Don’t Leave


yoong

Don’t Leave by jeanitnut

Terkadang, memilih untuk memaafkan adalah pilihan terbaik diantara yang terbaik.

Saat harapan yang ditanamnya pupus ditengah jalan. Saat tenaga yang dimilikinya seolah lenyap barang sekejap. Dia hanya bisa terdiam, menangis pun rasanya tak berguna. Semua yang telah terjadi tak bisa berbalik. Cinta yang disia-siakannya itu pun telah hilang. Benarkah?

“Calista…”

Senyum manis tersungging dari sudut bibirnya. Matanya berbinar cerah, ah bukan, mata itu bahkan tak bisa berbohong jika sebuah kekecewaan singgah disana. Gadis cantik itu melangkahkan kakinya dua langkah, sehingga kini mempersempit jaraknya dengan pemuda tampan di depannya.

Seorang pemuda yang sudah dikenalnya belasan bulan itu hanya terpaku. Tatapan matanya tak kalah nanar, tapi ada senyum tulus tersungging disana. Pemuda itu mengulurkan tangannya ke depan, menggenggam kuat jemari gadis di depannya. Calista menunduk, tak menolak sama sekali.

Aku mencintai Aiden.

Aiden Lee yang kau kenal.

Aiden mencintaiku, Cal!”

Kilasan percakapan itu kembali berdengung ditelinganya. Seolah gadis berparas cantik yang bahkan tak dikenalnya kini berada disampingnya. Membisikkan kata-kata yang membuat hatinya hancur tak berbentuk.

Satu bulan yang lalu, saat tiba-tiba seorang gadis menemuinya dan mengaku sebagai kekasih Aidenyang saat itu masih berstatus sebagai kekasihnya. Perkataan gadis itu menamparnya, telak membuat wajah putihnya menjadi pucat pasi.

Dan sejak saat itu, dia tak mengerti bagaimana persisnya hubungannya dengan Aiden.

“Jangan pergi Aiden…”

“Don’t leave me…”

Hampir setiap malam dia merancau tak jelas. Sadar, bahwa kepergian Aiden memang membuatnya sakit. Memantapkan hatinya selama sebulan pun nyatanya tak bisa mengenyahkan nama pemuda itu yang sudah terpatri di hatinya.

“Calista Im…”

Suara bising sekelilingnya tak dipedulikannya. Hentakan kaki yang menggema hanya dianggapnya sebuah angin lalu. Kedua orang itu berpelukan. Erat. Calista mengeratkan pelukannya pada pemuda di depannya. Matanya terpejam, menikmati setiap detik yang terlewat.

“Kau tahu, aku nyaris mati karena menantikanmu…”

Calista hanya diam diposisinya, tak mengerti harus seperti apa seharusnya dia bereaksi. Seharusnya dia tak menginjakkan kakinya disini. Seharusnya dia mengurung dirinya, membuang jauh-jauh perasaannya untuk Aiden. Seharusnya memang begitu…

Tapi dia tidak. Image seorang gadis baik-baik memang sudah melekat dalam tubuhnya.

Suara tangis yang terdengar, bahkan tak membuat keduanya menoleh. Calista memejamkan matanya, menikmati kehangatan yang sudah dua bulan ini bahkan tak didapatnya. Bau maskulin, khas Aiden menyeruak memenuhi rongga dadanya.

Aiden benar-benar bodoh karena menyia-nyiakanmu Cal…

Benarkah seperti itu? Ataukah justru Calista-lah yang telah menyia-nyiakan pemuda itu?

Hubungan mereka memang terbilang rumit. Mereka saling mencintai, tapi seolah perjalanan kisah itu begitu datar. Tidak ada suka duka, asam manis dalam hubungan mereka. Terkadang, Calista pun merasakan kejenuhan. Apa yang harus dilakukannya saat bertemu dengan kekasihnya?

“Maafkan aku.”

Calista menggeleng. Aiden tak bersalah. Pemuda itu pasti memiliki alasan tentang semua yang diperbuatnya. Beberapa bulan ini, sudah cukup untuknya mengenal siapa sosok kekasihnya itu. Dan sebaik-baiknya seorang Aiden Lee bukan tidak mungkin jika sikap pemuda itu tanpa sengaja akan menyakitinya.

