Liar [Part VII]


yoonhae

Liar by jeanitnut

with Ilma Dini.

I lie to myself all the time. And I’m wondering, what the shit exactly are we looking for?

Prolog | I | II | III | IV | V | VI

Reunion isn’t a bad thing at all.

Terkadang kita memang membutuhkan asupan memori lama yang setidaknya bisa membawa kita berjalan pada kenangan; melupakan sejenak rasa yang ada sekarang. Disamping itu, ada pula saatnya kita mengajukan protes akan apa yang terjadi di waktu yang berseberangan.

Kyuhyun masih sama seperti dulu. Cappuccino tersaji di depan meja kami. Aku benar-benar dikejutkan olehnya. Sangat, saat melihatnya hadir dalam meeting. Dan dialah orang yang akan bekerja sama dengan perusahan Donghae. Ini buruk.

“Kau tampak lebih kurus,” komentarnya. Matanya menari-nari mengamatiku.

Aku mendelik menatapnya. Aku mengenalnya saat di Perancis dulu. Tidak terlalu mengejutkan sebenarnya melihat komentar-komentar kritis yang akan keluar dari mulutnya. Dia bahkan pernah mengomentari that my bosom is too flat. Sinting!

“Kau masih sama, cantik,” komentarnya lagi.

Aku tersedak mendengar komentarnya. Buru-buru dia menyodorkan tissue dan air putih yang tersaji di meja. Aku menggeleng pelan. Sepertinya Perancis telah mengubahnya menjadi pemuda sinting.

Aku mengabaikan komentar-komentar tak pentingnya. Lebih tertarik dengan alasan kepulangannya kali ini. Samar aku masih ingat dia pernah berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakinya di ranah kelahirannya. Dia memang tidak mengatakannya secara rinci apa alasannya. Tapi aku menebak jika itu ada hubungannya dengan ayahnya.

“Kau melanggar janjimu Kyu,” gumamku.

Dia mendongak menatapku. Tersenyum tipis. Kukira dia akan membalas gumamanku saat kulihat bibirnya bergerak. Lima detik dan ternyata tidak ada kata yang terlontar. Dia justru kembali menyesap Cappuccino-nya.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

Basi-basi tidak berguna untuk kami. Kyuhyun mengenalku dengan sangat baik, melebihi Max, apalagi Donghae. Kuhela nafas tak kentara, mengingat Donghae. Pemuda itu bahkan tidak tahu apa-apa tentangku.

Dua tahun lamanya aku tidak bertemu Kyuhyun. Saat aku dan Max memutuskan kembali ke Korea, Kyuhyun kekeuh mengatakan masih ingin menetap di Perancis. Komunikasi kami memang tidak putus begitu saja, kami masih saling berhubungan via telephone.

“Gadis musim panas,” gumamnya.

Aku dibuat bingung olehnya. Yah, selain komentar kritis, Kyuhyun juga suka sekali melontarkan gumaman ambigu dengan berjuta kiasan miliknya. Aku sering dibuat kesal olehnya. Jika aku bertanya balik, kau bicara apasih, dia hanya berkata, it is not important Yoona.

Please, bicara dengan frasa yang benar Kyu! Can you?” pintaku memelas.

Ah, benar. Tidak ada gunanya memasang wajah memelas padanya. Dia justru tertawa keras melihat ekspresiku. Disaksikan berpasang mata yang juga tengah menikmati senja di café ini, wajahku merah menahan malu. Aku tidak berbuat sesuatu yang lucu, tapi karena tawa riang Kyuhyun, seolah aku berubah menjadi seorang badut yang baru saja melakukan kesalahan.

Kyuhyun menghentikan tawanya saat melihat ekspresiku yang mencekam. Dia menatapku serius, “Aku akan berbicara jujur. Aku dulu mencintaimu, tidak ada penyesalan disana dan sekarang aku menyayangimu…Im Yoona.”

