Love Sick


kaistal

Love Sick by jeanitnut

…I met him through a mutual friend of ours. Abandon my ship to the mercy of the waves. It is not comprehensible by reason…

Dia seorang mahasiswa jurusan arsitektur di Seoul National University. Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya hitam pendek, kulitnya lebih cokelat dibandingkan orang Korea pada umumnya, dan mata cokelatnya begitu tajam ketika menatap.

Musim gugur baru saja menyapa. Pemandangan di gunung dan taman sekejap berubah menjadi begitu indah ketika dedaunan mulai berubah warna. Kata orang musim gugur adalah musim yang paling romantis. Sekaligus menjadi musim yang identik dengan musim panen.

Seharusnya hari itu Soojung meringkuk di sudut kamar bersama boneka beruang putih miliknya, atau duduk tegap di depan layar komputer bersama puluhan kertas berisi tugas akhir pekannya. Ketika tiba-tiba Choi Jinri—tetangga sekaligus sahabat baiknya—menyeretnya paksa keluar dari apartemen miliknya.

Ya! Choi Jinri, apa yang kau lakukan?” Gadis itu kontan berteriak ketika mereka sudah tiba di lobi apartemen.

Choi Jinri tersenyum manis, seolah-olah tak mendengar gerutuan Soojung sepanjang perjalanan. “Mari kita bersenang-senang,” ujarnya bersemangat, seraya menyodorkan dua kupon—semacam tiket.

Soojung hanya mendesah melihatnya. Mood-nya benar-benar buruk hari ini. Dosen pengajarnya bahkan sudah menghancurkan selera makannya. “Kau pergilah sendiri,” ucapnya datar seraya berbalik.

Tapi Jinri tetap bersikukuh mengajak gadis itu pergi. “What’s wrong? Ini tiket konser Clazziquai, kau tidak ingin bertemu Horan?!” Jinri memekik, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Soojung. Karena biasanya Clazziquai akan berhasil membuat gadis itu tertarik.

Nothing. Aku hanya ingin menikmati musin gugur pertama di apartemenku, sendirian,” sergahnya.  Alih-alih mendengarkan protes Soojung, Jinri semakin bersemangat memaksa gadis itu. Hingga akhirnya mereka tiba di Seoul Olympic Park.

“Aku sedang menunggu teman-temanku,” Jinri berucap, seolah menjawab kebingungan Soojung.

Tak lama kemudian gadis berambut sebahu itu melambai pada dua laki-laki jangkung. Soojung tidak terlalu memerhatikan kedua sosok itu. Kini, ia memerhatikan dirinya sendiri. Ia merasa benar-benar konyol, mengenakan t-shirt dan denim short untuk menonton konser. Bunuh saja aku, gerutunya.

“Kenalkan, dia sahabat baikku, Jung Soojung.”

Soojung menoleh, mendapati dua sosok laki-laki tampan tengah menatapnya. Laki-laki bermata sipit yang diketahuinya bernama Oh Sehun tengah tersenyum ke arahnya. Dibawah sinar lampu gedung, ia bahkan bisa melihat betapa putihnya laki-laki itu. Membuatnya berpikir ia seorang vampir seandainya gigi taringnya terlihat lebih panjang sedikit saja.

Sedangkan sosok laki-laki lainnya—yang berkulit tan tampak menatapnya, membuat gadis itu jengah. Ia memberanikan diri untuk membalas tatapan laki-laki itu, sebelum akhirnya ia menyesal. Jinri mengenalkannya, laki-laki itu bernama Kim Jongin.

“Jongin memang terlihat menyeramkan ketika kau pertama bertemu dengannya. Dia bilang itu disengaja karena ia tidak ingin memiliki jumlah pengagum lebih banyak lagi.” Begitu penjelasan Jinri ketika melihat Soojung mematung di tempatnya.

Oh terang saja, Soojung hanya bisa membatu di tempat ketika sosok tak dikenalnya tiba-tiba mengomentari penampilannya. “Jinri-ya, sepertinya temanmu ini tidak datang untuk menonton konser. Kaulihat, ia tampak ingin pergi tidur.”

