Last


 tumblr_m8gcrgxUMo1qfccuso1_r1_500

Last by jeanitnut

And I prayed to God, hoping to meet with her

And start an ordinary relationship

…an ordinary kind of love with her

Di sudut kota Hiroshima, laki-laki itu duduk memandang langit biru. Awan mengepung di langit, dan sesekali burung melintasi pandangannya. Gemuruh suara orang berlarian; menyebutkan bermacam-macam kata yang tak ia pahami tampak diabaikannya.

“Sehun-san…”

Laki-laki itu berbalik. Senyum terulas dari sudut bibirnya. Gadis berperawakan mungil muncul dari balik pagar rumah yang ditempatinya. Sehun bertemu gadis itu seminggu yang lalu, saat ia makan siang di kedai seberang. Yukiko—gadis itu menabraknya, menumpahkan saos di kaos putih miliknya.

Yukiko mengatur nafasnya, menghentikan langkah saat berjarak lima meter di depan Sehun. “Ayah bilang bahwa pesawat-pesawat milik Amerika Serikat terus mengitari pulau Honsu, alarm peringatan terus berbunyi.”

Sehun mengerutkan dahi. Dia bukan tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan gadis di depannya. Sebodoh-bodoh dirinya, ia masih mengerti bahasa Jepang. Ibunya selalu mewanti-wanti agar ia mempelajari bahasa itu.

“Sebaiknya Sehun-san segera meninggalkan negara ini secepatnya.” Ada kecemasan, keraguan dan kesedihan yang ditangkap indra pendengaran Sehun saat gadis itu berucap. Sesaat dia terkesiap. Menyadari kondisi dan situasi yang menghadang. Mengalihkan perhatiannya dari bayang sang putri yang melenakan.

Sehun berjalan ke arah Yukiko, tapi gadis itu mundur selangkah. “Arigatou (terima kasih) Yuki-san,” ucapnya tulus.

Mata gadis itu berkaca-kaca. Senyum terulas dari sudut bibirnya. Rambut hitam sebahunya berkibar-kibar tertiup angin saat ia berlari. Langkahnya semakin menjauh, jauh meninggalkan Sehun yang menatapnya dengan perasaan berkecamuk.

Kedua tangan Sehun saling berpaut. Ada ketegangan yang terpancar lewat matanya. Laki-laki berambut hitam kecoklatan itu berjalan menyusuri jalan setapak. Langkah kaki membawanya menuju jembatan Aoi. Pandangannya jatuh pada padatnya orang-orang yang berdagang.

“Menurutku, Jepang terlalu indah untuk dijadikan tempat bersembunyi.” Suara itu, suara yang selalu mengisi mimpi-mimpinya. Apa ini fatamorgana di siang bolong?

Putri yang mengisi malam-malam kelamnya, tiba-tiba hadir di depannya. Mata itu membelalak tak percaya, jantung itu berdetak abnormal seperti dulu. Dia meneguk ludah, tenggorokannya terasa kering tiba-tiba.

“Putri…” Butuh dua menit hingga kata—yang sarat akan kerinduan—itu berhasil keluar. Dua pasang mata milik keduanya saling tersenyum. Disaksikan dua buah kelopak sakura yang jatuh di sisi jembatan.

“Kau bahkan melupakan namaku.” Gadis itu berjalan mendekat. Berhambur memeluk pemuda di depannya. Erat.

Sehun tersadar, “Nara-ssi…” gumamnya.

Dan angin semilir yang bertiup pun tahu apa yang dirasakan kedua anak manusia itu. Kerinduan di tengah padang harapan. Keputusasaan ditengah penantian yang menyesakkan. Sebuah kebahagiaan, ucapan syukur pada Tuhan karena kehadiran satu sama lainnya.

Di bawah langit musim panas yang benderang, di tengah suasana genting yang mendebarkan. Seolah segala sesuatu berjalan dengan amat baik, tanpa ada sesuatu untuk dikhawatirkan. Kedua orang itu berjalan bersama, menikmati setiap detik yang terlewat dengan saling mengagumi.

Sehun menatap gadis cantik disampingnya. Nara mengenakan shirtdress kuning yang dipadukan dengan fedora putih susu. Wajah yang dipahat dengan sempurna itu masih menjadi pemandangan yang paling indah di mata Sehun, mengalahkan keindahan sakura yang sedang mekar.

“Bagaimana kau bisa berada di sini?” Gadis itu melirik sekilas, matanya masih mengamati dua kertas dalam genggamannya. Sesekali matanya menyipit, dahinya pun mengkerut.

Merasa diabaikan, Sehun memegang pundak Nara, memutar tubuhnya sehingga kini berhadapan dengannya. Ekspresi gadis itu tampak terkejut sesaat. Mungkin, apa yang dilakukan Sehun sedikit lancang, tapi tampaknya gadis itu tidak keberatan.