Aku menganga. Wajahku merah (yang bisa ditafsirkan dengan berbagai macam ekspresi), tapi kali ini menahan amarah. Keheningan menyelimuti kami, orang-orang di café berbisik-bisik membicarakan kami, yang semakin menambah denyutan di kepalaku. Aku sadar, jika bahkan orang-orang di café ini memandangku. Ini tidak lucu sama sekali. Kyuhyun tidak mengatakan cinta, tidak kan Kyu?

Aku menatapnya, “Kyu….”

Entah sudah serupa apa wajahku kini. Lain waktu, aku akan membunuhnya jika dia membuatku menjadi pusat perhatian lagi seperti ini.

“Ah, sudahlah. Bagaimana hubunganmu dengan Max?” tanyanya.

Jemariku tergenggam kuat. Laki-laki ini benar-benar ingin membuatku mati berdiri di depannya. Ini pertanyaan yang kuhindari sejak tadi. Memikirkannya saja sudah membuat perutku mulas, apalagi untuk menjawabnya dengan jawaban yang sederhana. Aku tidak ingin, jawabanku akan menimbulkan Kyuhyun harus kembali melontarkan komentar kritisnya.

Dapat kudengar suara ketukan saat jemarinya mengetuk meja kayu. Seolah menantikan jawabanku. Sementara otakku seolah berhenti berproses. Terlalu rumit menemukan jawaban sederhana diantara ribuan masalah kompleks di kepalaku. Apa yang harus kupercayai, hati atau ego?

“Kau terlalu lama,” gumamnya.

Beberepa detik itu terlewat dan aku masih bergelut dengan otakku agar lebih cepat menemukan jawabannya. Seperti mencari air di gurun pasir.

“Hello Max!”

Mataku mengerjap. Tersadar dengan apa yang terlewat. Kulihat Kyuhyun menatapku. Bibirnya membentuk senyuman, sementara tangannya menggenggam handphone yang menempel di telinganya.

Aku memasang wajah memohon padanya. Harus berapa kali aku memohon padanya hari ini, agar dia berpihak padaku, hah? Aku tidak berharap akan bertemu Kyuhyun secepat ini. Apalagi mengingat apa yang tengah menimpaku. Kyuhyun tidak termasuk pendengar yang baik, ya.

“Aku sedang bersama Yoona, kau dimana?” Kyuhyun mengabaikanku dan masih berbasa-basi dengan Max. Aku semakin kalut dibuatnya. Rahang Kyuhyun mengeras, aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Paris?” Keterkejutan terpancar jelas di wajah Kyuhyun. Aku menarik handphonenya paksa.

“Kami sedang meeting Max, nanti kutelpon lagi. See you,” kataku. Kututup panggilan itu lantas mengembalikan handphone ke tangan Kyuhyun.

Aku hanya mampu menunduk melihat aura kemarahan yang terpeta di wajahnya. Dia menatapku tajam. Dapat kudengar tawa sinis keluar dari bibirnya.

Dia menggebrak meja dan berdiri. “Im Yoona, kau tahu aku sedang marah,” katanya.

Dan setelahnya dia pun berlalu. Meninggalkanku sendiri dengan perasaan campur aduk. Aku terlalu mengenal Kyuhyun untuk menganggap tidak tahu apa-apa. Rasanya, rasa bersalah kembali merasuki. Seperti tahun dulu.

Tidak cukupkah dua pria—Max dan Donghae—saja yang membuatku pusing?

Aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak pandai dalam hal cinta. Nampaknya, kebodohanku akan semakin bertambah; pun tidak pandai menyembunyikan rasa. Wajah dan sikapku selalu menunjukkan semuanya.

Hari-hari terakhir, otakku penuh dengan masalah Kyuhyun. Aku hanya menyisakan sedikit ruang untuk Donghae, sengaja memang. Sebagai uji coba bagaimana hidupku tanpa dirinya. Lucu memang. Pemuda itu selalu berhasil membuatku tersenyum dan sesak beberapa waktu setelahnya. Aku tidak terlalu memikirkannya. Selama aku masih bisa bernafas dengan baik, itu tidak masalah.