Dan laki-laki itu melewatinya begitu saja. Soojung tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Dan bukankah para gadis lebih menyukai laki-laki misterius? Begitu pun dengannya. Tiba-tiba ia merasa begitu tertarik, merasakan perasaan yang sudah sekian lama tidak pernah merayapinya.

Konser Clazziquai berjalan dengan baik, hingga di penghujung, penonton mulai berteriak-teriak. Entah siapa yang mengawali tiba-tiba terjadi aksi dorong. Soojung nyaris terjungkal jika saja Jongin tidak memegangi pundaknya. Membuat jarak mereka begitu dekat hingga Soojung bahkan bisa mencium aroma keringat yang bercampur dengan wangi parfum laki-laki itu.

Darahnya berdesir hebat. Dengan segera ia melepaskan diri. Mendongak. “Terima kasih,” ujarnya kikuk.

Jongin menatapnya dengan tatapan yang sama dengan beberapa jam lalu. Sebelum akhirnya sudut bibir laki-laki itu terangkat. Membuat jantung seorang Jung Soojung melompat-lompat tak beralasan; dan tentu saja bukan karena bunyi drum yang di pukul keras-keras.

Hari itulah mereka bertemu.

Tahun ini adalah musim gugur ketiga sejak Soojung mengenal Jongin. Adalah musim gugur kedua sejak ikatan pertemanan diantara mereka berubah menjadi sepasang kekasih.

Semula Soojung tidak percaya pada kebetulan-kebetulan yang mempertemukannya dengan Jongin. Seperti di miminarket dekat kampusnya, di halte bus dekat apartemen Luna, atau pun di kafe langganannya.

Siapa sangka bahwa Jongin meyukai es kacang merah seperti dirinya. Hingga kemudian secara sengaja mereka bertemu untuk sekadar menikmati es kacang merah bersama. Menikmati salju pertama turun dan mekarnya bunga matahari di musim semi.

Setiap tiga-empat kali dalam seminggu, Soojung akan menunggu Jongin di balkon apartemennya yang menghadap ke jalanan sembari menatap bintang di langit lepas. Seperti malam ini. Jalanan di daerah Gwanghwamun1 ramai seperti biasanya. Apartemen Soojung terletak 170 meter dari Stasiun Subway Gwanghwamun. Cuaca musim gugur menjadi tak menentu akhir-akhir ini, membuatnya harus membalut tubuhnya dengan dua lapis hoodie.

Suara derit pintu membuatnya berbalik. Menampakkan sosok Kim Jongin yang berjalan mendekat ke arahnya. Laki-laki itu memeluknya, saling menyalurkan kehangatan.

“Ada apa?” Itu adalah pertanyaan yang selalu dilontarkan Soojung ketika mendapati Jongin memeluknya sangat lama, menghembuskan napas berat, dan memenjamkan mata.

“Kau adalah pendengar yang baik Krys. What whould I do without you?”

Soojung merasa begitu beruntung kala itu. Ia tidak pernah tahu apa yang membuat Jongin tertarik padanya. Ia tidak cukup cantik, hanya saja mungkin ia cukup cerdas. Mengabaikan panggilan yang diberikan Jongin kendati ia tak menyukainya, tapi nama Krystal terdengar indah ketika Jongin mengucapkannya.

Wajah Jongin terlihat begitu lelah. Kantung mata tercetak tebal di bawah mata laki-laki itu. Rambutnya tumbuh sedikit panjang dan terlihat acak-acakan. Kemeja kotak-kotak merahnya tampak kusut.

Soojung mendesah, membawa laki-laki itu masuk ke dalam apatemennya. “Kau berkelahi dengan ayahmu lagi?”

Definisi berkelahi yang dimaksud Soojung tentu saja tidak se-ekstrim perkelahian yang melibatkan pisau atau hand gund. Tapi melihat memar di pelipis—di samping mata—kanan laki-laki itu sudah cukup membuktikan bahwa ayah Jongin baru saja memukulnya.

“Sebentar. Tunggu di sini!” titah Soojung.

