Not Alone


minho-krystal

Not Alone by jeanitnut

For lovely reader:  Kak Egiegol

Aku tidak akan mengeluh, karena kau membuatku sadar, bahwa sejak awal, aku tidak pernah dibiarkan sendirian.

Krystal Jung melongok ke sebuah kamar bercat putih di samping kamarnya. Matanya menyipit seiring dengan sebuah senyum yang terulas dari sudut bibirnya. Ibunya masih tertidur pulasmemeluk erat-erat guling kesayangannya. Viola! Artinya ia tak harus mendengarkan pep talk—obrolan pembangkit semangat—yang selalu dikumandangkan setiap pagi. Telinganya tak harus mendengarkan lantunan lagu-lagu cinta legendaris seperti Killing Me Sofly, oh bagaimana bisa lagu ini bisa disebut lagu cinta?

Gadis bersurai hitam itu melangkah dengan riang. Agaknya pagi ini ia terlalu bersemangat, keengganan menemui orang-orang kini telah sirna. Ibunya mungkin akan menjadi orang paling bahagia melihatnya sekarang, bahwa nasihat bagaimana-cara-berteman-dengan-orang-yang-menarik, yang selalu dijejalkannya tiap pagi akhirnya berhasil. Tapi tidak! Semua karena laki-laki yang ditemuinya di studio tari milik Amber.

Ketika itu Krystal salah masuk ruang, ia yang seharusnya memasuki studio musik bukan tari. Saat ia hendak melengang pergi, laki-laki di dalamnya lebih dulu memergokinya. Ia hanya bisa tersenyum kikuk saat laki-laki bertubuh tinggi tegap itu berjalan ke arahnya.

“Apa kita…saling mengenal?”

Krystal mengerjapkan matanya, ragu-ragu mendongak. Hingga ia dapat melihat dengan jelas sosok di depannya. Seolah ia memenangkan lotre berhadiah milyaran, Choi Minho—pemilik senyum menawan yang dikaguminya secara diam-diam kini berbicara padanya.

“Nona…” Minho mengibaskan tangannya di depan wajah Krystal, membuat gadis itu tersadar dan menunduk. Menyembunyikan rona malu-malu di sela rambut panjangnya. “Kau…Krystal Jung, kan?”

Dan Krystal tidak ingat kapan terakhir kalinya ia merasa bahagia sedemikian. Seolah-olah kini beban yang dipikulnya terangkat. Melupakan perceraian kedua orangtuanya yang baru beberapa hari lalu terlewati.

Dengan takut-takut Krystal mendongak, “Err, kau mengenalku?” Pertanyaan terkutuk itulah yang keluar dari bibirnya, membuatnya hanya bisa merutuk dalam hati.

Oh tentu Choi Minho mengenalnya. Siapa sih yang tidak mengenal gadis kuper—dan sekarang menyandang status anak brokenhome—yang fotonya terpampang besar-besar di mading SM Academy?

Minho tersenyum tipis. Dia menghapus sisa peluh yang menetes dan meneguk minuman sebelum menjawab, “Siswa yang berturut-turut menjadi juara umum selama empat semester.”

“Benarkah?” Krystal terpana, sungguh jawaban yang didapatkannya lebih dari yang ia harapkan. Ia tidak peduli lagi jika Hara dan kawanannya akan mempermalukannya lagi. Karena setidaknya laki-laki yang ia suka mengenalnya dalam sudut pandang yang lain. Itu sudah cukup.

“Kau sedang apa?” Minho bertanya sambil lalu. Laki-laki itu mengambil ranselnya dan berjalan menuju pintu. Serta merta, Krystal pun mengikutinya. Nyaris ia terjungkal saat tiba-tiba Minho berhenti, jika saja laki-laki itu tidak segera menggenggam tangannya. “Ruangan ini akan kututup, tapi jika kau per—“

“Tidak tidak,” sergah Krystal cepat. Gadis itu tak sadar bahwa perkataannya terlampau cepat, membuat Minho mengerutkan dahi. “A—ku tadi hanya salah masuk ruang,” imbuhnya, salah tingkah.

Minho mengangguk mengerti, ia lantas menutup pintu studio tari. Sedangkan Krystal hanya menatapnya dalam diam. Jantungnya masih berdetak tak normal saat suara denting kunci terdengar.

