jeany ya ini? hahahaha tapi Luhanya jadi kakak. baekhyunnya jadi.. jadi siapa jeany?

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s