Karena apa….aku akan menunggunya.

Cukuplah aku menghancurkan diriku sendiri dengan berpura-pura ingin melepasnya. Aku memutuskan untuk menunggu, sampai batas waktu tertentu. Sampai aku yakin ada seseorang yang bisa mengangkat harga diriku kembali, aku akan berpikir untuk melepasnya. Ini mungkin terdengar berlebihan.

“Kau tidak suka makannya?”

Suara Donghae mengejutkanku. Kali ini, kami sedang makan bersama. Aku tidak menolak saat dia mengajakku makan siang bersama. Toh, aku butuh menikmati wajahnya, senyumnya walau hanya beberapa menit. Wajahnya bisa menjadi obat untuk stressku selama beberapa saat.

“Haruskah aku memesankan makanan baru untukmu?”

Aku mengerjap, tersadar bahwa sedari tadi Donghae berbicara denganku. Aku segera menggeleng saat Donghae hendak memanggil pelayan. Aku mencoba berkonsentrasi dan mulai menyendok nasiku.

“Yoona, jangan sampai kau sakit. Karena jika kau sakit, aku pun akan sakit.”

Brengsek.

Donghae tidak perlu mengucapkan I love you hingga ribuan kali untuk membuatku mencintainya. Lebih dan lebih sampai aku tidak tahu, apakah aku bisa membencinya sekalipun dia menyakitiku. Hanya dengan perhatian kecilnya, mampu membuatku bertekuk lutut di depannya

Ruangan rapat begitu mengusik telingaku. Leeteuk bahkan sedari tadi mondar-mandir, sementara bibirnya terus menggumamkan sesuatu. Yang lainnya pun tampak melakukan hal yang sama. Sementara aku, hanya duduk di tempat. Mencoba menetralkan perasaanku. Menyeimbangkan pikiran dan hati.

Rapat dengan Cho Kyuhyun. Sejak pertemuan kami tempo hari, aku belum berhubungan lagi dengannya. Rasanya akan begitu canggung. Melihat Kyuhyun marah, jujur saja membuatku merinding. Dan yah, rasa bersalah tentu saja akan hadir menyapa.

Suara tapak kaki terdengar mendekat. Semua orang kembali ke kursinya masing-masing. Aku menghela nafas dalam-dalam. Mensugesti diriku bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Aku cukup tahu bahwa Kyuhyun tidak akan merusak rapat ini hanya karena aku hadir di dalamnya.

Donghae tersenyum ke arahku. Senyumnya mampu membuatku sedikit tenang. Di belakangnya, ada dua orang pria asing dan Kyuhyun. Donghae membuka rapat. Aku berusaha berkonsetrasi, mendengar dengan baik apa yang diucapkan Donghae.

Sesekali kulirik ke arah Kyuhyun yang juga tampak mendengarkan penjelasan Donghae dengan seksama. Tiba akhirnya, kami tengah menunggu Kyuhyun dan dua pria asing yang tampak berdiskusi, memutuskan bagaimana kelanjutan hubungan kerja ini.

Deal!” ucap Kyuhyun mantap.

Semua tampak begitu lega. Donghae tersenyum senang ke arahku. Aku membalasnya. Dia benar-benar pria yang mendekati kata sempurna menurutku. Aku terpukau dengan kecerdasannya dan karismanya yang kuat. Bagaimana dalam kalimat yang diucapkannya mampu menghipnotis semua orang. Termasuk aku…

Aku melirik Kyuhyun yang juga tengah menatapku. Setelahnya, dia mengalihkan perhatiannya dan berdiri. Rapat usai. Aku berencana untuk menjelaskan semuanya pada Kyuhyun hari ini. Aku hendak berbalik saat sebuah tangan menarikku.

Donghae menatapku dengan aneh. Aku masih tidak bisa membaca ekspresinya, belum.

“Aku harus pergi, Donghae-ya,” kataku.

