Your Eyes


tumblr_lg4ivpyf3U1qblz41o1_500

Your Eyes by jeanitnut

“Mata itu, mata yang menyiratkan permohonan, aku sudah terjebak didalamya sejak awal. Dan semakin aku melihatnya, mata itu semakin menghipnotisku.”

Hari itu bukan hari istimewa. Mula-mula, hari itu tampaknya akan menjadi sebuah hari biasa. Sama seperti hari-hari sebelumnya, yang sejauh ini sudah terlewati. Sepi. Kosong. Tidak ada cahaya barang setitik pun dalam hidup ini. Itu menurutku.

Sampai pada suatu ketika, menjelang titik kulminasi malam dalam redup cahaya menuju dini hari, aku bertemu dengannya. Pertemuan pertama yang mengagumkan dan akan selalu teringat sepanjang hidupku. Aku berjanji untuk hal ini.

Awalnya, aku terkejut. Mengertikah kalian bagaimana rasanya saat tiba-tiba kehidupan suram yang ada di depan matamu kini perlahan akan hanyut dalam air sungai? Aku melihatnya saat pemuda itu mengulurkan tangannya.

Aku yang masih terkejut karena nyawaku nyaris hilang malam itu, hanya bisa menatap sendu uluran tangan kekar di depanku. Pemuda itu membawaku menuju tepi, mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna biru safir ke arahku.

“Nona, matamu…”

Seolah tersihir dengan dua kata itu, aku tersadar. Bahwa hidupku belum berakhir. Aku tersenyum tipis. Dia tampan. Garis wajahnya begitu kuat. Dan dari pakaian yang dia kenakan, dapat aku simpulkan bahwa dia orang kayalebih tepatnya seorang pengusaha.

Dia menuntunku untuk berdiri, dan aku menyambut uluran tangannya. Siapa sangka, hatiku yang semula sedingin es perlahan mencair. Aku yang tidak pernah tersenyum perlahan menorehkan garis lengkung itu. Rasanya mustahil mempercayai semua ini terjadi hanya dalam satu malam.

Tahu-tahu aku sudah duduk di ferari merah miliknya. Dahiku mengkerut hendak bertanya, tapi dia lebih dulu memotong keinginanku.

“Dimana rumahmu?” tanyanya.

Kembali aku tersadar pada apa yang baru saja terjadi. Aku melarikan diri dari rumah dan kabur ke Seoul. Aku menghela nafas sejenak, “Aku tidak punya rumah…”

Dia tida terkejut. Oh, maaf jika aku tidak salah melihat dia bahkan tersenyum. Ini gila. Dia gila. Tidak waras. Itu penilaian pertamaku untuknya.

Dan selanjutnya, aku benar-benar menganggapnya gila karena dia membawaku ke sebuah apartemen mewah di tengah pusat kota Seoul. Dia menuntunku masuk ke dalamnya. Seperti seorang pemilik apartemen yang hendak menyewakan apartemen miliknya, dia menunjukkan letak-letak dimana persisnya kamar mandi, dapur dan sebagainya. Aku rasa ini terlalu baik, bahkan pemilik apartemenpun tidak akan melakukan hal seperti ini.

“Anggaplah seperti rumahmu sendiri. Jika kau butuh bantuan, kau bisa menghubungiku kapan saja, aku menuliskan nomor teleponku disana,” ujarnya sembari menunjuk sebuah note kecil disamping tempat tidur.

Aku tak bisa berucap dan hanya bisa terpaku. Aku baru benar-benar sadar saat dia menutup pintu apartemen dan pergi. Bagaimana ini bisa terjadi, Tuhan? Kami tidak saling mengenal. Dan aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Dunia benar-benar sudah gila.

Kepalaku terlalu pusing untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk. Karena dari apa yang aku lihat, mata itu bisa dipercaya. Aku pun hanya bisa menghela nafas dan berdoa. Tak lama semua berubah menjadi gelap, aku tertidur dengan senyum mengembang.

