Divorcio (2 of 2)


tumblr_maoafa1eQB1rcb3ipo1_500

Divorcio by jeanitnut

“A divorce is like an amputation: you survive it, but there’s less of you.” – Margaret Atwood

Max menjemputku tepat pukul tujuh malam. Seperti janji kami tempo hari, setelahnya keluar dari rumah sakit kami akan makan bersama. Aku menyerahkan semuanya pada Max, mulai dari tempat dan makanannya.

Mobil Max membawaku menyusuri jalan yang asing. Jika biasanya kami akan makan malam bersama di hotel bintang lima atau paling tidak restaurant yang harga makanannya membuatku mebulatkan mata. Sekalipun aku hidup serba berkecukupan, aku tetap harus berpikir ratusan kali untuk membuang uangku demi sepotong sushi. Dan yah, Max memang selalu berhasil membuatku terkejut.

Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit pinggiran kota. Aku masih menduga-menduga, oh jangan katakan ini rumah Max. Karena demi apapun, aku masih belum siap bertemu dengan keluarganya.

“Max…” panggilku.

Max menggenggam tanganku dan menuntunku untuk turun dari mobil.

“Yoona please…”

Aku mengangguk. Lambat laun, entah kapan, aku tahu hal ini akan terjadi juga. Selama ini aku selalu saja menolak jika Max mengajakku bertemu dengan orang tuanya. Mungkin dia lelah dengan penolakanku seperti dulu aku lelah menunggu Donghae. Shit! Kenapa aku justru membandingkan dua hal yang jelas berbeda disaat seperti ini?

Ruangan megah bergaya eropa menyambutku saat aku menginjakkan kaki di lantai marmer rumah Max. Keluarga Max jelas keluarga terpandang, aku tahu. Ada beberapa patung Yunani yang bisa kulihat di dalam almari kaca, serta beberapa lukisan yang menghiasi dinding.

Max menuntuntu menuju ruangyang aku yakini sebagai ruang makan—yang lebih dalam, dimana disana sudah duduk keluarga besar Max. Kedua orang tua Max serta dua kakak perempuannya. Aku membungkuk mengucapkan salam.

“Selamat malam, namaku Im Yoona,” ucapku memperkenalkan diri.

Max melepaskan genggaman tangannya. Ibunya pun mempersilahkanku untuk duduk. Aku hanya mengangguk. Acara makan malam berlangsung selama kurang lebih dua puluh menit. Badanku sudah panas dingin menunggu kelanjutan apa yang akan terjadi. Dari apa yang aku lihat, sepertinya kedua kakak Max tidak menyukaiku.

“Yoona, kau pernah menikah sebelumnya?” tanya kakak Max tanpa basi-basi.

Aku tersenyum kikuk dan mengangguk.

“Untuk menjadi bagian dari keluarga Shim, kami harus tahu bibit bebet dan bobotmu,” sambungnya.

Aku menelan ludah. Max menatapku sekilas lantas menatap kakaknya tajam.

“Jujur saja, aku sedikit menyayangkan mengapa Max harus mencintai wanita yang sudah tidak perawan.”

Oh bitch! Shut the fuck up. Aku hanya bisa tersenyum kikuk. Mataku mulai memanas. Seharusnya aku sadar dengan statusku. Seharusnya aku tahu kriteria wanita seperti apa yang pantas bersanding dengan pengusaha muda seperti Max.

Aku menahan diriku untuk tetap tersenyum. Meminta izin untuk pulang lebih dulu karena ada pasien yang harus aku tangani; bohong. Max memaksa untuk mengantarku, tapi aku menahannya.

“Aku bisa pulang sendiri Max. Kau temani saja orang tuamu, sebagai permintaan maafku, ya?”

Max menggenggam tanganku yang segera aku lepaskan. Tepat saat aku berbalik, aku mendengar kata maaf itu terlontar dari bibirnya. Mataku semakin memanas. Secepat mungkin aku melangkah. Akulah yang seharusnya meminta maaf Max, bukan kau.

