Liar [Part IV]


yoonhae

Liar by jeanitnut

with Ilma Dini.

I lie to myself all the time.  And I’m wondering, what the shit exactly are we looking for?

Prolog | I | II | III

One month later…

Sesak sekali. Inilah perasaan yang aku rasakan sekarang. Memang benar, bahwa dunia ini berputar secepat arus air laut. Baru beberapa saat yang lalu aku merasa diatas awan, saat kebahagiaan menyinggahiku dan merasa seolah dunia dalam genggamanku. Tapi sekarang, kenapa semua rasanya hanya semu belaka?

Kakiku melangkah tak tentu arah. Otakku sibuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Seharusnya kau bahagia, Im Yoona. Seharusnya aku memang bahagia. Seharusnya memang seperti itulah. Andai seseorang dari masa lalu itu tak muncul ke permukaan dan tetap bersembunyi di tempatnya berada.

Kutengok ke kanan dan kiri, suasana kota Seoul masih sama. Sejuk dan ramai. Kepalaku pening, rasanya benar-benar sakit. Mungkin Tuhan menghukumku karena kebohongan-kebohongan yang aku ciptakan selama ini. Sudah berapa orangkah yang aku bohongi selama ini? Satu? Dua? Atau bahkan lebih dari itu. aku tidak mengingatnya.

Brak.

Kejadian apa yang baru saja terjadi. Aku menyeberang jalan. Seseorang menyeretku. Aku terjatuh. Kepalaku membentur aspal. Darah.

Kepalaku berdenyut keras, tapi sakitnya masih tak sebanding dengan sesak yang aku rasakan. Tanganku otomatis menyentuh pelipisku. Aku mengerang saat seorang pemuda mengulurkan sebuah sapu tangan ke arahku. Kubiarkan sapu tangan itu tetap ditangannya sampai beberapa menit. Kejadian ini lagi, aku bosan. Kenapa aku tidak mati saja?

“Kau baik-baik saja?”

Kepalaku masih berdenyut sakit. Aku bahkan nyaris limbung kalau saja aku tak menopangkan tanganku pada pot bunga disampingku. Beberapa orang yang sedang berlalu lalang tampak berhenti sejenak untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Otakku masih terlalu terkejut untuk mencerna perkataan mereka yang sebagian besar intinya: apa yang terjadi, apa dia mau mati, apa dia sudah gila.

Aku melirik Donghae yang berdiri disampingku dengan ekor mataku. Sungguh, aku berharap bukan dia yang menolongku. Siapapun dan darimanapun asalkan bukan dia. Lalu, aku akan merasakan perasaan itu dan melupakan tunanganku.

Dan ngomong-ngomong jangan terkejut dengan sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kiriku. Dua minggu yang lalu, aku benar-benar bertunangan dengan Donghae. Atas dasar cinta karena memang aku mencintai Donghae. Well, dia memang benar-benar hebat karena berhasil membuatku membuang Max.

“Apa yang kau pikirkan? Kau mau mati?”

“Aku mau mati, lalu kau mau apa?”

Donghae mengumpat pelan. Dengan sekali gerakan dia menyeretku ke sebuah kedai. Sialan! Kasar sekali dia. Tapi meskipun aku diperlakukan seperti ini, nyatanya jantungku masih tetap berdetak tak beraturan.

Segelas air putih tersedia di depanku. Donghae beranjak ke kursiku, dia menghapus sisa darah yang masih mengalir di pelipisku, tapi aku segera menepisnya. Dia mendesah pelan dan kembali ke bangkunya. Banyak sekali darah yang mengalir, pantas saja kepalaku rasanya seperti di pukul dengan batu yang beratnya berton-ton.

“Ada apa denganmu?” tanya Donghae lembut. Cih, membuatku muak saja. Selain mampu membuatku membeku, Donghae adalah pemuda yang sangat pintar. Aku benci saat melihat tatapan matanya, raut wajahnya, dan aku benci tak bisa menerka apa yang dipikirkannya.

“Menurutmu?” desisku. Aku meminum segelas air putih di depanku untuk sekedar menyegarkan tenggorokanku. Walau bagaimanapun menderitanya diriku saat ini, aku tak boleh lepas kendali. Jangan terlalu berlebihn, Yoona.

Donghae mengulum senyum, “Apa kau sedang bertengkar dengan mantan pacarmu, Max?”

Brengsek. Apa yang dia pikirkan tentangku sebenarnya. Dia pikir gadis macam apa aku ini. Hey, setelah kejadian sebulan lalu aku bahkan mengabaikan pesan Max yang menanyakan tentang keadaanku. Aku sadar diri, sekarang aku memiliki seorang tunangan dan bagaimana mungkin aku masih berhubungan dengan mantan kekasihku?