Tak lama kemudian Soojung datang membawa kotak P3K. Dengan hati-hati ia membersihkan luka Jongin, lantas menempelkan plester di sudut yang memar. Jongin menatapnya lama, membuat Soojung salah tingkah.

Gadis itu bangkit berdiri, tapi tangan Jongin menahannya. “Duduklah,” pinta Jongin.

Mereka duduk bersisian dalam diam. Hampir setiap malam mereka akan seperti ini. Soojung menunggu Jongin bercerita, atau Jongin menunggu Soojung bercerita.

“Malam ini, aku tidur di sini, ya?”

Soojung sudah hafal kebiasaan Jongin. Ketika laki-laki itu tengah bertengkar dengan ayahnya, ia akan pergi ke apatemen Soojung. Awalnya ia merasa aneh dan tidak nyaman. Tapi Jongin berusaha meyakinkannya bahwa laki-laki itu tidak akan melakukan apapun padanya.

“Aku tidak akan melakukan apapun, hanya cheek kiss, may I?” Lalu ia tersenyum, senyum langka yang selalu berhasil menggetarkan hati Soojung.

Seperti kali ini. Ia hanya bisa memalingkan wajah agar Jongin tak melihat pipinya yang merona. Dan tanpa persetujuannya, Jongin mencium pipinya.

Good night, Baby Jung,” bisiknya.

Pertemuan yang kesekian kali antara Soojung dan Jongin membawa mereka pada satu rasa asing yang tak mereka pahami. Soojung belum pernah merasakan perasaan seperti itu sebelumnya, membuatnya setiap malam terkena insomnia dadakan usai mereka bertemu. Dan Jongin tidak pernah merasakan hal serupa, tidak sejak tiga tahun yang lalu.

Hari itu mereka berjanji akan makan malam bersama, setelah sebelumnya Jongin berhasil mendapatkan nilai memuaskan untuk tugas akhirnya. Mereka makan sembari bercerita seperti biasanya. Jinri benar, bahwa Jongin terlihat menyeramkan—lebih tepatnya menyebalkan—ketika kali pertama kau mengenalnya. Tapi setelah mengenalnya lebih dekat, kau akan tahu betapa menyenangkannya laki-laki itu.

Jongin adalah sosok laki-laki yang berpengetahuan luas. Soojung merasa senang bercerita tentang apa saja padanya. Ia tak perlu mencari topik pembicaraan yang sekiranya menarik.

Jongin mengantarkan Soojung ke apartemennya. Soojung menautkan kedua alisnya ketika Jongin tak segera berbalik. Laki-laki itu justru menatapnya dalam—tatapan seperti kali pertama mereka bertemu. Yang hingga detik itu tak pernah gagal membuat hatinya bergetar.

“Kau tidak pulang?” Jongin hanya menggaruk tengkuknya ketika mendapati pertanyaan Soojung. Gadis itu semakin mengernyit bingung melihat kelakuan Jongin.

Kim Jongin memiliki bermacam ekspresi yang tak terduga. Walau kesan dingin dan misterius lebih mendominasi. Dan malam itu untuk yang pertama kalinya, Soojung melihat Jongin tampak begitu gugup.

“Ada sesuatu yang ingin kaukatakan?” Soojung bertanya lagi ketika Jongin tak kunjung merespon pertanyaannya.

Laki-laki tinggi semampai itu hanya menghela napas lagi—yang terus dilakukannya sejak mereka mulai menaiki lift menuju apartemen Soojung. “Kau tampak lebih gemuk.”

“Benarkah?” Soojung melotot dibuatnya. Pipinya merona mendengar jawaban yang tak pernah ia duga akan diucapkan Kim Jongin. Laki-laki itu masih senang mengomentari penampilan orang lain rupanya.

Jongin tertawa melihat Soojung yang tampak kesal. “Saranghae, Soojung-ah. Itu sebenarnya yang ingin kukatakan. Aku tahu ini mendadak, dan tak disangka-sangka. Mungkin ini bukan pernyataan cinta romantis seperti yang kauinginkan. Tapi, kupikir aku mencintaimu.”