Donghae tampak terkejut, tapi ekspresinya berubah lagi menjadi datar. Dia melepaskan genggaman tangannya. Aku tersenyum tipis sebelum berlari keluar.

Heels yang kukenakan mempersempit ruangku untuk bergerak. Nafasku sudah ngos-ngosan dan aku belum juga menemukan Kyuhyun. Aku memutuskan untuk menunggunya di basememt¾tempat parkir. Aku hanya berharap Kyuhyun belum meninggalkan kantor ini.

“Mencariku?”

Aku berbalik dan mendapati Kyuhyun berdiri lima meter dariku. Dia berjalan menuju mobilnya. Ekspresinya masih menyeramkan untukku.

“Masuklah, kita bicara di dalam!” perintahnya.

Aku menurut. Kini kami berdua berada di dalam mobil. Basement ini begitu sepi, hanya ada mobil mewah; yang harganya sangat menggiurkan, terparkir rapi. Keheningan menyelimuti selama hampir sepuluh manit.

Kyuhyun berdehem, “Aku baru saja mengumpati Max saat dia berkata bahwa dia sedang berkencan.”

Aku menoleh ke arahnya. Tidak tahu harus merespon apa. Kata yang telah aku susun untuk menjelaskan situasiku seolah lenyap. Kehilangan seorang sahabat yang berarti, itu mengerikan.

“Aku baru sadar beberapa menit yang lalu, bahwa Max bahkan mengucapkan aku sedang berkencan seolah itu adalah lelucon,” lanjutnya.

Cho Kyuhyun dan Max Changmin, sepasang sahabat, dengan prinsip, we life at the same world. Yang jika ditafsirkan dalam kamusku akan menjadi seperti ini: jika kau senang maka aku senang, jika kau sedih maka aku sedih dan jika kau kecewa maka aku juga kecewa. Aku tidak tahu apa ini terdengar begitu melankolis untuk prinsip seorang pria?

Sampai aku bertemu dengan mereka berdua dan masuk di dalamnya. Kenangan yang tak berani aku sentuh lagi selama beberapa bulan ini; sejak aku memutar balik hidupku dan memilih bersama Donghae. Masa-masa indah yang hendak kami rajut bersama kandas karenaku.

“Kau dan Tuan Lee, apa hubungan kalian?”

Kyuhyun bertanya dengan nada tajam, kentara sekali dia tak suka mengatakannya. Aku sudah mengatakannya jika Kyuhyun mengenalku begitu baik, kan? Dan aku pun mengenalnya dengan cukup baik. Aku lebih menyukai Kyuhyun jika dibandingkan dengan Max, sebagai sahabat, karena setidaknya aku masih bisa membaca emosi dari wajahnya. Dan sekarang, aku tahu dia sedang marah. Saat kekecewaan dan kemarahan bercampur padu.

“Kyu…,” lirihku. Tenggorokanku tercekat. Aku tak bisa mengucapkan apa yang harus kuucapkan.

Kyuhyun berdecak, “Aku akan menghajar Max jika aku bertemu dengannya!” geram Kyuhyun.

Aku menggeleng pelan. Mataku memanas. Karenaku, Kyuhyun dan Changmin harus bertengkar. Pernah mereka bertengkar sekali, apakah aku harus membiarkan hal itu terulang lagi? Dengan tetap menutup mulutku rapat-rapat dan bersikap munafik menganggap bahwa aku tak tahu apa-apa?

“Tidak boleh,” lirihku.

Kyuhyun tertawa sinis. “Aku menghabiskan setengah umurku bersama Max. Aku mengenalnya melebihi siapapun, dia sangat mencintaimu. Sampai sekarang!”