“Kau berpikir begitu?” tanyaku balik. Nada kesal benar-benar kentara dari suaraku. Biarlah, aku berharap barang sedikit saja dia akan peka terhadap perasaanku. Entah bagaimana sebenarnya yang dia rasakan, tapi aku benar-benar merasa Donghae menyimpan paling tidak sedikit saja perasaan pedulinya padaku. Atau bahkan perasaan cinta.

Donghae masih tersenyum, lantas menyesap secangkir kopi miliknya. “Ayolah Im Yoona, kau tidak benar-benar berniat bunuh diri, kan? Kau gadis cerdas, yang bahkan tidak mungkin berpikir pendek seperti ini.”

Entah apa maksudnya mengatakan pujian ini kepadaku. Tapi aku menyukainya. Aku tersenyum tipis memandangnya. Mungkin aku memang cerdas dalam hal pelajaran mengingat nilai-nilaiku dulu, tapi masalah perasaan? Nol besar.

“Tidak, aku hanya ‘sedikit’ tertekan karena nenek terus memaksaku untuk segera menikah,” kilahku. Sebuah kebohongan aku ciptakan lagi. Maafkan aku Tuhan.

Ekspresi Donghae seketika berubah saat aku mengatakan kata menikah. “Benarkah? Kita bahkan baru saja bertunangan,” gumamnya.

Bertunangan. Kulirik sebuah cincin emas putih yang melingkar di jari manisku. Aku bahkan begitu yakin saat meng-iya-kan permintaan nenek untuk segera bertunangan. Kupikir memang itulah yang seharusnya aku lakukan. Saat itu aku merasa seolah-olah perasaanku sudah mulai berubah, begitupun dengan Donghae. Tapi ironisnya, aku bahkan tak tahu apa-apa.

“Kenapa kau menyetujui pertunangan ini?” tanyaku.

Saat itu aku benar-benar berpikir aku akan bahagia. Melihat binar mata Donghae, membuatku begitu yakin. Tapi setelah kami bertunangan keadaan seakan berubah. Pertemuanku, kebersamaanku dengan Donghae bahkan semakin berkurang. Awalnya kupikir Donghae sibuk dengan pekerjaannya, sehingga aku pun memakluminya.

Dan barulah beberapa hari yang lalu aku mengetahuinya saat tak sengaja aku melihat Donghae bersama gadis itu, Tiffany Hwang. Aku berjalan tertatih-tatih menuju apartemen rumahku setelah melihatnya. Membuatku sadar bahwa betapa sangat berpengaruhnya Donghae pada hatiku.

“Seperti yang aku katakan dulu, aku ingin membuat nenekku bahagia. Hanya bertunangan, kita tidak akan menikah. Bukankah itu kesepakatan kita sejak awal?”

Aku tertawa. Bahkan sekarang aku tak bisa mengontrol emosiku. Seharusnya aku sudah tahu bahwa perasaan seseorang tidak mungkin berubah hanya dalam beberapa minggu saja. Ya, meskipun ada beberapa yang seperti itu, dan akulah salah satunya.

“Lalu apa rencana kita selanjutnya?” tanyaku, tanpa sadar nafasku tercekat. Aku mencengkeram kuat rok berwarna biru toska yang aku kenakan.

Donghae diam selama beberapa menit, tampak berpikir. “Aku menyerahkan semuanya padamu, apapun yang kau lakukan aku akan menyetujuinya,” ujarnya.

Aku menghela nafas lega. Kepalaku kembali terasa berdentum memikirkan kemungkinan Donghae memintaku untuk mengakhiri semua ini sekarang. Jika saja perasaanku saat ini masih sama seperti beberapa bulan lalu, mungkin dengan senang hati aku akan mengakhiri segalanya. Toh nenek Donghae pun sudah mengetahui tentang semuanya, kan? Aku tidak perlu repot-repot menjelaskannya.

Tiba-tiba aku merasakan kekuatan kembali. Donghae menyerahkan semuanya padaku, bagaimana jika aku memutuskan untuk menikah dengannya? Apakah dia akan setuju? Ingin sekali aku mengatakan itu padanya, tapi bukankah itu terlalu kentara? Dia akan dengan cepat mengetahui jika aku benar-benar sudah bertekuk lutut dihadapannya.

Aku berdiri dari dudukku, “Baiklah, aku akan memikirkannya. Semoga kau tidak akan menyesal.”

Berpura-pura menjadi seseorang yang kuat ternyata memang begitu sulit. Mungkin sulitnya setaraf dengan bagaimana sulitnya menyembunyikan perasaan. Dimana setiap harinya kau akan semakin tertekan dengan perasaanmu sendiri.