Sepanjang jalan tangisku pecah di dalam taksi. Aku tidak ingin pulang. Dan kesinilah taksi membawaku, rumah sakit. Tubuhku lemas tak bertenaga. Aku menyusuri lorong yang sudah mulai sepi, terang saja jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Aku ingin berbalik jika saja aku bisa. Sayangnya, semua terlambat. Donghae lebih dulu menegurku, berjalan mendekat ke arahku. Aku berbalik, tidak ingin Donghae melihat wajahku yang berantakan saat ini. Mataku, entah bagaimana nasibnya saat ini.

“Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?” tanyanya.

Aku menggeleng, “Tidak ada.”

Donghae berjalan ke arahku, mengangkat daguku. Brengsek. Percuma saja rasanya menyembunyikan apapun darinya. Aku menunggu berondongan pertanyaan darinya, tapi yang dia lakukan hanya menatapku.

Dia melepaskan tangannya dari daguku. “Kau sudah makan? Mau makan bersama?”

Aku hanya bisa melongo menatapnya. Dia lebih dulu berjalan, dan aku pun menyusulnya. Mengingat hanya beberapa sendok yang aku telan saat makan malam tadi, dan tenagaku pun sudah habis terkuras untuk menangis.

Donghae berhenti di warung pinggir jalan lima meter dari rumah sakit. Aku mengerutkan dahi, benarkah Donghae akan makan disana?

“Kenapa?” tanyanya saat melihatku yang hanya berdiri mematung.

“Kau yakin akan makan disini?” tanyaku ragu.

Dia mengangguk, “Di jam seperti ini, semua restoran sudah tutup. Hanya dari sinilah makanan sehat yang bisa aku dapat.”

Aku bungkam. Aku tidak pernah tahu bahwa Donghae selalu memasok makanan untuk tubuhnya dari warung kecil ini. Dulu, setiap makan bersama dia selalu membawaku ke restoran mewah karena aku selalu menceramahinya panjang lebar betapa tidak sehatnya makanan pinggir jalan.

“Tenang saja, makanan disini sehat dan bersih.”

Aku mendelik dan segera duduk disampingnya. Donghae memesan dua nasi kimchi kepada ibu-ibu penjual. Aku menghela nafas sejenak. Udara malam Seoul benar-benar tidak sehat. Dingin menyerang. Aku melupakan dress tipis yang kukenakan.

Aku menoleh saat mendapati Donghae memasangkan jas dokternya ke tubuhku. Ekspresinya masih datar seperti biasa. “Kau bisa sakit lagi jika keluar malam dengan pakaian setipis itu, clubbing?”

Aku merengut kesal dan segera merapatkan jasnya. Dia bodoh atau apasih. Apa dia tidak melihat mataku yang membengkak seperti ini? Bagaimana bisa dia menuduhku clubbing, hah?

Aku baru saja hendak membantah ucapannya saat ibu-ibu penjuang nasi datang. Bau masakan yang khas menusuk rongga penciumanku. Ibu-ibu itu tersenyum ke arahku.

“Istrinya ya, Dok?” tanyanya pada Donghae.

“Bukan,” jawabnya seraya tersenyum.

Entah kenapa, hatiku sakit mendengar jawaban yang dilontarkan Donghae. Shit! Kenapa pula aku harus merasa sakit hati? Ibu penjual nasi itu tersenyum ke arahku, aku pun balas tersenyum ke arahnya.

“Sayang sekali dia bukan istri dokter, padahal nona ini sangat cantik. Cocok menjadi istri dokter Lee.”

Aku hanya tertawa kecil, sedangkan Donghae tersenyum samar. Banyak sekali orang yang mengatakan bahwa aku dan Donghae adalah pasangan yang paling serasi. Tapi semua itu tak menjamin kehidupan rumah tangga kami baik-baik saja, kan?

