Back in Time


yoonadonghae

Back in Time by jeanitnut

Dear Karma, I really hate you right now, you made your point.

Sial. Sial. Sial.

Tidak cukup hanya jam weker kamarku yang tiba-tiba tak berfungsi, kini dunia ikut berkonspirasi untuk membuatku kesal. Jarum jam terus berdetak sementara taksi yang kutumpangi tak kunjung bergerak.

“Pak, tolong bisa lebih cepat jalannya?” tanyaku hopeless.

Aku mengecek sekali lagi penampilanku. Rambut hitamku baik-baik saja; aku bersumpah tak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan melupakan mem-blow rambut sebelum berangkat meeting. Blus navy blue yang kupadukan dengan rok warna senada. Kurasa sudah cukup matching.

“Pak, ada jalan lain yang lebih cepat? Jalan pintas misalnya?” Supir taksi di depanku hanya menggeleng pelan. Mungkin dalam hatinya, ia sudah misuh-misuh padaku.

Aku tidak akan seribut ini jika tidak ada meeting pagi ini. Cho Kyuhyun—bosku pasti sudah menggebrak meja kerjanya karena limabelas menit lagi meeting akan dimulai tapi aku belum muncul di hadapannya.

CHO Corporation bergerak di bidang perhotelan. Dalam dua tahun ke depan, Cho Kyuhyun merencanakan untuk melebarkan sayapnya di bidang restoran. Aku, si pegawai baru (aku baru bergabung dengan CHO Corporation setahun yang lalu) mendapat kepercayaan untuk mengurus pembangunan restoran itu. Dan sekarang, aku terancam akan kehilangan kepercayaannya.

Layar ponselku berkedap-kedip, menampilkan nama Lee Hyukjae di sana.

“Kau dimana?”

“Seoul sucks traffic.”

Aku mengamati sekelilingku dari balik kaca. Dalam keadaan normal, jarak apartemen dan kantorku hanya butuh waktu limabelas menit. Dan sekarang sudah tigapuluh menit aku masih duduk diam di dalam taksi.

Lee Hyukjae menghela napas panjang, lalu berujar, “Aku tidak menjamin bisa menyelamatkanmu kali ini, kautahu, arsitek yang akan meeting denganmu bahkan sudah tiba. Lebih baik kau keluar dari taksi dan berlari—“

Segera setelah mendengar sarannya, aku segera menyerahkan dua lembar uang kertas ke supir taksi. Meskipun harus menahan kesakitan karena peep toe shoes tujuh sentiku, akhirnya aku tiba di gedung kantor. Masih ada dua menit tersisa sebelum meeting dimulai.

“Selamat pagi, Bu.” Aku hanya tersenyum tipis membalas sapaan Sooyoung di meja resepsionis.

Pintu ruang meeting hanya berjarak lima meter di depanku. Sudah bisa dipastikan bahwa aku adalah orang terkahir yang datang. Kupejamkan mata sejenak, mengatur napasku yang ngos-ngosan lantas membuka pintu.

Tubuhku beku. Semua pasang mata menatapku, Cho Kyuhyun menatapku dengan pandangan menusuk. Tapi diantara semuanya, ada sepasang mata yang begitu familiar. Laki-laki itu duduk di sana, tampak sama terkejutnya denganku.

“Selamat pagi semua, maaf saya terlambat.”

Dear universe, apa yang sedang kau rencanakan untukku?

Aku menatap garang laki-laki yang duduk di depanku.

“Apa yang membuatmu kesal? Kenyataan bahwa laki-laki yang kau cari selama ini muncul di hadapanmu? Atau kenyataan bahwa laki-laki yang kau cintai ternyata sudah punya kekasih?

Shut up! Ada kalanya aku membenci Lee Hyukjae untuk alasan tertentu. Karena ia sudah mengenalku selama bertahun-tahun, rumahnya hanya berjarak dua blok dari rumahku, meja kerjanya persis tepat di depanku. Dia selalu ada sebagai pemecah masalah akan semua masalah yang kutimbulkan. Pendeknya, aku tidak bisa membencinya meskipun aku ingin.