Aku harus mengakui jika itu memang benar adanya. Aku bahkan tak bisa membagi perasaanku dengan siapapun. Harusnya aku menceritakan semuanya pada sahabatku Yuri, tapi aku takut jika ini justru akan membuatku terlihat begitu konyol dihadapannya.

‘Aku stress, temani aku belanja.’

Aku mengetikkan sebaris kalimat itu lantas menghempaskan tubuhku ke ranjang. Hari yang melelahkan. Ini hari libur, tapi terasa seperti hari biasa. Donghae bahkan tak mengajakku keluar untuk sekedar berjalan-jalan sebagaimana layaknya pasangan lainnya.

Handphoneku bergetar, pasti dari Yuri.

‘Dimana tunanganmu? Lima belas menit lagi aku sampai.’

Aku memandangi sebuah kata dalam pesan itu. Tunangan.

Tunangan, status itu hanya sebuah status tak bermakna. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku tidak akan memutuskan bertunangan dan tetap menjalani hariku seperti biasanya. Mungkin dengan seperti itu, Donghae akan lebih memperhatikan keberadaanku.

Suara bel derdering. Aku memasukkan handphone ke dalam tas kecilku dan berjalan membuka pintu. Sebuah pelukan aku dapatkan. Aku meringis kecil saking kuatnya Yuri memelukku.

“Lepaskan!”

Yuri melepaskannya, bibirnya mengerucut mencibirku. “Kau tidak merindukanku, hah? Apa tunanganmu itu juga berhasil menghapusku dari hidupmu?”

Aku mengabaikan perkataannya dan berjalan lebih dulu. Yuri hanya berdecak lantas menyusulku. Dia melemparkan kunci mobil dan aku pun segera menangkapnya. Dia tampak sedang sibuk dengan handphonenya, aku meliriknya dengan ekor mataku. Sedikit merasa bersalah karena aku tidak menceritakan kejadian beberapa hari yang lalu. Luka dipelipisku sudah hilang dalam kurun waktu dua hari. Dokter jaman sekarang memang benar-benar hebat.

Kami tiba di mall setengah jam kemudian. Tanpa ragu aku melangkah menuju stan pakaian, aku melihat Yuri menyipitkan matanya. Ada apa dengannya?

Selama kurang lebih satu jam setengah aku memilih, dan entah sudah berapa banyak baju yang aku beli. Ternyata berbelanja cukup ampuh untuk menghilangkan stress, sekalipun aku tidak menyukainya.

“Ada apa denganmu?” tanya Yuri tiba-tiba.

Saat ini kamu sedang berada di café, cukup melelahkan memang. Dahiku mengkerut mendengar pertanyaannya. “Memang ada apa denganku?” tanyaku balik.

Dia berdecak kesal, “Aku tahu kau bukan gadis yang suka menghambur-hamburkan uang Yoona.”

Yuri menyadarinya. Rasanya berbohong pun tak ada gunanya, lagi pula sudah cukup kebohongan yang aku buat. Akhirnya aku pun menceritakan semuanya, tentang perasaanku, tentang pertunanganku dan Donghae, tentang kecelakaan beberapa hari yang lalu dan tentang gadis bernama Tiffany.

Kembali aku merasakan sesak mengingat Donghae dan Tiffany. Aku seharusnya tidak percaya saat dia mengatakan bahwa gadis itu hanyalah masa lalunya. Dan seharusnya aku bisa menjaga perasaanku untuk tidak lebih jauh jatuh padanya. Jika dipikir ulang semuanya tampak seperti kebodohanku.

“Bodoh!” bentak Yuri. Aku memicingkan mataku. Bagaimana bisa sahabatku mengataiku bodoh?

Aku mendesah, “Aku butuh hiburan Yuri-ya. Kenapa kau malah mengataiku bodoh?”

“Bagaimana mungkin kau bisa berpikiran pendek dan picik seperti itu? Kau hanya melihat Donghae dan Tiffany bersama, kan? Apa itu berarti dia masih mencintainya? Bisa saja kan mereka hanya bertemu karena sudah sekian lama berpisah, sebagai sahabat?”

Aku meresapi setiap bait yang diucapkan Yuri. Benar. Aku terlalu khawatir, jika semuanya tepat seperti dugaan Yuri berarti saat ini tidak ada siapapun yang memiliki hati Donghae. Setelah perbincangan kami beberapa hari yang lalu, aku merasa entahlah, aku tidak bisa menerka bagaimana perasaan Donghae yang sebenarnya.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku.

Yuri tertawa kecil, menertawai kebodohanku. “Kau benar-benar mencintainya, kan? Buat dia mencintaimu, dan jangan bertindak terlalu gegabah atau pun agresif. Tunjukkan perhatianmu tapi jangan terlalu gamblang.”