“Maafkan aku Calista…”

Aiden menarik Calista, ditariknya dagu gadis itu sehingga dia kini bisa menatap matanya. Jenis tatapan ini, dia tak pernah melihatnya. Seolah hanya dengan menatap wajah gadis itu, Aiden bisa merasakan kekecewaan yang telah ditorehkannya disana.

“Aku yang bersalah. Aku sudah mengecewakanmu.”

Calista menggeleng. Gadis itu menunduk. Dan tanpa terduga, bulir air mata itu sudah jatuh menyusuri pipinya. Menyesali kebodohannya untuk tidak mempertahankan seorang Aiden Lee. Kehangatan didapatkannya saat tangan Aiden perlahan menyentuh pipinya, menghapus air mata yang mengalir disana.

“Kau sudah mengetahui semuanya?” tanya Aiden. Pemuda itu kembali menarik dagu Calista. Menatap paras indah gadis didepannya. Benar-benar tanpa cacat.

Calista menggeleng, membuatnya hanya tersenyum tipis. Hatinya memberontak, seolah semua perasaan menyakitkan yang tertancap disana sudah tak sanggup lagi menahan. Kisah manis yang dibangunnya bersama gadis itu berakhir dengan begitu pahit.

Dia salah. Saat bahkan tanpa sepengetahuan Calista, dia berkencan dengan gadis lain. Entahlah, dari mana hasrat itu berasal sehingga membuatnya terlihat begitu kejam. Dia melupakan gadis itu, yang bahkan hatinya sudah berjanji untuk selalu mengisinya hanya dengan nama Calista Im.

“Kami tidak pernah melakukan apa-apa, hanya sekedar bergandengan tangan. Dia menemaniku bermain basket setiap hari, aku ingin memintamu tapi aku takut kau menolak…,” Aiden mengucapkannya diiringi tawa kecil.

“Entahlah apa yang terjadi, aku pun tak mengerti. Aku hanya menikmati setiap waktuku bersamanya, dia yang selalu peduli padaku. Lalu, aku merasakan bahwa ada kesalahan, dan rasanya memang berbeda.”

Calista masih menatap pemuda di depannya. Dia menarik nafas dalam satu tarikan kuat saat mendengar penjelasan Aiden. Jika seperti ini kenyataannya, dia tak bisa menyalahkan Aiden tentang hubungan mereka.

“Dan tentang foto yang beredar…”

Ucapan Aiden terpotong saat Calista meletakkan jari telunjuknya dibibir pemuda itu. Membuatnya hanya tersenyum tipis. Dia pun enggan menjabarkan bagaimana detail persis kejadiannya karena hal itu hanya akan membuat gadis di depannya semakin kecewa.

Calisa tersenyum tipis. Gadis itu kini mengetahui manis dan pahitnya sebuah hubungan. Bagaimana hatinya terasa tersayat saat melihat kekasihnya berciuman mesra dengan gadis lain. Mungkin, gadis itu memang tak terlalu mengerti bagaimana persisnya rasa menyakitkannya patah hati. Tapi, kehilangan Aiden pasti akan lebih menyakitkan.

Biarkan sekali saja egois menguasainya tanpa mengindahkan sang logika.

Aiden terkesiap saat tiba-tiba Calista berjinjit. Menciumnya lembut. Pemuda itu pun lantas memeluk pinggang gadis itu, membalas setiap ciuman yang diberikan gadis itu. Dan detik ini, dia bahkan tak peduli jika dia dianggap sebagai orang gila karena berciuman ditengah kerumunan orang.

Calista melepaskan ciumannya pada Aiden. Semburat merah mulai terlihat dipipinya. Bisik-bisik yang terdengar semakin membuat jantungnya berdegup kencang. Tapi perasaan itu kini terganti saat Aiden menggenggam tangannya lembut. Mengisyaratkan padanya bahwa dia tidak sendiri. bahwa pemuda itu masih setia berdiri disisinya.

“Lebih manis mana ciuman dariku atau gadis itu?” tanya Calista dengan polosnya.

Aiden tertawa ringan, tawa lepas pertama sejak sebulan yang lalu. “Tentu saja kau!” jawabnya tanpa ragu. Diacak-acaknya rambut Calista, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

Ting…tong…

Good afternoon passengers. This is the pre-boarding announcement for flight 17B to Sweden. We are now inviting those passengers to begin boarding at this time. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will begin approximately ten minutes time. Thank you.

