Notre Histoire à Paris


img_1093

Notre Histoire à Paris by jeanitnut

Tuhan, dalam guyuran gerimis ini aku meminta, kirimkan seseorang yang kau percaya untuk menjagaku, menarikku dari lubang ini.

‘Dalam guyuran gerimis, langit kota Paris, aku menemukan malaikat tanpa sayap kiriman Tuhan. Perasaan sebagaimana saat beribu kepakan sayap kupu-kupu menari di perutmu itu kau rasakan. Dia yang bukanlah kekasihku, aku mencintainya. Aku melepaskan kekasihku, dan mendapatkan fakta bahwa malaikat tak bersayap itu hanyalah manusi biasa yang bisa menyakitiku. Lalu, apakah aku masih harus membagi ceritaku dengannya, di tengah kota Paris yang begitu kejam?’

Di bawah naungan langit abu-biru gadis itu duduk diam di sebuah bangku taman kota Paris. Sekitar dua meter dari tempatnya duduk, dia bisa melihat sebuah patung tinggi menjulang yang konon katanya jika kalian memohon sesuatu, maka akan terkabulkan. Gadis itu pernah mencobanya. Lima tahun yang lalu.

Sebuah notebook yang tersimpan rapi di dalam tasnya, segera dia keluarkan. Sebuah pena serta note kecilterlihat seperti buku harian tergeletak disampingnya. Dia pun mengeluarkan sebuah kamera Polaroid. Segera diarahkannya kamera itu ke arah patung yang beberapa saat lalu hanya dipandanginya. Dia tersenyum seolah melihat bayang-bayangnya disana.

Tuhan, dalam guyuran gerimis ini aku meminta, kirimkan seseorang yang kau percaya untuk menjagaku, menarikku dari lubang ini.

Dia memohon setulus hati. Matanya terpejam rapat sedang kedua tangannnya bersatu di depan dada. Seolah Tuhan mendengarnya, dia merasakan semilir angin menerpa rambutnya. Gadis itu membuka mata. Dan tada…seorang pemuda tampan berdiri disampingnya.

Untuk sesaat dia terperanjat. Apakah ini jawaban Tuhan untuknya?

Dia mengamati pemuda disampingnya dengan intens. Pemuda itu tengah memejamkan mata, mungkin berdoa seperti yang dilakukan gadis itu beberapa saat yang lalu. Seulas senyum terukir dari bibirnya. Dia membuka mata.

Dunia berhenti berputar. Seolah dunia hanya milik kedua anak manusia yang sedang berdiri disana. Mata mereka berdua bertemu. Saling tersenyum.

My name is Yoona, what is your name?” gadis itu dengan nekat memperkenalkan dirinya. Tangannya terulur ke depan meminta pemuda itu untuk menjabat tangannya.

“Lee Donghae…”

Mereka bukan tidak sengaja dipertemukan. Ada suatu alasan kuat yang mempertemukan keduanya. Dua orang Korea yang bertemu di Paris. Pertemuan itu menjadikan keduanya menjadi seperti sepasang merpati yang tak terpisahkan. Dimana ada Yoona, disitu pula ada Donghae.

“…jadi kau juga mahasiswa École Normale Supérieure Paris?” tanya Yoona antusias. Mendapati fakta bahwa pemuda yang baru saja ditemuinya juga mengenakan blazer yang sama dengannya.

Keduanya duduk disebuah café bergaya minimalis tak jauh dari tempat pertemuan mereka. Bertemu dengan sesama warga negara di negeri orang tidaklah mudah. Terang saja hal ini membuat keduanya bersemangat untuk saling mengenal. Terlebih gadis itu.

“Begitulah, aku tidak menyangka ternyata ada orang Korea yang bersekolah disana apalagi seorang gadis. Kau sudah semester berapa?” tanya Donghae seraya menggigit falafelsemacam sandwich dengan sayuran asli timur tengah di daerah Yahudi. Sedangkan Yoona pun mulai menyantap kimbab di depannya.

“Tiga, kau?”

“Lima.”

Pembicaraan mereka berlanjut hingga malam menyapa, saat bintang sudah bertaburan dan bulan pun ikut memeriahkan. Kedua orang itu berjalan berdampingan, seperti seorang teman. Keduanya menunggu bus yang biasa ditumpangi Yoona.

“Aku bisa pulang sendiri Oppa, kau tidak perlu repot-repot mengantarku,” tolak Yoona saat Donghae menawarkan diri untuk mengantarnya. Tapi pemuda itu rupanya keras kepala, dia ikut duduk menunggu bus di halte bersama Yoona. Membuat gadis itu hanya berdecak sebal.

Keduanya memasuki sebuah bus yang cukup lengang, duduk berdampingan. Seperti biasa, Yoona duduk di dekat jendela sehingga dia bisa dengan leluasa menikmati pemandangan kerlip lampu kota Paris di malam hari. Benar-benar kota yang indah.

Yoona turun di halte yang berjarak kurang dari lima ratus meter dari apartemennya. Donghae ikut turun dan mengikuti Yoona sampai gadis itu menaiki tangga menuju apartemennya.

“Kau mau mengikutiku sampai kapan Oppa?”

Donghae menghentikan langkahnya, dia hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan gadis di depannya. Tangannya terulur untuk sekedar mengacak-acak rambut gadis itu. Ada perasaan bahagia tersendiri saat memandang wajah itu, jangan terlalu cepat menafsirkan jika dia sedang jatuh cinta dan sebagainya. Perasaan yang dirasakannya tentu bukan jenis perasaan seperti itu.