Aku mengulum senyum. “Kau memang yang terbaik Kwon Yuri,” teriakku bersemangat.

Seperti nasihat Yuri, aku pun menurutinya. Sudah beberapa hari ini aku memberikan perhatian kecil untuk Donghae. Dan Donghae pun tampak biasa saja meresponnyamaksudku dia tidak curiga tentang sikapku. Sikapnya padaku memang sudah tak sedingin dulu, sesudah kami memutuskan bertunangan.

Seperti saat ini, aku sengaja membawa bekal makanan dari rumah, karena setahuku biasanya Donghae hanya memakan makanan siap saji. Makan siang mungkin akan menjadi prioritasnya yang kesepuluh.

Aku mengetuk pintu kaca ruangannya. Dan tak lama terdengar suara beratnya yang mengatakan ‘masuk’. Dia tampak begitu sibuk, bahkan dia hanya melirikku sekilas lalu kembali menatap lembar dokumen di pangkuannya.

“Apa kau sibuk? Kebetulan aku memasak terlalu banyak, jadi aku bawakan untukmu. Makanlah!” kataku seraya menyerahkan sebuah kotak makan di mejanya. Dia mengalihkan perhatiannya dan menatap kotak bekal itu sejenak.

“Terima kasih,” ujarnya. Aku hanya mengangguk dan berjalan keluar. Tanganku terangkat hendak membuka pintu saat dia memanggilku. “Kau tidak ingin makan siang bersamaku?”

Dadaku berdesir. Perlahan tapi pasti aku akan merebut hati Donghae sepenuhnya dan tak akan membiarkan seorang pun dengan lancang memasukinya. Aku berdehem sejenak, berbalik dan mengangguk kecil. Dia bangkit dari kursi duduknya seraya mengambil kotak bekal dan berjalan menuju sofa. Aku menyusulnya dan duduk berseberangan dengannya.

“Apa nenek memaksamu untuk menikah lagi?” tanyanya di tengah-tengah makan siang kami. Aku tersedak, dia memberikan segelas air putih untukku.

Aku memasukkan sesendok nasi ke mulutku, mengunyahnya lalu menelannya sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. “Tidak,” jawabku.

Dia tersenyum tipis. Aku lupa sudah sejak kapan Donghae menjadi murah senyum seperti ini, tapi aku menyukainya. Setidaknya tatapan matanya tak akan setajam saat wajahnya berubah menjadi begitu dingin.

“Biarkan saja seperti ini, lagipula aku yakin nenekku tidak akan memaksamu. Dan tentang nenekmu, jika kau perlu bantuan katakan saja padaku.”

Aku hanya mengangguk-angguk mendengar perkataannya. tidak ada pembicaraan lebih lanjut sampai kami sama-sama selesai menghabiskan makan siang. Aku melirik kotak bekal yang aku berikan padanya, habis tak bersisa.

“Apa aku perlu membawakanmu makanan setiap hari?” tanyaku ragu. Apakah ini terlalu menunjukkan perhatianku padanya?

Donghae mengernyit, “Makananmu memang enak, tapi—“

Nenek bahkan khawatir kau sakit karena saking seringnya kau makan makanan siap saji,” potongku cepat. Beruntung aku mengingat perkataan nenek sehingga aku memiliki alasan. Donghae hanya menatapku ragu, dan lagi aku tak bisa menafsirkannya.

“Jika itu tak merepotkanmu, tentu saja,” ungkapnya, tampak mengalah. Senyum merekah tersungging dari sudut bibirku. Dengan seperti ini aku akhirnya memiliki alasan untuk menemuinya setiap hari. Dan dengan membuatnya menatapku, menyadari keberadaanku di sekitarnya aku yakin akan membuatnya melihatku.

“Donghae…”

Donghae menatapku saat aku memanggilnya. Dahinya tampah mengernyit, menyiratkan kata ‘ada apa’ yang tak kasat mata. Tanganku terulur ke depan, membuatnya semakin menyernyit bingung. Tatapan kami bertemu. Aku hendak mengalihkan tatapanku, tapi rasanya susah sekali.

Aku mengerjap dan menarik diriku. “Ada sisa nasi di sudut bibirmu. Aku pergi dulu,” kataku cepat, secepat jantungku berdetak. Tanpa menunggu lebih lama lagi aku keluar ruangannya. Nafasku ngos-ngosan saking cepatnya kakiku melangkah.

Aku baru saja mematikan televisi dan beranjak menuju kamar saat terdengar ketukan di pintu apartemenku. Aku melirik jam dinding sekilas. Jam sepuluh malam. Siapa yang bertandang ke rumah orang malam-malam seperti ini?

Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian tak mengenakkan yang terjadi. Adanya seseorang yang mengaku sebagai tamu tapi ternyata hanya sebuah kamuflase belaka. Orang yang tampak ramah justru ternyata adalah seorang penjahat. Dan mau tak mau hal ini membuatku menjadi parno sendiri.

Aku bisa merasakan jantungku berdebar seiring dengan ketukan di pintu. Saat melihat payung yang terletak di sudut ruangan, aku buru-buru meraihnya dan melangkah pelan ke arah pintu. Aku merutuki kelalaianku yang lupa melapor pada pengurus gedung bahwa intercom di ruang depan rusak. Mau tidak mau sekarang aku harus menghadapi situasi seperti ini.

Ketukan di pintu masih terdengar sesekali. Aku mengendap-endap, membuka pintu dan gerendel secara halus sehingga tidak menimbulkan suara. Saat kubuka pintu perlahan, aku melihat seseorang berdiri membelakangiku, memakai kaos kusut dan rambut acak-acakan. Saat dia berbalik secara reflek aku mengayunkan payungku ke arahnya dengan sekuat tenaga.

“Hei, hei! Tenanglah! Im Yoona! Ini aku!”

Aku menghentikan ‘penyeranganku’ dan melihat kedua tangan kekar mencekal tanganku. Aku mendongak dan melihat Donghae sedang memandangiku dengan wajah bingung dan kesakitan. Buru-buru aku melepaskan tanganku dari cekalannya dan menundukkan wajah.

“Ada apa denganmu?” dia menggosok-gosok tangannya yang terlihat lebam karena pukulan payungku. Aku hanya bisa meringis tipis.

“Maafkan aku, kukira kau orang lain.”

Tanpa berkata apa-apa, dia menerobos masuk ke apartemenku dan mengamati intercom yang terpasang disana, lalu memandang ke arahku yang masih terpaku di depan pintu.

“Kau tahu, kau ini pintar tapi tidak bisa mengapresiasikannya,” katanya pelan, lalu berjalan kembali ke arahku.

“Apa maksudmu?” tanyaku sengit.

Apa maksudnya? Dia mengejekku secara terang-terangan. Aku benar-benar merasa dia punya banyak sisi yang tidak aku ketahui, seperti sikapnya padaku saat ini.

“Kau seorang wanita. Bagaimana jika ternyata yang datang bukan aku?”

Itulah yang aku pikirkan sejak tadi bodoh.

“Aku bisa menjaga diriku sendiri,” balasku telak. Aku menatapnya tajam, tepat di manik matanya. Donghae hanya terdiam mendengar perkataanku. Dia memandangiku tanpa berkedip sekalipun.

Tanpa aku duga dia berjalan mendekat dan merengkuh tubuhku, masuk ke dalam pelukannya. Aku membeku dalam rengkuhan tangannya, dadaku berdebar keras sampai aku takut Donghae bisa mendengarnya. Aku takut perasaanku akan terbongkar. Tidak, ini terlalu dini untuknya mengetahui semuanya.

Hembusan nafasnya terasa hangat di telingaku seiring dengan kata-kata manis yang meluncur dari bibirnya, “Aku tahu kau bisa menjaga diri. Tapi hal ini membuatku takut.”

Beberapa detik kemudian dia melepaskan pelukannya, dan aku masih tidak bergerak memandanginya. Dia melepas senyum manisnya padaku, lalu mengacak-acak rambutku dan berjalan menuju ke arah pintu.

“Tidurlah. Temani aku pergi ke pameran bisnis besok,” katanya sebelum melangkah keluar.

Dia kembali tersenyum, lalu berjalan menjauh menuju lift.

“Tunggu!”

Dia menghentikan langkahnya dan berbalik dengan pandangan bertanya.

Kupaksakan lidahku yang ikut membeku berkata, “Ini sudah malam. Kau tidak mau bermalam disini?”

Sedetik setelah aku mengatakannya, aku merutuki diriku sendiri. Apa yang baru saja kau katakan Im Yoona? Kau mengajak seorang pria bermalam di apartemenmu? Gadis macam apa kau ini? Meskipun dia tunanganmu tidak seharusnya kau mengatakannya.

Meskipun hatiku berdebat dan menyerangku habis-habisan, ada sebersit harapan Donghae akan melangkah kembali dan menyetujui ajakanku.

Dia tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Aku masih ada urusan.”

“Dengan siapa?” sebaris pertanyaan bodoh lagi-lagi meluncur dari bibirku. Aku kembali merutuki diriku sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh.

“Tiffany.”

Bum.

Donghae berbalik dan berjalan menuju lift. Sebelum menutup pintu lift, sempat kulihat wajah dinginnya kembali terpasang. Kakiku sendiri tidak bisa bergerak, entah apa yang menahannya sekuat ini. Dadaku sesak. Mataku memanas. Pelan-pelan, kupaksakan diriku masuk sebelum pintu lift menutup.