“Omong-omong, mau pulang bersamaku?”

Pukul tiga pagi ia baru terlelap. Dunia rasanya kini berada di tangan seorang Krystal Jung. Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Seperti hari yang lalu, ia melongok ke kamar ibunya. Sudah dua hari ini ia tidak mendengar suara menggelegar miliknya. Rasanya…sedikit aneh.

Semalam ia bahkan tak sempat menyapanya untuk sekadar mengucapkan selamat malam. Ia pikir, mungkin ibunya terlalu lelah setelah perceraian dengan ayahnya.

Hari Minggu ini ia punya janji dengan Minho untuk mengunjungi panti asuhan. Ia berjanji pada laki-laki itu untuk membantunya dalam acara bakti sosial. Well, setelah kejadian ‘pulang bersama’ tempo hari, ia menjadi lebih dekat dengan laki-laki itu. Minho adalah laki-laki yang berpandangan luas dan baik hati. Krystal merasa nyaman di dekatnya. Sepanjang perjalanan mereka hanya berbincang seputar; apa yang Minho lakukan, bagaimana sekolah Minho, hingga Hara dan kawanannya. Tidak ada yang istimewa, tapi senyum dan tawa yang dituturkan Minho pada setiap cerita yang disampaikan Krystal; tentang betapa konyolnya kelakuan Hara, membuat gadis itu menyadari bahwa ia tidak hanya memendam rasa kagum pada Minho. Tapi ia mencintai laki-laki itu.

Krystal memilih casual dress, rambutnya dikuncir satu ke atas. Ia melongok sekali lagi ke kamar ibunya, tapi wanita itu masih bertaham di posisinya—memeluk guling.

Tok…tok…

Gadis itu menarik nafas panjang dalam satu tarikan sebelum berjalan menuju pintu. Minho dengan jeans biru panjang dan kaos bertuliskan ‘Nothing Worth Having Comes Easy’ tengah tersenyum padanya.

“Kita berangkat sekarang, nona Jung?”

Krystal terkesiap saat tiba-tiba Minho menggenggam tangannya, membawanya menuju mobil antik—yang Krystal sendiri bahkan terheran-heran mendapati kenyataan bahwa di jaman sekarang masih ada mobil seperti itu. Ia hanya duduk membisu menatap jalanan ramai. Alih-alih membuka pembicaraan, ia bahkan sibuk meredam deguban jantungnya yang kian berpacu.

“Krys, kau…tampak pucat,” ujar Minho khawatir. “Apa kita pulang saja?”

Krystal menggeleng cepat. Mereka baru saja tiba, jadi bagaimana bisa Minho mengajaknya pulang? “Aku tidak apa-apa,” katanya menenangkan.

Ya, jika kau berhenti tersenyum dan tidak membuatku tampak tolol lagi.

Terkadang Krystal berpikir bahwa sosok seperti Choi Minho adalah sosok fantasi yang tak terjamah. Yang tak mungkin direngkuhnya dan hanya ada dalam bayang-bayang fana miliknya. Dia terlalu takut hidup di dunia yang kejam ini. Terlebih setelah kakaknya, Jessica Jung meninggalkannya, lalu ayahnya yang lebih memilih bersama wanita lain daripada ia dan ibunya. Sekali lagi, ia tak mungkin sanggup jika kehilangan orang-orang yang disayanginya.

“Krys…” Minho mengibaskan tangannya di depan Krystal. Buru-buru Krystal menoleh, dahinya mengkerut, mengucapkan kata ‘apa’ tak kasat mata. “Apa melamum itu adalah hobimu, huh?” tanya Minho.

“Eh?” Krystal masih terkejut saat tiba-tiba Minho meninggalkannya.

Dia terlalu menikmati apa yang didapatkannya dari laki-laki itu. Hari ini tanpa laki-laki itu sadari, ia membuat Krystal belajar banyak. Bahwa ia bukan gadis malang tanpa kasih sayang. Ia melihat gadis-gadis kecil yang bahkan tidak tahu siapa orangtuanya. Dibandingkan mereka, bukankah ia masih jauh lebih beruntung?

“Gadis-gadis yang malang,” gumam Krystal. Minho yang berdiri di sampingnya hanya menoleh dan tersenyum tipis.