Three months later…

Sebulan yang lalu aku sudah mengusulkan hal ini padanya, “Bagaimana jika gajiku setiap bulan dipotong untuk membayar apartemen yang aku tempati? Anggap saja aku menyewanya.”

Dan kalian tau apa tanggapannya? “Tidak Yoona, aku sudah bilang bahwa apartemen itu tidak ada yang menempati. Dan aku tidak ingin menyewakannya.”

Aku tidak mengerti harus seperti apa lagi aku bersikap. Dia menjadikanku sebagai staff keuangan di kantornya. Menurut kalian, apakah dia gila? Hanya dalam seminggu masa percobaan, setelahnya aku resmi menjadi pegawai kantornya.

Terlalu banyak rasa terima kasih yang ingin kuutarakan padanya, terlalu sempit pula kesempatan untuk kalimat itu terucap. Maka, apa yang bisa aku lakukan hanya bekerja dengan sebaik mungkin. Aku memang tidak bodoh-bodoh amat mengenai hal seperti ini. Mengingat bagaimana sebelumnya aku bekerja. Crap! Aku tidak ingin membahas tentang masa lalu, jadi lupakan saja.

“Im Yoona…”

Aku mendongak, “Ya, Donghae-nim?”

Donghae berdiri di depan pintu seraya tersenyum. Menatapku dalam. Setelah beberapa detik yang terlewat dengan percuma, aku membuang pandangan. Dapat kudengar langkah kakinya yang mendekat. Sementara aku, sibuk—berpura-pura sibuk lebih tepatnya dengan berkas-berkas yang berserakan di depan meja.

“Temani aku makan siang!” ujarnya tanpa basi-basi.

Aku mengernyit bingung, “Kita ada meeting denganclient?”

Dia menggeleng. Aku hendak menanyakan sesuatu tapi dia lebih dulu memotong, “Haruskah ada alasan untuk membuatmu mau makan bersamaku?”

Tentu. Aku menelan ludah. Tersenyum hambar sembari mengambil tas tanganku dan memasukkan handphone di dalamnya. Dan ngomong-ngomong handphone yang baru saja kupegang juga merupakan salah satu hadiah yang diberikan bos tampanku ini.

Aku hanya bisa tersenyum sepanjang jalan menuju lobi. Beberapa pasang mata menatapku dengan tatapan bertanya, beberapa lagi menatapku dengan tatapan membunuh. Oh baiklah haruskah aku menjelaskannya pada kalian, siapa sih yang tidak menginginkan posisiku? Makan bersama pemuda tampan super kaya yang kini berjalan di depanku?

Karena bohong jika kau tidak menginginkannya.

Donghae membukakan pintu mobil untukku. Tanpa berucap aku masuk ke dalamnya. Beberapa hal yang aku terima selama ini dari Donghae memang benar-benar istimewa. Aku hampir tidak menemukan cela sedikitpun untuk keburukannya. Aku pernah melihat ekspresi kesal saat dia menumpahkan latte coffee-nya ke kemejaku dua minggu lalu. Dia pun bisa kesal saat terjebak macet. Dan ini semakin membuatku merasa bahwa dia manusiawi.

“Sebenarnya pelet apa yang kau gunakan untuk membuat bos kita bertekuk lutut padamu?” tanya Sunny, rekan kerjaku dua minggu yang lalu. Tepat setelah Donghae menumpahkan coffee di kemejaku, tanpa sepengetahuanku pemuda itu pergi membelikan kemeja baru untukku.

Aku hanya tertawa menanggapi perkataan Sunny. “Apa maksudmu? You are too much, Sunny-ssi.”

I’m not. Everyone can see, bahwa bos besar kita itu mencintaimu. Come on! Kapan lagi kesempatan besar seperti ini datang padamu?”

Sisa hari itu aku berpikir dan berpikir. Pekerjaan yang seharusnya aku selesaikan hari itu terpaksa aku tunda dan menyebabkanku mendapat ceramah dua puluh menit dari manager keuangan.

Orang-orang berpikir seperti itu hanya karena melihat perhatian Donghae padaku di kantor. Lalu bagaimana tanggapan mereka seandainya mereka tahu bahwa aku tinggal di apartemen Donghae? Bahwa sebenarnya aku masuk ke kantor ini tanpa melalui tes wawancara yang konon katanya sangat sulit.