Sehun masih menunggu jawaban Nara. Gadis itu memberikan secarik kertas yang disimpannya di saku. Kertas berwarna biru laut itu tampak lecek. Ada dua baris kalimat yang tertera: aku ingin pergi ke tempat dimana tidak ada seorang pun yang bisa menemukan kita. Bersamamu, Kim Nara.

Laki-laki itu termangu. Pandangannya kosong ke depan. Hatinya berkecamuk dengan bermacam emosi. Ditatapnya gadis disampingnya. Mencari jawaban akan berjuta pertanyaan yang teredam.

“Aku bukan gadis berusia sepuluh tahun lagi Sehun-ssi. Kedua kakakku, aku tidak ingin hidup seperti mereka. Aku ingin meraih kebahagiaanku sendiri, tidak apa-apa, kan?”

Oksigen itu seakan menipis. Angin yang bertiup di tengah udara ekstrim seolah lenyap. Peluh mengucur deras dari pelipisnya. Sehun tersentak, entah mengapa pertanyaan yang ditujukan Nara padanya seakan menohoknya.

“Nara, ini ti-dak be-nar,” katanya tersendat. Hatinya menolak, mencemooh dirinya.

Nara menyeringai, “Kau bahkan tidak mengatakan sesuatu berdasarkan kehendak hatimu. Aku belajar bahwa untuk meraih kebahagiaan itu, terkadang kita harus menukarnya dengan sesuatu yang berharga.”

Gadis itu bahkan tahu segalanya. Sehun menafiknya, seorang sampah sepertinya, bertemu gadis seperti Kim Nara adalah kesalahan. Dia bahkan membawa gadis itu pada titik ini, meninggalkan kehidupannya. Kim Nara, putri bangsawan yang ditemuinya setahun lalu.

Sehun menghirup oksigen dalam-dalam, “Apa ini masuk akal? Bagaimana bisa seorang gadis yang memiliki segalanya bersama dengan pemuda yang tidak memiliki apa-apa?”

Iris coklat gadis itu berkilat, tapi seulas senyum masih menghiasi sudut bibirnya. “Lalu kenapa jika gadis sepertiku bersama dengan pemuda sepertimu?”

Rahang Sehun mengeras. “Kim Nara-ssi!” Sehun membentaknya, untuk pertama kalinya. Lagi-lagi hanya senyum yang ditunjukkan gadis itu. “Nara-ya…” Sehun mengucapkannya lirih. Menyesali nada bicaranya yang kelewat batas. Siapa sih dia dengan beraninya membentak gadis itu? Seseorang dari kasta terendah sepertinya bahkan tak berhak untuk menatap sang putri dari radius sepuluh meter.

Nara mendesah sesaat, meletakkan kertas dalam genggamannya ke pangkuan Sehun. Matahari tampak mulai menurun, beberapa jam lagi sebelum kembali ke peraduannya.

“Di dunia ini, orang yang paling aku hormati adalah ayahku. Dulu, sebelum dunia hancur seperti ini. Keserakahan telah mengubahnya, aku menyadarinya sejak awal. Untuk mempertahankan kedudukannya, ia mengorbankan kebahagiaan anak-anaknya. Kami harus menikah dengan seorang bangsawan, tidak peduli apakah cinta itu ada atau tidak,”

“Betapa mengerikannya hidup dengan keterpaksaan seumur hidup. Dan aku memilih untuk menolaknya, sepanjang hidupku, ini adalah keputusan tanpa keragu-raguan yang pernah aku buat. Jadi, Sehun-ssi, bersediakah kau mendukung keputusanku ini hingga akhir?”

Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan betapa tidak adilnya dunia ini. Tidak ada kalimat yang tepat untuk menjabarkan betapa hebatnya gadis bernama Kim Nara. Ditengah kebisingan yang semakin membahana Nara masih bisa melihat pemuda itu menganggukan kepalanya.

“Apakah aku bisa menolak?”

Karena jika ada, itu adalah suatu hal yang mustahil. Idiot macam apa yang menolak saat seorang putri menawarkan kebahagiaan di depannya? Kekuatan cinta mungkin terlihat begitu mengerikan. Karena sesuatu yang dinamakan cinta bisa membuat hal yang mustahil menjadi nyata.

Sekelebatan bintang jatuh melesat. Kemilau cahaya yang menyilaukan mata. Nara berlari mendekat ke arah cahaya itu berasal. Disusul Sehun yang berjalan di belakangnya.

“Aku berdoa pada Tuhan, bisakah aku memulai kisah cinta sederhana bersama Sehun-ssi, dalam keadaan perang seperti ini?”