“Setidaknya mereka tidak sendirian. Selama mereka masih bersama-sama, semuanya akan baik-baik saja.”

Tak terasa langit berubah menjadi gelap. Minho mengajak Krystal untuk makan malam di salah satu kedai sebelum mengantar gadis itu pulang. Krystal menurut saja karena sejujurnya ia masih ingin menikmati kebersamaannya dengan laki-laki itu lebih lama lagi.

Lima belas menit mereka habiskan dalam diam. Krystal menatap laki-laki di depannya dengan hati-hati. Takut-takut jika Minho memergokinya. Ia merasa, masih terlalu dini jika Minho mengetahui perasaannya. Ia tak ingin, perasaannya mengubah hubungan mereka. Bagaimana jika Minho tidak menyukainya atau bahkan membencinya?

“Ada sesuatu yang ingin aku katakan…” Krystal mendongak, membuatnya beradu tatap dengan iris coklat milik Choi Minho. “Mungkin ini terlalu cepat, tapi, aku menyukaimu nona Jung.”

Ada sebongkah perasaan yang meletup-letup di dadanya. Sejenis perasaan bahagia yang membuncah. Krystal masih termangu menatap senyum menawan di depannya. Ia hanya bisa tersenyum bodoh saat Minho menggenggam tangannya lembut.

“Aku tahu ini pasti mengejutkanmu, kau tidak perlu menjawabnya sekarang Krys,” Minho lantas menuntun Krystal ke mobilnya. Sedangkan gadis itu masih tak bergeming. Antara nyata dan tidak, bahwa mimpi yang pernah di tulisnya di buku harian miliknya kini benar-benar menjadi kenyataan.

Dear diary…

Ini sudah hari ketujuh Krystal tidak mendengarkan pep talk, maka pagi ini ia memilih untuk mendatangi ibunya. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, tidak ada ibunya yang memeluk guling di atas ranjang.

Mom, kau di kamar mandi?”

Tidak ada jawaban.

Mom, kau dimana?”

Tidak ada jawaban.

Krystal berlari kesana kemari mencari ibunya, tapi ia tak menemukan juga. Ponsel milik ibunya tampak tergeletak di samping bantal, dan ibunya tak mungkin pergi keluar tanpa mantel mengingat cuaca yang sangat dingin. Musim dingin akan segera tiba.

Jarum jam masih tetap berdetak. Krystal hanya memiliki waktu setengah jam lagi sebelum ia harus berangkat ke sekolah. Tiba-tiba perasaannya menjadi tak enak. Takut jika terjadi sesuatu dengan ibunya.

Ia baru saja menyambar mantelnya dan berniat untuk menerobos salju yang mulai berjatuhan saat terdengar ketukan pintu. Krystal menghembuskan nafas lega saat mendapati ibunya berdiri di samping Victoria—tetangganya, dalam keadaan baik-baik saja.

“Aku menemukan ibumu di pinggir jalan…” Krystal menuntun ibunya masuk ke dalam rumah, tak lupa ia mempersilakan masuk Victoria. “Sebenarnya Krys, aku merasa ada yang aneh…”

Victoria mengatakannya dengan ragu-ragu, membuat Krystal hanya bisa mengerutkan dahi. Ia melirik sekali lagi jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih ada cukup waktu untuk merawat ibunya sejenak.

“Ada apa, unnie?” tanyanya penasaran. Kini ia mengambil duduk di depan Victoria setelah mengantarkan ibunya ke kamar.

Wanita berambut pirang di depan Krystal tampak menghela nafas sejenak, “Aku menemukan ibumu tengah mengorak-arik tong sampah…”

“Apa?” Krystal melotot tak percaya. Kepalanya seketika terasa pening. Ibunya adalah tipikal wanita yang menjunjung tinggi kebersihan, mendapati fakta bahwa ibunya baru saja mengorak-arik tong sampah tentu sangat mengejutkan bagi Krystal.

“Aku sendiri juga tidak percaya bahwa wanita yang kulihat tadi adalah ibumu. Dia seperti orang lain, dan bahkan dia sempat memakan roti basi yang ditemukannya di tong sampah,” imbuhnya.