Aku bergidik memikirnya. Kuremas kedua tanganku dan kugelengkan kepala. Tidak penting menurutku untuk memikirkannya.

“Kau kedinginan?” tanya Donghae.

Sontak aku menoleh. Terlalu larut dalam pikiran dan bahkan aku lupa jika saat ini sedang berada di mobil. Tiba-tiba saja Donghae menepikan mobilnya. Tanpa berkata, dia menyampirkan jasnya ke tubuhku. Aku hanya bisa menggigit bibir saat wangi tubuhnya menusuk rongga penciumanku.

Sepanjang jalan yang tersisayang rasanya begitu lama untukku—kuhabiskan dengan memandang jalanan ramai Seoul. Hal-hal seperti inilah yang kadang membuatku lepas kendali dan tak bisa mengontrolku perasaanku.

Karena bohong jika aku tidak mencintainya.

Mungkin sifat misterius yang dimiliki Donghae-lah yang membuat banyak gadis mengejarnya. Dan hey, bahkan client kami dua hari lalu terang-terangan menyatakan bahwa dia bergabung dengan perusahaan karena Donghae, bukan karena keuntungan perusahaan.

“Dengan senang hati aku bergabung dengan perusahaan kalian selama pemilik sah-nya masihlah Tuan Lee.”

Orang-orang yang mendengarnya akan menganggap jika apa yang dikatakan gadis itu hanya sebuah candaan semata. Tapi, sebagai sesame perempuan, aku bisa mengerti bahwa itu adalah sebuah ketulusan. Bagaimana mata gadis itu berbinar dan senyum tulus yang mengembang saat dia mengatakannya.

Donghae memang bukan tipe pemuda yang banyak bicara. Menurut beberapa staff dia juga bukan tipe pria romantis dan tidak pandai mengungkapkan perasaannya. Tapi bagaimana cara dia memperlakukan pasangannya, memperlakukan orang yang disayanginya dengan begitu istimewa mampu menutupi semuanya. Hal-hal kecil yang tanpa disadarinya bisa membuatku merasa bagaikan seorang putri. Dan yang paling penting, dia sangat menghargai kaum perempuan.

Aku bisa saja menerima perlakuan istimewa darinya dengan tangan terbuka. Bahkan membalasnya sebagaimana mestinya. Akan seperti itu jika saja aku tidak mengetahui tentang masa-masa yang terkubur dulu. Tentang masa lalu yang akan tetap menjadi kenangan yang tidak akan begitu saja hilang.

Aku pernah membaca kalimat-kalimat ini: kenangan itu hanya hantu disudut pikir. Selama kita diam dan tidak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap menjadi hantu, tidak akan pernah menjadi nyata.

Seharusnya kenangan tidak perlu ditakuti, karena dia hanyalah hantu, tidak nyata. Aku berusaha kuat untuk tidak takut akan kenangan. Lagi, kenangan masa lalukulah yang mengahncurkan semuanya. Tentang kepahitan hidup masa laluku yang berusaha aku kubur, tapi tak pernah berhasil.

“Turun!” ucapnya. Aku terlonjak saat mendapati tangannya terulur di depanku, kamu sudah sampai. Aku tidak tahu harus merespon seperti apa. Dan apa yang aku lakukan hanyalah, turun tanpa membalas uluran tangannya, sedangkan dia hanya tersenyum tipis dan menarik tangannya.

Aku memukul bahu Donghae dengan setumpuk map yang kupegang. Sudah dua jam pemuda itu berdiri di depan meja kerjaku dan menatapku. Aku hanya bisa menghela nafas lelah. Aku bukan tidak suka akan kehadirannya, hanya saja, tatapan pemuda itu, entahlah aku tak menyukainya. Sejak dulu.

“Donghae-ssi, kau membuatku merasa tak nyaman. Bisakah kau kembali ke meja kerjamu, Pak Direktur?” pintaku setengah memohon.

