You—Hana


tumblr_m4t4z3lx4n1qelgg3o1_500

You—Hana by jeanitnut

I thought that I had everything. I didn’t know what life could bring. But now I see, honestly.

Gadis berambut coklat itu menatap langit. Matanya berbinar cerah saat melihat sepasang merpati terbang melintasi penglihatannya. Terlihat seperti gadis tak waras saat tiba-tiba dia tertawa riang. Membuat seorang pemuda yang berjarak kurang dari sepuluh meter darinya mengerutkan dahi.

Segera dia memposisikan dirinya seperti semula saat mendengar langkah kaki seseorang mendekat. Diurungkannya niat untuk mengejar sang merpati karena objek penglihatannya kini benar-benar teralih pada pemuda tampan dihadapannya.

Kembali dia tersenyum sumringah, “Sunbae, kau sudah datang…”

Pemuda yang beberapa saat lalu hanya berdiri mematung itu kini mendekat. Belum sampai dia ke tempat tujuannya, gadis itu sudah lebih dulu mendekat. Meraih pergelangan tangannya dan menariknya untuk duduk.

What happened to you, Hana?” tanyanya ragu.

Hana hanya tersenyum kecil. Jantungnya berdegub kencang. Hanya sebuah pertanyaan basa-basi tapi sudah cukup membuatnya melonjak kegirangan. Well, mungkin dia memang sudah jatuh terlalu dalam pada pemuda disampingnya.

Dia masih ingat saat pertama mereka bertemu. Kala itu, Hana sedang menatap langit senja dibawah pohon maple yang terletak tak jauh dari Kyunghee Universitykampusnya. Dalam keadaan lelah dengan tumpukan tugas yang menjeratnya dia mendapati kenyataan bahwa kekasihnya Byun Baekhyun ternyata menghianatinya.

Weirdo

Dia tahu semua orang memanggilnya seperti itu. Mata dan rambut coklatnya membuatnya terlihat aneh. Dan dia juga sadar diri, bahwa bersanding dengan seorang pemuda bernama Baekhyun adalah hal yang sangat sulit untuknya.

“Hana-ya…”

Hana mengerjap, “Ah, ada apa Luhan sunbae?”

Luhan berdecak kesal, lagi-lagi dia mendapati Hana melamun. Dalam hati dia mengutuk, menyadari bahwa pribadi gadis itu memang aneh seperti yang diceritakan oleh teman-temannya. Tapi dibalik semua itu, dia harus mengakui bahwa gadis itu memiliki banyak hal yang bisa membuat semua orang patut memandangnya.

“Hana-ya…”

Hana mengerjap sekali lagi. Pipinya bersemu merah. Selalu seperti ini, saat pemuda itu memanggil namanya. Dia bahkan hampir tak percaya saat Luhan memanggil namanya dulu. Gadis itu menundukkan wajahnya, menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan agar tak ada seorang pun yang melihatnya menangis.

Don’t call me sunbae! Sudah berapa kali aku katakan panggil aku oppa, call me oppa!”

Hana tertawa terbahak-bahak saat melihat Luhan mengerucutkan bibirnya. Dia tak pernah menyadari jika disetiap aksinya, membuat pemuda disampingnya semakin bimbang. Luhan tak bisa mengelak lagi, dia pun akhirnya ikut tertawa.

Weirdo…”

Hana menghentikan aksi tawanya, ditatapnya pemuda disampingnya. Dia menghela nafas jengah. Lama-lama dia pun merasa risih dengan panggilannya. Bagaimana pun, dia tak pernah menginginkan kejadian beberapa bulan lalu kembali terulang. Dia bukan berniat mengubah sikapnya, karena beginilah dirinya. Dan dia tak mungkin menjadi orang lain. Tapi…

“….gadis seperti apa yang oppa inginkan?” tanyanya tiba-tiba.

Luhan menatap bingung gadis disampingnya. Kedua alisnya bertaut tanda dia tak mengerti. Apakah dia mengatakan sesuatu yang salah? Sebagai balasan, Hana hanya tersenyum tipis.