Aku merasa bahwa Kyuhyun sedang memojokkanku. Salah siapa Changmin meninggalkanku, bahkan aku sudah menangis memohonnya agar tidak pergi. Apa yang Kyuhyun harapkan? Aku menyusul Max ke Perancis dan meninggalkan keluargaku? Memutus semua rencanaku (dan Donghae) untuk membahagiakan nenek dan membuat keluargaku sedih? Segila-gilanya diriku, setidaknya tidak sia-sia tingginya kecerdasan yang aku miliki untuk berpikir secara rasional.

“Apa ini hanya perasaanku saja atau kau sedang memojokkanku, Kyu?” gumamku. Air mata jatuh menyusuri pipiku. Segera aku menghapusnya.

Kyuhyun menatapku dalam. Helaan nafasnya terdengar, disusul jemarinya yang meraih dan menggenggam tanganku. “Aku hanya kecewa, kenapa kalian tidak berusaha mempertahankannya?”

Diantara keluargaku, orang-orang terdekatku, mungkin Kyuhyunlah yang juga menyesali perpisahanku dengan Max. Dia satu-satunya orang¾selain Yuri¾yang tahu tentang perjalananku dengan Max.

“Aku bahagia jika kalian bahagia. Seharusnya, kalian memberitahuku lebih dini,” kata Kyuhyun.

Aku menghela nafas lega saat melihatnya tersenyum. Aku meringis kecil, seharusnya aku menceritakan yang sebenarnya pada Kyuhyun. Maka, aku tidak akan mendapati tatapan tajamnya yang menyudutkanku.

“Kau masih mencintai Max?”

Pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan Kyuhyun membuatku mengerjap. Kini, bayangan Donghae yang bersarang di otakku.

“Tentu…” Aku mengucapkannya mantap, seolah tak ada keraguan disana.

You such a liar,” kata Kyuhyun.

Aku menghela nafas berat. Sementara Kyuhyun tengah menantikan tanggapanku. Aku tidak benar-benar berbohong, bahwa masih ada perasaan istimewa yang aku sisihkan untuk Max. Saat kenanganku bersamanya berhasil membuatku bertahan ditengah keterpurukan.

Aku menghela nafas sebelum membalasnya, “Can you love and hate someone so much at the same time?”

Kyuhyun hanya mendongak mendengar tanggapanku. Dia hanya mengangguk-angguk mengerti, entah mengerti dalam arti yang sebenarnya atau tidak.

And can you love and hate yourself so much at the same time?”

Langit Seoul yang kelabu menutup bintang yang seharusnya berpendar indah malam ini. Menghancurkan harapanku untuk setidaknya dapat menikmati sedikit hiburan dan menghapus gagasan nightmare saat aku memejamkan mata.

Tanpa berganti baju aku langsung menghambur ke tempat tidur. Aku lelah. Percakapanku dengan Kyuhyun kembali terngiang. Aku sudah menceritakan semuanya pada Kyuhyun—minus perasaanku pada Donghae, tentu saja. Aku belum siap untuk menceritakan tentang perasaan yang kami libatkan dalam permainanini. Reaksi Kyuhyun, tentu saja dengan terang-terangan mendukung Max. Dia berkata bahwa alasanku konyol, dan masih banyak cara lain untuk membahagiakan nenekku.

Tapi sayangnya aku terlanjur jatuh kepada Donghae.

Aku menatap seekor lebah yang hinggap di langit-langit kamarku. Apa lebah juga mempunyai kehidupan dan kisah cinta yang rumit sepertiku?

Hidupnya hanya berkisar tentang madu dan madu, bekerja dan bekerja. Meskipun hidupnya singkat, sepertinya lebah benar-benar mengabdikannya dengan baik. Dan tentu saja mereka tidak ambil pusing dengan urusan cinta. Tidak sepertiku tentu saja.

Aku memikirkan ulang perasaanku pada Max, Kyuhyun dan Donghae.

Max Changmin. Lelaki yang semula hanya menjadi sahabatku, kemudian dengan semua kebersamaan kami, kami berubah menjadi pasangan. Aku mencintainya. Bahkan ketika dia tiba-tiba meninggalkanku, rasa itu masih tersisa ada sampai sekarang.