Suara alarm terdengar kembali. Tiba-tiba angin bertiup kencang menamparnya. Sehun meremas secarik kertas dalam genggamannya. Keegoisan menahannya hingga sekarang. Terbayang olehnya saat Yukiko tersenyum ke arahnya beberapa jam yang lalu. Membawa satu kantong berisi pakaian. Disusul penduduk yang berlarian dan berteriak tiada henti.

Nara tersenyum, jemarinya menggenggam erat tangan Sehun. Duduk keduanya di padang rumput. Padang ilalang yang membentang, bersama suara jangkrik yang berkicau. Dan derasnya aliran sungai di depan sana menjadi pengiring mereka.

“Larilah Kim Nara…”

Hening yang menyelimuti. Bahkan suara jam kuno yang terpajang apik di dalam rumah dapat terdengar. Sehun mengucapkannya dengan lirih. Nara mengabaikan gumaman itu, matanya terpejam. Menikmati setiap hempasan angin yang meniupkan rambutnya.

Shireo! (Tidak mau!),” ucapnya lantang.

Sehun menoleh, berdecak kesal. “Kau tidak tahu bahwa kita berada di tempat berbahaya? Kita bisa mati kapan saja, entah itu satu jam lagi atau satu hari lagi. Kembalilah ke Korea…”

Nara melepaskan genggaman tangannya pada Sehun. Kedua tangannya terentang sempurna, lantas berbaring di atas padang rumput. Menatap bintang yang berpendar di langit luas. Berapa tahun lamanya, ia tak mendapati kebahagiaan seperti ini.

“Kau tidak mengerti betapa bahagianya aku sekarang Sehun-ssi,” gumamnya.

Sehun menatap gadis di sampingnya dalam. Kebahagiaan yang membuncah di dadanya, hingga rasanya ia bisa gila. “Aku mengerti perasaanmu, Nona…”

Nara menoleh, tersenyum lembut ke arah Sehun. Pemuda itu menerawang menatap langit malam. Dia ingin menyenyahkan logika yang akan merenggut kebahagiannya. Sekarang, ia hanya akan tetap berdiri dimanapun gadisnya berpijak. Sekali lagi, ia berdoa pada Tuhan. Ia bahagia.

Nara memutar tubuh Sehun ke kanan; menghadapnya. “Kita harus mulai menciptakan kenangan indah disini, Sehun-ssi,” katanya pelan.

Sehun mengangguk. Tangannya terulur ke depan. Dielus-elusnya rambut gadis itu. Ia tak kuasa menolak, jika gadis itu memintanya untuk bertahan, maka ia akan bertahan. Sisa malam itu diwarnai senyum kebahagiaan. Di langit, satu bintang yang paling indah itu pun ikut tersenyum.

“Nara-ssi, bagaimana kau tahu bahwa aku di Jepang, di kota ini?”

Pertanyaan yang tak sempat terkuak itu kini terangkat. Sehun menatap dengan seksama gadis di sampingnya. Menantikan jawaban Nara.

Gadis itu berdehem sejenak, “Pertemuan kedua, kau bilang padaku bahwa kedua orang tuamu meninggal disini. Kota Hiroshima, kota penuh kenangan untuk Sehun-ssi. Aku selalu mengingatnya.”

Kedua tangan itu saling bertautan. Membagi kehangatan dalam dinginnya malam. Satu persatu pertanyaan yang tersembunyi itu saling bermunculan. Sebaris dua baris kalimat berupa jawaban yang terlontar mampu menorehkan senyuman.

Sekarang Sehun mengerti mengapa ibunya memintanya untuk sering-sering berkunjung ke Jepang; karena di sinilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan di malam yang indah itu mereka mulai menciptakan kenangan baru. An ordinary kind of love…

Pagi itu langit terang benderang seperti biasanya. Pukul 8.15, dimana seluruh penduduk memulai aktivitasnya. Sehun sedang mengamati pohon sakura saat ia disentakkan oleh ledakan yang luar biasa dahsyat. Ia berusaha menutup telinganya saat suara desingan peluru, raungan pesawat tempur dan dentuman bom terdengar. Jatuh seberkas cahaya putih yang menyilaukan mata, seperti kemilau bintang yang dilihatnya bersama Nara malam yang lalu.

Kesadaran menghantamnya, sekuat tenaga ia berlari. Bunyi ledakan seperti kilat menulikan pendengarannya. Sekonyong-konyong, ia jatuh bangun berlari. Di depan matanya, dalam sekejap rumah yang ditempatinya luluh lantak, jantungnya berhenti berdetak. Setelahnya, ia tak mengingat apapun. Hanya senyum manis milik kekasihnya.