Wise, quite and kind…”

Hana menghembuskan nafas, yang tanpa dia sadari bahwa sejak tadi dia menahan nafas. Diam-diam dia menatap Luhan yang tengah menerawang. Satu hal yang diinginkan gadis itu adalah membaca setiap ekspresi dan tatapan mata pemuda itu.

“Apakah aku termasuk dalam ciri-ciri gadis itu?”

Luhan tersentak, “Apa?” Dia tertawa, membuat Hana hanya mendengus. Tawa itu terasa sangat hampar, dan Luhan pun menyadarinya.

Seharusnya sekarang dia bersorak gembira karena faktanya gadis itu benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Dulu. Sekarang, dia justru mengharapkan bahwa gadis itu tak pernah hadir dalam hidupnya. Dan dia tak pernah mengikat sebuah janji bodoh seperti yang dilakukannya saat ini.

“Aku tidak akan menjadi gadis aneh lagi,” gumam Hana. Gadis itu melirik pemuda disampingnya. Tepat saat Luhan menoleh, dia tersenyum, sangat manis. Bahkan Luhan pun harus mengakuinya.

“Kau tidak perlu melakukannya Hana…”

“Aku melakukannya dengan senang hati…”

Luhan menghela nafas. Jika sudah seperti ini, apa yang harus dilakukannya? Menjauhi gadis itu mungkin adalah pilihan yang tepat. Tapi, apakah dia sanggup melakukannya? Bukankah itu hanya akan menyakiti keduanya?

Hana tersadar, dia pun berdehem untuk menarik perhatian Luhan. Pemuda itu pun menoleh.

“Terima kasih karena telah menolongku saat itu…”

Luhan menggeleng. Terima kasih dari gadis itu tak seharusnya ditunjukkan untuknya. Dia tidak melakukan apa-apa karena semua memang sudah terencana.

I will be, all that you want

And get myself together

Because you keep me from falling apart

Kedua pemuda itu saling menatap sengit. Sedang seorang pemuda lainnya hanya bisa mengedikkan bahu melihat tingkah kedua sahabatnya. Ditepuknya bahu salah satu dari mereka, membuatnya tersadar.

Luhan mendesis saat menyadari kedua temannya saling tersenyum memandangnya. Pemuda yang beberapa menit lalu menatapnya dengan sengit itu kini menepuk pundaknya. Menyiratkan bahwa ada rasa bangga disana.

“Kau benar-benar hebat Luhan,” ujarnya.

Luhan tak bergeming, dia masih sibuk berperang dengan hatinya. Dia tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Sebagai seorang laki-laki, dia tumbuh menjadi pemuda yang hebat. Dalam kamus hidupnya, tak ada penyesalan. Tapi segalanya berubah sejak satu bulan lalu.

“Ini bahkan terlalu dini, tapi ternyata gadis itu sudah betekuk lutut dihadapanmu,” kini pemuda yang paling pendek diantara ketiganyalah yang menyuarakan rasa kagumnya.

Luhan tertawa kecil. Dibuangnya pikiran aneh yang bersarang di otaknya. “Dia benar-benar gadis aneh,” gumamnya.

“Dan menarik,” imbuh temannya. Luhan hanya mengangguk-angguk menyetujuinya.

Dia menarik sebotol soju dan menuangkannya di gelas lantas meminumnya. Ini bukan kali pertama dia meminum soju, tapi diantara sahabat-sahabatnya dialah yang paling nomal dengan tidak membuang uang hanya untuk membeli soju. Dan sekarang, saat teman-temannya tidak menuangkan sedikitpun di gelas mereka, justru dia melakukannya.

“Ada apa?” tanyanya saat mendapati teman-temannya tengah menatapnya.

Pemuda berambut coklat di depannya hanya mengedikkan bahu. Dia pun mulai menuangkan soju ke gelasnya. “Jadi, kapan kau akan melakukan eksekusinya?” tanyanya.

Luhan kembali menuangkan soju ke gelasnya. Pikirannya benar-benar penuh. Rasanya seolah ada beban berat yang menghimpitnya. Bahkan satu gelas soju pun tak berhasil membuatnya melupakan sosok itu. Benar-benar sudah parah.

“Oh Sehun, bagaimana kalau aku melanggar perjanjian kita?”

