I’m in Love


yoonsic

I’m in Love by jeanitnut

Special for: Risty

Sorry dude, but I don’t have time for this bullshit called romance.”

Im Yoona menatap datar seorang wanita berambut kecoklatan di depannya. Sesekali ia hanya menghela napas tanpa mengucap sepatah kata pun. Memutar-mutar gelas berisi wine yang sejak dua puluh menit lalu berada di depannya. Membiarkan seorang Jessica Jung merancau tak jelas efek satu botol penuh wine yang sudah ditegaknya.

“Kali ini kenapa lagi?” tanya Yoona, setelah beberapa saat hanya keheningan menyelimuti keduanya.

Jessica Jung mendongak, tampak sekali betapa kacaunya wanita itu kini. Rambut acak-acakan, mata sembab, dan perkataan yang keluar dari bibirnya hanyalah makian yang sukses membuat orang-orang di sekeliling mereka menoleh.

Yoona meringis, meminta maaf atas kelakuan sahabatnya ini. Kim Heechulsalah satu bartender yang sudah hafal dengan kelakuan dua wanita itu hanya menggelengkan kepalanya. Melalui isyarat tangannya Yoona memanggil pria tampan itu untuk mendekat ke arahnya.

“Ada apa?” bisik Heechul setelah berdiri di samping Yoona. Merasa sedikit risih dengan tatapan berpasang mata yang menjurus ke arahnya.

Yoona menghela napas lagi. Dagunya bergerak ke depan, menunjuk ke arah Jessica yang kini tengah menyandarkan kepalanya di atas meja. Kendati demikian, wanita itu masih merancau tak jelas—menyebutkan berbagai macam makian pada satu nama.

“Yoon Doojoon brengsek! Lebih baik kau mati, pria sepertimu tak pantas menikmati dunia yang indah ini,” teriak Jessica.

Heechul dan Yoona sama-sama mengernyit bingung. “Siapa Yoon Doojoon?” tanya Heechul. Sedangkan Yoona hanya bisa mengedikkan bahu tanda tak tahu. Nama Yoon Doojoon terdengar asing di telinganya. Karena seingatnya kekasih Jessica adalah Kris—itulah yang Jessica ceritakan padanya.

Apakah Yoon Doojoon adalah nama lain Kris? Hah! Urusan pria memang selalu merepotkan untuk Yoona. Inilah salah satu alasan mengapa ia tak pernah ingin berurusan dengan cinta, karena cinta selalu berkaitan dengan pria.

“Sepertinya dia tidak akan berhenti merancau…” Yoona melirik sekilas ke arah Jessica. “Bisakah kau bawakan segelas air putih untuknya?”

Heechul hanya mengangguk dan melengang pergi. Yoona melirik sekilas layar ponselnya untuk sekadar melihat jam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Seharusnya sekarang ia sudah bergulung dalam selimut dan menikmati mimpi indah. Tapi sudah menjadi kebiasaan, setiap sebulan sekali ia hanya akan duduk di depan Jessica. Mendengarkan makian wanita itu karena seorang pria. Dan ya, tentu saja ini bukan kali pertama.

“Kau harus mati Yoon Doojoon!” maki Jessica untuk kesekian kali.

Yoona menguap, pekerjaan di kantor benar-benar menguras tenaganya. Kepalanya semakin bertambah nyeri saat mendengar dentuman-dentuman keras dari musik yang mengalun. Maka, diraihnya ponsel touchscreen miliknya dan segera menghubungi nomor seseorang yang sudah dihafalnya di luar kepala.

“Yes, madam. Ada yang bi—

Belum selesai seseorang di seberang berbicara, Yoona lebih dulu memotong ucapannya, “Jemput kami di tempat biasa, Tuan Lee Donghae.”

Hari telah berganti. Matahari bersinar dengan cerahnya. Secerah wajah Jessica Jung yang kini tengah memeluk Yoona erat-erat. Mengguncang-guncang tubuh wanita itu dan mengatakan bahwa ia memiliki teman kencan baru. Pria bernama Lee Hyukjae yang dua hari lalu ditemuinya saat ia ikut menghadiri rapat bersama direktur.

“Oh Tuhan! Aku benar-benar harus merayu direktur agar bisa ikut menghadiri meeting lusa nanti,” pekiknya.