Setelah melewati meeting yang menguras tenaga, aku masih harus berurusan dengan Lee Donghae untuk kurun waktu minimal dua tahun (tentu saja jika pembangunan restoran selesai tepat waktu). Laki-laki itu, si arsitek, Lee Donghae, menemuiku di Starbucks kantor seusai meeting.

Aku butuh kafein untuk mengembalikan tenagaku.

‘Apa kabar?’ Donghae duduk di depanku tanpa kupersilahkan. Aku tahu pertanyaannya hanyalah basa-basi. Atmosfer di sekeliling kami benar-benar canggung. Yang sesungguhnya, I do really hate this awkward moment.

‘Baik. Kapan kau kembali dari Eropa?’

‘Setahun yang lalu.’

‘Oh…’

‘Sudah lama bekerja di sini?’

‘Baru satu tahun.’

Aku melirik dari ekor mataku, Donghae hanya mengangguk pelan. Sebelum suasana berubah semakin canggung, untunglah seorang barista yang membawakan pesanan kami datang.

Seharusnya ada banyak hal yang bisa kami bicarakan setelah empat tahun tidak bertemu. Ada puluhan pertanyaan yang ingin kuutarakan padanya, aku yakin begitu pun dengannya. Tapi lidahku kelu tiap kali mata kami bersirobok. Dan aku tidak berani memulai sesuatu yang nantinya akan kusesali.

Apa Donghae sudah menikah? Berapa anaknya sekarang?

Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan diri agar tidak melakukan tindakan bodoh.

‘Im Yoona, kau minum kopi?’ Pertanyaan Donghae membuyarkan lamunanku. Alisnya terangkat sebelah. Ah, ekspresi itu, ekspresi yang selalu muncul bersamaan dengan kalimat sindiran pedas yang keluar dari bibirnya.

‘Kau banyak berubah ya?’ Aku menatapnya, sementara laki-laki itu hanya tersenyum. ‘Rambutmu tidak ikal seperti dulu, terlebih, kau menyukai kopi.’ Ia berujar lagi, masih mempertahankan senyum asimetrisnya.

Aku terdiam cukup lama. ‘Kau juga tidak berubah, masih menyebalkan seperti dulu,’ balasku, sewot.

Donghae hendak membalasku, tetapi suara ringtone telepon yang mengalun dari ponselnya menginterupsi pembicaraan kami. Sejujurnya, kuyakini bahwa pembicaraan ini hanya akan berakhir dengan perdebatan yang tidak memiliki ujung.

Hey Jessie, already arrived?’

Donghae memandangku sekilas, mengisyaratkanku untuk menunggu melalui tangannya.

‘Ayolah Jess, kita bukan remaja lagi.’ Kemudian dia tertawa. Tawa yang begitu kurindukan.

Astaga, apa yang barusan kupikirkan? Siapa aku hingga memiliki hak untuk merindukan tawanya.

I miss you, too.’

Jantungku seakan diremas. Cangkir kopiku menggantung di udara. Aku tidak mungkin salah mendengar, apa yang baru saja kudengar memang nyata.

Lee Donghae, he already had someone special in his life. And that woman is not me…anymore.

Sudah kukatakan bahwa Lee Hyukjae adalah problem solver dari semua masalahku, kan? Entah kemuliaan macam yang pernah Im Yoona lakukan di masa lalu sehingga ia bisa memiliki sahabat sebaik Lee Hyukjae.

Aku sedang mendengarkan kutbahnya di dalam mobil, sementara mulutnya terus berkomat-kamit. Kami sedang dalam perjalanan menuju Carevill Restaurant, sebuah restoran baru di pusat Seoul.

“Kau hanya terlalu egois untuk mengakuinya, Yoongie. Kau masih mengharapkan masa depanmu bersamanya. Jujurlah pada dirimu sendiri, sebelum kau menyesal nantinya.”