Aku hanya bisa menghela nafas jengah saat mendapati sebuah gelengan kepala sebagai jawaban. Keras kepala. Itulah sifat yang bisa kutangkap dari Donghae. Waktu yang singkat, aku bekerja di kantor ini, sudah cukup untukku mengenal bagaimana sifat pemuda itu.

“Orang-orang akan menganggap kau tertarik padaku,” kataku asal.

Donghae tersenyum tipis, “Itu bagus.”

Aku mengernyit. Menelan ludah sejenak, buru-buru menyesali apa yang baru saja aku katakan. Dengan sedikit mendongak dan aku hanya bisa menghela nafaslagi saat pemuda itu masih juga berdiri disana—menatap mataku. Lama-lama, aku pun gemas sendiri. Kutatap balik mata pemuda itu. Untuk beberapa saat kami hanya saling bertatapan, membuat suasana menjadi begitu canggung.

Aku lebih dulu memutus tatapan mata itu. “Jangan bermain-main denganku karena aku tidak berminat untuk ikut ke dalamnya…”

“Apa yang kau maksud dengan bermain-main?” tanya Donghae dingin.

Sesaat kemudian ekspresi Donghae benar-benar sudah berubah. Dan aku harus mengakui bahwa hipotesa yang aku ciptakan tentang aku mengenal bosku dengan baik; salah besar.

“Apa kau tidak bisa melihat semuanya, dari mataku?”

Aku hanya bisa tertegun. Menyembunyikan kepala ini semakin dalam dengan menunduk. Tentu. Tentu aku bisa membaca semuanya.

Donghae menarik daguku, membuatku terpaksa (harus) menatapnya. Donghae hanya menatapku, seolah mengabaikan beberapa pasang mata yang lewat dan menatap kami. Saat ini, aku merasa sebaiknya bumi menelanku sekarang juga.

Aku tidak sanggup menghadapi rekan-rekan kerjaku. Dan yang paling penting, aku tidak sanggup menghadapi kelanjutan apa yang akan dilakukan atau dikatakan Donghae padaku. Aku hanya takut saat dia berada sedekat ini denganku. Bahkan aroma tubuhnya dapat kucium dengan amat jelas.

“Aku mencintaimu, dan kau tahu itu Im Yoona,” ucapnya tegas.

Katakan padaku, apakah ini sebuah pernyataan yang cinta? Benar-benar tidak manis, kan? Alih-alih aku mengaharapkan pernyataan cinta yang manis terucap dari bibirnya, aku bahkan tidak menginginkan pernyataan ini keluar dari bibirnya. Karena aku tidak bisa…

Aku menarik tangan kanannya yang masih menopang daguku, dia menurut. Kuhela nafas sejenak, mengumpulkan keberanian untuk menjawab.

“Carilah seorang gadis yang tidak memerlukan apa-apa, tapi kau mau memberikan semuanya Donghae-ssi.”

Setelah itu aku berjalan menjauhinya, dengan langkah tenang kakiku melangkah menuju toilet. Aku tidak mendengar suara langkah kaki lain yang terdengar, yang dapat kutafsirkan bahwa Donghae masih diam mematung di depan meja kerjaku.

Apakah aku menyakitinya? Aku tidak tahu.

Aku mencintainya, dia mencintaiku. Bukan berarti dua orang yang saling mencintai dapat bersatu, hidup bahagia seperti akhir dongeng yang sering kubaca, kan? Happily ever after.

Kalian pernah membaca perahu kertas? Bagaimana kisah indah Kugy dan Keenan harus diuji dalam hitungan tahun. Yang mereka lewati dengan sakit seorang diri. Mereka masih muda, cita dan harapan yang belum terwujud dapat mengalihkan. Sayangnya, aku tidak lagi gadis berumur dua puluh tahun. Dan aku sudah cukupmenurutku—memiliki banyak pengalaman.

Kami sama-sama tahu bahwa ada perasaan lain dalam diri kami. Ralat, hanya aku yang mengetahuinya, tidak dia. Hanya saja, bayang-bayang masa lalu itu tetap saja ada. Dan aku tidak mungkin mengenyahkannya selama dia masih menganggapnya ada, kan?