Seolah tidak ada sesuatu yang telah terjadi semalam. Dan Yoona tidak terlalu terkejut dengan perubahan emosi Jessica yang cukup ekstrim. Mereka memang memiliki kepribadian yang berbeda. Jessica adalah tipikal orang yang santai dan mudah melupakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Seperti dalam kasus patah hati, wanita itu mungkin akan terlihat frustasi pada awalnya, tapi lihatlah, keesokan harinya wanita itu sudah terlihat baik-baik saja.

Hey ladies, kalian sedang membicarakan siapa?” Kepala Lee Donghae menyembul dari balik pintu. Dengan caranya yang biasa, pria itu mendekat ke arah Yoona dan Jessica.

Jessica berseru senang, “Bos, terima kasih untuk tumpanganmu semalam. Aku baru sadar bahwa ternyata kau sangat berguna.”

Donghae menjitak kepala Jessica, membuat wanita itu merengut. Sedangkan Yoona yang menyaksikan pertengkaran kedua sahabatnya itu hanya tersenyum tipis. Sudah menjadi kebiasaannya melihat pertengkaran Donghae dan Jessica setiap paginya. Dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu, hitung-hitung sebagai hiburan, pikirnya.

“Aku heran, kau tidak seanggun Yoona. Tapi bagaimana bisa kau mengencani pria-pria tampan dan kaya di luar sana?” tanya Donghae blak-blakan.

Tidak ada hal yang ditutup-tutupi dari persahabatan mereka. Yoona mengenal Donghae tiga tahun lalu, kali pertama ia menginjakkan kaki di Baeksan Grup. Pria berambut hitam-pendek itu membantunya yang  tengah kewalahan dengan berkas-berkas yang dibawanya. Hanya berselang dua bulan kemudian, Jessica Jung datang. Mereka bertiga berada di divisi yang sama dan menjadi sahabat. Sebelum akhirnya Donghae kini menjadi atasan Yoona dan Jessica.

Yoona yang sedari tadi diam akhirnya buka suara, “Ada angin apa kau memujiku tuan Lee? Butuh bantuankueh?”

Donghae hanya tertawa kecil. Mereka bertiga sudah terlalu mengenal satu sama lain. “Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, mau makan malam bersamaku?” tawar Donghae.

Jessica memekik, membuat Yoona yang berdiri tepat di sampingnya segera menutup telinga. “Ya Tuhan! Apa ini adalah sebuah ajakan kencan? Baiklah-baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian berdua. Jadi, nikmati kencan kalian. Aku akan menunggu kabar kapan kita bisa double date, oke?” celoteh Jessica sembari mengedip jahil pada Yoona.

“Ya! Jessica Jung! Tutup mulutmu!” teriak Yoona. Tiba-tiba panas menjalar di pipinya. Tidak, itu bukan rona malu-malu. Tapi rona kekesalan Yoona pada Jessica.

Donghae yang menyaksikan aksi teriak kedua wanita itu hanya bisa tertawa. Untung saja hari ini Park Jungsoo—bos besar mereka sedang tidak berada di kantor. Tidak akan ada masalah besar yang ditimbulkan oleh teriakan melengking milik kedua wanita itu.

Seperti permintaan Donghae waktu itu, Yoona menurut saja saat tiba-tiba Donghae berdiri bersandar di depan pintu ruang kerjanya dan menyeret wanita itu untuk makan malam. Setelah malam sebelumnya terpaksa mereka tunda karena tiba-tiba Park Jungsoo meminta Yoona mengerjakan proposal untuk rapat.

“Sepertinya ini masalah penting, kau tidak biasanya memujiku,” selidik Yoona. Saat ini mereka tengah terjebak macet, dan hal itu sedikit membuat Donghae uring-uringan.

“Demi Tuhan! Ada apa dengan negara ini? Bahkan tengah malam kita masih harus mengantri untuk mencapai rumah,” geram Donghae.

Yoona yang merasa diabaikan menoleh ke samping, “Hei! Lee Donghae, kau tidak mendengarkanku?”

Donghae cepat-cepat mengalihkan perhatiannya dari jalanan ke Yoona. Dia akhirnya bisa bernapas lega saat mobil-mobil di depannya sudah menunjukkan pergerakan. “Apa? Tunggulah sebentar lagi, aku lapar.”

Jawaban yang diberikan Donghae sukses membuat Yoona geram. Sudah menjadi kebiasaan pria itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain, atau bahkan menjawab dengan kalimat yang tidak koheren sama sekali dengan pertanyaan yang diajukan.