“Baiklah, besok kita bertemu di café kampus, eo? Aku akan menunggumu,” pamit Donghae seraya berbalik. Membuat Yoona hanya bisa memandang punggung yang semakin menjauh itu dengan tersenyum tipis. Lantas gadis itu pun kembali menaiki tangga, senyum masih terukir dari sudut bibirnya.

Nafasnya tercekat saat dia melihat siluet pemuda berdiri di depan apartemennya. Tangannya gemetar saking gugupnya. Kepalang tanggung jika dia ingin berbalik, karena pemuda di depannya sudah melihatnya.

Where have you been, honey?”

Dada Yoona berdebar mendengar suara merdu milik pemuda didepannya. Senyum yang berkembang disudut bibirnya itu kini perlahan menipis, mata gadis itu yang berbinar cerah pun kini terlihat kuyu.

“Mau apa lagi kau Xi Luhan!” bentaknya seraya membanting pintu.

Yoona sedang mengaduk-aduk secangkir kopi hangat saat tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipinggangnnya. Dia menggigit bibir, berusaha mengotrol emosinya yang teracak-acak karena kehadiran pemuda yang tengah memeluknya itu.

“Kau tidak lihat aku sedang sibuk? Menyingkirlah!” bentaknya.

Luhan mengernyitkan dahinya. Dalam hati, dia bertanya-tanya apakah yang sedang terjadi dengan kekasihnya sehingga menjadi uring-uringan seperti ini. Apakah gadis itu sedang mendapat tamu bulanannya?

What happened to you?”

Yoona berjalan seraya memegang nampan berisi dua buah kopi ditangannya. Sejenak, dia mengabaikan pertanyaan kekasihnya. Kekasihnya? Ya mungkin sampai sekarang pemuda itu masih berstatus sebagai kekasihnya.

Nothing.

Don’t be a liar, Calista!”

Kedua tangan Yoona terlipat sempurna di depan dada. Matanya menatap tajam pemuda yang kini berdiri di depannya. Tangannya refleks memegang dada kirinya, masih ada detak jantung tak biasa yang bergetar disana. Demi Tuhan, dia tidak mengharapkan ini.

“Apa yang kau lakukan bersama gadis-gadis bodoh itu sehingga kau mengabaikan teleponku?”

Luhan menatap ragu gadis di depannya. Pemuda itu lantas terkekeh geli mengetahui fakta bahwa gadis di depannya sedang cemburu. Tangannya mengusap lembut pipi Yoona, membuat pipi itu kini bersemu merah. Warna yang disukainya.

Kedua tangan Yoona disilangkan saat Luhan mendekat ke arahnya, gadis itu bangkit berdiri dan membuat Luhan hanya bisa berdecak kesal.

“Aku punya batas kesabaran Lu, sampai kapan kau akan terus bermain-main denganku seperti ini? Kau menyakitiku,” lirih Yoona.

Luhan menarik pergelangan tangan Yoona saat gadis itu berjalan semakin menjauh. Segera dia membalikkan tubuh gadis itu dan memeluknya. Yoona tak membalas pelukan itu, tapi gadis itu pun juga tak menolaknya. Seketika lubang hatinya yang cuil itu kembali tertutup. Bodoh kau Yoona!

I love you,” bisik Luhan tepat di telinga Yoona.

Helaan nafas berat keluar dari bibir Yoona. Selalu seperti ini, pertengkaran yang terjadi diantara mereka akan berakhir seperti ini. Saat Yoona masih bisa mendengar pemuda itu mengatakan bahwa dia mencintai Yoona, semuanya akan baik-baik saja. Ingin dia memprotes mengapa dia begitu lemah hanya dengan mendengar kalimat itu. Mengapa jantungnya harus berdetak sangat cepat saat mendengarnya? Mengapa rasa nyaman yang diinginkannya itu selalu datang?

“Kau tahu Lu, aku sangat membenci kehadiranmu,” guman Yoona. Luhan mengerutkan kening, pemuda itu lantas melepas pelukannya. Menatap gadis di depannya dengan tatapan bingung. Entah kenapa sebagian hatinya merasakan sakit saat mendengarnya.

“Aku masih disini bersamamu Yoona, kau tidak perlu memikirkan hal lain, oke?”

Yoona mengangguk dan tersenyum tipis. Gadis itu kini duduk di kursi, sedangkan Luhan mulai menyusulnya. Kedua orang itu menikmati malam yang dingin bersama, dan jangan mensalah tafsirkan apa yang terjadi diantara keduanya. Setiap harinya memang seperti ini, Luhan datang ke rumah Yoona dan menemaninya hingga dia tertidur. Akan terasa sangat ganjil untuk Yoona, jika dia tak mendapati Luhan di apartemennya setiap malam.

“Tidurlah, kau terlihat sangat lelah,” pinta Luhan. Yoona hanya bisa mengangguk dan berjalan ke kamarnya. Luhan duduk di tepi ranjang gadis itu. Tangannya menyikap poni yang menutupi dahi indah milik gadis di depannya.

Luhan menghela nafas berat, membuat Yoona membuka matanya. “Ada apa?” tanya Yoona langsung.