Pemuda bernama Oh Sehun itu pun hanya memandang bingung sahabatnya. Dia pun menyadari bahwa sahabatnya itu sudah mulai tak waras karena pengaruh soju. Tapi dia sadar apa yang ditanyakan Luhan mungkin saja terjadi. Dan dia tidak akan membiarkannya.

“Kau bercanda kan?” pemuda yang duduk dipaling ujung kembali bersuara.

Luhan tertawa, “Tentu saja. Kau pikir aku bodoh?”

Kedua orang itu menghembuskan nafas lega. Tapi Sehun, diam-diam dia masih memikirkan perkataan Luhan. Bagaimana pun dia tak akan pernah bisa menerima kenyataan jika pemuda itu benar-benar melakukan hal bodoh.

“Jika kau melanggar perjanjian, kau akan kehilangan persahabatan kita dan juga kehilangan dia.”

Luhan menghentikan tawanya saat mendengar perkataan Sehun. Pemuda itu menyeringai kecil menatap kedua sahabatnya.

Hana mengerucutkan bibirnya saat mendapati Luhan datang terlambat. Hari ini mereka berjanji untuk menghabiskan liburan dengan pergi ke kebun binatang. Kurang lebih sudah setengah jam dia duduk menunggu di depan flatnya. Dan entah sudah berapa orang yang menyapanya, menanyakan kemanakah dia akan pergi.

Gadis itu bersedekap, sengaja menampilkan wajah kesal saat mendapati Luhan tengah berlari kecil ke arahnya. Dalam balutan plaid berwarna abu-biru-putih pemuda itu terlihat begitu tampan. Hana harus mengontrol emosinya agar matanya tetap bekerja dengan benar dan tidak terpaku pada objek di depannya.

“Kau sudah lama menunggu?”

Hana merengut, “Kau bertanya padaku dengan ekspresi tanpa dosa seperti itu? Are you kidding me, Luhan-ssi?”

Luhan tertawa kecil. Kapan gadis itu akan berhenti membuatnya untuk tidak tertawa? Dia yang dulu hanya akan tertawa saat Sehun dan Baekhyun merengut kesal karena kalah bermain game dengannya, kini hanya dengan tingkah lucu seorang gadis dia bisa tertawa terpingkal-pingkal. Ini aneh.

Sorry, kau tau sendiri kan jalanan kota Seoul benar-benar macet,” ujarnya. Tangannya bergerak begitu saja mengacak-acak rambut Hana.

“Jangan mengacak-acak rambutku oppa! Aku tidak mau terlihat lebih aneh lagi, huh!” protes Hana.

Luhan menghentikan aksinya. Masih dengan senyum yang selalu tersungging dari sudut bibirnya dia menarik tangan mungil gadis itu. Menuntunnya menuju mobilnya.

Kurang lebih satu jam mereka baru tiba di kebun binatang. Padahal dalam keadaan normal, mereka hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit. Hana meringis, menyadari bahwa Luhan tidak berbohong padanya.

Oppa mianhae. Aku tidak menyangka jalanan akan ramai seperti ini, kau benar-benar terlambat karena macet,” ujar Hana seraya menunduk.

Luhan terpaku. Sedangkan Hana hanya bisa menunduk menyesali sikap kekanak-kanakkannya padahal dia sudah berjanji akan menjadi seorang gadis yang bijaksana.

Mereka tiba, dan dengan segera Luhan membukakan pintu mobil untuk Hana. Dia tertawa kecil saat mendapati raut terkejut Hana karena ternyata mereka sudah tiba. Dia menarik tangan mungil gadis itu, menggenggamnya dengan erat.

Luhan merasa begitu nyaman, Hana pun merasakannya. Kedua tangan itu seolah memang ditakdirkan untuk saling menggenggam.

Mereka mengitari kebun binatang dengan tawa riang. Tawa itu kebanyakan keluar dari bibir Luhan saat melihat tingkah Hana yang lucu. Seperti saat ini misalnya, Hana sedang meniru gaya seekor monyet yang ada dibelakangnya. Dan dengan lucunya dia meminta Luhan mengabadikannya.

“Kalian mirip sekali, apa jangan-jangan kalian bersaudara?” tanya Luhan saat melihat hasil potret Hana dan seekor monyet.