Donghae membawa Yoona ke salah satu restoran Jepang di kawasan Insadong. Pria itu hanya terkekeh pelan saat melihat wanita yang duduk di depannya dengan mata berbinar-biran menatap Inari sushi.

“Aku yakin pasti ini masalah serius. Tapi terima kasih, dengan senang hati aku akan mendengarkannya,” tutur Yoona. Wanita itu tersenyum cerah dan mulai memasukkan sepotong sushi ke mulutnya.

“Kupikir, aku jatuh cinta,” ucap Donghae tiba-tiba.

Yoona tersedak mendengar ucapan Donghae yang tiba-tiba. Mata bulatnya melotot sempurna. Sedikit tidak percaya bahwa pria yang terkesan tidak peduli pada wanita ini—pengecualian untuk Yoona dan Jessica—tengah jatuh cinta.

Setelah meminum melon juice dan menarik napas dalam, Yoona menatap pria di depannya. “K—kau serius?”

Yoona meneguk air ludahnya saat melihat sorot mata serius yang dipancarkan Donghae. Ia mengambil melon juice miliknya dan meneguknya kembali.

“Begini, kau sedang jatuh cinta, benar? Permasalahannya adalah, kau jatuh cinta pada seorang wanita atau pria?”

Donghae yang mendengar pertanyaan Yoona hanya bisa tertawa terbahak. Seketika ekpresi serius yang menghiasi wajahnya lenyap. Diam-diam Yoona menghela napas lega.

“Begini tuan Lee, aku tidak pernah tahu kau pernah tertarik pada wanita. Jadi, kupikir orientasi seksualmu itu perlu dipertanyakan.”

Yoona mengatakannya dengan santai. Wanita itu kembali mengambil Inari sushi dan menelannya. Sementara Donghae masih terbahak. Menganggap bahwa apa yang baru saja ditanyakan oleh seorang Im Yoona adalah sebuah lelucon.

“Oke, lupakan. Apa kau tidak tertarik untuk berkencan seperti yang Jessica lakukan?” tanya Donghae setelah berhasil mengontrol tawanya.

Sorry dude, but I don’t have time for this bullshit called romance,” jawab Yoona langsung.

Ada keheningan yang tiba-tiba menyelimuti keduanya. Entah mengapa, saat menatap sepasang iris di depannya kini, Yoona merasa ada sesuatu yang janggal. Hal tersebut tidak bertahan lama, karena kemudian Donghae tampak tersenyum seperti biasa padanya.

“Kenapa tiba-tiba wajahmu terlihat menyedihkan? Bukankah seharusnya aku yang sedih karena sebentar lagi hanya aku yang akan menyandang status single, hmm?”

Yoona pikir setelah menghilangnya si big bos beberapa hari akan mengurangi pekerjaannya sehingga ia bisa menikmati secangkir coklat panas bersama Jessica. Tapi ternyata semua tidak sesuai apa yang diharapkan.

Sudah seminggu ini Yoona jarang bertegur sapa dengan Jessica, apalagi Donghae. Kedua manusia itu sama-sama disibukkan dengan tugas menumpuk yang dijejalkan pada mereka. Yoona menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi. Akhirnya hari ini ia bisa menikmati waktu sedikit saja untuk bersantai.

Suara derit pintu terbuka, menampakkan sosok Lee Donghae dengan wajah frustasi di sana. “Kau tampak sedikit frustasi,” komentar Yoona.

Pria itu hanya tersenyum tipis, “Maukah kau menghibur temanmu yang sedang frustasi ini?”

Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Yoona menyambar Furla miliknya. Ia mendapati seorang Jessica Jung sudah duduk tenang sembari memejamkan mata di kursi tengah penumpang Audi putih milik Donghae.

Yoona baru saja hendak membuka pintu, saat Donghae berseru. “Maaf nona, seingat saya sampai sekarang, saya masih atasan kalian, bukan sopir kalian.”

Kedua wanita itu tertawa. Jessica yang sudah berada pada posisi ternyamannya hanya mengedikkan dagu dan meminta Yoona untuk duduk di kursi depan. Perjalanan mereka diiringi celotehan-celotehan yang keluar dari bibir Jessica. Tawa dan teriakan milik Yoona, serta komentar-komentar sarkatis milik Donghae.

“Rasanya sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini,” komentar Jessica.

Yoona hanya mengangguk-angguk membenarkan, “Salahkan bos kita yang sangat sibuk ini,” ujarnya menyindir Donghae.

“Katakan saja jika kau merindukanku nona Im,” balas Donghae santai.