Aku mulai memakan nasi dihadapanku, rasanya memang tidak buruk, enak bahkan. Donghae menatapku aneh, aku mengabaikannya dan menghabiskan nasiku.

“Kau kelaparan, ya?” tanyanya.

Aku mengangguk. Dia hanya terkekeh pelan.

“Yoona…” panggilnya. Aku menoleh ke arahnya. “Malam ini, kau yang traktir ya? Aku lupa tidak membawa uang,” katanya datar.

Aku menyemburkan nasi yang belum kutelan. Dengan segera Donghae menyodorkan segelas air putih untukku. Setelah berhasil mengendalikan diri, aku tertawa terbahak-bahak. Aku tidak percaya jika orang seperfeksionis Donghae bisa melupakan dompetnya juga rupanya.

That awkward moment when you are mad at someone, and then they make you laugh. Dan aku benar-benar mengalaminya sekarang.

“Kenapa?” tanya Donghae heran.

Aku hanya menggeleng dan meneguk air putih yang tersisa.

“Kau belum membayar biaya rumah sakit saat kau sakit, kan?” tanyanya lagi.

Aku mengerutkan kening. Mengingat-ingat lalu mengangguk. “Tenang saja, aku akan membayarnya,” jawabku.

Setelah itu Donghae kembali ke rumah sakit. Dia bilang masih ada pasien yang harus di cek keadaannya. Dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang tapi tentu saja setelah pekerjaannya selesai. Aku mengangguk, mengingat hari sudah akan berganti beberapa menit lagi, rasanya akan susah mencari taksi.

“Aku ikut melihat pasienmu, boleh?” tanyaku.

Donghae tampak ragu, “Kau yakin?”

Aku mengangguk. Selama ini aku tidak pernah melihat bagaimana Donghae bekerja. Hampir sama denganku sebenarnya, tetapi tentu saja Donghae jauh lebih sibuk dari pada diriku. Aku hanya menerima pasien saat jam kerja. Jika ada pasien yang rawat inap, aku hanya mengeceknya di siang hari saat aku bekerja saja, sedang malamnya akan ada dokter lain yang menggantikanku.

Donghae membuka pintu kamar yang terletak diujung, aku pun menyusulnya. Seorang anak yang aku tafsir berusia delapan tahun terbaring disana. Tubuhnya kurus dan rambutnya sedikit sekali. Aku menatapnya nanar.

“Namanya Jung Eunji, kanker paru-paru. Sebuah keajaiban dia masih bisa hidup sampai saat ini. Dia hebat, sepertimu.”

Aku termangu. Donghae masih memeriksa keadaan gadis kecil itu dan mencoret-coret kertas yang dibawanya. Aku tidak pernah tahu apa yang membuat Donghae betah berlama-lama di rumah sakit. Disinilah jiwanya, Donghae sangat mencintai pekerjanya. Dan seolah kami berjalan berseberangan, karena sejujurnya disini bukanlah jiwaku berada. Sekarang aku mengerti bagaimana Donghae bekerja. Dan aku merasa seolah aku telah melakukan kesalahan fatal dalam hidupku.

“Ayo kita pulang,” ajaknya. Aku hanya mengangguk dan menyusulnya.

Aku tidak pernah merasa benar-benar bingung ingin melakukan apa saat libur akhir pekan. Sialan ya, kenapa pula Taeyeon dan Kyuhyun harus memiliki jadwal sendiri disaat aku butuh teman. Max, aku bisa saja bersama dengannya saat ini jika saja aku tidak ingat bagaimana kakaknya merendahkanku. Membuatku sakit saat mengingatnya.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan aku masih bergelut di balik selimut tebal. Berpikir selama satu jam, akhirnya aku memutuskan untuk menjenguk orang tuaku. Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka, terakhir yaitu tiga hari setelah perceraianku dan Donghae. Biasanya merekalah yang sering mengunjungiku.