Hana memukul bahu Luhan pelan, tapi pemuda itu berpura-pura kesakitan. Hana dengan segera mengelusnya. “Apa aku memukulmu terlalu keras?”

Luhan mengangguk. Hana meringis, “Lain kali, jangan mengataiku atau aku akan memukulmu lebih keras lagi oppa.”

Luhan tertawa kecil. Hana hanya tersenyum dan terus memandang sosok pemuda tampan yang tengah tertawa disampingnya. Dia sangat menyukai tawa Luhan yang menurutnya sangat indah. Dia tahu jika Luhan memiliki suara yang sangat merdu, bahkan saat dia tertawa pun masih terlihat jelas.

“Kau suka sekali tertawa saat bersamaku, apa itu artinya kau bahagia?” tanya Hana.

Luhan balas menatap gadis disampingnya. Dia menghirup oksigen sejenak. “Tentu saja aku bahagia…”

Hana tersenyum. Setiap jawaban dari pertanyaan yang diajukannya pada pemuda itu memang selalu berhasil membuatnya bahagia. Membuat jantungnya berdetak tak karuan.

Keheningan menyelimuti keduanya. Sudah sekitar dua jam lebih mereka mengelilingi kebun binatang. Hana mendongak saat mendapati Luhan berdiri.

“Aku akan membeli minuma, kau tunggu di sini, mengerti?”

Hana mengangguk seraya tersenyum. Cara Luhan memperingatkannya mau tak mau membuatnya tersenyum kecil. Matanya menerawang menatap rerumputan di depannya. Saat ini, dia berada di wilayah kebun binatang yang cukup sepi. Dengan udara sejuk dan bersih yang masih bisa dinikmatinya.

Suara tawa seseorang membuyarkan lamunannya. Dari ujung kanan dia melihat dua orang pria saling tertawa memandangnya. Hana menahan nafas, tiba-tiba perasaan tak enak menggelayutinya. Dia melirik ke ujung kiri, arah dimana Luhan membeli minuman.

Tawa itu semakin keras seiring langkah pria itu yang semakin mendekat. Dari jarak yang cukup dekat, Hana bisa merasakan jika kedua pria itu bukanlah pria baik-baik. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan?

Dijaman sekarang memang banyak sekali penjahat yang menyamar. Dan bukan tidak mungkin kedua pria itu diantaranya. Hana menggenggam kuat-kuat tas selempangnya. Dia ingin pergi meninggalkan tempat itu, tapi dia harus pergi kemana? Bagaimana jika Luhan mencarinya?

“Hallo sayang, mau bermain-main dengan paman?” seorang pria bertato menyeringai ke arahnya. Hana segera menepis tangan pria berjenggot yang menyentuh tangannya.

Don’t ever touch me!” ujarnya sengit.

Kedua pria itu hanya tertawa terbahak-tabak. Bahagia mendapatkan mangsa baru di tempat yang cukup langka. Hana berteriak saat pemuda bertato mengambil tas tangannya. Mengeluarkan semua isinya sehingga kini berhamburan di tanah. Hana mengutuk dirinya saat pria itu memasukkan handphonenya ke dalam saku. Dia bahkan tak berpikir untuk menghubungi Luhan. Dasar bodoh!

“Kita bermain-main sebentar manis…”

Hana menjerit saat kedua pria itu menariknya, membawanya ke tengah semak-semak. Tangan pria itu membekap mulutnya. Dengan kuat dia menggigitnya dan sebuah tamparan didapatinya. Pipinya terasa panas. Dia bahkan bisa merasakan asinnya darah, entahlah apa yang sudah terjadi dengan bibirnya. Sekarang, dia hanya bisa berharap Luhan segera datang.

Hana melotot saat medapati pemuda itu mendekatkan wajahnya. Dia ingin menangis, meraung, menjerit tapi lidahnya terlalu kelu. Dipejamkannya kedua matanya, berharap bahwa semua hanyalah mimpi belaka.

Buk.

Satu menit…

Dua menit…

Lima menit…

“Hana-ya…”

Tubuh gadis itu gemetar. Dengan perlahan dia membuka matanya. Kini, dia mendapati Luhan didepannya. Sedang disekelilingnya, ada dua orang yang terbujur kaku dengan luka lebam. Ini bukan mimpi, tapi semua berakhir indah.