Luhan tersenyum tipis, menenangkan gadis di depannya. “Seminggu ini aku akan sangat sibuk, jadi…”

“Aku tidak ingin mendengarnya Lu!” potong Yoona cepat, gadis itu menarik selimut dan menutup kepalanya. Membuat pemuda di depannya hanya bisa menghela nafaslagi.

Matahari sudah berada di atas kepala saat Yoona dengan langkah setengah berlari berjalan menuju café kampusnya. Rasanya aneh sekali dirinya yang biasanya selalu berada di taman atau perpustakaan di jam-jam seperti ini kini memasuki kantin. Apa yang dilakukannya tentu tidak lain karena dia ingin menemui pemuda itu, Lee Donghae.

Yoona terseyum tipis saat melihat Donghae melambaikan tangannya. Dia segera berjalan menuju bangku sudut café dan duduk di depan Donghae. Yoona membungkuk sekilas seraya megucapkan kata ‘mianhae’.

“Hari ini tiba-tiba dosenku mengadakan ulangan dadakan, dan semua orang mengumpat pelan. Alhasil, kami harus mendapat hukuman dengan ulangan super susah. Aku tidak habis pikir mengapa di jaman modern seperti ini masih ada dosen yang berlaku aneh seperti ini. Seharusnya mereka bisa memaklumi tingkah para mahasiswa jaman sekarang…”

Donghae tertawa kecil mendengar gadis di depannya sedang menggerutu. Dia terpaku kala gadis itu memanyunkan bibirnya. Mengingatkannya akan seseorang. Kesan pertama Donghae pada Yoona tentu dia adalah gadis yang baik dan lucu, dan dia tak pernah menyangka jika ternyata gadis itu juga cerewet.

“Kau sudah selesai bercerita?” tanya Donghae saat mendapati Yoona menyeruput orange juicenya. Gadis itu tersedak, sadar jika sedari tadi dia sudah berbicara panjang lebar pada pemuda di depannya. Ini bukan dia yang seperti biasanya.

Gadis itu berdehem sejenak, meletakkan orange juicenya yang masih setengah. “Jadi, hari ini kita mau kemana?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

Donghae hanya mengedikkan bahunya, membuat Yoona hanya bisa mengerutkan dahi. “Jangan bercanda oppa, kau membuang-buang waktuku. Kau tahu, aku hari ini sedang sibuk.”

“Benarkah? Apa kau ada acara dengan kekasihmu?” Donghae tersenyum kecil, tapi Yoona tidak. Diam-diam gadis itu menghela nafas berat. Acara dengan kekasihnya? Apa yang bisa dilakukannya dengan Luhan jika mereka hanya bisa bertemu saat malam hari? Dia tertawa miris.

Kedua orang itu duduk dibangku taman, tempat yang mereka tempati kemarin. Yoona mendudukkan dirinya tepat disamping Donghae, sedangkan pemuda itu hanya duduk diam menatap dedaunan yang jatuh.

“Kau ada masalah?” tanya Donghae. Seakan bisa membaca pikiran, Yoona tersentak kaget. Tidak menyangka jika pemuda disampingnya mengerti apa yang dipikirkannya. “Terlihat sekali dari wajahmu nona,” sambung Donghae.

Jantungnya berdetak tak karuan. Matanya mengerjap untuk sejenak saat menyadari jika senyum pemuda di depannya adalah suatu ciptaan Tuhan yang luar biasa. Seakan angin menari bersama ribuan kupu-kupu diperutnya. Gadis itu terkesiap saat tangan kokoh pemuda itu menggenggam tangannya.

“Walalupun kita baru bertemu, tapi percayalah aku adalah orang yang bisa kau percaya.” Masih dengan tersenyum Donghae mengatakannya. Pemuda itu menatap gadis disampingnya, gadis yang cantik. Dan sejak pertama dia melihat wajah itu, rasanya dia ingin memandangnya terus. Mungkin, akan menjadi sebuah kebiasaan untuknya.

Kehangatan yang dirasakan Yoona selama beberapa menit sirna saat Donghae menarik tangannya. Hal itu sekaligus membuatnya tersadar, apa yang baru saja dirasakannya? Dia tidak mengerti dan tidak ingin mengerti. Ya, setidaknya untuk sekarang seperti itulah.

“Bagaimana perasaanmu saat kau memiliki seorang kekasih, kalian saling mencintai tapi kau tahu jika kalian tidak mempunyai masa depan?”

Helaan nafas beratkentara sekali—keluar dari bibir Yoona seiring suksesnya perkataan gadis itu. Donghae menoleh ke arah gadis disampingnya. Seperti dugaannya, Yoona tengah menghadapi masalah yang tidak biasa. Entah perasaan seperti apa yang dirasakannya saat melihat raut sendu gadis itu.

“Bagaimana perasaanmu yang hanya bisa berkencan saat malam hari, dan bahkan kau hanya bisa berkencan di aparatemenmu?”

Gadis itu menunduk, membuat Donghae tak bisa melihat bagaimana raut wajah gadis disampingnya. Pemuda itu ingin memeluknya, melindungi gadis yang terlihat ceria namun rapuh disampingnya. Tapi dia tidak bisa, ini terlalu cepat. Dia tidak ingin semakin banyak membuat dosa.