Rumah yang di dalamnya berisi kebahagiaan. Sebenarnya isi di dalamnya pun tidak jauh berbeda denganku. Sepi. Hanya ada ibuku dan beberapa pelayan. Ayahku yang seorang dokter menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah sakit. Dan bagaimana pun keluarga Donghae juga tidak jauh berbeda denganku, ayah Donghae adalah seorang dokter.

Mungkin, ibukulah yang paling mengerti tentang perasaanku. Bagaimana dia hanya tersenyum saat aku mengatakan bahwa aku dan Donghae akhirnya memutuskan untuk bercerai. Bagaimana aku sudah tidak bisa bertahan lagi.

“Kalian sama-sama sudah dewasa, keputusan ada ditangan kalian.”

Aku ingin menjadi kuat sepertinya. Bagaimana dia bisa bertahan hidup hanya dengan sebuah cinta. Aku dan Donghae sama-sama saling mencintai dan membutuhkan? Aku pikir kami akan cukup mampu membina hubungan pernikahan karena kami saling mencintai dan membutuhkan. Keputusan kami untuk menikah memang terbilang mendadak, tapi kami saling percaya kala itu.

Aku tersenyum saat melihat ibuku tengah menyiram bunga. Setengah berlari dan memeluknya.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya. Aku mengangguk.

Ibu menuntuntu masuk. Di dalam sudah ada ayah yang tengah membaca koran. Aku duduk di sebelahnya sementara ibu pergi ke belakang untuk mengambil minuman.

“Kau datang sendiri?” tanya ayahku.

Aku mengerutkan kening. Memangnya siapa yang ayah harapkan akan datang bersamaku? Donghae?

“Kau tidak membawa kekasihmu?” tanyanya lagi.

Oh shit! Kenapa pula kedua orang tuaku harus mengungkit-ungkit tentang Max. Aku tahu betapa khawatirnya mereka tentang hidupku setelah perceraianku dengan Donghae. Dokter muda yang sukses tapi nyatanya seorang janda.

“Aku baik-baik saja ayah. Kami baik-baik saja,” ujarku.

Ibu datang membawa dua buah melon juice. Dia pun kini duduk disampingku.

“Kau masih sering berkunjung ke rumah keluarga Donghae, kan?” tanya ibuku.

Aku mengangguk. Yah, walaupun kisahku dan Donghae sudah berakhir, bukan berarti aku harus menjauhi keluarga Donghae, kan? Terlebih ibu Donghae yang sangat menyayangiku. Perceraianku dan Donghae bahkan sempat membuatnya shock dan terpukul. Aku hanya terpaku saat mendapati ibu mertuaku itu menangis di depanku.

“Yoona, ibu menyayangimu. Hubungan diantara kita, tidak akan berakhir sampai disini, kan?”

Aku hanya bisa mengangguk. Mengendalikan emosiku. Mencoba bertahan agar tetap terlihat tegar di depannya. Terakhir aku bertemu dengannya sebulan yang lalu. Diam-diam aku megunjungi mantan mertuaku tanpa sepengatahuan Donghae. Entahlah, aku hanya tidak ingin dia salah paham.

“Yoona…”

Tangan ibuku kini membelai lembut rambutku. Sudah lama sekali aku tidak mendapat kasih sayangnya seperti ini. Dia tersenyum ke arahku.

“Selama ini, apa kau masih rajin berdoa?”

God! Pertanyaan itu benar-benar menohokku. Seburuk-buruknya kelakuanku dulu, setidaknya aku masih tetap selalu bersyukur pada Tuhan. Dan sekarang, rasanya aku begitu jauh dengan-Nya. Aku hanya menunduk bersalah. Aku melupakan Tuhan karena kehidupanku yang rumit, itu tidak masuk akal kan?

“Sudah tidak ada yang membimbingmu lagi sekarang,” ujar ibuku. Helaan nafas lelah terdengar dari hembusan nafasnya.