Hana menghambur memeluk Luhan. Tubuhnya masih gemetar. Jantungnya berdegub kencang.

“Tenanglah, semua baik-baik saja,” bisik Luhan. Perasaan nyeri pun dirasakannya. Dia masih bisa merasakan tubuh mungil gadis dipelukannya yang mengejang. Gadis itu tidak menangis dan mengatakan apapun, membuatnya tak tahu harus melakukan apa.

Luhan menuntun Hana dan membawanya menjauh. Keduanya berhenti di bangku taman yang cukup sepitapi tidak terlalu sepi seperti yang mereka tempati beberapa saat yang lalu. Luhan menyodorkan segelas teh yang dibelinya, Hana menerimanya.

Mereka duduk diam selama lima belas menit. Luhan membiarkan gadis disampingnya tenang dengan sendirinya. Sedang dia sendiri sibuk menetralkan emosinya yang teracak-acak.

“Terima kasih, oppa.”

Luhan menghela nafas lega mendapati Hana kini berbicara. Tampaknya, emosi gadis itu sudah mulai stabil. Dia menatap langit sejenak yang tampak mendung.

“Kita pulang sekarang?” tawarnya. Hana menangguk.

Luhan berjongkok di depan gadis itu. Hana hanya mengernyit bingung.

“Naiklah…”

“Tapi…”

Belum sempat Hana memprotes, Luhan sudah menarik tangan gadis itu. Hana menyenderkan kepalanya di pundak Luhan. Dalam gendongan pemuda itu, rasanya semuanya begitu indah. Hidupnya serasa bagaikan mimpi.

“Semuanya akan baik-baik saja, kau tenang saja,” kata Luhan menenangkan.

Hana tersenyum dan mengangguk.

“Aku berharap akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu…Luhan-ssi…”

All my life, I’ll be with you forever

To get you through the day

And make everything okay

Luhan mendengus saat mendapati kedua sahabatnya sudah berdiri menyambutnya kala dia membuka pintu pagar. Saat ini, dia benar-benar tak mengharapkan kehadiran dua orang itu. Benar saja, kejadian yang baru saja terjadi sudah cukup membuat hati dan fisiknya lelah, jadi apalagi sekarang?

“Kau sudah melakukannya?” tanya Sehun.

Luhan menatap pemuda itu sejenak lantas membuka pintu rumahnya. Dia memasuki rumah dan segera menuju dapur untuk sekedar menyegarkan tenggorokannya dengan air putih. Sedangkan kedua sahabatnya itu memilih untuk duduk menunggu di ruang keluarga.

“Aku tidak bisa menyakitinya Sehun-ah…”

Sehun dan Baekhyun membelalakkan matanya. Seolah hal yang baru saja mereka dengar adalah hal paling mustahil. Sehun menatap tajam Luhan, tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda itu.

“Apa maksudmu?” tanyanya sengit.

“Aku…dia gadis yang baik Sehun, dia tidak membunuh Gaeul. Itu murni kecelakaan.”

Sehun tertawa mengejek, “Apa kau bilang? Gadis itu jelas-jelas berada disisinya dan hanya melihat. Seharusnya jika dia menarik Gaeul, atau paling tidak berteriak padanya, dia masih hidup sekarang!”

Suasana terasa begitu mencekam. Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dalam mimpinya pun dia tak pernah menyangka jika sahabatnya akan menghianatinya.

“Jika kau tidak bisa melakukannya, maka aku sendiri yang akan menghancurkan hidupnya! Kau tinggal memilih.”

Sehun mengatakannya dan berlalu begitu saja. Suara gebrakan pintu terdengar saat Sehun berlalu. Luhan hanya menghela nafas jengah. Dia sendiri pun tak pernah menyangka akan sebegini rumit jadinya.

Baekhyun menepuk-nepuk pundaknya, “Aku tahu bagaimana perasaanmu.”

“Dan aku tahu bahwa aku tidak sebrengsek dirimu,” ujarnya sarkatis.

Hana sudah kembali menjadi gadis yang ceria. Kejadian beberapa hari yang lalu sudah dibuangnya jauh-jauh. Toh, kejadian mengerikan seperti itu memang selayaknya dibuang, kan?