Tentu saja itu bukan pernyataan cinta yang manis. Jongin menyatakan cinta tepat di depan pintu apatemennya, dengan latar belakang kamar-kamar berpintu kayu dan lorong yang gelap.

Soojung terlalu terpana untuk menghentikan Jongin yang tengah menertawakannya. Berdiri di depan Kim Jongin, hanya diam membisu. Jantungnya berdetak tak seirama. Lututnya lemas, dan ada gelenyar di perutnya, seolah-olah jutaan kupu-kupu tengah berterbangan di sana.

Sebelum akhirnya ia mengangguk. Soojung masih ingat sensasi seperti apa yang dirasakannya ketika Jongin pertama kali menciumnya. Ia bisa mendengar suara gema detak jantungnya sendiri. Ia bisa merasakan napas hangat Jongin yang menyentuh kulitnya. Waktu berhenti dan segalanya sempurna.

“Aku juga mencintaimu, Kim Jongin.”

Mungkin Kim Jongin bukanlah sosok sempurna seperti pangeran di negeri dongeng. Tapi bagi Soojung, Jongin adalah laki-laki terbaik untuknya. Ia merasa, akhirnya ia menemukan satu orang lagi yang dapat dipercayainya selain Choi Jinri dan Jung Sooyeon—kakaknya.

Hingga detik ini Soojung tidak tahu apa tepatnya yang membuat gadis itu tertarik dan jatuh cinta pada Jongin. Ia tidak tahu apakah itu adalah matanya, bibirnya, suaranya. Yang ia tahu adalah bahwa saat Jongin menyentuhnya, segera setelah ia memeluknya, ia ingin seperti itu selamanya. Jongin membuat Soojung merasa aman dan seolah ia bisa melakukan apa saja.

“Kedengarannya ini sangat aneh, aku masuk jurusan arsitekstur karena ayahku. Jika boleh memilih, aku ingin masuk jurusan seni.”

Rahasia Jongin yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekatnya. Jongin juga pernah bercerita bahwa ia hanya hidup dengan ayahnya selepas ibunya meninggal. Kedua kakak perempuannya memilih hidup di luar negeri. Dan Jongin menjadi harapan satu-satunya yang akan meneruskan ayahnya.

Semakin Soojung mengenal Jongin, ia menemukan semakin banyak kesamaan diantara keduanya. Mereka hidup tanpa kasih sayang sosok orangtua. Soojung memilih tinggal sendiri menyewa apartemen; yang dibiayai oleh kakaknya, Jung Sooyeon, setelah kedua orangtuanya bercerai.

Dulu, ia pikir sifat kontradiktif antara ayah dan ibunya akan membuat mereka saling melengkapi. Tapi nyatanya tidak. Demikian dengan Sooyeon yang dingin dan Taecyeon—kekasihnya—yang ceria, mereka berpisah tak lama setelah bertunangan.

Dan Soojung tidak ingin hidup dengan berpura-pura bahagia seperti mereka.

Soojung tengah menunggu Jongin di balkon kamarnya. Malam ini Jongin berjanji akan mengajaknya makan malam setelah berkali-kali Jongin membatalkannya dengan bermacam-macam alasan.

Dan malam ini, tepat pukul sebelas, Jongin membatalkan janjinya lewat sebuah pesan singkat.

Soojung-ah, Ayah marah besar dan kupikir aku tidak bisa pergi. Maafkan aku. Love you!

Jongin berubah. Itu adalah hal pertama yang terpikir oleh Soojung. Demi Tuhan, sejak kapan Jongin peduli dengan ayahnya. Ia hanya bisa mendesah. Jongin membatalkan janjinya untuk yang kesekian kali. Sebelumnya laki-laki itu tidak pernah bersikap seperti ini. Sebulan lalu semua bahkan masih baik-baik saja.

Ditekannya beberapa digit angka dan tak lama kemudian terdengar sahutan di ujung sana.

“Jinri-ya, ada sesuatu yang ingin kutanyakan. Bisa kita bertemu besok, bersama Sehun?”