Cho Kyuhyun. Aku menyayanginya, sangat. Tapi hanya sebatas sebagai sahabat. Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia akan menyatakan perasaannya seperti yang dilakukannya tempo hari. Apa selama ini dia mengubur perasaannya dalam-dalam, terutama setelah aku dan Max bersama?

Aku mencintai Calista, Max!”

Pening sialan yang menyerangku saat itu. Samar, aku yakin bahwa apa yang aku dengar bukan mimpi belaka. Aku terbangun dan mendapati darah kering di sudut bibir Max. Max hanya diam saja saat aku mengobati lukanya, tanpa berniat menceritakan sebenarnya. Dan aku memutuskan untuk menganggap bahwa apa yang kudengar hanyalah mimpi.

Itulah pertama kalinya Max dan Kyuhyun bertengkar. Aku ingin menafiknya dengan menganggap bahwa aku bukanlah tersangka utamanya. Mereka memainkan sandiwara begitu apik. Kyuhyun meminta kami untuk bahagia dan menikah. Max tersenyum ke arahku, di depan Kyuhyun kami berjanji untuk melakukannya. Dan sekarang, aku mengingkarinya. Tidak salah jika Kyuhyun marah padaku.

Lee Donghae. Laki-laki itu dengan mudahnya masuk ke kehidupanku dengan cara mengejutkan. Dan sialnya aku tidak bisa mengelak dari kehadirannya dan jatuh cinta kepadanya. Entah kenapa dengan mudahnya aku melupakan kesedihanku saat ditinggalkan oleh Max dan dalam hitungan hari jatuh cinta padanya. Laki-laki yang sudah memporak-porandakan perasaanku dengan kejam.

Saat ini, aku tidak ingin memikirkan siapa yang sebenarnya kucintai dengan sepenuh hati. Bisakah…?

Suara bel terdengar pagi-pagi sekali, saat aku masih menggunakan piyama dan menyiapkan sereal untuk sarapan. Aku mengintip dari intercom. Wajah tampan yang sangat kurindukan, yang mengisi mimpi-mipiku. Donghae? Untuk apa dia pagi-pagi sekali datang ke apartemenku?

Aku membuka pintu, dan kulihat Donghae sudah berdiri tegap dengan setelan kerjanya yang rapi. Senyuman terjahit manis di wajahnya. Aku tersenyum kecil dan menyuruhnya masuk.

“Ada apa?” tanyaku. Kedatangannya yang tiba-tiba berhasil membiusku, menyingkirkan pikiran-pikiran yang memenuhi otakku.

Dia menoleh, “Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu sarapan bersama.”

Dahiku mengkerut, “Ah, aku bersiap-siap dulu.” Dia menarik pergelangan tanganku saat aku hendak berdiri. Hanya dua detik, tapi sensasinya masih terasa hingga senyum mengembang dari sudut bibirnya. Dia mengangguk, mengisyaratkanku untuk duduk kembali.

“Kita sarapan di sini saja. Kau tidak keberatan, kan?”

Aku tertegun dan mengangguk. Aku bangkit berdiri hendak menyiapkan sarapan. Donghae mensejajari langkahku yang berjalan menuju pantry dan menyiapkan semangkuk sereal untukku dan untuknya.

Kami makan dalam diam. Saat beberapa sendok sereal sudah masuk ke dalam perutku, suara Donghae memecah keheningan diantara kami.

“Kau…ada hubungan apa dengan tuan Cho?” tanyanya menyelidik.

Aku tersedak. Segera kuteguk air putih. Untuk sesaat aku memilih untuk mengabaikan pertanyaannya. Aku mengusap bibirku, kemudian menatapnya dan tersenyum kecil, “Tidak ada hubungan apa-apa.”

“Jangan berbohong padaku, Im Yoona.”

Well, aku mencium pertengkaran pagi ini. Kalimat bernada intimidasi mulai terucap dari bibirnya. Aku menatapnya dan mendapati matanya tengah menatapku tajam. “Aku tidak berbohong. Aku mengenalnya saat aku di Paris dulu.”