Krystal memijat-mijat pelipisnya. Sejak seminggu ini ia memang merasa ada yang salah dengan ibunya. Ibunya lebih sering mengurung diri di kamar dan menjadi pendiam. Dan pagi ini, saat ia berniat hendak mengajukan protes—karena sudah lama sekali ia tak mendengar nasihat darinya—ia justru dikejutkan dengan tindakan ibunya yang tidak biasa.

“Ada baiknya hari ini kau di rumah menjaganya. Aku takut jika kejadian pagi ini terulang lagi,” nasihat Victoria sebelum wanita itu pamit pulang.

Krystal melongok ke kamar ibunya. Wanita itu tampak kembali melakukan aktivitasnya akhir-akhir ini—memeluk guling kesayangannya di atas kasur. Mom, ada apa denganmu sebenarnya?

Krystal tengah menyelesaikan tugas kimianya saat terdengar raungan milik ibunya. Tanpa melepas kacamata bacanya, ia segera berlari ke kamar ibunya. Betapa terkejutnya ia, saat mendapati kamar ibunya berantakan. Barang-barang berhamburan di lantai. Ia bahkan melihat jambangan kesayangan milik ibunya sudah pecah dan teronggok tak berdaya di lantai.

Nafasnya tercekat, ia ketakutan. Dengan tangan gemetar, ia segera menghubungi Victoria. Ia hanya bisa duduk meringkuk di depan pintu kamar ibunya selagi menunggu Victoria. Berbagai pertanyaan kini berkecamuk di otaknya; apa yang terjadi dengan ibunya? Mengapa ibunya berteriak seperti itu di tengah malam?

“Krys, ada apa?!” Victoria berteriak seraya menghampiri Krystal. Sedangkan gadis itu masih tampak linglung, wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur dari pelipisnya.

Krystal hanya menurut saja saat Victoria menuntunnya menuju ke kamar. Mendudukkan gadis itu di atas ranjang dan memintanya untuk tidur, sementara Victoria akan merawat ibunya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hal terakhir yang diingat Krystal sebelum ia terlelap adalah teriakan ibunya.

Jam masih menunjukkan pukul lima saat Krystal terbangun. Suasana rumah begitu sepi, tidak seperti semalam. Krystal melongok ke kamar ibunya, tapi ia tak mendapati ibunya di sana. Segera ia mengambil ponsel miliknya. Ada lima pesan masuk dan dua panggilan tak terjawab.

Ah, ia ingat bahwa semalam ia tengah berbincang dengan Minho sebelum akhirya ia memutuskan panggilan secara tiba-tiba. Laki-laki itu pasti khawatir padanya. Tapi untuk sekarang, ia mengabaikan fakta bahwa ia juga tidak ingin membuat Minho khawatir. Dengan cepat ia mencari nomor Victoria dan menghubunginya.

Krystal mengggigit bibir bawahnya cemas, “Unnie, kau membawa ibuku kemana? Apa yang terjadi?”

Dan jawaban Victoria mengawali mimpi buruk Krystal sejak pagi itu. Ia hanya bisa menangis tanpa suara di balik bantal kesayangannya. Apa yang selama ini ditakutkannya akhirnya benar-benar terjadi. Ibunya pergi meninggalkannya. Dan sekarang…ia sendirian. Benar-benar sendirian.

Krystal Jung terbangun dalam keadaan gelap gulita. Hanya cahaya lampu temaram dari lampion di jalan yang dapat dijangkau oleh penglihatannya. Dia bangkit berdiri untuk sekadar menyalakan lampu kamarnya.

Samar, ia teringat tentang mimpi-mimpi buruknya. Kepalanya berdenyut nyeri, ia terhuyung ke belakang saat hendak membuka kenop pintu. Air mata sudah berada di ujung, siap untuk meluncur ke luar.

Tidak. Semua bukan mimpi.

Tok..tok..

Suara ketukan pintu membuatnya menelan pahit sementara. Sosok Choi Minho dengan raut tak terbaca menyambutnya. Bahkan untuk sekadar berpura-pura baik-baik saja di depan orang yang dicintainya ia tak bisa.

“Krys, kau baik-baik saja?” Minho menuntun Krystal untuk masuk ke dalam. Raut khawatir tergambar jelas dari wajahnya mendapati Krystal yang tampak pucat. Rambut gadis itu acak-acakan, matanya merah dan bengkak, serta tubuhnya tampak kurus.