Aku pernah memergoki Donghae masih menyimpan foto gadis itu di dashboard mobilnya. Kala itu, kami sedang menuju hotel tempat meeting. Kejadiannya sudah cukup lama, sebelum aku bersikap (cukup) dingin padanya.

“Dia kekasihmu?” tanyaku waktu itu.

Sengaja kutajamkan penglihatanku untuk meneliti setiap detail ekspresi yang ditunjukkannya. Masih dapat kubaca bagaimana ekspresi ketegangan yang terpancar disana. Rahangnya mengeras, pegangan kemudianya begitu kuat. Sebelum menjawab pertanyaaku; yang hanyalah pertanyaan biasa, dia berdehem sejenak.

“Dulu…sebelum dia pergi.”

Suaranya begitu lirih. Dan aku tidak mungkin berpura-pura untuk tidak mengerti apa makna kata ‘pergi’ yang terucap. Merasa sedikit bersalah, aku membalik foto itu dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Maaf,” ucapku tulus.

Sepanjang perjalanan itu hanya ada keheningan yang menyelimuti. Aku berusaha untuk mengabaikan suara-suara liar yang terus mengingatkanku tentang percakapan kami waktu itu. Awalnya, aku tidak mengerti mengapa aku harus tertarik pada masa lalu Donghae sampai akhirnya puzzle-puzzle itu kini menyatu.

Good morning, Miss. Can I help you?”

Aku mendongak. Tak terasa kakiku sudah melangkah menuju resepsionis hotel. Aku bahkan akhirnya kini sudah menginjakkan kaki di New York. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Perjalanan ini, aku akan menjadikannya sebuah perjalanan yang tidak hanya berguna untuk kelangsungan pekerjaanku, tapi juga hatiku.

Aku menunjukkan nomor kamarku, lalu porter itu membawakan koperku. Tiga hari untuk menenangkan diri. Kuharap kota New York benar-benar menjadi penghilang kepenatan.

Baru saja aku merebahkan diri di atas bed saat handphoneku berdering. Kurogoh mantelku dan menemukan benda mungil itu disana. Aku hanya bisa menghela nafas sejenak saat mendapati nama yang tertera disana.

“Hallo,” jawabku.

Terdengar helaan nafas lega diujung sana, “Kau sedang berusaha menghindariku dan melarikan diri ke New York, ya?”

Seketika aku membelalakkan mata, membenahi posisiku yang semula setengah berbaring. “What? Apa maksudmu?” tanyaku setengah kesal.

Hey, aku jauh-jauh kesini bukan untuk melarikan diri. Aku bekerja untuk perusahaan. Jadi bagaimana bisa bosku berpikir bahwa aku sedang kabur? Tebakannya memang tidak sepenuhnya salah, sih, dan itulah yang membuatku semakin kesal.

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Bukankah aku sudah mengalihkan tugas itu pada Sooyoung?”

Aku menelan ludah. Akulah yang menohon-mohon pada atasanku untuk memindahtugaskan Sooyoung padaku, tanpa sepengetahuan Donghae tentu saja. Dengan iming-iming oleh-oleh sebuah watch yang akan aku belikan langsung untuknya, akhirnya dia menyanggupi. Pasalnya, atasanku itu mengancam akan memberitahu Donghae. Benar-benar sial!

“Donghae-ssi, aku disini untuk pekerjaan bukan kabur. Maaf, karena aku tidak meminta ijin padamu lebih dulu, tapi percayalah bahwa aku tidak akan mengecewakanmu.”

Setelah ini, aku benar-benar akan membunuh atasanku itu karena membeberkan kepergianku pada Donghae.

Dapat kudengar Donghae menghela nafas lagi diujung sana, “Bukan begitu maksudku Yoona-ya. Apa kau tahu bahwa suhu udara di New York saat ini begitu ekstrim? Aku tahu kau tidak pernah menyempatkan diri untuk sekedar menyalakan tv atau membaca koran. Aku hanya khawatir padamu…”

Tertegun. Lidahku kelu untuk berucap. Suara-suara lalu lalang kendaraan yang masih bisa kudengar beberapa saat lalu, kini lenyap. Aku mendengar dengan sangat jelas suara pria itu dari telepon.