Sialan. Jika Lee Hyukjae sudah memulai kutbahnya seperti ini, ia tidak akan berhenti menceramahiku sampai aku mengalah dan meng-iya-kan semua perkataannya.

Harrier miliknya sudah memasuki kawasan parkir Cerevill. Aku mengamati bangunan bergaya mediteran di depanku. Sejenak aku tidak bisa berkata-kata. Bangunan ini, mengingatkanku pada rumah-rumah mewah khas Eropa yang sering kujumpai ketika aku dalam perjalanan dinas.

“Wow. Aku suka warna restoran ini, biru laut?” Lee Hyukjae berdecak kagum. Ia membuka pintu mobil dan berjalan keluar, yang segera kuikuti.

“Biru skandinavia,” kataku mengoreksi. Lee Hyukjae memandangku sekilas, tapi tak kugubris. Aku segera berjalan dan memasuki restoran.

Banyak orang yang tidak mampu membedakan antara biru dengan tosca, cokelat dengan terakota, atau tidak tahu bahwa warna-warna itu jelas-jelas berbeda. Aku kuliah di jurusan manajemen, butuh waktu hingga enam bulan hingga aku berhasil membedakan warna-warna itu.

Lee Hyukjae sudah berdiri di sampingku saat kami hampir tiba di VIP room restoran. Dia mampir sejenak untuk menggoda waitress cantik di kasir seperti kebiasaannya. He is such a playboy instead of a good guy.

Aku berhenti sejenak mendapati pemandangan di depanku. Lee Donghae sedang tertawa bersama perempuan cantik di sampingnya. Kekecewaan yang kurasakan semakin bertambah mendapati ia tengah tersenyum begitu lebar.

“Dia Lee Donghae?”

Mataku tak bisa lepas memandang perempuan yang bersama Donghae. Matanya cokelat terang sewarna dengan rambut sepunggungnya. Wajahnya cantik sekaligus memikat, jenis yang bisa membuat semua perempuan di dunia ini iri karenanya.

Donghae menyadari kehadiranku—dan Hyukjae—tak berapa lama kemudian. Perempuan di sampingnya menyambut kami dengan senyuman lembut.

“Kenalkan, dia Jessica Jung,” Donghae memperkenalkan kekasihnya; tanpa perlu ia menjelaskan, aku tahu bahwa gadis inilah yang menghubunginya tempo hari ketika dia sedang bersamaku.

Jessica Jung. Nama yang indah, batinku.

Jessica Jung mengulurkan tangannya padaku dan menyebutkan namanya. Aku pun membalas jabatan tangannya dan memperkenalkan diri. Setelah itu ia pamit ke belakang untuk mengambilkan minuman.

Aku penasaran mengapa Jessica Jung berada di sini, tapi pertanyaan itu hanya kusimpan. Suara dehaman Lee Hyukjae mengembalikan kesadaranku. Kulihat laki-laki itu tengah menatapku kesal seolah mempertanyakan kau-anggap-aku-patung-ya?

“Oh ya, kenalkan, dia Lee Hyukjae, teman sekantorku. Kebetulan dia sedang ada urusan di daerah sini, jadi kuminta dia untuk menemaniku.”

Aku tidak tahu mengapa aku perlu bersusah payah menjelaskan posisi Hyukjae dihadapan Donghae. Tahu-tahu kalimat penjelasan itu meluncur begitu saja dari bibirku.

Donghae memandangku dengan alis terangkat sebelah dan senyuman asimetrisnya. Aku tidak berharap lebih, mungkinkah ia cemburu?

Lalu ia menunjukkan macam-macam desain yang sudah ia siapkan padaku. Semuanya mengagumkan. Jika disuruh memilih, aku akan memilih semuanya. Maka aku memimta pendapat Lee Hyukjae, as usual. Tapi ia hanya mengernyit, “Aku bukan seorang arsitek, Yoongie.”