Sepuluh menit, hanya keheningan yang ada diantara mereka. Choi Minho menunggu gadis di sampingnya untuk berbicara. Barangkali, keterusterangan tentang perasaannya pada gadis itu akan membuatnya menjadi salah satu bagian dari hidup seorang Krystal Jung. Kendati gadis itu belum memberikan jawaban.

Minho menarik nafas sejenak, “Kau bisa menceritakan apapun padaku Krys. Katakanlah apa yang kau pikirkan, apa yang kau rasakan. Aku akan tetap disini.”

Krystal mendongak. Membiarkan air mata yang ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah. Membiarkan seorang Choi Minho melihat sisi lemahnya. Gadis itu menangis kencang, meluapkan sakit yang menggerogoti hatinya.

“Tidak apa-apa,” bisik Minho. Laki-laki itu menarik Krytsal dan membenamkan gadis itu dalam pelukannya. “Selama kita masih bersama-sama, semua akan baik-baik saja.”

Krystal menarik diri setelah berhasil meredakan tangisnya. Minho menatapnya lembut. Dan entah bagaimana bisa seorang Krystal Jung membuka luka yang selama ini disimpannya rapat-rapat seorang diri.

Ditemani suara detak jarum jam, mengalirkan semua cerita dari bibir Krystal. Tentang Jessica Jung yang pergi meninggalkannya karena kecelakaan. Tentang orangtuanya yang setiap hari bertengkar; saling menyalahkan karena kepergian Jessica. Kakaknya yang malang, ia bahkan baru saja menyelesaikan gelar masternya. Dan tentang perceraian orangtuanya.

Minho membelai lembut rambut gadis di sampingnya. Krystal menoleh, mencari sorot mata kasihan dari laki-laki di sampingnya. Ada perasaan lega saat ia tidak mendapati sorot kasihan yang dipancarkan oleh Minho.

“Kau tidak sendirian Krys, aku berjanji akan selalu berdiri di sampingmu,” ujar Minho. Laki-laki itu kembali menarik Krystal ke dalam pelukannya.

Mendengar kata-kata Minho, membuat Krystal tak bisa menahan air matanya kembali. Tiba-tiba ketakutan akan kehilangan kembali menyinggahinya. Bagaimana jika setelah ini Minho meninggalkannya setelah mengetahui fakta bahwa ibunya gila.

“Ibuku…dia bahkan memilih untuk hidup di dunianya sendiri. Dia gila.”

Keesokan harinya, Krystal sudah jauh lebih tenang. Ada perasaan lega setelah ia berhasil mengeluarkan semua emosi dan luka yang ditahannya selama ini. Butuh waktu cukup lama sebelum ia menemukan sosok Choi Minho. Yang bisa membuatnya percaya hanya dengan melihat sorot mata milik laki-laki itu.

“Kau sudah bangun Krys?” Kepala Victoria Song menyembul dari balik pintu kamar Krystal. Wanita muda itu tersenyum lembut padanya. Salah satu tangannya menenteng papper bag, sedangkan yang satunya menenteng rantang makanan.

Krystal menyikap selimut yang menggulung tubuhnya dan berjalan menuju Victoria. “Apa yang kau bawa, unnie?” tanyanya.

“Untuk sementara dokter menyarankan ibumu tinggal di rumah sakit. Jadi, aku mengambilkan beberapa pakaiannya,” jawab wanita itu seraya menunjukkan beberapa pakaian milik ibunya.

Krystal berpikir sejenak. Ini sudah hari ketiga ia tidak masuk sekolah. Jika ia terus-terusan berdiam diri, akan banyak pelajaran yang tertinggal. Dan pada akhirnya ia takut jika prestasinya menurun.

“Aku berpikir besok untuk pergi sekolah. Sepulang sekolah, aku akan menemani mom di rumah sakit. Bagaimana menurutmu, unnie?”

Victoria membelai lembut rambut panjang Krytsal. Ada kelegaan melihat bahwa gadis yang sudah dianggapnya sebagai adiknya ini akhirnya bangkit kembali. “Aku tahu kau gadis yang kuat, Krys.”