“…tunggu aku disana. Besok aku akan menjemputmu dan kita bertemu client bersama. Selamat malam.”

Telepon ditutup. Dan aku tak urung menurunkan handphone dari telingaku, masih menggenggamnya dengan erat selama dua menit. Donghae bercanda, kan? Tidak mungkin pemuda itu malam ini juga akan terbang ke New York. Apa dia sudah gila? Dan untuk kurun waktu yang singkat ini, aku cukup tahu bahwa apa yang dikatakan Donghae tidak main-main. Karena aku masih memegang penilaian pertamaku padanya, dia tidak waras.

Aku tahu mungkin aku bodoh karena berusaha menutup diriku dengan berpura-pura menyibukkan diri seperti ini saat Donghae lewat di depanku. Dan ini bukan untuk pertama kalinya, sudah lebih dari sepuluh kali. Terhitung sejak kejadian beberapa hari lalu.

Lari dari masalah.

Well, aku tidak bisa menyalahkan argument itu. Jujur, aku masih tidak bisa mempercayai kejadian ini. Aku benci harus merasa ragu-ragu dan tidak mempercayai hatiku. Bukankah jika kita sedang bimbang, lebih baik kita mengikuti kata hati?

New York benar-benar menjadi kota yang indah. Aku tidak bisa menafikkan perasaan bahagia yang kurasa saat berada disana, sekalipun harus aku akui bahwa hatiku semakin memburuk.

Donghae benar-benar datang ke New York menyusulku. Sekitar pukul Sembilan malam esoknya, sejak dia meneleponku dia tiba. Aku tidak mendengarkan dengan jelas apa yang dikatakannya waktu itu, entah keterlambatannya tiba atau apalah itu.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya langsung.

Aku masih terlalu terkejut dengan kedatangannya tiba-tiba. Dia masuk begitu saja ke kamar hotel. Dan tulang-tulangku terlalu lemas untuk menendangnya keluar. Jadi, kubiarkan saja dia masuk dan menjelajahi partry.

Aku duduk di sofa dengan kedua tangan terlipat. Menepuk dahi sejenak saat tersadar bahwa aku sekarang hanya mengenakan celana selutut dan kaos oblong merah jambu. Tanpa terasa pipiku memanas, bagaimana bisa aku sebodoh ini.

“Minumlah!”

Aku mendongak dan mendapati Donghae tengah mengulurkan secangkir teh yang asapnya masih mengepul di depanku. Dia tersenyum dan duduk disampingku. Keheningan menyelimuti selama beberapa menit. Suhu dingin New York benar-benar ekstrim. Aku memeluk kedua lututku dan menaikkannya ke atas sofa.

Donghae berjalan ke arahku, menyampirkan kemejanya ke tubuhku lantas kembali ke tempatnya semula. Duduk tenang di seberang sofa yang aku tempati. Aku mengamatinya sejenak, dia masih mengenakan kemeja setelan yang sering dipakainya ke kantor.

Lidahku terlalu kelu untuk berucap. Tidak mengerti kalimat pembuka apa yang sekiranya pantas untuk membuka pembicaraan. Aku menyukai saat-saat keheningan seperti ini, tidak terasa mencekam karena ada seseorang disampingku. Crap!

Donghae berdehem, membuatku menoleh ke arahnya. “Sebenarnya, aku lupa untuk reservasi kamar. Bolehkan aku tidur di sofa ini, malam ini?”

Aku hanya bisa diam memandangnya. Kebimbangan yang kuhadapi bukan karena aku tidak percaya pada Donghae, aku yakin dia tidak akan melakukan hal-hal senonoh padaku. Yang aku takutkan justru diriku sendiri, bagaimana jika aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri.

“Aku tidak akan berbuat macam-macam, kau tenang saja. Boleh, ya?”