Tepat pada saat itu Jessica Jung datang membawakan minuman. “Mau kubantu memilih?” Perempuan itu mengambil tempat di sisi Donghae.

“Jessica adalah seorang arsitek. Restoran ini adalah hasil kerja keras pertamanya,” Donghae memberi penjelasan.

Gadis itu tertawa renyah, “Dengan bantuan Donghae tentu saja.”

Lalu mereka berdua mulai mengenang masa lalu. Sementara itu, Lee Hyukjae tak kunjung kembali dari toilet dan aku menemukan pesan singkatnya yang mengatakan bahwa ia harus segera bertemu klien dan memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya untuk Donghae.

Dear universe…

“Jadi, Yoona-ssi, bagaimana menurutmu jika restoran bergaya posmo? Kupikir posmo cukup langka di Seoul.”

Aku berpura-pura tertarik dengan pilihannya, “Boleh juga.” Gadis itu hanya tersenyum tipis. Dia pamit ke belakang untuk mengangkat teleponnya dan mengatakan bahwa ia harus segera pergi. Hingga kini menyisakan aku dan Donghae.

“Aku bertemu dengannya empat tahun lalu. Dia arsitek perempuan terhebat yang pernah kutemui.” Tiba-tiba Donghae berujar, ia mulai menyeduh Espresso-nya.

“Oh…when the perfect ones meet each other, huh?”

Astaga. Aku sudah memperingatkan diriku sendiri untuk tidak berkelakuan bodoh di hadapan Donghae. Tetapi apa yang baru saja kukatakan? Aku pasti tampak seperti seorang yang sedang terbakar cemburu.

Laki-laki di depanku tertawa. Tanpa aku sadari, ia kini tengah menyulut sebatang rokok. Donghae merokok?

Aku tertegun melihatnya. “Sejak kapan?” Donghae menatapku tak mengerti. “Sejak kapan kau merokok?”

“Sebelum kita pertama kali bertemu?”

“Tapi kau kan sudah berhenti merokok sejak dulu,” kataku tegas.

Lee Donghae tertawa, sinis. “Aku berhenti jika aku memang ingin berhenti, Yoona. Dulu aku berhenti karenamu. Sayangnya, Jessica belum bisa menjadi alasan yang sama.”

Aku adalah tipe orang yang tidak percaya pada karma. Tipe orang yang tidak akan menarik kembali apa yang sudah kukatakan sebelumnya.

Aku terlalu pongah ketika mendeklarasikan diri sebagai pembenci kopi dahulu, hingga kenyataannya kini aku adalah seorang coffee addicted. Aku tidak bisa bekerja tanpa kopi di pagi hari. Jika aku melewatkannya sekali, maka semua pekerjaanku akan kacau balau.

Karma sudah menunjukkan dirinya.

‘Kopi itu tidak baik untuk kesehatan. Jadi berhentilah mengonsumsi kopi,’ untuk kesekian kalinya aku mengomel dalam hari itu.

Laki-laki di depanku hanya melirikku sekilas lewat tatapan matanya, konsentrasinya masih pada kertas-kertas di depannya.

Namanya Lee Donghae. Aku mengenalnya sebagai seorang arsitek muda berbakat yang diinginkan seluruh perempuan di jurusan arsitektur—begitu kata Tiffany. Ketika pertama kali melihatnya, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Rambutnya acak-acakan, ia selalu mengenakan polo shirt dan jeans belel yang sudah usang.

Tiffany Hwang—roomateku menjadi partnernya untuk tugas akhir. Aku dipaksa menemaninya karena ia tidak ingin bekerja berdua dengan laki-laki itu.

Kesan pertama yang kutangkap dari sosok Lee Donghae adalah ia laki-laki yang menyebalkan. Mulutnya pedas, dan senyumnya mengejek. ‘Kau sebut itu gambar rumah? Kau anak sekolah dasar, ya?’

Sial. Tiap kami bertemu, selalu terjadi adu mulut. Dia tipikal perfeksionis yang menuntut kesempurnaan. Sekali pun ia tak pernah memuji hasil kerja kerasku. Hey, aku kan bukan mahasiswa arsitektur.