Krystal dikejutkan oleh kedatangan Amber, Sulli dan Minho ketika ia hendak mengunjungi ibunya. Serta merta Amber memeluknya, sedangkan Sulli segera memberondonginya dengan banyak pertanyaan.

“Kenapa kau tidak menghubungi kami? Kau masih menganggap bahwa kami sahabatmu, kan?”

Krystal hanya tersenyum tipis. Alasan mengapa ia tidak menghubungi Amber dan Sulli tentu saja bukan karena ia tidak percaya pada kedua gadis itu. Hanya saja, lagi-lagi perasaan takut menguasainya. Ia takut jika kedua sahabatnya meninggalkannya.

“Aku hanya takut jika setelah ini kalian akan meninggalkanku,” katanya jujur. Mungkin pemikiran seorang Krystal Jung adalah sebuah pemikiran bodoh. Tapi percayalah bahwa mencari seorang sahabat yang bisa menerimamu apa adanya itu susah.

Amber memeluk Krystal sekali lagi, “Kami akan selalu ada untukmu, dalam keadaan suka maupun duka Krys.”

Dari ekor matanya Krystal melihat Minho tengah tersenyum ke arahnya. Karena laki-laki itu Krystal menyadari ada banyak hal yang tidak diketahuinya selama ini. Bahwa masih ada laki-laki seperti Choi Minho. Membuatnya bersyukur karena laki-laki itu memilih dirinya dari sekian banyak gadis di belahan bumi ini.

Sulli menyodorkan buku catatan dan berpesan pada Krystal untuk segera pergi ke sekolah karena Kim songsaenim sudah merindukannya. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari ini, akhirnya ia bisa tertawa. Lantas, Sulli dan Amber memutuskan untuk pulang karena mereka harus menghadiri kelas music hari ini. Meninggalkan Krystal bersama Minho seorang.

“Aku berharap yang terbaik untukmu dan Minho sunbae,” bisik Amber sebelum gadis itu benar-benar pergi.

Krystal tersenyum tipis dan berbalik. Sekali lagi, Choi Minho berhasil membuatnya melonjak karena kehadirannya yang tiba-tiba. Laki-laki hanya tesenyum tipis dan membantu Krystal untuk berdiri dengan tegak.

“Kau akan pergi menemui ibumu, kan? Mau pergi bersama?”

Melihat wanita yang selama ini dikenal begitu cerewet menjadi pendiam dengan wajah linglung membuat hati Krystal serasa teriris. Sekalipun ia tak menyukai pep talk yang selalu dikumandangkan ibunya setiap pagi, setidaknya hal itu lebih baik ketimbang melihat ibunya menjadi linglung seperti ini.

Minho memegang bahunya kuat-kuat saat ia nyaris terhuyung. Laki-laki itu benar-benar menepati janjinya untuk selalu berdiri di sisinya. Tidak hal lain yang lebih berpengaruh pada hidupnya saat ini selain kehadiran Choi Minho di sampingnya.

“Ibumu tidak menunjukkan aksi-aksi yang berbahayayang bisa menyakiti orang lain. Lusa, ia sudah boleh pulang, dan kau bisa merawatnya di rumah.

Krystal mendekat ke arah ibunya yang terngah terbaring di atas ranjang. Ia menggenggam tangan ibunya. Tangan yang selalu hangat itu kini tampak dingin.

Minho berdiri di sampingnya dan tampak membungkuk. “Perkenalkan, saya Choi Minho…teman Krystal,” ujarnya memperkenalkan.

Krystal menoleh, dan mendapati Minho tengah tersenyum ke arahnya. Betapa bodohnya jika ia berpikir bahwa laki-laki itu tidak sungguh-sungguh mencintainya. Ada senyum milik Victoria yang  tengah berdiri di depan Krystal.

“Aku sudah menghubungi paman dan bibimu yang ada di Amerika. Jika kau mau, mereka menyarankanmu untuk pergi ke sana.” Ucapan Victoria membuat Krystal berpikir sejenak. Tidak butuh waktu lama untuk ia memutuskan.

“Aku akan tetap disini. Lagipula ada seseorang yang aku cintai disini, aku tidak mungkin meninggalkannya.”