Dulu, salah satu agenda mingguanku dan Donghae adalah berdoa bersama. Well, sesibuk apapun dia, akan ada waktu yang tersisihkan untuk berdoa. Tidak sepertiku yang adalah seorang pemalas. Donghae kerap kali mengancamku dengan berbagai ancaman seperti: dia akan menciumku kalau aku tidak bangun saat hari libur dan pergi berdoa bersamanya. Dia juga selalu mengingatkanku untuk tetap berucap syukur atas segala yang kita miliki.

“Dan ada satu hal yang ingin kami beritahu, dua minggu yang lalu Donghae kesini dan meminta maaf pada kami karena tidak bisa menjagamu. Dulu, setelah perceraian kalian, dia juga menghadap kami dan meminta maaf.”

Wait! Otakku berpikir keras mengaitkan semua yang telah terjadi. Dua minggu yang lalu bukankah aku masih terbaring lemah di rumah sakit? Dan Donghae datang ke rumah orang tuaku untuk meminta maaf? God, can you help me to solve this problem? Aku benar-benar tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti jalan pikiran Donghae.

“Ayah tidak tahu lagi, seperti apakah pria yang lebih pantas untuk mendampingimu selain dia.”

Dan sekarang aku benar-benar bungkam. Tak berani menatap kedua orang tuaku yang berkaca. Mataku pun memanas. Ibu memelukku dan menepuk-nepuk pundakku. Aku salah. Donghae salah. Kami sama-sama salah baik dihadapan orang tuaku ataupun Tuhan.

But now, can we put this back together? No.

Disinilah aku sekarang. Sebuah bar minimalis di salah satu pusat kota. Aku butuh wine untuk menyegarkan otakku yang rasanya mau meledak. Sebuah keputusan besar telah aku ambil. Aku tidak tahu apakah menolak lamaran Max adalah sebuah kesalahan besar atau hal yang benar. Aku hanya mengikuti kata hatiku, karena aku tidak ingin membuatnya semakin menderita karenaku.

Are you okay?”

Taeyeon duduk disebelahku dengan wajah yang sama mengenaskannya sepertiku, bahkan lebih buruk dari keadaanku.

“Retoris sekali pertanyaanmu, hah? Kau sendiri apa kabar?”

Taeyeon tertawa kecil. Meneguk wine dihadapannya. Sudah lama sekali rasanya kami tidak pergi bersama seperti ini. Taeyeon sibuk dengan pekerjaannya sebagai banker, sedangkan aku? Sibuk dengan pria-pria disekitarku.

“Langsung saja, jadi kau benar-benar menolak Max? Karena Donghae?”

Aku mengangguk, “Bukan karena Donghae ataupun karena keluarganya, tapi karena aku takut menyakitinya.”

Taeyeon tergelak mendengar jawabanku. “Jawabanmu mendramatrisir sekali. Bilang saja kau masih mencintai mantan suamimu!”

“Setan!” teriakku.

Max benar-benar pria romatis idaman wanita. Jam dua belas malam dia datang ke rumahku, membuatku harus mengumpat karena membangunkanku dari mimpi indah. Aku tertegun mendapatinya berdiri rapi dengan wajah lelah di depan rumahku. Sepertinya dia baru pulang dari kantor.

“Aku mengganggu tidurmu, ya?”

Aku menggeleng. Dia menyodorkan dua tangkai mawar merah padaku. Seketika kantukku menghilang. Kuambilkan segelas air putih untuknya.

“Yoona, maukah kau menikah denganku?”

Max mengucapnya secara langsung. Dia berjongkok di depanku seraya menyodorkan cincin emas putih. Aku terpaku di tempat. Tidak menyangka hal seperti akan terjadi begitu cepat.

“Aku minta maaf atas nama keluargaku. Akulah yang akan menikah denganmu, bukan mereka. Aku mencintaimu dan bahagia bersamamu, jadi maukah kau menikah denganku?”