Aku tidak bisa untuk tidak mengangguk. Setelahnya, aku berjalan ke pantry untuk mengembalikan gelas yang kosong. Donghae tampak sudah menghilang ke kamar mandi. Sedangkan aku menuju kembali ke bed dan mencoba memejamkan mataku yang terasa sangat sulit.

Kret.

Suara pintu terbuka, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Langkah kaki milik Donghae yang terdengar semakin dekat. Langkah kaki itu berhenti, aku semakin berkonsentrasi untuk menutup mata.

Beberapa menit kemudia, aku mendapati kehangatan yang mengalir dari dahiku. Tangan kokoh yang menyampirkan poniku. Mataku masih terpejam dan aku tidak berniat untuk membukanya. Takut jika ini hanya sebuah fantasi. Takut jika aku akan kembali merasa bahwa semua ini kesalahan.

“Selamat tidur,” bisik Donghae ditelingaku.

Aku hanya bisa tersenyum. Dan seketika kantuk tanpa permisi menyerangku. Aku pun terlelap hingga mentari bersinar. Tidak ada apapun yang terjadi malam itu. Hanya kecupan manis di dahi yang mampu membuat hatiku bergetar.

Aku sedang berlari setelah baru saja turun dari mobil dan hendak memasuki apartemen, saat tiba-tiba tangan kokoh milik Donghae menyeretku. Mendudukkanku di bangku yang tersedia. Suasana sudah cukup sepi mengingat malam mulai larut.

“Apa yang membuatmu ragu akan perasaanku? Jawablah dengan jujur Im Yoona!”

Mata itu berkilat. Aku tidak pernah melihat Donghae dengan ekspresi seperti ini sebelumnya. Dan ini lebih mengerikan ketimbang saat dia menatap preman yang tempo hari menggangguku. Dan rasanya lututku benar-benar lemas seketika.

“Tolong, jangan membuatku bingung. Aku akan melepaskanmu jika alasan yang kau miliki cukup masuk akal.”

Sebuah senyuman bodoh kini tersungging dari sudut bibirku. Membohongi perasaan diri sendiri apalagi itu menyakiti orang yang kita cintai, rasanya benar-benar buruk.

Kuhirup nafas panjang-panjang. “Kim Yuna, maaf karena aku lancang menanyakan tentang masa lalumu. Apa kau menolongku karena aku memiliki nama yang mirip dengan mantan kekasihmu?”

Bibirku bergetar. Dulu, saat mendengarnya pertaman kali tentang gadis bernama Kim Yuna, aku bersyukur. Bersyukur karena aku memiliki nama yang sama dengan gadis itu. Jika saja namaku bukan Im Yoona, mungkin saja setelah menolongku waktu itu Donghae akan mengusirku dari apartemen, atau yang lebih parah akan menjualku.

“Jadi karena Yuna kau membenciku?”

Aku menggeleng, “Aku tidak membencimu Donghae-ssi. Tidak pernah.”

“Apalah yang kau katakan. Sekarang, aku akan menjelaskan semua dari awal. Bahwa perasaanku untukmu nyata, tanpa bayang-bayang Yuna. Apa kau masih ingat saat pertama kita bertemu? Apakah aku tahu siapa namamu? Kita bahkan baru berkenalan tiga hari setelahnyasaat aku membawamu ke kantor dan meminta datamu untuk menjadi staff baru perusahan. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?”

Aku hanya bisa memaki diriku sendiri. Ketakutan tak beralasan memang. Selama ini, aku selalu berpikir bahwa alasan terbesarku untuk mengabaikan perhatian Donghae disamping tentang Kim Yuna adalah karena aku takut tersakiti. Aku takut perasaanku sendirilah yang akan menghancurkan diriku. Berpikir bahwa gadis seperti diriku tak pantas bersanding dengan pemuda sempurna seperti Lee Donghae.

“Mata itu, mata yang menyiratkan permohonan, aku sudah terjebak didalamya sejak awal. Dan semakin aku melihatnya, mata itu semakin menghipnotisku. Dan aku tidak mungkin melepaskannya. Percayalah, bahwa perasaan yang aku miliki ini nyata. Jika kau tidak percaya pada apa yang aku katakan, kau bisa percaya bahwa mataku tidak akan berbong.”