Yang bisa dilakukan Donghae hanyalah menggenggam tangan gadis disampingnya. Membuat gadis itu hanya bisa tersenyum, menghilangkan sedikit raut sedih yang melingkupi wajahnya. Keduanya berjalan bersisian menyusuri taman. Melihat berpasang kekasih dengan tangan saling bertautan lagi-lagi membuat hatinya mencelos, dia tertawa miris.

“Ada apa?” tanya Donghae bingung saat melihat Yoona tiba-tiba berhenti berjalan. Yoona hanya tersenyum kecil dan berjalan menyusul Donghae yang sudah berjarak beberapa langkah didepannya. Gadis itu tersentak kaget saat tiba-tiba Donghae menyusupkan jemarinya disela-sela jemari miliknya. “Kau ingin seperti mereka, kan?”

Kupu-kupu itu kembali menari di perut Yoona, membuat gadis itu mual dibuatnya. Gadis itu menatap wajah tampan di depannya. Tampan, Donghae memang tampan. Dia bahkan tak sadar untuk beberapa saat dia tak berkedip. Kenapa rasanya dia pernah merasakan perasaan seperti ini, tapi kapan?

Two months later…

Langkah kaki gadis itu tampak diseret, malas-malasan dia berjalan menyusuri pertokoan yang akan membawanya pulang ke apartemen. Bangunan tinggi menjulang yang sempat membuatnya terkagum-kagum saat menginjakkan kaki pertama kali di kota Paris itu kini tampak tak menarik lagi untuknya. Dalam penglihatannya, dia hanya melihat sebuah bangunan kosong tak berpenghuni.

Gadis itu berhenti barang sejenak saat melihat sebuah toko aksesoris. Toko itu masih sama seperti saat pertama kali dia berkunjung ke sana. Ramai pengunjung, barang-barang yang terpajang di etalase pun masih serupa dengan yang dia lihat dulu.

Entah apa yang membuat langkahnya berbelok. Kini, Yoona sudah berada di dalam toko itu, berdiri di depan sebuah boneka beruang berwarna coklatatau lebih tepat disebut cream. Tangannya terulur begitu saja ke depan, dia dapat merasakan lembutnya boneka itu.

What can I help you miss?” Yoona menoleh, pertanyaan penjaga toko itu menyadarkannya. Tangannya refleks dialihkan, dengan sedikit terpaksa tentunya.

“Tolong bungkuskan aku boneka itu!” Perkataan seorang pemuda itu membuat Yoona mendongak. Matanya mengerjap saat melihat kini Donghae berdiri di depannya dengan sebuah kantong ditanganya. Sejak kapan pemuda itu disini?

“Donghae oppa, apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoona. Untuk sesaat, Yoona merasa pemuda di depannya tampak salah tingkah, hanya beberapa saat saja karena setelah itu pemuda itu kembali dengan ekspresinya yang seperti biasanya. Tenang.

“Aku membeli hadiah untuk adikku,” katanya seraya menunjukkan kantong berisi—jika Yoona tak salah melihat seperti pita rambut dan bando. Yoona hanya membulatkan mulutnya, lantas dia pun berjalan mendekat ke arah Donghae.

Yoona hanya mengekor di belakang Donghae saat pemuda itu menuju ke kasir untuk membayar boneka beruang yang baru dibelinya. Ngomong-ngomong, untuk siapa boneka itu? Tiba-tiba perasaan berharap itu menyusup di sela-sela hatinya. Mungkinkah…untuknya?

Seolah Yoona bisa membaca pikiran seseorang, tepat saat dia mengalihkan pikirannya itu Donghae menyodorkan boneka beruang ke hadapannya. Secara otomatis garis lengkung itu terbentuk di sudut bibirnya.

“Untukku?” tanya Yoona ragu. Donghae mengangguk dan menarik tangan Yoona, membuat gadis itu kembali mengerjap. Ditengah kekecewaan yang dirasakannya hari ini, pemuda itu datang menawarkan kebahagiaan. Donghae menyodorkan boneka itu ke tangan Yoona, memaksa gadis itu untuk memegang dan otomatis menerimanya.

“Donghae oppa, sebenarnya kau siapa? Kenapa kau selalu datang disaat aku sedang sedih?”

Donghae menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Yoona. Dia tersenyum tipis, perasaan ingin melindungi dan tak ingin membuat gadis di depannya sedih itu kembali dirasakannya. Yoona memang berharga.

“Hmm kau bisa menganggapku malaikat,” ucap Donghae. Tak elak jawaban pemuda itu membuat Yoona tertawa kecil. Gadis itu memandang toko disampingnya sekali lagi, tempat kencan pertamanya dengan Luhan. Dan dia masih mengingat jika boneka yang kini dipegangnya adalah boneka yang diinginkannya saat itu, tapi ternyata Luhan lebih menyukai boneka panda dan memberikannya pada Yoona. Sekalipun begitu, Yoona sangat senang menerimanya dan menjadikan boneka itu sebagai boneka kesayangannya.

“Kau melamun?” tanya Donghae. Tangan kanannya dikibas-kibaskan di depan wajah Yoona. Gadis itu sadar dan langsung menurunkan tangan Donghae. Dia pun lantas berjalan mendahului Donghae, membuat pemuda itu hanya bingung dibuatnya.

Mereka berjalan beriringan menikmati angin sore kota Paris. Sejuk dan segar. Sepanjang jalan entah sudah berapa kali semburat merah tergambar di pipi Yoona. Entah sudah berapa kali pula tawa terdengar keluar dari bibirnya.