Aku berjalan limbung menuju kamar, dan langsung duduk di tepi kasur tanpa bisa berkata apa-apa. Apa maksud dari pemuda itu? Sekarang dia terang-terangan menyebutkan kehadiran Tiffany di depanku.

Brengsek.

Brengsek, brengsek, brengsek!

Dia benar-benar pandai membawaku terbang sampai setinggi langit tertinggi dan kemudian menghempaskanku sampai masuk ke dalam lapisan bumi terdalam.

Buru-buru kuusap air mataku yang menetes. Pria seperti itu tidak pantas untuk kau tangisi Im Yoona. Tenanglah. Jangan menangis. Jangan menangis…

Semakin aku berusaha meyakinkan diriku untuk tidak menangis, isak tangisku semakin terdengar dan membuatku terjatuh di tempat tidur.

Bagaimana bisa? Apa Tiffany bersama Donghae saat ini? Apa Tiffany sedang menunggu di mobil saat Donghae menemuiku tadi? Pikiranku melayang saat kuingat Donghae menggunakan kaos yang kusut dan rambut acak-acakan. Ya Tuhan, apakah mereka…

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan cepat, mengenyahkan pikiran buruk yang melintas. Dua sisi hatiku saat ini tengah berdebat hebat menanggapi satu kata dari Donghae tadi.

Aku lelah. Sangat lelah.

Malam itu aku tertidur dengan perasaan yang sama saat aku berpisah dengan Max.

Aku terbangun saat kudengar ponselku berdering tak henti-henti. Aku memegangi pelipisku. Kenapa kepalaku sakit sekali?

Aku berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin sembari melangkah menuju meja kecil di seberang tempat tidurku. Ah, aku ingat sekarang. Kejadian tadi malam. Donghae yang datang dan memelukku. Memelukku.

Pipiku memanas dengan cepat diiringi dengan desiran halus di hatiku. Namun perasaan hangat itu menghilang saat aku mengingat kata-kata terakhir Donghae. Sial. Kenapa aku tidak pernah beruntung dalam percintaan? Apa aku pernah berbuat salah dengan seseorang dulu sehingga orang itu dengan senang hati mengutuk kehidupan cintaku?

Dua pesan dan lima missed call dari orang yang sama. Isinya sama, menyuruhku bersiap karena dia dalam perjalanan menuju apartemenku.

Apakah aku harus datang bersamanya? Tapi jika aku datang semuanya akan terasa canggung mengingat percakapan terakhir kami dan wajah dingin Donghae yang kembali terpasang saat meninggalkan apartemenku. Kemungkinan besar aku juga akan bertemu mantan pacar Donghae yang cantik dan pandai merebut hati tunanganku itu.

Baiklah, aku akan tetap tinggal di rumah. Masa bodoh dengan tuan berwajah dingin itu. Aku tidak peduli.

Baru saja aku akan menghempaskan tubuhku ke tempat tidur, ponsel yang kupegang berdering. Sebelum melihat layar ponsel aku sudah tahu pasti siapa. Aku menunggu dering itu menghilang, kemudian mematikan ponselku dan terduduk di atas tempat tidur.

Apa yang dilakukan Donghae dengan kaos kusut dan rambut acak-acakan kemarin? Apa Tiffany yang membuatnya seperti itu? Sial. Apa dia tidak ingat bahwa cincin pertunangan sudah melingkar di jarinya. Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Aku berani bertaruh dia menangkap sedikit perasaanku padanya. Atau bahkan seluruhnya.

Lalu apa arti pelukan itu? Apa arti kata-katanya kemarin, bahwa aku membuatnya takut? Apa dia ingin menghancurkanku pelan-pelan, menyiksaku sebelum akhirnya melihat aku hancur secara sempurna?

Aku menggigit bagian bawah bibirku sampai terdengar ketukan-ketukan keras di pintu apartemenku. Aku tersadar dari lamunanku, tanpa mengindahkan ketukan itu aku berbaring di tempat tidur dan menarik selimut. Dalam diam aku mendengarkan ketukan yang terus terdengar sampai di kamarku.

Ketukan itu menghilang, membuatku menarik nafas lega. Dia pergi dan aku tidak harus bertemu dengannya lagi.

“Kenapa kau tidak bersiap-siap?”

Aku tersentak dan menoleh menuju ke arah sumber suara. Terlihat Donghae telah siap dengan setelan kebesarannyacelana panjang hitam dengan kemeja biru laut dan jas tersampir di tangan kirinya yang bebas, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel. Dia sedang berdiri di pintu kamarku yang terbuka.

Aku mengerjap beberapa kali, dan seolah tersadar aku reflek bertanya, “Apa yang kau lakukan?”