Pada suatu hari, aku terpaksa meminta bantuannya untuk mengantarku pulang. Kami terjebak macet sementara petir terus bersahut-sahutan. Entah bagaimana, semenjak itu hubungan kami berubah.

‘Aku tidak suka perokok,’ aku bersungut di hadapannya, melipat kedua tanganku di depan dada dan menatapnya sebal.

‘Perempuan itu menyebalkan,’ katanya, tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari kertas gambar.

‘Oke. Jika itu maumu, aku akan pergi,’ aku menghentakkan kaki dan bangkit berdiri. Kenapa sih laki-laki ini selalu membuatku kesal?

Donghae akhirnya memandangku, ia meletakkan kuasnya di atas meja, mematikan putung rokoknya dan bergerak mendekat ke arahku. Aku masih memandangnya sinis.

‘Kau benar-benar tidak suka perokok?’ Aku tak menggubris pertanyaannya dan hanya meliriknya sinis.

Dia memandangku dan tersnyum asimetris. Aku mengerjapkan mata ketika mendapati wajahnya hanya berjarak beberapa senti di depanku. Bau kopi begitu menyengat memenuhi penciumanku.

‘Kita lihat, apa setelah ini kau masih membenciku.’ Lalu ia mengeliminasi jarak diantara kami. Ciumannya selembut kapas. Rasanya seperti Godiva—manis sekaligus pahit.

Kecupan itu singkat tapi memabukkan. Membuatku menginginkan lebih.

Setelah kejadian itu, aku tidak pernah menjumpai putung rokok di apartemennya lagi. Tetapi ia masih seorang penikmat kopi.

Entah sejak kapan vanila latte menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku menjadi pencandu kopi semata-mata karena aku merindukan sosoknya. Aroma kopi selalu mengingatkanku padanya.

“Pagi-pagi sudah melamun, Bu. Ada masalah?” Sooyoung tersenyum menyapaku.

Aku balas tersenyum ke arahnya, “Tidak, aku hanya sedikit lelah.”

“Baguslah,” Sooyoung tersenyum lagi, tapi senyumnya mengandung sesuatu yang buruk.

“Ada apa?” tanyaku langsung.

“Ada seorang pelanggan bernama Tiffany Hwang yang ingin bertemu dengan Ibu, dia menunggu di Starbucks.”

Seketika itu juga aku membutuhkan kopi. Kakiku bergerak dengan langkah-langkah panjang menuju Starbucks. Suasana masih sepi mengingat jam masih menunjukkan pukul delapan pagi.

Tiffany Hwang sudah duduk di sana. Rambut ikalnya masih berwarna merah seperti terakhir kali aku melihatnya. Ia melambaikan tangannya ke arahku dan aku pun mendekat ke mejanya.

“Hai.” Dia menyapaku lebih dulu. Tangannya bergerak gelisah pertanda ia sedang gugup.

“Hai.” Aku membalas sapaannya.

Perempuan itu menyodorkan secarik kertas padaku. Ada namanya dan Choi Siwon tercetak di sana.

“Aku akan menikah,” katanya seolah menjawab kebingunganku.

“Oh…selamat.” Hanya itu yang bisa kuucapkan.

Tiffany tersenyum simpul. “Setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah, ini tidak mudah Yoona, begitu pun untukku dan Siwon.”

Aku hanya diam mendengarkannya.

“Aku berharap kau bersedia datang di acara pernikahanku. Maaf, karena aku tidak bisa memperjuangkan persahabatan kita,” ia lalu bangkit berdiri. Aku masih terdiam di kursiku, hingga punggungnya menghilang dari balik pintu.

Aku terdiam cukup lama, hingga suara lengkingan Lee Hyukjae menyadarkanku.

“Kau baik-baik saja?” Lee Hyukjae menyandarkan punggungnya di kursi di depanku. “Bos memanggilmu. Sepertinya kau akan berurusan dengan Lee Donghae selama sisa hari ini.”