Aku terdiam selama dua menit. Dan brengseknya, dalam diam itu justru yang terbayang di otakku adalah Donghae. Pria itu dulu juga melamarku dengan cara seperti ini, bedanya saat itu dia melamarku di rumah sakit. Aku yang tertidur di ruang kerja karena menunggunya.

Kututup kotak cincin itu. Max tampak terkejut, tapi ekspresinya masih terkendali.

“Maaf Max, tapi aku tidak bisa,” jawabku lirih.

Max bangkit dari posisinya. Kedua tangannya memegang bahuku, “But why?”

Aku menatap matanya dalam. “Karena aku tidak ingin menyakitimu lebih dalam lagi,” lirihku.

Max merengkuhku ke dalam pelukannya. Dia tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu. “Tidak apa-apa. Tapi setidaknya, kau masih bersedia kan jika aku memintamu untuk makan siang denganku?”

Aku teringat akan kalimat yang berhari-hari selalu membayangiku. Sebaris kalimat yang diucapkan kedua orang tuaku.

“Dan dari apa yang kami lihat, matamu hanya memandang satu orang yang sama, tidak pernah berubah sejak dulu. Jangan sakiti orang yang berusaha membuatmu bahagia Yoona.”

Aku menatap Max dengan berkaca-kaca. Aku dapat melihat raut kekecewaan disana. Mata tajam itu kini berkaca-kaca. Aku tak sanggup berucap dan hanya bisa mengangguk. Aku menyesali kenapa pria sebaik Max harus jatuh cinta pada wanita sepertiku. Masih banyak wanita yang jauh lebih baik dariku di luar sana yang menantinya. Tangisku pecah saat deru mobil Max terdengar menjauhi rumahku.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Taeyeon.

Aku menghela nafas, “Masih lebih baik. Jauh lebih baik dari saat Donghae menceraikanku.”

Taeyeon tersenyum, dan aku tau ada yang salah dengan senyum itu. “Kita hanya bisa disakiti oleh orang-orang yang kita cintai, iya kan?”

Taeyeon tidak perlu mengatakan apa-apa untukku mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Aku sudah merasakan adanya kejanggalan saat dia menolak aku mengundang Kyuhyun malam ini. Dan sesuatu benar-benar terjadi di antara dua orang itu.

Dering handphone mencairkan kebisuan yang terjadi. Aku dan Taeyeon sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Telepon dari Donghae. Aku sudah bersiap untuk mengomel karena dia telah mengganggu waktu tenangku kalau saja dia tidak lebih dulu memotong ucapanku.

Hana masuk rumah sakit, dan dia hanya ingin kau yang merawatnya. Yoona, bisa kau menolongku?”

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi aku segera menyambar kunci mobilku. Taeyeon menatapku bingung.

“Siapa? Ada apa?” tanyanya.

Aku tersenyum ke arahnya, “Aku harus pergi sekarang. Dari rumah sakit. Lain waktu, aku tidak ingin melihat wajahmu yang seperti mayat hidup lagi Taeyeon-ah.”

Taeyeon hanya terkekeh. Aku berlari menuju mobilku dan melajukannya dengan kecepatan maksimum yang tidak membahayakan. Butuh tiga puluh menit untukku tiba di rumah sakit mengingat jarak bar dan rumah sakit yang cukup jauh.

Aku bertanya pada resepsionis dimana pasien bernama Lee Hana dirawat dan segera berlari ke sana. Nafasku ngos-ngosan sesampainya aku disana. Hana sedang bersama Donghae. Gadis kecil itu tampak begitu pucat.

“Tante Yoona…” teriaknya serak.

Aku berjalan mendekat ke arahnya, mendekapnya erat. Badannya panas. Aku melepaskan pelukannya dan membaringkannya. Dia hanya menurut selama aku melakukan pemeriksaan. Benar-benar anak yang manis.

“Tante, kenapa tidak pernah menjengukku, lagi? Tante marah pada Hana?” tanyanya polos.