Donghae memasang wajah kebingungan, yang sedetik kemudian berubah menjadi wajah dinginnya yang kulihat semalam. Dia memandangku tajam dan berkata, “Waktumu lima belas menit.” Kemudian dia berbalik dan melangkah menuju ruang tamu.

“Kau pergi saja sendiri.” Aku berteriak keras sebelum dia berjalan menjauh. Dia menghentikan kakinya, terpaku beberapa detik lalu berbalik dan kembali memandangku dengan wajah dinginnya.

“Apa maksudmu?” tanyanya singkat.

“Aku tidak mau datang bersamamu,” balasku tajam. Mungkin saja dia berpikir aku tunangan yang kurang ajar. Aku tidak peduli lagi apa yang dipikirkannya tentangku sekarang.

“Kau pergi saja dengan pacarmu itu. Siapa namanya? Oh ya, Tiffany. Kenapa kau tidak mengajak dia saja untuk menemanimu. Kau takut di cap sebagai pria yang tidak setia dengan tunangannya? Ah, ya. Kau takut imagemu sebagai pria idaman yang kaya dan baik menjadi rusak.”

Donghae masih memandangku dengan dingin, namun sempat kulihat rona keterkejutannya saat kukatakan hal yang panjang itu padanya.

“Kau cemburu?”

Aku tertawa sinis, “Untuk apa? Toh pertunangan ini hanya permainan yang tidak menggunakan perasaan.”

“Kau menganggap hal ini seperti itu?” raut wajah dingin Donghae menghilang, digantikan rona keterkejutan yang tidak dapat dia sembunyikan seperti biasanya. Hal ini membuatku sedikit terkejut, namun buru-buru kupasang wajah dinginku kembali.

“Dengar, jika memang kau tidak ingin datang, katakan saja. Aku tidak akan memaksamu.”

Setelah mengatakan hal itu, dia berbalik. Namun sebelum dia melangkah lebih jauh meninggalkan kamarku, dia berbalik dan berkata pelan, “Aku tidak pernah menganggap hal ini sebagi permainan, Im Yoona.”

Sejak saat itu, hubungan kami merenggang. Dia jarang mengirimiku pesan sekedar bertanya apakah aku baik-baik saja seperti sebelumnya. Aku juga enggan mengiriminya pesan, walaupun aku masih mengiriminya bekal setiap hari. Bedanya, aku tidak lagi menemuinya secara langsung seperti sebelumnya. Aku menitipkan bekal yang aku buat pada Jessica.

Di kantor pun, kami hanya saling melirik sekilas saat secara tidak sengaja berpapasan.

Diam-diam, aku tahu bahwa dia masih sering bertemu dengan Tiffany. Aku juga tahu para karyawan terkadang membicarakan sikap saling dingin kami. Kemudian mereka akan diam dan bertingkah seolah tidak ada yang mereka bicarakan saat melihatku.

“Yoona-ssi, tiga puluh menit lagi kita akan meeting dengan para pemegang saham di perusahaan ini.”

Suara Leeteukatasanku di kantor inimembuyarkan konsentrasiku yang sedang berkelana di mana-mana. Aku mengernyitkan dahiku, “Baik. Tapi kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya?”

“Ini memang mendadak. Beberapa menit yang lalu Donghae-ssi baru mengabariku tentang hal ini. Bersiap-siaplah.” Aku memangguk seiring dengan langkah Leeteuk ke ruangannya.

Hari ini aku akan bertemu dengan Donghae dalam waktu yang cukup lama setelah percakapan terakhir kami beberapa hari lalu. Entah apakah aku bisa berkonsentrasi dengan baik jika wajahnya terus ada dalam pikiranku.

Tiga puluh menit kemudian, aku mengekor di belakang Leeteuk memasuki ruang meeting dan mengambil kursi di sampingnya. Sempat kucari Donghae dengan ekor mataku. Kursinya masih kosong. Aku menoleh mencarinya, dan dia tidak ada dimana-mana.

Aku menunduk dan baru akan membuka lembaran kertas dalam map yang berisi tentang materi meeting saat kudengar suara yang akhir-akhir ini terus terngiang dalam pikiranku.

“Selamat siang. Saya akan langsung pada inti dari meeting ini. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan Direktur Marketing baru kita, Tiffany Hwang.”

Aku tersentak dan otomatis mendongakkan kepalaku dan melihat Tiffany dengan senyumnya berdiri di samping Donghae. Tanpa terasa dadaku berdegup dan terasa nyeri yang sangat. Aku berusaha untuk tersenyum sewajarnya dan memfokuskan pikiranku pada meeting ini. Aku menundukkan wajahku, berusaha untuk tidak memandang Donghae dan Tiffany yang duduk berdekatan.

Sial, aku tidak bisa.