Aku menatapnya, mencari kebenaran akan pernyataannya barusan. Sial. Aku tahu bahwa ia benar ketika tak menemukan raut jail di wajahnya, ia justru menatapku khawatir.

“Jangan menatapku seperti itu, Lee Hyukjae. Rayuanmu sama sekali tidak mempan untukku.” Dia terbahak. Aku meninggalkannya setelah sebelumnya memintanya untuk membayar vanila latte-ku.

Begitu menapaki ruangan Cho Kyuhyun, sudah ada Lee Donghae yang menyambutku di sana. Ia mengenakan kaos berkerah warna tosca yang dipadukan dengan celana jeans, membuatnya terlihat kasual.

“Hari ini kau temani Sir Lee memilih warna dan interior yang sesuai dengan restoran kita. Kudengar, kau pernah belajar tentang dunia arsitektur, jadi tidak akan sulit untukmu.”

Aku tertegun mendengar perkataan Cho Kyuhyun. Darimana ia tahu bahwa aku pernah belajar arsitektur? Aku melotot ke arah Donghae yang tampak seolah-olah sedang mengamati interior kantor.

“Baik, Sir, “ aku menyahut dan segera pamit keluar, disusul oleh Donghae yang mengekor di belakangku.

Jangan tanyakan mengapa aku memanggil bosku dengan sebutan Sir, karena ia sendiri yang memintanya. Aku benar-benar tidak paham dengan cara berpikir laki-laki itu.

Kami memulai dengan pemilihan warna untuk kertas dinding. Seperti biasanya, ia tak pernah peduli dan selalu menyepelekan pendapat orang lain.

“Sejak dulu kau memang tidak pernah mendengarkan pendapat orang lain, Donghae-ssi.” Kekesalanku sudah mencapai ubun-ubun. Sudah cukup kedatangan Tiffany yang tiba-tiba menghancurkan hariku, kini aku harus menghadapi si Tuan Sinis selama sisa hari ini.

Dear universe, tega sekali kau menghukumku!

“Itu terakota, bukan cokelat, Yoona.” Dia mencoba mengklarifkasi pilihanku. Aku menghela napas lelah. Jelas-jelas warna yang kutunjuk adalah cokelat, tetapi ia tetap ngotot mengatakan bahwa itu terakota. “Sekarang, kau bahkan tidak bisa membedakan cokelat dan terakota. Apa yang kaupelajari setiap hari di apartemenku?” tanyanya sinis.

Brengsek. Apa maksud perkataannya barusan? Jika ia sedang mengajakku berdebat, aku benar-benar tidak berminat. “Jangan memulai pertengkaran, Donghae-ssi.”

Dia tersenyum sinis, matanya menyipit. “Apa lagi yang sudah berubah? Apa kau sudah berubah menjadi perempuan yang tidak suka menghidari masalah?”

Brengsek. Aku bangkit berdiri dan menggebrak meja. Pekerjaan ini, aku tidak bisa menyelesaikannya hari ini. “Kau sudah sangat berlebihan Donghae-ssi. Tidak ada hal yang berubah dariku selain aku menyukai kopi.”

Laki-laki itu masih mempertahankan senyum asimetrisnya, duduk tenang di kursinya. “Oh ya? Lalu bagaimana dengan perasaanmu padaku?”

Sewaktu muda dulu aku memiliki dua orang sahabat, namanya Tiffany Hwang dan Kim Taeyeon. Kami sudah bersahabat sejak sekolah menengah atas. Ketika kami sama-sama diterima di Seoul University, kami memutuskan untuk bersama-sama.

Kami adalah sahabat yang tidak terpisahkan. Kami memiliki banyak kesamaan dalam segala hal. Melewati suka dan duka bersama. Saling membantu satu sama lainnya. Segalanya begitu sempurna hingga salah satu diantara kami memilih untuk tidak jujur.