Aku tersenyum tipis dan menggeleng. Kulirik Donghae yang berdiri di sebelahku, dia hanya mengangkat bahu. “Maaf ya Hana, akhir-akhir rumah sakit sedang ramai. Nanti, setelah Hana sembuh kita akan bermain bersama lagi.”

“Janji ya?” ujarnya. Gadis kecil itu mengacungkan jari kelingkingnya dan dengan segera kusambut.

“Janji,” jawabku. Dia tersenyum tipis. “Sekarang, Hana tidur ya…”

Lima menit kemudian mata itu terpejam. Aku memandangnya dalam. Seandainya dulu aku dan Donghae mempunyai anak, apakah kehidupan kami akan seberantakan sekarang? Shit! Aku mulai melantur lagi.

“Seandainya dulu kita punya anak, apakah kita akan berakhir seperti ini?”

Pertanyaan itu terlontar dari bibir Donghae. Aku menoleh ke arahnya, dia menatap Hana dengan tenang. Aku pun memilih untuk memandang Hana. Aku tidak berani membayangkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi untuk saat ini.

Donghae mendekat ke arahku, dengan refleks aku mundur selangkah. “Kau mabuk ya?”

Aku mendelik ke arahnya. “Tidak,” jawabku. Aku hanya meneguk dua gelas kecil wine, dan sekarang aku masih waras. Benar-benar waras.

Donghae menghela nafas lelah, “Kau sudah makan?” Aku menggeleng. “Mau makan bersama?” tawarnya.

Aku mengangguk, “Boleh.”

Kami berjalan bersisian dalam diam. Donghae kembali membawaku makan di warung pinggir jalan yang tempo hari kami kunjungi. Ibu penjual nasi itu tersenyum cerah menyambut kami. Donghae memesan dua nasi.

“Lain kali, bawalah sweater saat kau clubbing,” ujar Donghae tiba-tiba.

Aku melongo. Déjà vu. Di tempat yang sama Donghae sukses membuatku menjadi orang bodoh. Donghae memasangkan jas dokternya (lagi) padaku. Oh man! Aku melupakan lagi dress tipislah kini yang aku kenakan. Kurapatkan jas Donghae saat angin berhembus kencang.

“Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, dan kau harus tahu,” kata Donghae.

Aku menoleh ke arahnya. Dia menatapku tepat di manik mataku. Membuat jantungku berdetak tak karuan seketika. Sialan sekali sih pria ini, masih saja membuat kerja organ tubuhku abnormal.

“Aku setuju menceraikanmu bukan berarti aku tidak mencintaimu. Dan dengan berpisah denganmu tidak berarti pula aku bahagia. What you see isn’t always what you see.”

Aku terdiam dan menunduk. Sampai akhirnya nasi yang kami pesan datang. Kami makan dalam diam. Sepertinya aku memang harus mengubah paradigmaku tentang makanan pinggir jalan. Tidak selamanya makanan murah meriah itu buruk, kok. Lain kali, aku akan meminta Donghae mengajakku makan di warung pinggir jalan lainnya. Jika masih ada lain kali yang tersisa.

“Itulah yang seharusnya kau tahu, sejak dulu.”

Aku mengangguk. Senyum mengembang begitu saja dari sudut bibirku. Sisa malam itu kami habiskan untuk memandang bintang bersama. Dengan kedua tangan saling bertautan. Malam indah yang datang setelah hari-hari yang terasa mencekam.

Just because someone doesn’t love you the way you want him to, doesn’t mean he doesn’t love you with everything he has. Learned that the hard way.

And I know, no matter how much Donghae hurts me, I still love him. The best worst thing, my love is stuck on my ex.

end

How is the ending? Are you satisfied? hehe

Enjoy!

Inspired from: Divortiare/Twivortiare by Ika Natassa

47 comments

  1. suka bgt sm kt2 “‘Just because someone doesn’t love you the way you want him to, doesn’t mean he doesn’t love you with everything he has. Learned that the hard way.”

    hopelly happy marriage

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s