Selama dua bulan ini, terhitung sejak Yoona bertemu Donghae hidupnya benar-benar berubah. Dia kini harus mengakui jika perlahan kebahagiaan seakan menghampirinya. Jika pagi menjelang, pemuda yang berstatus sebagai sahabatnya itu akan membuatnya tersenyum dan jika malam menjelang, kekasihnyalah yang akan membuatnya bahagia.

Well, apakah dia terlihat seperti gadis murahan? Donghae adalah sahabat untuk Yoona, dia selalu menceritakan segalanya, termasuk tentang hubungannya dengan Luhan. Dia mempercayai pemuda itu melebihi siapapun. Walau terkadang sulit untuknya mengontrol emosi saat tiba-tiba dadanya berdetak cepat saat mendapat sentuhan-sentuhan dari Donghae. Belum lagi saat Donghae tersenyum padanya, yang selalu membuatnya merasa melayang ke awan.

“Luhan melakukan hal-hal yang menyakitimu lagi?”

Senyum sinis tersungging dari bibir Yoona. Merasa pertanyaan Donghae tak membutuhkan jawaban mengingat pemuda itu sudah mengetahui detil cerita cinta Yoona dan Luhan.

“Menyakitiku adalah suatu kebiasaan yang tak disengaja untuknya.”

Donghae tertawa, membuat Yoona merengut kesal. “Tapi kau sangat mencintainya Yoona,” tegas Donghae.

Yoona terkesiap. Dia memang mencintai Luhan, bahkan mungkin bisa dikatakan jika dia sangat sangat sangat mencintai pemuda itu sehingga membiarkan sebagia hatinya tersakiti karena mencintainya.

“Aku tidak terlalu mencintainya,” jawab Yoona acuh. Donghae menoleh ke arah gadis disampingnya. Merasa aneh dengan jawaban yang diberikannya karena setahunya Yoona sangat mencintai Luhan.

“Kau yakin?”

Yoona mengangguk, tersenyum tipis. “Aku tidak ingin seperti ini terus, aku lelah.”

Tak terasa langkah kaki keduanya kini tiba di depan apartemen milik Yoona. Yoona berhenti sejenak, tiba-tiba kakinya kelu untuk melangkah lagi. Ada perasaan enggan untuk mengakhiri kebersamaannya kini dengan Donghae, dan sebagian lagi perasaan takut siapa yang akan ditemuinya nanti.

“Aku takut,” ucap Yoona jujur. Donghae mendengar gumaman itu, hatinya tergerak begitu saja. Pemuda itu menarik Yoona ke dalam pelukannya. Dia tahu benar bagaimana perasaan Yoona saat ini, maka yang dia dapat lakukan hanyalah membuat gadis itu tenang.

Kenyamanan itu dirasakan Yoona, dia hanya bisa memejamkan mata saat Donghae mengecup puncak kepalanya. Tidak ada yang salah dengan apa yang dilakukan Donghae. Tidak ada yang salah dengan persahabatan mereka. Yoona tahu benar jika apa yang dilakukannya pemuda di depannya semata-mata hanya untuk membuatnya merasa tenang.

“Masuklah, tidak akan ada hal-hal buruk yang terjadi,” ujar Donghae. Pemuda itu membiarkan gadis di depannya melangkah menaiki anak tangga. Sampai punggung itu menghilang, dia pun beranjak pergi. Dia menghela nafas sejenak, entah kenapa sebagian hatinya kini merasa begitu terluka.

Sepuluh meter dari pintu apartemennya Yoona berhenti, mengontrol emosinya. Tangannya terkepal kuat dan dia pun berjalan mendekat. Dia sedikit memicingkan matanya, heran saat tak mendapati siluet seorang pemuda yang biasanya berada disana kini tak didapatinya.

Who is he?” Yoona membalikkan badannya saat mendengar suara merdu itu. Luhan berdiri dibelakangnya dengan kedua tangan yang dimasukkannya ke dalam saku. Tidak ada senyum yang tersungging diwajahnya seperti biasa. Yoona meneguk air ludahnya saat melihat rahang pemuda itu mengeras.

What did you mean?” tanya Yoona balik. Gadis itu memutar tubuhnya dan membuka pintu apartemennya. Luhan memegangi lengannya saat dia hendak memutar gagang pintu. Dia hanya menoleh sejenak, “I’m tired Lu. Kau mau masuk atau…?”

Tanpa menjawab pertanyaan Yoona, Luhan segera masuk mendahului Yoona. Pemuda itu duduk di sofa yang biasa ditempatinya. Yoona melangkah ke kamarnya untuk sekedar meletakkan boneka serta tas tangannya.

“Apa yang diberikannya padamu?” tanya Luhan.

“Dia sahabatku. Dia membelikanku boneka.”

“Apa kalian berpacaran?”

Yoona berdecak kesal. Hari ini dia benar-benar lelah, dan sekarang pemuda itu menyulut pertengkaran dengannya. Dia mengacak-acak rambutnya frustasi.

I’m so tired today. Aku lelah dengan semua ini. Aku tidak tahu akan kemana arah hubungan kita? Aku lelah melihatmu bersama gadis itu? Aku sakit melihatmu lebih memperdulikannya dari pada diriku. Kau tahu bagaimana perasaanku, Lu? Kau tidak tahu kan?” bentak Yoona.