Ada semburat kemerahan yang lagi-lagi menghiasi pipi Yoona. Mungkin karena asap mengepul yang keluar dari Frappuccino-nya mengenai pipi putihnya. Ya benar, itulah alasannya.

Obrolan malam itu mengalir bagai air. Mereka tidak perlu mencari topik pembicaraan, karena selalu saja muncul gagasan-gagasan di otak mereka. Hingga jam menunjukkan tengah malam, dan dering telepon dari ponsel milik Donghae memaksa mereka untuk berpisah.

“Aku mendadak harus pergi, kupikir kalian harus mencari taksi untuk pulang,” ujar Donghae menyesal.

Yoona hanya mengangguk maklum sembari menyeduh Frappuccino-nya. Sedangkan Jessica hanya menatap Donghae menyelidik, “Jadi, sekarang kekasihmu lebih penting daripada kami?”

Donghae hanya tertawa menanggapi pertanyaan Jessica. Pria itu melambaikan tangan sebelum akhirnya menghilang di telan gelapnya malam.

Jessica menyeduh Macchiato-nya sembari melirik wanita di sampingnya yang nampak murung. “Siapa wanita itu?” tanya Jessica tiba-tiba.

Yoona yang tengah disibukkan dengan pikirannya sendiri terkejut mendapati pertanyaan Jessica yang tiba-tiba. “Siapa?” tanyanya balik.

Jessica menghela napas sejenak, “Wanita yang dicintai Donghae? Bukankah kalian membicarakan itu saat makan malam berdua?”

Uh-oh. Yoona memang sempat menceritakan pada Jessica apa yang ia dan Donghae bicarakan ketika makan malam dulu. Hanya sebatas bahwa Donghae sedang jatuh cinta. Dan sama seperti ekspresi yang ditunjukkan Yoona tatkala ia mendengar hal tersebut dari Donghae, Jessica juga sama terkejutnya.

“Entahlah, dia tidak mengatakan apa-apa tentang wanita itu,” jawab Yoona seadanya.

Jessica mengernyit bingung, “Kupikir dia menyukaimu.”

Yoona tersedak Frappuccino-nya mendengar gumaman Jessica. “Kau bercanda? Bagaibagaimana bisa kau berpikir bahwa Donghae menyukaiku?”

Ada getar halus tak kasat mata yang tiba-tiba menyelusup di hati Yoona. Jantungnya berpacu begitu cepat hanya karena mendengar hipotesa yang dikatakan Jessica. Tidak, kali ini ia yakin bahwa debar jantungnya bukan karena ia kelelahan. Dia tidak akan menyangkalnya.

“Pada dasarnya, aku tidak percaya pria dan wanita bisa hanya berteman. Mereka terlalu berbeda. Selalu ada perasaan tak terbalas, rasa yang tak terungkapkan, dan masa lalu yang pernah dibagi,”

Yoona menautkan kedua alisnya tanda tak mengerti. “Lalu bagaimana denganmu dan Donghae? Kupikir kau menyukainya?”

Jessica Jung tertawa terbahak, “Kau lucu. Bukankah sudah kubilang sejak awal bahwa Lee Donghae bukanlah tipeku. Lagipula, aku selalu membatasi diriku ketika bersamanya. Dan sampai sekarang, aku tidak pernah merasakan ada sesuatu yang aneh ketika bersamanya.”

Yoona tertegun. Hingga saat ini ia masih menganggap bahwa urusan hati selalu memusingkan. Jika biasanya ia hanya akan dipusingkan oleh persoalan cinta milik Jessica, lalu bagaimana ia menanggapi hatinya yang berdesir hebat, dan jantungnya yang berdetak abnormal?

Langit hari ini tampak muram. Sedari pagi awan terus-terusan bergelantungan di langit, menghalangi sang matahari yang seharusnya menyinari bumi. Semuram suasana hati Yoona. Kantung mata berwarna hitam masih terlihat jelas kendati ia sudah mengompresnya.

“Kau akan merasa kehilangan ketika dia benar-benar pergi dari sisimu.”

Semua karena perkataan seorang Jessica Jung yang bersarang di otaknya selama berjam-jam dan memaksanya untuk berpikir. Ia mungkin bisa mengetahui apa yang Donghae inginkan hanya dengan melihat tindakan pria itu. Tapi bagaimana dengan hati, apakah ia bisa membacanya?

Jess, apa yang kau rasakan ketika sedang jatuh cinta?