Saat tersadar, Sehun sudah berada di salah satu pondok. Butuh beberapa waktu lamanya untuk mengerti apa yang telah terjadi. Sekelilingnya ada banyak orang berteriak kesakitan. Banyak diantara mereka memiliki luka yang memilukan.

“Kau sudah sadar Sehun-san.”

Suara itu milik Yukiko. Gadis itu menatapnya dan menggeleng, menyadarkannya, menguak semua ingatan-ingatannya. Tentang Nara yang tertawa renyah bersamanya. Tentang mimpi yang hendak mereka rajut bersama. Dalam sehari, semua lenyap tak bersisa.

Air mata itu turun begitu saja menyusuri pipinya, hadir tanpa permisi. Kedua tangannya terkepal kuat, memukul-mukul lantai. Nara memberitahunya, tentang sebuah eksperimen nuklir beberapa tahun yang lalu di sebuah laboratorium di Manhattan. Dan hasil eksperimen itu baru saja di eksekusi. Merenggut kekasihnya.

Padang ilalang itu begitu luas. Sehun berlari kesana-kemari mencari sosok Nara. Tapi gadis itu tak muncul juga, entah dimana ia bersembunyi. Air mata mendesak keluar, dadanya terasa terhimpit. Tenaganya terkuras habis untuk berlari.

Sehun berbalik, hendak melengang pergi saat tangan dingin menarik lengannya. Nara berdiri di depannya, hanya beberapa jengkal dari wajahnya. Gadis itu tampak begitu pucat, melihatnya membuat hati Sehun teriris.

“Kau tidak pergi?” Gadis itu bertanya, Sehun menggeleng. Nara merengut, “Kembalilah Sehun-ssi, sampaikan maafku untuh ayah dan ibuku. Aku akan menunggumu,” sambungnya.

Percakapan terakhirnya dengan Kim Nara. Susah sekali bagi Sehun membedakan apakah pertemuannya dengan Nara hanya sekedar mimpi belaka atau benar-benar nyata. Tiba-tiba pening menyerang, perutnya bergejolak. Ia muntah-muntah.

Pening yang menyerang itu tidak hanya sekali, tapi hampir sepanjang hari. Hingga dokter yang menyelamatkannya berkata bahwa ia terkena radiasi, ia adalah salah satu dari ribuan hibakusa (korban bom atom).

Hari demi hari, korban berjatuhan. Diantara mereka—para hibakusa yang tengah menanti kematian. Sehun tersenyum samar. Langkah kakinya mendekat ke arah puing-puing yang berserakan (bekas ledakan bom atom).

Inilah hasil dari peperangan yang menggemparkan dunia, mereka yang tak bersalah ikut merasakannya. Dan pada akhirnya kedua belah pihak hanya akan merugi.

“Nara-ssi, terima kasih. Pesan terakhirmu, aku sudah menyampaikannya. Apa kau mau mendengar ceritaku?”

Matanya berkunang-kunang. Perutnya terasa terlilit. Sehun jatuh terduduk menahan sakit. Sebentar lagi, dia akan mencapai pada jalan itu, memulai kehidupan baru bersama Nara. An ordinary relationship…

Hari itu Nara bertanya padaku, mengapa aku tidak mengajaknya berlari saat orang-orang meminta kami berlari. Mengapa aku membiarkan ia menahanku saat aku memintanya untuk berlari. Dia memberi penjelasan tanpa aku memintanya, mengapa ia berada di jembatan Aoi saat itu. Dia bilang, “Karena aku mencintaimu Sehun-ssi.” Dan dikehidupan berikutnya aku akan menjawab semua pertanyaan yang belum sempat aku jawab seperti ini, “Karena aku egois, aku ingin memilikimu satu hari saja, Kim Nara.”

Untuk keegoisan yang pernah aku miliki, aku benar-benar menyesal. Hiroshima, kota penuh kenangan. 6 Agustus 1945.

-end

Sebuah cerita yang tersisihkan. Karena alur yang biasa, eksplorasi tokoh yang kurang menarik, dan segala kekurangan dalam cerita ini, aku gagal mengangkat ceritanya jadi sesuatu haha T_T

Hari ini hari spesial buat aku dan Kyuhyun, so I hope you all be happy^^

Enjoy~

Advertisements

5 comments

  1. yaa~ ini hari spesialku dgn kyuhyun jg. haha
    bagus ko. ngbayangin tahun 1945 ada sosok tampan macem Sehun, kena bom hiroshima 2 kali jg ngga apa. hahaha
    semangat, jeany!! ^^

  2. aku meninggalkan jejak kak. gak tau apa yang aku tulis mengenai cerita ini, yang jelas aku jatuh cinta dengan tulisanmu kak jeany.

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s