Ada sesuatu yang salah dengan Kim Jongin. Tepatnya, siapa gadis yang mengangkat teleponnya tiga hari yang lalu. Soojung percaya pada Jongin bahwa laki-laki itu tidak akan membohonginya. Hanya saja, mimpi yang akhir-akhir ini singgah di tidurnya membuatnya takut.

Jongin meninggalkannya demi gadis lain.

Soojung tidak bisa membayangkan apa jadinya jika Jongin meninggalkannya. Dia benar-benar tidak pernah menginginkan hidupnya kembali berwarna hitam-putih seperti sebelumnya setelah berubah menjadi seindah warna pelangi.

Sejak pagi, langit biru yang menaungi penjuru Seoul berubah menjadi gelap. Soojung meringkuk di sudut kamarnya; masih mengenakan piyama putih kesayangannya. Rambut merahnya yang dikepang kelabang tampak acak-acakan, beberapa diantaranya menjulur ke samping; membingkai wajahnya.

Tak henti-hentinya ia melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya. Menunggu barangkali Jongin akan menghubunginya setelah sebelumnya mereka bertengkar hebat. Pertengkaran pertama setelah dua tahun lamanya mereka menjadi sepasang kekasih, yang membuatnya meneteskan air mata.

Kim Jongin masih mencintai gadis itu. Mereka tengah berpelukan ketika Soojung memergoki mereka. Jongin diam mematung di tempatnya, tak berusaha menjelaskan sesuatu yang seharusnya.

Hati Soojung bertambah pedih ketika bahkan Jongin tak lagi menatap matanya. Ego mengalahkan logika, ia melangkah mendekati gadis di samping Jongin, ia menampar gadis itu. Hal itu terjadi secara tiba-tiba. Bagaimana Jongin membentaknya, menyeretnya keluar dari rumahnya, mendudukkannya paksa ke dalam taksi.

Hati Soojung bagai teriris. Suara tangisnya pecah di dalam taksi, di sepanjang perjalanan menuju apartemennya di Gwanghwamun1.

Suara derit pintu membuyarkan lamunan Soojung. Hanya ada tiga orang yang mengetahui kode apartemennya, Choi Jinri, Jung Sooyeon dan Kim Jongin.

Gadis itu bangkit berdiri setelah menyikap selimut tebalnya. Berjalan dengan sedikit sempoyongan ke arah pintu. Sosok laki-laki tinggi berdiri memunggunginya, lima meter di depannya.

Soojung segera berlari menghambur ke pelukan Jongin ketika laki-laki itu berbalik. Dihirupnya dalam-dalam aroma tubuh laki-laki itu. Wangi yang begitu dirindukannya.

Mianhae, Soojung-ah,” bisik Jongin. Laki-laki itu balas memeluknya erat.

Soojung memejamkan matanya erat-erat. Demi Tuhan, sebagai seorang gadis, ia tidak pernah berpikir akan menjadi seagresif ini. Hanya karena seorang Kim Jongin, laki-laki yang dipercayainya adalah sosok yang terbaik untuknya, membuatnya tak bisa berpikir dengan benar.

Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Jongin melepaskannya. Kedua tangan Soojung masih berasa di pundak Jongin. Sedangkan gadis itu hanya bisa menunduk, menahan tangis.

Kim Jongin tidak pernah merasa begitu sengsara seperti ini sebelumnya. Tidak ketiga bahkan empat tahun lalu, gadis itu pergi meninggalkannya untuk sahabatnya sendiri—Lee Taemin.

“Jongin-ah, berjanjilah. Kau akan selalu ingat bahwa kau milikku.”

Ada nada protektif ketika Soojung mengucapkannya, walau terdengar lirih dan parau. Menandakan bahwa mati-matian gadis itu tengah menahan tangisnya.

“Tentu saja. Aku berjanji.” Jongin mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.

Sekarang, Soojung tidak akan peduli lagi dengan kehadiran gadis itu. Tidak lagi, dan tidak akan pernah.

Soojung mendongak dan mendapati Jongin tengah menatapnya, tersenyum ke arahnya. Sebelum akhirnya laki-laki itu menarik dagunya. Menciumnya dengan lembut. Soojung menangis, dan ia mendapati satu tetes air mata milik Jongin menuruni pipinya.

