Twilight in the Evening


luyoon

Twilight in the Evening by jeanitnut

Aku menitipkan rindu, pada tiap gurat jingga yang senja paparkan padaku. At twilight in the evening, may I hope?

Aku menanti senja di atas apartemenku. Lembayung senja yang kehitaman dan semburat jingga yang menggelap perlahan selalu membuatku terkagum-kagum. Sesekali mataku menangkap orang-orang dengan tangan saling bertautan hilir mudik. Membuatku kembali melambungkan harapan menanti senja bersamanya.

At twilight in the last evening, may I hope?

Berawal ketika senja datang dan membawanya padaku. Kala itu, aku tengah menanti senja yang menghilang begitu saja tergantikan hujan yang mengguyur seluruh penjuru Seoul. Ketika kuseduh latte pertama kalinya, dia datang dan mendudukkan dirinya tepat di hadapanku.

“Maaf nona, tidak ada tempat kosong yang tersisa, boleh kan aku duduk disini?”

Aku mengamatinya lamat-lamat. Laki-laki itu mengenakan kaos panjang berwarna hitam dengan garis putih. Ada ransel putih susu di punggungnya. Sesaat aku terkesiap ketika tiba-tiba ia menorehkan senyuman ke arahku.

Aku balas tersenyum ke arahnya. Dalam penantian menunggu hujan mereda kami berbincang tentang apa saja. Dari hal yang tidak penting hingga tentangnya dan tentangku.

“Kau biasa menikmati senja di sini?”

Aku mengangguk. Laki-laki itu bernama Luhan. Aku begitu dikejutkan ketika mengetahui bahwa kami seumuran. Melihat wajahnya sempat membuatku berpikir bahwa aku lebih tua darinya.

“Aku terbiasa menikmati senja di atas apartemenku atau di balik café ini,” jawabku.

Luhan mengangguk-angguk mengerti. Lantas, menyeduh cappuccino-nya dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kamera. Aku melihat bagaimana ia mengeluarkan benda itu dengan hati-hati seolah-olah ia akan pecah dengan sekali sentuh.

“Aku datang kesini untuk mencari objek fotografi,” katanya.

Lalu ia menceritakan tentang betapa ia begitu mencintai dunia fotografi. Betapa berharganya setiap momen yang bisa diabadikannya dengan Canon miliknya.

“Sebuah foto berisi beribu macam kenangan yang tersimpan di dalamnya, ia bisa mengingatkan kita kembali pada makna jujur yang tersimpan dalam momen yang terekam,”

Itu jawaban yang diberikannya ketika aku bertanya apa yang istimewa dari selembar foto. Selama ini, aku hanya menganggap bahwa sebuah foto hanyalah sebuah foto. Aku mengambil foto ketika aku menginginkannya. Itu saja.

“Sebuah foto merupakan penghibur yang mampu memberikan kedamaian tanpa berucap kata. Kadang kita bisa tertawa, kadang kita bisa tersenyum, atau kadang kita bisa bersedih dan menitikkan air mata hanya karena melihat selembar foto.”

Aku tersentuh mendengar jawabannya. Menyadari bahwa inilah pertama kalinya setelah berbulan-bulan aku tidak berbicara dengan orang asing selain keluargaku. Laki-laki itu membuatku merasa nyaman tanpa perlu membuatku terkesan.

Hatiku yang semula tertutup akan kehadiran sosok asing perlahan terbuka. Dan Luhan menjadi orang pertama yang berhasil mengetuk hatiku. Membuatku melontarkan kalimat paling tolol yang pernah kuucapkan sepanjang hidupku.

“Dimana aku bisa bertemu denganmu lagi?”

Salahku karena membiarkan jantungku yang berdetak tak normal mengontrol kerja otakku. Dia tertawa sesaat mendengar pertanyaanku. Kutebak jika apa yang dipikirkannya kala itu pasti tidak jauh-jauh dari; bagaimana gadis ini bisa sepolos dan sebodoh itu?

Senja datang keesokan harinya. Kemudian keesokan harinya. Dan keesokan harinya lagi. Ketika sebuah perasaan perlahan mulai tumbuh diantara kami. Aku bahagia bersamanya. Aku bahagia mendapati dirinya berdiri di sampingku menanti senja.

“Kau bisa melihat dunia lebih luas lagi, melihat langit berwarna jingga kemerahan yang lebih indah dari yang kau lihat di atas apartemenmu.”