Gadis itu mematut dirinya di depan cermin. Beberapa saat yang lalu, dia mendapatkan pesan dari Luhan yang mengajaknya makan malam. Suatu kejadian yang langka menurutnya. Tapi entahlah, dia bukan tidak bahagia, tapi sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan pemuda itu.

Ting tong.

Hana mengambil tas tangannya dan berjalan menuju pintu. Gadis itu mendapati Luhan tengah berdiri dan tersenyum menatapnya. Gadis itu balas tersenyum dan berjalan menyusul Luhan.

Are you okay?” tanya Luhan khawatir.

Hana hanya mengangguk dan tersenyum. “Kita akan kemana?” tanyanya. Ini masih terlalu sore untuk mereka makan malam.

Luhan hanya tersenyum sembari melajukan mobilnya menuju taman kota. Hari ini ada pesta penyambutan musim panas, pasti akan sangat indah. Hana bahkan melupakan itu, rasanya musim berganti begitu cepat.

Keduanya duduk di kedai tak jauh dari taman. Seorang barista membawakan dua buah jus melon untuk mereka. Hana menatap lalu lalang orang yang berbondong-bondong datang menuju taman. Benar-benar padat.

“Hana, may I ask you something?”

Hana menatap Luhan sejenak, lalu mengangguk.

Luhan menghela nafas sejenak sebelum menyuarakan pertanyaannya, “Apa kau mengenal gadis bernama Gaeul?”

Seperti dugaan Luhan sebelumnya, tubuh gadis itu mengejang. Luhan bahkan bisa melihat raut keterkejutan di wajah gadis itu, wajah itu pun kini tampak pucat pasi.

“Apa yang ingin kau ketahui oppa?” ujarnya lirih.

Sesak ikut dirasakannya, “Apa yang sebenarnya terjadi?”

Hana menghela nafas berat. Digigitnya bibir bawahnya. Lima tahun dia menyimpan semuanya sendiri. Kenangan pahit masa remajanya. Kenangan memilukan tentang sahabatnya. Dan sekarang, mungkin saatnyalah dia membaginya.

“Aku mengenal Gaeul…” imbuh Luhan.

Hana tersenyum tipis, “Seharusnya aku menolongnya saat itu. Aku benar-benar terpaku dan lidahku kelu saat tiba-tiba ada sebuah truk melaju kencang dan menghantam tubuhnya. Aku yang menyebabkan dia meninggal. Aku menyalahkan diriku sendiri, tapi orang tua Gaeul mengatakan bahwa itu sebuah kecelakaan…”

“Jika kau tahu bahwa kau penyebab Gaeul meninggal, kenapa justru kau mengambil semua posisinya?”

Hana tersentak saat mendengar perkataan itu. Dia mendongak dan mendapati seorang pemuda berdiri di depannya.

“Oh Sehun…”

“Kau masih mengingatku, huh?” desisnya.

Hana mengerjap saat mendapati seorang pemuda lain dibelakang Sehun, Byun Baekhyun. Kepalanya pening, dia merasa ada sesuatu yang terjadi disini.

“Jika kau benar-benar menyesal seharusnya kau pergi jauh-jauh dari kehidupan Gaeul. Tapi apa yang kau lakukan? Kau justru menerima saat kedua orang tua Gaeul memilihmu untuk menggantikan posisinya. You such a bitch!”

“OH SEHUN!”

Hana merasa tertampar. Dia tahu sejak lama bahwa Sehunlah yang selalu menyalahkannya atas kematian Gaeul. Pemuda itu bahkan tak tahu bagaimana kehilangan dan penyesalan yang dialami Hana. Semua yang dilakukan gadis itu semata-mata hanya ingin membuat keluarga Gaeul bahagia, seperti janjinya pada gadis itu dulu.

“Sehun….kau tidak tahu apa-apa…”

“Diam! Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau cintai bukan? Sekarang aku akan memberitahumu. DiaLuhan—tidak pernah mencintaimu Lee Hana, dan aku yakin kau pasti mengenal Baekhyun, kan? Dia juga hanya mempermainkanmu. Semua ini hanya rencanaku, dan mereka adalah sahabat-sahabatku.”