Pukul satu pagi ia dibingungkan pada perasaan kalut yang tiba-tiba menghinggapinya. Beruntung karena Jessica hanya mengupatinya pelan, tapi pada akhirnya ia menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.

Hatimu bergetar, jantungmu berdetak tak normal, dan kau akan tersenyum malu-malu saat ia memujimu.

Yoona menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak bisa mengambil kesimpulan sepihak tentang perasaannya. Lagipula ia perlu memastikan sesuatu. Ia masih pada pendirian semula, bahwa masalah cinta dan pria itu sangat rumit. Dan ia tidak tertarik untuk terjebak di dalamnya.

Young lady, terjadi sesuatu padamu?” Yoona melonjak dari posisi duduknya tatkala melihat Donghae yang tiba-tiba muncul di depannya. Tersenyum seperti biasanya dan berjalan dengan santainya. “Mau menemaniku makan siang?”

Yoona mengerjapkan matanya sekali sebelum benar-benar merasa linglung ketika tiba-tiba saja Donghae menyeretnyamembawanya ke cafetaria kantor. Hal yang diingatnya selama perjalanan tadi adalah tatapan terkejut milik Jessica.

Bunyi beep dan layar ponsel miliknya yang berkedip menandakan ada pesan masuk menyadarkan Yoona ke alam nyata. Bahwa saat ini, langit masih tampak mendung, ia tengah makan siang bersama Donghae—tanpa Jessica.

What a great day! Aku melihat sesuatu yang mengejutkan, kedua sahabatku akhirnya benar-benar bersama.

Setelah ini Yoona berpikir untuk membungkam mulut Jessica Jung yang seenaknya saja meracuni otaknya dengan hipotesa-hipotesa tak masuk akal—ah, sebenarnya ia enggan mengakui bahwa nona Jung itu benar-benar wanita penakluk pria. Baiklah.

Yoona mendongak, dan hal pertama yang terjadi setelahnya adalah bagaimana hawa panas menjalar di pipinya—yang ia yakini kini pipinya sudah semerah kepiting rebus. Donghae menatapnya dengan eskspresi serius.

“Semalam, kau bertemu dengan wanita yang kau cintai, benar?” tanya Yoona mencoba membuka pembicaraan.

Donghae mengangguk, tanpa mengalihkan pandang dari Yoona. “Kau tidak penasaran siapa wanita itu?”

Yoona tergagap, tiba-tiba suasana canggung itu hadir diantara mereka. Setelah tiga tahun lamanya mereka saling mengenal. Untuk kali pertama. “Aku penasaran,” jawab Yoona tenang.

“Dia rekan kerjaku, wanita anggun yang menyukai Inari sushi.” Donghae tersenyum menatap wanita di depannya yang tampak terkejut. “Wanita itu adalah kau, Im Yoona.”

Im Yoona memang tidak ingin berususan dengan cinta dan pria, karena kedua hal rumit itu selalu berkaitan. Tapi ia pikir, jika pria yang berususan dengannya adalah sahabatnya sendiri; itu sesuatu yang patut di coba.

Dengan cekatan Yoona mengetikkan beberapa kata untuk Jessica Jung yang ia yakini akan melonjak kegirangan mendengar apa yang baru saja terjadi pada Yoona.

Lucky I’m in love with my bestfriend.

fin

Holla!

Sesuai janji, aku benar-benar bakal sering ngepost fanfict minggu-minggu ini.

Advice or criticism or thoughts highly welcomed and appreciated! Thanks xoxo

92 comments

  1. Haha ini Dongek benar2 modus ini, jelas2 siapa yang lebih anggun dari siapa. Jelas Jessica lah bang yang lebih anggun. Semua orang juga tahu kok :p Yoona itu gadis terbiiiasaa 😀 :* *woy,it’sjustfanfiction!*Abaikan
    Keren thor, tapi rasanya belum puas kalau Yoong belum menjawab pernyataan Donghae 😦
    But, nice story 🙂
    fighting!

  2. Jujur pas pertama liat posternya aku pikir ini bakal jadi cinta segitiga tapi ternyata enggaaa huhuhuu seneng banget baca ff yoonsic gini.. Nanti nanti bawain ff yoonsic lagi ya kaaa

  3. Baru pertama mengunjungi blog ini. Pas liat posternya Yoonsic, kayaknya patut dibaca. Ah, gaya tulisanmu keren author. Ini ff level expert!
    Sepertinya aku harus berpetualang di blog ini. Thx atas ceritanya 😉

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s