Katanya ketika pertemuan kami yang kesekian kalinya. Seperti yang sering kami lakukan bersama, menanti senja bersama secangkir latte dan cappuccino. Aku mengobrak-abrik hasil fotonya, sedangkan dia termenung menikmati senja. Keadaan menjadi berbanding terbalik, jika biasanya aku terbiasa menatap senja sedangkan Luhan berkutat dengan kameranya.

“Im Yoona…”

Aku menoleh ke arahnya. Pantulan cahaya yang berbaur dengan sosoknya, aku begitu menyukainya.

“I love you.”

“And I love twilight in the evening.”

Senja kala itu, aku berharap kau tetap bertahan beberapa lama lagi.

Suara tapak kaki menaiki tangga mengalihkan perhatianku. Detik itu aku melihatnya kembali setelah hampir sebulan sejak terakhir kali ia menampakkan sosoknya. Rambut kecoklatannya tumbuh lebih panjang—dan senyumnya masih menjadi favoritku hingga ia berdiri di sampingku.

“Hai, Yoong,” sapanya sambil tersenyum.

Aku balas tersenyum ke arahnya. Senja begitu indah. Sinar kekuningan bercampur merah dan oranye serta kehadirannya adalah senja terindah yang pernah kulihat. “Tiffany menyeretmu kesini, ya?”

Dia kembali tersenyum ke arahku, hingga dereten gigi putihnya terlihat. “Tiffany noona bilang kau akan pergi,” jawabnya.

Aku tersenyum simpul. “Bagaimana jika aku benar-benar akan pergi?”

Ada ekspresi yang tak terbaca terpancar dari sinar matanya. Iris coklatnya menatapku dalam. Sedangkan kedua tangannya kini menggenggam tanganku erat. Benar, laki-laki yang kukenal sejak empat bulan yang lalu itu selalu berhasil membuatku tak berkutik.

“Maafkan aku,” bisiknya di telingaku. Detik berikutnya ia menarikku dalam pelukannya. Pelukan hangat yang begitu kurindukan.

Kami bicara dalam diam. Seolah masing-masing mengerti dengan arti keheningan yang mendiami. Sesungguhnya aku tidak mengertiatau berpura-pura tidak mengerti. Entahlah, bagiku itu sama saja.

“Apa pameranmu berjalan dengan sukses?”

Dia tersenyum manis. Seolah teringat sesuatu, ia menepuk dahinya sebelum membawaku berlari. Semilir angin menemani perjalanan kami menuju sebuah gedung. Aku menautkan kedua alisku, tanda tak mengerti apa yang sedang dilakukannya.

“Kau harus melihat sesuatu,” katanya memberi penjelasan.

Lalu, aku melihat sebuah foto berukuran 30 R lengkap dengan frame yang menggantung di dinding. Kutolehkan kepala ke arah laki-laki di sampingku. Ada sosok Luhan yang tengah tersenyum manis disana.

Kutatap kembali foto yang menggatung tepat di depanku. Aku dengan kemeja kotak-kotak merah tengah menatap senja kemerahan sambil tersenyum. Mata terpejam dan rambut yang berkibar tertiup angin membuatnya terlihat semakin indah.

“Aku ingin melihat fotoku ada disalah satu pameranmu.” Kataku kala itu, pertama kali melihat hasil potretnya. Dan aku tidak bisa berhenti mengoceh menatap bagaimana indahnya senja yang pernah diabadikannya.

Kedua tangannya bersedekap, matanya seolah mengamati penampilanku. Berlagak seolah-olah sedang mempertimbangkan apakah aku cocok atau tidak menjadi model fotonya.

“Kau cukup cantik,” komentarnya yang kusambut dengan senyuman manis. “Lalu, apa keuntungan yang bisa kuperoleh?”

“Selama itu, aku akan menjadi asistenmu, bagaimana Tuan Lu? Bukankah itu penawaran yang cukup menguntungkan?”

Seketika memori-memori masa itu berkelebatan di otakku. Luhan benar-benar memenuhi janjinya. Aku bahagia, hanya saja ada perasaan tak enak yang ikut menerobos diantaranya. Foto itu, entah kapan Luhan mengambilnya. Aku menduga bahwa foto itu diambil ketika aku tidak sadar.

She and her twilight. Adalah sebuah judul yang tertera di bawahnya.