Adalah Tiffany Hwang, dia perempuan paling penyabar diantara kami. Siapa sangka bahwa ia menghianati kami dengan mengencani Choi Siwon. Dan dengan itu pula persahabatan kami hancur.

Aku marah besar padanya, aku merasa menjadi sahabat paling bodoh di dunia. Aku mendapati Kim Taeyeon pergi meninggalkan kami tanpa kata perpisahan. Hanya sebuah amplop berisi foto Tiffany Hwang dan Choi Siwon. Tiffany berusaha menjelaskan semuanya padaku, tapi aku tak menggubrisnya.

Aku membencinya yang tidak jujur padaku. Aku membencinya karena menghancurkan persahabatan kami. Terlebih, aku membencinya karena ia merebut laki-laki milik perempuan lain. Hal yang sampai saat ini tidak bisa kumaafkan.

“Apa yang sudah dilakukan Lee Donghae hingga membuatmu murung seperti ini? Tidak seperti Im Yoona.” Lee Hyukjae duduk di kursinya, aku tahu ia sedang menyindirku.

“Tiffany bilang ia selalu dihantui rasa bersalah,” lalu aku mulai menceritakan pertemuanku dengan Tiffany, undangan pernikahannya yang masih terbungkus rapi di dalam tasku.

“Kau tahu bahwa kau egois?” Aku mengernyitkan dahi. Tiba-tiba aku menyesal sudah menceritakan semuanya pada Lee Hyukjae. Setelah ini, ia pasti akan menceramahiku lagi seperti tempo hari.

“Sudah saatnya kau memaafkannya. Kau harus mendengarkan penjelasannya, tidak mudah untuknya hidup seperti itu. Dia pasti dihantui rasa bersalah sepanjang hari—seperti katamu—tapi ia bisa bertahan sampai sejauh ini. Tidak semua hal yang kau anggap benar itu benar, Yoona.”

Aku hanya mendengarkan petuahnya tanpa menginterupsi. Lee Hyukjae selalu mengatakan bahwa aku egois. Diam-diam aku mulai berpikir, benarkah aku seperti itu?

Things change, friends leave, but life never stop. Sudah saatnya kau menyelesaikan masalahmu, jangan menghindar.” Ia berjalan ke arahku, menepuk pundakku sekilas dan berbisik. “Katakan pada Tuan Sinis-mu bahwa kau masih mencintainya.”

Sial. Aku tahu bahwa di akhir kutbahnya Lee Hyukjae akan mengatakan hal-hal menyebalkan seperti ini.

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di salon bersama Lee Hyukjae dan Kim Hyoyeon. Seriously, Kim Hyoyeon cinta pertama Lee Hyukjae itu muncul di hadapan kami, secara tak terduga di Boutique salon.

‘Lee Hyukjae?’ Perempuan itu tak kalah terkejutnya dengan Hyukjae. Hyukjae memandangnya dengan tatapan—well, tatapan orang yang sedang jatuh cinta.

Mesmerized.

Mereka berbincang-bincang selama Raymon—sang stylist—yang aku sendiri tidak tahu gendernya, meremak total penampilanku.

Hyukjae mengantarku di Chareeta Hotel—salah satu hotel milik CHO Coorporation, tempat dimana pernikahan Tiffany akan dilangsungkan.

“Nikmati malammu, Lady.” Ucapan selamat tinggalnya sebelum berlalu bergi. Ia mengatakannya dengan nada berbunga-bunga yang menyebalkan.

Aku menarik napas panjang seraya menyerahkan undanganku kepada petugas di pintu masuk. Tamu-tamu sudah memadati ballroom. Tiba-tiba aku merasa begitu asing.

Segera aku mendekat ke arah Tiffany. Perempuan itu tersenyum lebar, antara tak percaya dan bahagia melihatku berdiri di depannya. “Terima kasih, Yoona-ya,” ia memelukku erat.

Aku tersenyum bahagia padanya. “Selamat Fany-ah. Semoga kalian bahagia,” kataku tulus.