Matanya menyipit. “Aku melihatmu kemarin masuk ke dalam mobilnya. Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya.”

Mataku membulat sempurna. Tanganku terkepal kuat di bawah meja. Apa Donghae mengikuti? “Dia sahabatku, kenapa aku tidak boleh bersamanya?”

“Kau sudah cukup banyak berhubungan dengan banyak laki-laki. Kau tidak khawatir tentang pandangan orang lain padamu?”

Persetan dengan omong kosong mereka. Amarahku memuncak. Apa sekarang dia sedang menyindirku, secara halus mengatakan bahwa aku ini pelacur? Dadaku naik turun menahan emosi. Senyum yang ditunjukkan Donghae beberapa menit lalu lenyap entah kemana.

“Berhubungan dengan banyak laki-laki? Maaf sudah menghancurkan harapanmu, tapi aku bukan wanita murahan seperti yang kau anggap. Aku pernah merendahkan harga diriku sendiri di depanmu, tapi bukan berarti harga diriku bisa kau injak-injak semaumu Donghae-ssi.”

“Aku tidak menganggapmu seperti itu.” Keterkejutan tampak di wajahnya. Dapat kulihat rahangnya yang mengeras.

“Tapi kata-katamu menunjukkan seperti itu!”

Aku menatapnya sengit. Mataku mulai memanas. Mati-matian aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Kenapa rasanya sakit sekali mendengarnya merendahkanku? Sial!

“Aku hanya tidak suka kau berhubungan dengan laki-laki lain selain aku, Im Yoona. Mengertilah…” suaranya berubah lembut. Tatapan matanya tidak setajam tadi

Mengerti dan mengerti. Apa diantara kami, harus selalu Im Yoona yang mengerti? Bagaimana aku mengerti tentang hubungan Donghae dan Tiffany, yang bahkan setiap detik jika aku mengingatnya, luka itu masih ada di sana. Kekhawatiran yang menjemukan itu tak pernah hilang seutuhnya.

“Lalu? Apa hakmu melarang-larangku seperti itu? Apa aku harus terus mengikutimu kemanapun kau pergi? Seperti itukah? Kupikir setelah aku mengetahui bagaimana rasa yang kau berikan untuk Tiffany, aku bisa berharap titik temu itu ada. Saat dimana kita berjalan di arah yang sama. Tapi ternyata, kau bahkan tak mempercayaiku. Pernahkah sekali saja kau mempercayaiku, Donghae-ssi?”

Mungkin apa yang aku katakana cukup kasar. Tapi inilah sesungguhnya yang aku tahan. Ada kalanya aku ingin menemukan sesuatu yang bisa mengenyahkan perasaanku; mengembalikan diriku yang dulu. Gadis gila. Aku tidak ingin berpikir bahwa aku seperti itu, tapi apa yang telah kulakukan mengindikasikan bahwa aku seperti itu.

Tatapan Donghae kembali mengeras. Tangannya terkepal di atas meja. Raut wajahnya bahkan tak menunjukkan sedikit penyelasan, atau mungkin tersentuh dengan kejujuranku.

“Kau tunanganku, aku berhak melarangmu untuk mendekati dan didekati pria lain, sekalipun pria itu bukan apa-apa dan tidak berarti apa-apa untukmu.”

“Hanya itu? Hanya karena kita bertunangan?” Aku tersenyum mencemooh ke arahnya. Entah sejak kapan kata bertunangan itu terdengar begitu menjijikkan di telingaku. “Hei, kuingatkan kau tuan Lee. Meskipun kita bertunangan kita tidak harus mencampuri urusan masing-masing bukan? Bukankah seperti itu perjanjian kita?”

Donghae terdiam. Air mataku mendesak keluar. Dia hanya tidak ingin tersaingi oleh pria lain. Dia tidak pernah mencintaiku. Apa yang aku katakan adalah sebuah kenyataan pahit yang tak tertutupi. Donghae bahkan tak membatah barang sekatapun. Rasanya benar-benar sesak.