Hana menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia salah dengar. Ini pasti tidak benar.

Hana melirik Luhan yang hanya berdiri mematung di depannya. Pemuda itu hanya menatapnya dengan penuh penyesalan. Dia benar-benar bodoh. Hana menatap tajam Luhan, pemuda itu masih tak bereaksi. Dia benar-benar ingin menangis sekarang.

“Aku tahu bagaimana rasanya Sehun. Maaf untuk semuanya…”

Satu air mata itu jatuh menuruni pipi Hana. Dan Luhan melihatnya. Pemuda itu hanya bisa berdiri mematung ditempatnya saat melihat gadis itu berlari.

Hana terus berlari dan berlari. Air mata semakin deras menuruni pipinya. Jika semuanya memang benar, Oh Sehun benar-benar berhasil membuatnya menderita. Sekarang, dia tahu bahwa tidak akan ada Luhan yang selalu berada disisinya. Walaupun pemuda itu tidak mengatakannya, tapi dia cukup tahu bahwa hubungan mereka berakhir sampai disini. Dia tidak memiliki apa-apa lagi.

I thought that I had everything

I didn’t know what life could bring

But now I see, honestly

Rahang pemuda itu mengeras. Tangannya terkepal kuat. Ingin sekali dia meninju pemuda di depannya jika saja dia tak mengingat bahwa kini mereka sedang berada di tempat umum. Orang-orang pun bahkan saling berbisik mendapati drama yang baru saja mereka mainkan.

Perasaan sesak itu benar-benar dirasakan Luhan. Mungkin dia terlambat menyadarinya, tapi sekarang dia tahu bahwa dia juga mencintai Hana. Atau bahkan sangat mencintai gadis itu. Hatinya ikut tersayat saat mendapati tetes air mata itu jatuh.

Luhan menyeringai, “Kau benar-benar keterlaluan Oh Sehun!”

Sehun balas menyeringai. Dia merasa puas telah membuat gadis itu merasakan sakit seperti yang dirasakannya, bahkan mungkin lebih. Tapi sebagian hatinya berkata lain, dia tahu apa yang dilakukannya salah. Semuanya semata-mata hanya karena rasa kehilangan yang teramat. Dia masih tidak bisa menerima kematian Chu Gaeul.

“Tenanglah, ini tempat umum,” ujar Baekhyun menenangkan.

Luhan menatap tajam sahabatnya itu. Sejak awal dia tahu bahwa Baekhyun tak pernah memiliki perasaan apapun untuk Hana, dan kala itu dia masih memandang Hana sebagai seorang gadis aneh. Tapi sekarang? Semuanya berbeda.

“Aku tidak pernah berharap jika persahabatan kita akan berakhir seperti ini, tapi aku bersumpah tidak akan membiarkanmu menyakiti Hana lebih jauh lagi.”

Luhan pergi. Sehun tersenyum tipis. Sedangkan Baekhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

A month later

Terik matahari yang menyengat tak mengurungkan niat gadis itu untuk tetap berjalan kaki. Dengan ditemani sebuah payung berwarna ungu dalam genggamannya. Sesekali dia bersenandung riang, membuat orang-orang menatapnya aneh.

Hana benar-benar bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Dia menjadi lebih mengerti apa yang hidup terlah berikan untuknya. Semua bebannya kini terangkat sudah.

“Nona, where would you go?”

Hana mendongak. Nafasnya tercekat. Dia benar-benar merindukan suara itu. “Luhan sunbae…”

Luhan tersenyum tipis. Ditariknya payung ditangan gadis itu dan kini payung itupun sudah beralih ke tangannya. Berdua, mereka melewati jalanan kota Seoul di tengah teriknya matahari.

Hana menunduk. Seharusnya dia sekarang berlari, atau justru menampar pemuda itu. Bukannya dia harus tersenyum dan bahagia seperti ini. Perasaannya sudah berlebihan untuk pemuda itu, dengan mudahnya dia memaafkan kesalahan Luhan.

“Hana…mianhae…”

Hana masih menunduk, tak berani untuk sekedar mendongak.

“Aku harus menjelaskan sesuatu padamu, kau mau mendengarnya?” tanya Luhan ragu.