“Lu…terima kasih.” Aku menghambur memeluknya, mengabaikan berpasang mata yang tertuju pada kami. Kuhirup aroma tubuhnya dalam-dalam, meresapi dan menghafalkannya. Entahlah, aku merasa seolah aku tak bisa mencium aroma ini untuk waktu lebih lama lagi.

“Maafkan aku Yoona-ya,” bisiknya sebelum melepaskan pelukanku.

Permintaan maaf yang kedua darinya membuatku tersadar. Bahwa selama ini aku berpura-pura tidak tahu apa-apa. Menjadi gadis naïf hingga terlihat begitu menyedihkan. Dan she and her twilight mengakhiri kisah kami.

Dan satu hal yang baru kusadari tatkala melihat potret diriku disana adalah; selembar foto kadang bisa membuat kita menjadi lebih dewasa, membuat kita menjadi lebih tegar mengahadapi hidup.

Ingatanku kembali berputar pada senja ketika aku menangis di hadapannya untuk kali pertama. “Aku akan meninggalkan negara ini dan mengejar impianku, apa kau mau membiarkanku pergi?” Itu yang dikatakannyayang kini kusebut sebagai pengantar perpisahan kami.

“Aku menyimpan semua kenangan kita di foto ini, biarkan aku mengingat bagaimana pertemuan kita. Dan terima kasih karena kita pernah bersama membuat kenangan.”

Hari berganti hari, dan terkadang lelah memintaku menyerah. Tapi aku tak pernah jenuh menunggunya, karena aku percaya senja akan membawanya kembali padaku. Hingga senja berwarna kemerahanwarna favoritnya—menghantarkan balasan dari rindu yang aku titipkan padanya. Aku akan melepasnya.

Although he loves me, but he loves photograph more.

end

AAHHHHHHHHH! Aku kena writer’s block lagi karena keseringan megang buku. Minggu ini apalagi detik-detik penentuan hidup dan mati buat siswa yang gak punya status gini(-_-). Minta doanya ya teman-teman, semoga aku lulus dan lolos SNMPTN! Thanks xoxo

Aku ngerjain ff ini lama banget loh sampai tiga jam lebih, semoga gak fail ya. Kalo pada gak dapet feelnya, bayangin aja Yoona itu aku LOL /ditimpuk/

Thanks for reading and give me your review~

Advertisements

37 comments

  1. d’saseumz (saudara grup d’pembantuz—malam minggu miko 2) lol abaikan-_-
    aku gak tau mau komen apa…aku lagi seneng-senengnya sama d’saseumz, buka blog ini, nemu ff ini, sjskdpdpekdldlsssjndmcl:’]
    sukaaaaaa!!

  2. Aku udah baca ff ini berulang kali, dan aku juga udah pernah komen. Tapi itu sama sekali gak buat aku bosan.
    Kak, bisa gak buat sequel ff ini. Setiap aku baca rasanya nyesek banget, seolah aku sendiri yang ngerasain. Tapi kalau gak bisa juga gak apa-apa.
    Ditunggu ya ff lainnya. Tapi jangan yang sad. Akhir2 ini ff kak Jean sad semua trus gantung.
    Semangat ya kak nulisnya.

    1. haaa kamu baca ulang dan tetep komen duh senangnya. hayoo jangan-jangan kamu juga ngalamin yang kayak gini?
      sequel ya, mungkin kalo aku lagi libur panjang ya hahaha. taulah ff semuanya jadi sad gitu soalnya aku lagi galauuu huhuhuhu
      makasih banyak ya Indah<3
      semangat!!!

  3. Gak kok kak. Aku gak ngalamin dan semoga aja gak pernah. Aku baca ff ini berulang kali soalnya bahasanya ama alur ceritanya enak dibaca. Ff yang lain juga gitu. Pokoknya setiap ff yang kakak buat selalu kena di hati.

  4. “Hari berganti hari, dan terkadang lelah memintaku menyerah”
    jeany ini apa? iya mereka berpisah ya? dan sekarang yoonanya udah sama seunggi cyedih hahaha

  5. kak nitnut ini keren bgt coba! wb aja bisa bikin ff sekeren gini apalagi ga wb hahahaha keep writing ya!

  6. Ini happy ending yah?
    Sedìh karena LuYoon tidak bersatu T.T
    Tapi gak papa deh, setidaknya mereka sudah saling mengenal satu sama lain 🙂
    Fighting thor!

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s