Victoria tersenyum mendengar jawaban Krystal. Sedangkan Choi Minho yang tampak terkejut hanya bisa tersenyum. Jemarinya menggenggam milik Krystal. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum manis.

Kehadiran Choi Minho membuatnya sadar, bahwa sejak awal ia tidak pernah dibiarkan sendirian. Tuhan mungkin bersikap tidak adil karena telah mengambil orang-orang yang disayanginya. Tapi Tuhan juga amat baik karena telah mengirimkan orang-orang yang mencintainya. Percayalah bahwa di dunia ini kita tidak akan sendirian. Ada Tuhan yang selalu bersama kita.

fin

How? Aneh ya?

Aku ngerasa aneh banget sama fanfict ini. Karena yang ada di kepalaku akhir-akhir ini cuma Kim Myungsoo, aku benar-benar kesulitan nulis fict dengan cast lain T_T

Kritik dan saran diterima dengan senang hati. Your review? hehe

Advertisements

19 comments

  1. aku sukaaa, jean.. aku sukaaaa!! 😀
    Tuhan paling tahu apa yg dibutuhkan oleh makhluk-Nya.. dan yg dibutuhkan Krystal iya cm Choi Minho ngga ada laki2 lain.. mhahaha
    request-anku membebanimu iyaa.. mianhae.
    tapi, boleh minta ff minstal yg lain? *pleasejanganditimpuk* 😛
    aku rindu Liar-mu.
    semangat!!! 😀

    1. yang dibutuhkan krystal itu emang sosok kayak minho, dan masalahnya susah banget nyari cowok kayak dia aaaah;;;;;;
      gak kok kak, aku kemarin emang lagi free hehe
      gak janji ya kalo itu :p

  2. bagus thor, pas banget aku juga suka minstal jd dpt feelnya
    penggunaan ktnya jg bgus bgt
    keren pkoknya

  3. Kerenn, apapun castnya asalkan bukan donghae dengan wanita lain ataupun yoona dengan pria lain aku fine fine aja hehehe.
    Berhubung aku suka dengan minho dan juga krystal jadi gak susah buat dapetin fellnya. minho dan yuripun aku suka. minho dan sulli aku juga gak masalah wkwkwk
    Lagi-lagi ffnya bermakna, aku suka 🙂

  4. ah jeaan, this is perfect!
    baru kali ini aku dapet banget feel karakter krystal-minho.. dari beberapa ff yang pernah kubaca, aku sulit banget dapetin karakter mereka, hihi, tapi disini aku bener-bener nge-feel banget. great!

    and seriously, I think you should help me with ‘angst’ or ‘drama’ thingy, hahaha.. karena rasanya aku payah banget di dua genre itu 😀
    keep writing jeaaan~

    1. ASDFGHJKLWERTYUIO
      ini jauh dari perfect kak;__;
      terima kasih banget. seneng banget kalo ngerasa ini karakternya dapet, aku bingung kok kesannya krystal gak cocok jadi cewek kayak gini huhu

      haha aku juga bikin angst-nya gak bisa sampai bikin nangis kak, semi-angst. just it. but i really like your fluffy story. ff kak fika itu fluff-nya the best! perbanyak nonton drama aja kak kali aja bisa jadi mellow terus ngalir pas nulis ff angst wkwk-_- aku kebanyakan nonton drama korea jadinya mellow gitu, tiap episode nangis /plak/
      thanks again kak! 😀

    1. bukan agak lagi sih kak, emang rumit haha apalagi kalo angst gitu aku sendiri bingung pas baca wkwkw

      hihi terima kasih kak, aku juga masih belajar 🙂

  5. ini.. how can i describe this? ngga tau yah, aku speechless. banget. sampai bingung mau komen apa.. dan, aku sangat sangat setuju dengan komen-komen diatas yang mengatakan kalau ff ini HEBAT. BANGET. SUNGGUH. GA BOONG.

    dan, apa ini..
    Karena yang ada di kepalaku akhir-akhir ini cuma Kim Myungsoo, aku benar-benar kesulitan nulis fict dengan cast lain T_T
    HAHAHHA, Myungsoo udah berhasil ngeracunin pikirannya kakak dengan seyumnya itu yang sangat menyebalkan dan selalu berhasil buat aku melayang ke langit ketujuh dan turun dengan sakit di sekujur tubuh itu :’)) ah, bener sih.. haha.. kakak jadi suka kan sama Myungsoo :p hayooo ngaku deh :p /dordor/

    ngomong-ngomong, aku main ke sini lho kaaaak xD o-oi, aku pertamanya nemu ff HunLi disini setelah kakak komen, terus aku coba scroll ke bawah..