Hana mengernyit. Pertanyaan itu terdengar retoris ditelinganya. Jika dia tidak mau mendengarnya, lalu untuk apa dia tetap berdiri diposisinya sekarang?

“Yang dikatakan Sehun memang benar, awalnya ini hanya sebuah rencana. Aku berjanji untuk membantunya. Tapi tentang bagaimana perasaanku, semua itu tidak benar. Selama berhubungan denganmu, aku sangat bahagia. Dan seharusnya kau tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya.”

Hana tersenyum, dia pun mendongak. “Aku tahu oppa…”

Luhan membelalak tak percaya. Dia bahkan nyaris frustasi karena kehilangan gadis itu. Satu bulan, dia mengikuti gadis itu diam-diam. Merasa takut menerima kenyataan jika Hana akan membencinya dan menjauhinya. Tapi ternyata…

“Lalu, kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali? Aku pikir kau membenciku…”

Hana tertawa kecil, “Kau menyukai gadis yang bijaksana dan baik hati, kan? Jadi, bagaimana bisa aku datang padamu dan menghancurkan persahabatan kalian? Aku sudah cukup merasa bersalah pada Sehun.”

Luhan terpaku. Dia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran gadis di depannya. Tapi apalah arti semua itu, sekarang dia lega. Semuanya berakhir dengan indah.

“Jadi…”

“Jadi?”

Luhan berdecak kesal, “Kau masih mau meneruskan mimpimu, untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?”

Hana tersenyum tipis, menyadari bahwa pemuda itu masih mengingat impiannya. “Without you I don’t know what I’d do, so…..”

Luhan tidak melanjutkan ucapan Hana. Pemuda itu justru membuang payung yang dipegangnya. Kedua tangannya menangkup pipi Hana, dan sedetik kemudian pemuda itu mencium bibirnya. Lembut.

I love you because it’s you—Hana…”

Hana tersenyum saat Luhan menggenggam tangannya. Dia masih akan melanjutkan mimpinya sampai nanti. Karena apa yang dibutuhkannya saat ini hanyalah pemuda itu.

“Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanya Luhan tersadar.

“Ke makam Gaeul…”

I can never, ever live a day without you

Here with me, do you see,

You’re all I need

Baekhyun memandang sahabatnya yang tengah sibuk bermain billboard. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak mengerti. Sehun kini benar-benar berubah. Pemuda itu bahkan membiarkan gadis-gadis mengelilinginya, padahal sebulan lalu Sehun masih menjaga jarak dengan gadis-gadis yang mengejarnya.

“Kau tidak merindukan Luhan?” tanya Baekhyun.

Sehun tersenyum tipis. “Katakan padanya untuk datang kesini.”

Baekhyun hanya tertawa kecil. Persahabatannya masih baik-baik saja. Semuanya masih sama, hanya saja sekarang mereka bertiga lebih bersikap dewasa dan manusiawi…mungkin?

Gimana dengan FF ini? Hancurkah? Huhu

I just wanna say thanks you so much for you who read my fanfiction. So, please leave your comment! Thankyou^^

Advertisements

8 comments

  1. uhm.. hi weirdo! /slapped
    jk kakak(•̯͡.•̯͡)(•̯͡.•̯͡)(•̯͡.•̯͡)
    kenalin, luhana shipper nihxD lmao.
    seperti yang aku bilang di twitter aja ya kak, buat ff luhana lagi oke>u<

  2. omoo ^o^ aku selalu suka karakter luhan buatan kamuu, kerasa banget, feel nya dapet banget, soalnya kadang-kadang aku suka ga ‘ngeh’ banget sama karakter luhan, tapi ini TOP!
    maniiiiis ceritanya, sukasukasukaaaa.
    and, yes, I enjoyed the picture so much hahaha…
    buat lagi yaaa

  3. chingu-ya….
    kenpa MC nya sama dengan namkor-ku? tapi itu dulu. kekekke…
    karena skarang jadi anaknya YH, jadi aku pakai Lee Haena. Nggak beda jauh kan?
    mianhe comment nggak penting.
    mianhe juga udah lama nggak mampir di blogmu.
    aku mau baca FFmu yang lain dulu, ne?
    banyak yang belum aku baca…
    annyeong…..:D

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s