Wajah gadis itu memucat mendengar gema suara perempuan. Seolah suara itu kembali menyadarkannya. Membuatnya kembali terhempas, kenyataan bahwa dia telah menyia-nyiakan waktu yang tersisa.

Ditatapnya pemuda tampan di depannya. Aiden tersenyum tipis. Tangannya terulur ke depan, menyisipkan poni Calista yang menjuntai. Aiden tertegun saat mendapati Calista justru menangis. Dahinya mengernyit bingung. Hari ini, dia melihat gadis itu meneteskan air mata berharganya dua kali di depannya…

Lalu lalang orang disampingnya tampak tak terlalu terkejut dengan kejadian seperti ini. Drama dibandara, kalian pun pasti sering menyaksikannya. Dan itu memang benar-benar ada, bukan bualan semata.

Don’t leave me…

Calista berucap lirih. Akhirnya kalimat yang ingin diutarakannya sejak pemuda itu menjauh darinya kini terucap. Biarlah dia memperjuangkan cintanya. Mungkin dia berpikir bahwa dia telah berhasil merubah semuanya. Tapi, apakah dia juga berkesempatan untuk merubah pemikiran Aiden?

Baby don’t cry…

Aiden menarik Calista. Memeluknya dengan erat. Dia tidak pernah menyesal dengan keputusannya untuk berpindah tugas ke luar negeri. Walaupun dia tak yakin, semengerikan apakah nanti hidupnya tanpa memandang Calista barang sehari. Tapi setidaknya, keputusannya berhasil membawa gadis itu kembali ke sisinya.

A gift behind the plot.

Calista masih terisak pelan saat Aiden melepaskan pelukannya. Dihapusnya sisa-sisa air mata di pipi gadis itu. Matanya menelaah ke sekeliling, orang-orang sudah mulai menapaki boarding room.

“Hey, dengarkan aku.” Aiden menarik dagu Calista sehingga kini dia bisa menatap langsung manik mata gadis itu. “Kita masih bisa berhubungan, bukan? Aku akan menelponmu dua kali sehari setiap hari. Dan ingat, Cal, aku sangat mencintaimu.”

Calista menunduk. Menyadari bahwa perkataan Aiden memang benar. Tapi, kejadian penghianatan yang didapatinya masih berkesempatan untuk terulang, bukan? Jadi, tidak ada salahnya kan jika khawatir menyergapnya dalam kondisi seperti ini?

“Kau bisa membiarkanku pergi?”

Calista menggeleng, membuat Aiden hanya bisa berdecak kesal. Dia tak ingin menyakiti gadis itu lebih dalam lagi. Bersikap egois dengan meninggalkan gadis itu padahal hatinya pun tersiksa.

“Aku takut. Bagaimana jika kau menghianatiku lagi? Bagaimana jika kau bermain mata dengan gadis-gadis bule disana? Bagaimana jika banyak gadis yang mengejarmu seperti disini? Bagaimana…”

Ucapan gadis itu terpotong saat tiba-tiba Aiden medaratkan kecupan ringan di pipi kanannya. Membuat wajahnya seketika merona merah. Segala macam pemikiran yang ingin diluapkannya pun entah hilang kemana.

“Satu kali sudah cukup membuatku untuk belajar bahwa memilikimu adalah hal yang sangat berharga. Jadi, bagaimana bisa aku menukarnya dengan melakukan tindakan-tindakan tak beradab seperti yang kau sebutkan?”

Calista tersenyum senang. Ada raut kelegaan yang terpancar diwajahnya. “Aku akan menyusulmu Aiden,” gumamnya.

Aiden memutar otak. Benarkah yang dia dengar? Dipandanginya gadis di depannya. Hanya ada sebuah senyum tulus disana. Yang membuatnya semakin berani melepaskan tangan mungil dalam genggamannya. Membuat kakinya mundur selangkah demi selangkah. Hingga akhirnya hanya sebuah tembok yang dilihatnya.

Terkadang, memilih untuk memaafkan adalah pilihan terbaik diantara yang terbaik.

fin

Note: Aiden main basket, bukan Donghae, ya……..Ini ff absurd banget. Aku lagi kena writer block, dan gak tau gimana caranya ngembaliin mood menulis. Liar is on progress…

Thanks for reading and comment! Love you^^

45 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s