Saat meeting baru berjalan sekitar sepuluh menit, aku buru-buru meminta ijin untuk meninggalkan ruangan dan langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari siapapun di ruangan itu. Aku berjalan cepat menuju lift dengan perasaan kacau dan mata memanas.

Sial. Apa maksud dari semua ini? Dia benar-benar ingin menyiksaku, hah?

Kakiku melangkah dengan cepat serta wajah menunduk, berusaha menyembuyikan bening air mata dalam mataku, tidak membalas semua sapaan dari orang-orang di kantor ini. Begitu tiba di tepi jalan, buru-buru aku menghentikan sebuah taksi yang lewat dan masuk kedalamnya.

Tangisku pecah begitu aku masuk ke dalam taksi. Merutuki semua kebodohanku. Sikap Donghae pasti akan lebih dingin setelah ini. Dan mungkin saja hubungan kami akan lebih merenggang.

Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum senang. Dengan merenggangnya hubungan kami, kami tidak akan susah untuk memutuskan pertunangan ini. Ya, pasti akan mudah.

Sedetik kemudian, senyum senang yang kupaksakan berubah menjadi senyum sinis dan tangis yang kembali pecah. Aku sempat melirik sopir taksi yang melirik sekilas dari kaca spion dengan wajah kebingungan.

Dering ponsel sedikit menahan laju tangisku. Kulihat nama Jessica terpampang disana. Aku memutuskan untuk mengangkatnya. Biar saja dia tahu aku menangis, toh semua ini sudah berakhir. Pertunangan kami sudah selesai di mataku.

“Yoona, apa kau baik-baik saja?”

“Ya, aku baik-baik saja.” Aku menjawab singkat, meredam suara sengau yang timbul setelah menangis.

Jessica terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan kata-katanya, “Yoona, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian tapi aku sangat berharap kau baik-baik saja.”

Aku mendesah pelan kemudian menjawab, “Terima kasih, Jessie.”

Jessica kembali terdiam, sedetik kemudian suaranya kembali terdengar, “Meeting ditunda karena beberapa menit setelah kau pergi, Donghae menjadi agak kacau. Kemudian dia buru-buru menghentikan meeting dan meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa.”

Kali ini giliran aku yang terdiam. Apa yang barusan Jessica katakan?

“Baiklah, hanya itu yang ingin aku katakan. Dan…jika kau butuh seseorang, aku ada disini, Yoona.”

Aku masih terdiam, antara mendengarkan Jessica dan melamun. Suara Jessica kembali terdengar, “Aku akan menutup telepon ini.”

Buru-buru aku menjawab, “Sekali lagi, terima kasih, Jessica.”

Aku dapat merasakan senyum Jessica disana, kemudian telepon ditutup.

Kini setelah tangisku berhenti, aku kembali melamunkan apa yang dikatakan Jessica. Sebersit keinginan bahwa Donghae akan menyusulku. Aku tidak berusaha untuk mengenyahkan keinginan itu. Aku benar-benar ingin hal itu terjadi.

Tapi, sampai hari semakin larut, belum ada tanda-tanda Donghae akan menyusulku. Tidak ada pesan maupun telepon darinya. Sial. Tampaknya harapanku benar-benar akan pupus.

Demi membuat hati dan pikiranku tenang, aku memutuskan untuk berkemas dan pulang sejenak ke rumahku di Daegu. Masa bodoh jika orang-orang di rumah mengetahui jika aku ada masalah dengan Donghae. Pertunangan ini akan segera berakhir. Lebih cepat dari perkiraanku sebelumnya.

Saat aku menarik kenop pintu apartemen dan membukanya, aku terkejut saat melihat Donghae dengan baju yang lagi-lagi kusut dan raut wajah berantakan sedang mengangkat tangan akan memencet bel.

Kami terkejut selama beberapa detik, saat mulut kami membuka secara bersamaan.

“Sedang apa kau disini?”

“Apa yang kau lakukan?”

Kami terdiam kembali. Tanganku masih memegang koper saat Donghae berkata, “Jangan pergi.”

Aku mendesis. Lagi, Donghae kembali mempermainkan perasaanku. Dia benar-benar hebat untuk masalah ini. Kututup pintu apartemen dan segera menarik koper merah bata. Donghae menatapku dengan tajam, sedangkah aku hanya tersenyum tipis.

“Aku harus pergi.”

Aku mengabaikannya dan berjalan dengan cepat. Tak ada suara tapak kaki selain dari sepatuku. Dan itu artinya Donghae tidak mengejarku.

Maaf ya lama, dan special ini lumayan panjang LOL

Karakter Donghae-Yoona aku sendiri jadi semakin bingung di tiap partnya wkwk gagal deh:|

Advertisements

51 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s