Luhan terkesiap. Perkataan gadis di depannya itu menancap di ulu hatinya. Mereka sama-sama sadar ini semua akan terjadi. Karena mereka hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran. Luhan merasakan sesak saat melihat raut wajah kecewa itu tergambar jelas di wajah kekasihnya. Selalu. Tapi dia tidak bisa melakukan apapun.

“Kau menyukainya? Jika dia bisa membahagiakanmu, aku akan melepaskanmu Yoona. Aku akan bertunangan dengan Hana dan kembali ke China. Maaf untuk semua kekecewaan yang aku torehkan di hatimu,” lirih Luhan. Pemuda itu tersenyum menatap gadis di depannya.

Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Yoona menatap sendu wajah rupawan di depannya. Benarkah kisah cintanya harus berakhir disini? Bagaimana dengan hatinya tanpa melihat pemuda itu barang sehari saja? Kuatkah dia?

“Semakin lama aku mempertahankanmu, semakin banyak sakit yang akan kau terima. Berbahagialah.”

Luhan benar. Semakin lama Yoona mempertahankan perasaan cinta itu, semakin banyak pula sakit yang akan diterimanya. Dan kelak, mungkin dia tak akan sanggup melepaskannya saat cinta itu sudah menjadi sebuah kebutuhan untuknya.

Ditekannya dadanya dalam-dalam untuk sekedar menghilangkan rasa sakit disana. Hanya sesaat Yoona, kau harus menahannya, batinnya.

Tubuhnya refleks berdiri saat melihat kaki Luhan mulai berjalan menjauh. Dengan sedikit berlari gadis itu memeluk pemuda di depannya. Luhan berbalik dan memeluk gadis itu, hanya beberapa detik. Lantas pemuda itu pun tersenyum, berjalan lurus ke depan meninggalkan Yoona yang hanya bisa mematung di tempatnya.

“Ini sakit Tuhan. Benar-benar sakit,” rintihnya. Gadis itu memaksakan kakinya untuk berjalan. Dikamar, dia melihat boneka beruang putih disana. Dan pada boneka itu, dia melihat sebuah harapan. Sebuah kebahagiaan. Pada pemuda bernama Lee Donghae.

Handphone Donghae tidak bisa dihubungi. Dan hari ini dia tidak menemui Yoona dikantin kampus seperti biasa. Sedari tadi Yoona hanya mondar-mandir di depan kelas pemuda itu, tangannya bergerak menggenggam handphonenya dengan gusar.

“Hyukjae-ssi, apa kau tahu Donghae kemana?” tanya Yoona segera saat melihat teman Donghae keluar kelas.

“Bukankah Donghae sakit?” tanya seorang gadis disamping Eunhyuk. Gadis berambut merah yang diketahui Yoona sebagai pacar Hyukjae, entah siapa namanya.

Tanpa menunggu jawaban Hyukjae, Yoona segera berlari. Tak lupa dia pun membungkuk dan mengucapkan terima kasih. Perasaan cemas dirasakannya. Dengan segera Yoona memberhentikan taksi. Gadis itu mengeluarkan selembar kertas pada supir taksi, alamat apartemen Donghae. Beruntung Yoona masih menyimpan alamat itu saat Donghae memberikannya dulu.

Dengan setengah berlari Yoona menaiki anak tangga. Matahari sudah kembali ke peraduannya, menyisakan langit berwarna jingga. Peluh menetes dari pelipis gadis itu. Dia berhenti sejenak untuk sekedar mengusapnya sesampainya di depan apartemen Donghae.

Gadis itu hendak menekan bel intercom saat tak sengaja dia mendengar suara bisik dari dalam. Pintu apartemen itu terbuka.

“Kau kemana saja?” tanya Donghae lirih. Yoona membuka pintu itu dengan hati-hati, bukan maksudnya untuk mengintip, hanya saja dia tidak ingin mengganggu Donghae. Samar, Yoona melihat seorang gadis mungil dengan rambut coklat bergelombang tengah duduk disamping Donghae. Keduanya sedang duduk di sofa.

“Aku disini. Buka mulutmu! Bagaimana bisa kau sakit seperti ini?” Gadis itu kembali menyuapkan sesendok makanan ke arah Donghae.

“Jawab aku, kau kemana saja? Kau nyaris membuatku gila karena kehilanganmu. Dan sekarang kau ada disini, aku benar-benar bersyukur karena aku sakit.”

Yoona merasakan pening seketika. Percakapan macam apa yang didengarnya ini? Kakak adik yang lama tak bertemu? Sepasang sahabat yang saling melepas rindu? Atau pasangan kekasih yang telah lama berpisah lalu bertemu?

Dugaan terakhirnya itu entah mengapa membuat nafasnya tercekat. Tangannya menggenggam gagang pintu semakin erat. Harapan, sebuah kebahagiaan yang dilihatnya, apakah akan berakhir dengan sebuah kesedihan lagi?

“Aku berusaha melupakanmu, tapi ternyata aku tidak bisa. Aku terlalu mencintaimu dan kau terlalu sempurna untuk gadis sepertiku.”

“Bodoh! Pemikiran apa itu Kim Taeyeon. Jangan pernah sekali lagi kau berpikir seperti itu, atau aku akan menikahimu sekarang juga.”