Aku benar-benar harus mengutuk orang yang mengatakan bahwa Donghae tidak pandai dalam mengutarakan perasaannya lewat kata. Dan itu berarti aku harus mengutuk diriku sendiri. Tentu. Mengutuk tentang betapa bodohnya aku karena telah melewatkan hari-hari indah dengan percuma. Perkataan Donghae tadi sudah cukup menjelaskan bahwa pemuda itu nyaris sempurna. Aku bisa saja meleleh saat ini saking panasnya hatiku. Dinginnya rasa lega itu hadir dan menguatkan segalanya.

“Sekarang, bagaimana?” tanyanya gusar.

Aku tersenyum tipis. Bahagia menyusup. Aku selalu menyukai setiap ekspresi yang ada di wajah tampan itu. Seperti saat ini, ekspresi harap-harap cemas yang mungkin hanya sekali akan kudapati dari wajah itu.

Aku mengangguk, “Aku percaya.”

Karena, kadang-kadang pilihan yang terbaik adalah menerima…

Donghae menggengang tanganku erat. Menuntunku menaiki lift menuju apartemen. Kami berhenti di depan pintu apartemen. Aku berbalik menghadapnya. Masih terlihat jelas binar bahagia dari matanya.

“Aku sudah bertemu gadis yang aku ingin berikan segalanya, bahkan sebelum kau menasihatiku waktu itu. Im Yoona.”

Aku tersenyum tipis. Masih jelas ingatan tentang nasihat bodohku waktu itu. Yang mengakibatkanku harus mengurung diri selama hampir satu jam di toilet karena perasaanku yang campur aduk.

Hangatnya genggaman tangan Donghae menjalar di sekujur tubuhku. Menetralisir dinginnya angin malam yang bertiup. Bulan-bulan menjadi penerang yang paling indah. Pantulan mata teduh itu dapat kulihat dengan jelas. Aku tidak mungkin tidak menyukai saat-saat dimana mata teduh menenangkan itu menatapku.

“Yoona, bolehkah aku menciummu?”

Aku nyaris tertawa mendengar pertanyaannya. Tuan muda tampan ini bahkan lupa tata cara berkencan, ya? Melihat raut wajah cemasnya, aku hanya bisa mengangguk. Donghae mendekatkan wajahnya, sementara aku mulai menutup mata. Sentuhan lembut bibirnya, tanpa bermaksud menuntut tapi aku pun membalasnya.

Aku tidak pernah mengatakan bahwa Donghae adalah pemuda yang polos, kan? Aku tahu apa yang dilakukannya semata-mata hanya karena dia menghargaiku, sebagai seorang gadis dan kekasihnya. Jadi, bagaimana bisa aku tidak mencintainya?

“Selamat malam,” ucapnya seraya mengacak rambutku.

Kecupan dahi selama lima detik kudapatkan sebelum akhirnya dia benar-benar menghilang dari pandanganku. Tergantikan bintang yang mulai bersinar. Bintang itu tidak akan pernah berpindah dan akan tetap disana, karena bumilah yang berotasi.

Ada satu-dua quotes yang aku ambil dari novel Perahu Kertas-nya Dee. Dan btw, aku kurang ngerti berapa jam perjalanan Korea-New York ya, jadi mohon maaf jika terdapat kesalahan waktu.

Do you like this fict? Hehe. Leave your comment, please!^^

Advertisements

54 comments

  1. udah bca dari dlu, tpi baru bsa comment
    seperti biasa, kamu slalu buat readermu ikut terhanyut akan crita kamu
    kpan buat ff lagi jean?? dtunggu ya … 🙂
    fighting … 🙂

  2. asli aku kasih applause buat FF ini..
    gila.. menyentuh dan bermakna banget, ucapan2nya pun ga ada yang membuat pembaca keluar dari jalur (?)
    aku suka FF ini, terus berkarya yah eonni ^^

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s