    AND HOW LUCK I FOUND THIS ONE! ah, suer deh dari judulnya aku udah ngerasa pasti ini bakalan jadi ff yang menguras emosi banget! dari segi sedihnya, perpisahan, pertemanan, percintaan, and i got it!

    Soojung kasihan sekali ya kamu nak :’)) gara-gara Sica tewas, kehidupanmu harus berbuah 180 derajat, ah kamu kasihan sekali :’)) untung the girls siap membantumu kapanpun, dan Minho..
    uh, dia itu seperti Pangeran Berkuda Putih di dongeng-dongeng barat yang sedang menolong seorang gadis lemah ditengah hutan yang sedang terjadi badai salju! aku ngebayangin setiap kali dia senyum ke Soojung di saat-saat terpuruknya itu ya persis kaya senyum pangeran itu :’))

    dan, ibu Soojung gila..
    oh, my! suer deh kak Jeany itu fakta nyesek banget.. Soojung kuat ya menjalani kehidupan broken home-nya :””) apalagi dia di-bully kan.. Soojung, you’re not alone :’))

    dan, karakter Minho disini persis banget sama pangeran itu :3 ehehehe.. sosoknya dia yang perhatian banget ke Soojung (walaupun dia udah mengetahui fakta bahwa ibu Soojung gila) bener-bener buat aku terkesan banget! Minho itu ya benar-benar…. :’)) makasih ya udah mau ngejagain Soojung :’)) /apaancoba
    hehe..

    ohya kak aku boleh kasih satu review ga?
    Ketika itu Krystal salah masuk ruang, ia yang seharusnya memasuki studio musik bukan tari. -> ehm, coba deh: ….Ketika itu Krystal salah masuk ruang, ia seharusnya memasuki studio musik, bukan tari.

    selanjutnya sih perfect banget!

    ohya ada beberapa kalimat yang aku sukaa lho dari dialog di ff ini :DD
    “Omong-omong, mau pulang bersamaku?” -> MINHO MINHO MINHOOOOOO….. doh jadi gila sendiri kan gimana bayangin perasaan senangnya Soojung waktu Minho bilang gitu 😀

    “Ada sesuatu yang ingin aku katakan…” Krystal mendongak, membuatnya beradu tatap dengan iris coklat milik Choi Minho. “Mungkin ini terlalu cepat, tapi, aku menyukaimu nona Jung.” /matiditempat/

    “Tidak apa-apa,” bisik Minho. Laki-laki itu menarik Krytsal dan membenamkan gadis itu dalam pelukannya. “Selama kita masih bersama-sama, semua akan baik-baik saja.” /melelehsektika/

    Kakaaaak, apapun deh demi ff ini, aku padamu <3333

    1. aduh makasih banget zukyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!!!!!!!!!!!!! seneng juga dibilang ff ini hebat sama penulis yang juga tulisannya hebat heheheheheheh

      iya bener, sialan tuh myung aku jadi suka sama dia. kebawa sama ff juga, keseringan baca ff tokohnya dia jadinya kan lebih mendalami gitu(???)

      awalnya gak kepikiran judulnya mau pake not alone, kesannya ini nanti angst dengan sad ending yang bisa bikin mewek-mewek gitu huee ini sedihnya juga sekedar sedih kan, aku gak bisa bikin yang bisa nyentuh ke hati gitu-_-

      ah iya, aku jadi ngayal aja pangeran berkuta putih itu masih ada di bumi ini. tapi aku percaya kok, pasti masih ada cowok kayak minho gini:’)

      and thanks for your review, dear!<3333

  6. Menurutku eonni hebat banget krn bisa nulis ff dgn cast yg mgkn eonni gak kepikiran sblmnya, dan bisa nyanggupin request 😀 daebak eon! Aku minstal shipper jd ff ini bener2 menghibur aku banget. Chemistry minho-krystal bener2 kerasa disini hehe

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s