Kim Jongin, menangis untuknya.

Salah satu kafe favorit Soojung dan Jinri, terletak di pusat Myeong-dong Shopping Mall, tampak ramai pengunjung seperti biasanya. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit menggunakan mobil untuk sampai di sana sehingga menjadi favorit mereka.

Soojung sudah duduk termenung di sudut kafe ketika Jinri dan Sehun tiba. Jinri tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya itu ketika Soojung meminta mereka bertemu. Benar saja, karena sekarang ia bisa melihat Jung Soojung tampak begitu kacau.

“Ada gadis lain di hidup Jongin.” Pernyataan itu ditujukkan pada Oh Sehun. “Siapa dia?”

Mata sipit Oh Sehun membeliak. Kedua gadis yang duduk mengelilinginya itu menatapnya tajam.

Laki-laki berambut abu-abu itu berdehem sejenak. “Dia mantan kekasih Jongin, namanya Yoon Sohee.”

Begitu nama Yoon Sohee terlontar, yang terpikirkan oleh Soojung adalah sosok gadis yang tidak bisa dilupakan Jongin begitu saja. Dia tidak pernah menduga bahwa rasa sakit yang diterimanya akan sebesar saat itu.

Soojung akhirnya mengerti bagaimana cinta bisa membuat seseorang sengsara.

Hampir setiap orang berharap memiliki cinta dalam hidupnya. Tujuannya sederhana: kebahagiaan. Pada dasarnya apa yang di cari oleh setiap orang adalah kebahagiaan. Sejatinya cinta bisa membuat orang bahagia dan sengsara. Kerap kali mereka melupakan sisi dimana rasa itu bisa membuat sengsara.

 “Untuk apa dia datang?” Jinri tampak berjengit. “Soojung-ah, katakan padaku apa yang dilakukan Jongin padamu? Walaupun Jongin sahabatku, tapi kau lebih berharga, aku sudah mengenalmu lebih lama.”

Soojung tersenyum tipis. Karena cinta yang diibaratkan sebagai kebahagiaan seringkali membuat manusia menjadi begitu egois. Mencuri kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya sendiri.

“Aku tidak egois kan jika berharap Jongin akan memilihku? Bukankah gadis itu yang mencurinya dariku?”

Soojung tidak tahu apakah ia egois jika berharap Jongin akan meninggalkan gadis itu untuknya. Soojung tidak tahu apakah ia egois jika berharap Yoon Sohee tidak akan membuat Jongin tertawa seperti dirinya. Soojung tidak tahu apakah ia egois jika ia menahan Jongin, bahkan jika laki-laki itu memintanya untuk melepaskannya.

Yang Soojung inginkan hanya mempertahankan kebahagiaan yang dimilikinya. Yoon Sohee tidak seharusnya merebut Jongin darinya setelah menyakiti laki-laki itu.

“Soojung-ah, kau baik-baik saja?”

Soojung menggeleng. Dia bukan gadis munafik yang akan berpura-pura baik-baik saja ketika ia tidak baik-baik saja.

“Jongin mencintaimu, kau tahu itu.” Oh Sehun menatapnya sambil tersenyum tipis.

Soojung ikut tersenyum, menghapus sisa air mata yang menetes menyusuri pipinya. “Aku tahu.”

fin-

Hallo semuaaaaaaaa!!!!!!!!!! Apa kabar?

Nggak tau deh ini tulisan macam apa. Aku addicted banget sama couple ini karena teaser f(x). Damn it! They look really good together.

Abandon my ship to the mercy of the waves. Sebenarnya aku nggak ngerti maksud kalimat ini, dan yang aku pikirkan itu artinya pasti sedih, jadilah fanfict nista ini hehe. No comment soal kissing scene-nya LOL maklum lagi gak puasa :-p

Terima kasih buat kalian yang masih setia baca dan nunggu fict aku. Love you!<3

23 comments

  1. lanjut terus ff hunlli sama kaistal yahh thor 😀
    thor request ff dong castnya baek yerin 15and sama zelo b.a.p yahhh wkwkkw
    gomawo

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s