“Donghae kau…”

Nafasnya tercekat. Dadanya sesak, berkali-kali lipat dirasakannya saat melihat percakapan itu. Tangan dan kakinya gemetar menahan tubuhnya agar tidak limbung. Air mata mendesak keluar dari matanya. Terlalu banyak sudah air mata yang dikeluarkannya dalam seminggu ini. Ini terlalu menyakitkan, melebihi apa yang ditorehkan Luhan padanya. Karena Donghae adalah harapannya, kebahagiaan yang menariknya dari lubang kesedihan.

Yoona menatap nanar dua orang yang sedang meluapkan kerinduan didepannya. Donghae mencium gadis di depannya dengan penuh sayang, tatapan mata pemuda itu mengungkapkan segalanya. Mereka meluapkan kerinduan dengan berciuman selama kurang lebih lima menit.

Tepat saat kedua orang itu saling menarik nafas, Yoona melangkahkan kakinya mendekat. Dihirupnya oksigen sebanyak-banyaknya. “Donghae oppa…,” panggilnya.

Ekspresi terkejut jelas sekali terlihat dari wajah Donghae, sedang gadis disampingnya hanya menatap bingung. Donghae menatap Taeyeon sejenak dan berdiri menghampiri Yoona. “Yoona, ada apa?”

Yoona menghela nafas sejenak. Kebahagiaan itu tidak ada pada pemuda di depannya, jadi untuk apa dia mempertahankan semua ini? Cukup sudah dia menanam sakit itu dari Luhan, tidak untuk Donghaeorang yang sangat dipercayainya. Rasanya sekarang hatinya benar-benar telah berubah menjadi sebuah sampah. Benar-benar busuk.

“Bisakah kita bicara sebentar?” pintanya. Donghae mengerutkan dahinya, lantas mengangguk. Perasaan sedih itu menyinggahinya saat melihat tatapan sendu milik gadis di depannya. Gadis itu sudah melihat segalanya, jadi dia tak akan berpura-pura menjadi seorang malaikat tak bersayap lagi di depannya.

Kedua orang itu kini berdiri bersisian di depan apartemen Donghae. Memadang semburat senja yang masih tersisa. Tangan Yoona terkepal kuat. Sebisa mungkin dia menahan air mata yang menguak ingin keluar. Mengapa dia merasa sesakit ini? Benarkah dia telah menyimpan perasaan lebih untuk Donghae?

“Apa tujuanmu sebenarnya selama ini?” tanya Yoona langsung.

Donghae terkesiap. Tidak tahu harus menjawab pertanyaa gadis di depannya dengan apa. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana perasaannya sesungguhnya. Yang dia inginkah hanyalah menjaga gadis itu, membuatnya merasa bahagia dan tak terluka. Tapi disana, tak pernah dia menjumpai perasaan seperti yang dirasakannya untuk Kim Taeyeon.

“Aku sahabatmu, aku ingin melindungimu dan membuatmu tertawa.”

Yoona tertawa miris, “Begitukah? Dan gadis itu—yang di dalam sana adalah kekasihmu? Apakah aku hanya sebagai pelampiasanmu saja?”

Nada kecewa bercampur amarah. Itulah perkataan Yoona yang terdengar di telinga Donghae. Pemuda itu hanya bisa menatap sendu gadis didepannya. Hatinya menolak untuk sekedar menyangkal apa yang baru saja dikatakan gadis di depannya.

“Terima kasih untuk segalanya, oppa. Semoga kau bahagia dengan kekasihmu,” ujar Yoona seraya melangkahkan kakinya menjauh. Donghae masih terpaku ditempatnya. Apakah yang sudah dilakukannya selama ini pada gadis itu terlalu berlebihan?

Yoona berhenti melangkah, dia berbalik. Tidak ada Donghae yang mengejarnya atau bahkan menjelaskan semuanya. Hanya gelapnya lorong didapatinya. Dia tertawa perih, air matanya keluar untuk pemuda itu. Pertama dan terakhir kalinya. Semua berakhir sampai disana.

Tidak ada sepasang merpati yang selalu bersama setelah musim panas berakhir berkeliaran di École Normale Supérieure Paris. Kedua orang itu tak pernah bertemu lagi.

“Terima kasih sudah mau memenuhi undanganku Donghae-ssi,” ucap seorang gadis cantik dengan wajah berbinar. Kacamata yang membingkai wajahnya tampak membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya sebenarnya.

Pemuda yang duduk di depan gadis itu mengerjap sesaat. Dalam balutan jas—khas pakaian kantor—yang membalutnya membuatnya terlihat begitu menawan. Kedua orang itu duduk berhadapan di sebuah café. Latte café, tempat dimana mereka menghabiskan waktu untuk saling bertukar cerita. Dulu.

“Kau tampak jauh lebih dewasa,” balas Donghae. Suasana terlihat begitu canggung. Wajar saja, mengingat sudah sepuluh tahun mereka tak bertemu. Kerinduan itu masih ada, walau hanya beberapa persen saja, ah bahkan tak mencapai sepuluh persen.

“Kau juga terlihat jauh lebih matang. Jadi, apa kau tahu tujuanku mengundangmu? Disini?” tanya Yoona.

“Mengenang masa lalu kita.”

Yoona tertawa, lepas. Sekarang buka saatnya untuk gadis itu menangis atau bahkan melempar pria didepannya dengan sepatu. Sekarang saatnya dia menutup masa lalunya dalam-dalam. Menyelesaikan kilasan teka-teki yang belum terkuak itu.

“Kau masih sama seperti dulu. Langsung saja, apa kau pernah mencintaiku?”