“Kau memang brengsek, Lee Donghae. Kau selalu berhasil menghancurkanku!”

Dapat kulihat mata Donghae berkilat mendengarnya. Aku tertawa sinis. Hingga saat seperti ini, saat-saat dimana perasaan yang terlibat, aku bahkan masih belum bisa membaca ekspresi wajahnya.

“Kenapa? Kau keberatan?” tanyaku.

“Aku…menghancurkanmu? Apa yang kau bicarakan?” tanyanya tenang.

“Kau dengan seenaknya masuk ke dalam kehidupanku, menawarkan perjanjian itu dan kemudian memberikan harapan padaku, membawaku terbang dan kemudian dengan seenaknya pula kau menghempaskanku jatuh. Apa kau tidak pernah berpikir bahwa itu akan menyakitkan?”

Donghae masih diam. Matanya menatap lurus ke dalam mataku yang penuh dengan air mata. Kuhapus air mata yang terjatuh dengan kasar.

“Sekarang, karena sudah jelas bahwa kau memang hanya menganggapku sebagai ‘patner’ kerja,” aku menekankan kata patner padanya. Sekilas kulihat gejolak di matanya bertambah saat mendengarnya. “Jadi, aku harap kita tidak mencampurkan perasaan apa pun dalam hal ini. Aku akan bertindak profesional, dan aku harap kau juga seperti itu. Dan sepertinya pernikahan kita harus cepat dilangsungkan, mengingat keadaan nenek. Dan aku harap kau menepati janji kita, bahwa kita akan berpisah setelah nenek tiada, atau maksimal satu tahun setelah kita menikah.”

Donghae hanya terdiam. Kemungkinan terkejut dengan pengakuanku. Ah, tapi sepertinya tidak. Justru akulah yang perlahan menyesali apa yang telah terucap. Hanya detak jarum jam yang menjadi musik pengiring. Aku berdiri dan membereskan mangkukku. Saat aku berjalan ke dapur untuk mencuci mangkukku, tangan Donghae menghentikanku.

Dia tersenyum tipis, “Apa ini kesimpulan yang ciptakan?”

Aku menatapnya dalam-dalam. Hampir tak percaya jika janji yang aku ciptakan harus kulanggar secepat ini.

A/N:

Alur ngalor-ngidul, bahasa semrawut. Aku bukannya kelamaan nyari idenya, tapi nyari waktunya buat nulis. Dan kemarin sempet ada masalah juga, waktu editing datanya ilang dan harus ngulang dari awal. Mianhae~

Yang berharap Changmin muncul, so sorry karena yang muncul malah Kyuhyun. Changminnya sibuk kencan jadi dia mewakilkan Kyuhyun.

Oh ya, thanks buat komentarnya. Aku gak bisa janjiin next part cepet, soalnya aku masih sekolah pagi dan sore-_-

Advertisements

45 comments

  1. Waahhh aku kira itu tadi max? Wkwkwk ternyata kyuhyun toh. Aku pikir dia siapa, cukup was was tadi tapi udh tenang karna dia sahabat max hahaha
    Dan ituuuu Donghae nih mau nya apa sih? Kok egois banget. Intinya dia mau sama siapa tiffany atau yoona? Tau si ini demi kebaikan neneknya ya tapi jangan buat yoona berharap terus lah, konsisten, mantepin perasaannya buat tiff atau yoona?

  2. Donghae donghae,,dianya boleh deket sm tiff dn memberikn tiff harapan tapi yoona deket dg cowok lain masa nggak bole..:adeeuuhhhh
    Lanjuutt.

  3. kirain yang muncul changmin :v
    donghae what r u doin’
    ngertiin juga lah perasaan yoona, nyesek juga jadi kali yoona. kamu sih ngek gak kasih kepastian dan mengerti posisinya wkwk😂😂 jangan egois juga lah

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s