Donghae mengerutkan kening. Dadanya bergemuruh. Melihat tawa yang gadis didepannya, setelah sepuluh tahun cukup membuatnya terkesiap. Dia sudah cukup mengerti bagaimana perasaannya untuk gadis itu.

“Apa kau sudah menikah?”

“Sudah.” Donghae tertawa kecil, membuat Yoona mengerutkan kening.

“Maafkan aku Yoona.”

“Tidak perlu bertele-tele Donghae-ssi. Jadi kau pernah menyimpan perasaan untukku atau tidak?”

Donghae tersenyum tipis. Tidak  buruk bertemu gadis itu sekarang. Waktu sudah mengubahnya menjadi seorang wanita yang sangat menarik. Dia harus mengakuinya. “Sejak kapan kau menjadi to the point seperti ini?

“Sejak kau menyakitiku.”

Perkataan Yoona membuat Donghae berhenti tertawa. Dia merasa harus meluruskan segalanya. Nyatanya, setelah sekian lama gadis di depannya tidak bisa melupakan semuanya.

“Aku pernah mencintaimu, walau hanya sebagian hatiku yang mengakuinya. Aku ingin melindungimu dan membuatmu tersenyum. Tapi disisi lain, aku mencintai Taeyeon,” tutur Donghae. Pria itu menghela nafas sejenak. Yoona tersenyum.

“Jadi istrimu Kim Taeyeon?” Donghae hanya menggeleng, “Lalu?”

“Aku belum menikah.”

Yoona terkesiap tak percaya. Jantungnya berdetak tak karuan. Gadis itu mengeluarkan sebuah note kecil dari dalam tasnya yang mencoretkan beberapa baris hangul disana. Hal itu membuat Donghae penasaran dibuatnya.

“Bagaimana hubunganmu dengan Luhan?” tanya Donghae ragu.

Yoona mendongak, matanya menerawang. Terakhir kali dia bertemu dengan Luhan adalah saat perpisahan mereka. Dan sekarang, dia yakin jika pria itu sudah menikah atau bahkan memiliki anak.

“Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak kami berpisah,” jawab Yoona acuh. Dia masih sibuk mencoret-coret hangul di notenya.

“Lalu, siapa suamimu?”

Tertegun mendengar pertanyaan Donghae, Yoona berhenti menulis. Dia lantas mendongak dan tersenyum kecil. Merasa cerita yang dialaminya benar-benar lucu.

“Apa itu penting? Jika kau ingin tahu, sebaiknya kau membeli novelku yang akan terbit dua bulan lagi Donghae-ssi.” Donghae terkesiap, jadi tujuan gadis itu mengundangnya adalah untuk wawancara. “Dan terima kasih atas waktumu, aku sudah mendapatkan jawabannya sekarang.”

Donghae menarik tangan Yoona, saat wanita itu tiba-tiba bangkit berdiri. Kedua mata mereka beradu, ada sebuah kerinduan disana yang tak dapat terpenuhi. Karena kini waktu sudah mengubah segalanya.

“Sekali lagi maafkan aku,” guman Donghae. yoona tersenyum seraya melepaskan genggaman tangan Donghae.

“Tidak apa-apa. Notre histoire à Paris akan menjawab semuanya.”

Lagi-lagi Donghae menahan lengan Yoona saat dia hendak berjalan. Gadis itu berbalik dan menatap Donghae dengan bingung.

“Kenapa kau berbohong? Aku tahu kau belum menikah.”

Yoona tersenyum tipis. Dilepaskannya tangan Donghae yang tengah menggenggam tangannya. “Aku sedang menunggu seseorang dari Paris yang akan melamarku.”

Donghae tersentak. Dilihatnya Yoona berjalan dengan ringan. Semua kisah hidupnya yang cukup mendramatisir akan menjadi indah dalam tulisan tangannya. Tidak ada yang perlu disesali apa yang telah terjadi, karena semuanya terjadi bukan tanpa sengaja. Notre histoire à Paris akan menjadi sebuah novel yang mengharu biru.

 ‘Im Yoona menuangkan kisah hidupnya—yang tak kalah seru dengan kisah drama dengan begitu apik. Kisah tentang ketegaran menghadapi percobaan dalam pecintaan, persahabatan dan kekecewaan. Kalian akan mengetahui bagaimana kerasnya dunia luar.’ –Suzanne Collins

Semoga kalian menyukainya, batin Yoona.

Notre Histoire à Paris: Our Story in Paris

École Normale Supérieure Paris : Universitas kedua terbaik di Paris setelah Claude Bernard Lyon 1 University

Falafel : semacam sandwich dengan sayuran asli timur tengah di daerah Yahudi.

Hallo! Ada yang bingung sama ceritanya? HEHE

Jujur aja aku gak ngefeel nulis bagian Luhan-Yoona, setengah gak rela LOL

Hari ini lagi happy banget makanya ngepost. Untuk Liar, aku gak tau mau nulis apa jadi sabar aja ya buat kelanjutannya. Dan juga sekarang sekolah udah mulai, pastinya bakal sibuk banget T_T

Happy Reading Pyros!

37 comments

  1. Meskipun endingnya gantung tp itu lbh realistis,ceritanya bnr2 daebak. Akan lbh bagus lg klo ada sequelnya tp endingnya bukan yoonhae melainkan yoonhun kekk….kekk…..

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s