Perempuan itu tampak begitu shiny, senyumnya terus merekah. “Taeyeon tidak bisa datang malam ini, ia menitipkan salam untukmu.”

Mungkin Hyukjae benar, aku seharusnya tidak egois dan keras kepala. Seharusnya aku berani mendengarkan penjelasan Tiffany sejak dulu. Karena aku dan Kim Taeyeon sama-sama keras kepala sehingga kami harus menunggu waktu begitu lama untuk mengerti satu sama lainnya.

“Im Yoona?” Suara yang begitu familiar mengusik pendengaranku. Diantara dentuman musik yang mengalun, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

Lee Donghae berdiri beberapa meter di depanku. Laki-laki itu menjelma menjadi sesosok laki-laki yang diinginkan seluruh perempuan. Kemeja merah maronnya dipadukan dengan celana hitam ketat. Rambutnya disisir rapi.

Dia menatapku dengan tatapan, bolehkah aku berharap bahwa ia tengah menatapku dengan tatapan yang sama seperti tatapan Lee Hyukjae pada Kim Hyoyeon?

Dia mendekat ke arahku. Dengan senyuman charmingnya; aku benci mengakuinya, tapi senyuman inilah yang kulihat ketika ia tersenyum pada Jessica Jung.

“Hai,” aku menyapanya gugup. “Sendirian?”

Dia mengangguk. “Ya, aku seperti orang asing di sini.” Ia tertawa, tawa yang mampu membuat pipiku menghangat.

Ada hal-hal yang secara tak sengaja kutemukan dalam sosok Lee Donghae, yang membuatku tidak bisa melupakan sosoknya selama bertahun-tahun. Karena dia itu…laki-laki langka—jika aku bisa menyebutnya demikian.

Kami memilih untuk menjauh dari kerumunan dan menuju balkon. Angin musim semi mengibarkan anak rambutku.

“Kau cantik malam ini.” Donghae tidak memandangku. Ia menegak wine-nya dan pandangan matanya jauh ke depan.

Aku meliriknya sekilas. “Terima kasih. Itu pujian atau sindiran?”

Aku mengamati penampilaku, aku harus berterima kasih pada Raymon karena sudah mengubahku menjadi seperti ini. Aku mengenakan dress selutut merah maron. Orang-orang yang melihat kami, mungkin akan mengira bahwa kami adalah pasangan.

Donghae tergelak. Seketika itu juga perasaanku menghangat. Laki-laki yang kini berdiri di sampingku, tertawa karenaku.

Kami bercerita tentang banyak hal; tentang masa lalu tanpa mengungkit-ungkit hubungan diantara kami. Tidak ada Jessica Jung atau pun kata ‘kita’. Hanya obrolan sepasang teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu.

“Im Yoona,” ia memandangku, gelas di tangannya sudah berpindah tempat entah kemana.

Dia mendekat ke arahku hingga jarak kami begitu dekat. Otakku kelu. Tatapan matanya seolah menghipnotisku. Aku hanya bisa memejamkan mata ketika kurasakan bibirku basah. Ciumannya masih selembut kapas.

Aku tahu seharusnya saat ini aku mendorongnya. Tapi tubuhku seakan lumpuh. Di luar kehendakku, aku justru membalas ciumannya. Cukup lama hingga akhirnya Donghae menarik diri.

Donghae tersenyum charming padaku. Senyuman itu seolah menghantamku. Bayangan Jessica Jung seketika memenuhi penglihatanku. Tanpa berucap, aku berbalik pergi. Melarikan diri seperti yang dulu kulakukan.

Jessica Jung menyodorkan secangkir vanila latte di hadapanku. Dia tersenyum lembut, seperti tempo hari saat kami bertemu.

Pagi ini, secara mengejutkan ia datang ke kantor untuk menemuiku.

“Donghae bilang ada seorang perempuan yang harus ia perjuangkan, jadi ia memutuskan hubungannya denganku.”

Aku tidak tahu mengapa Jessica menceritakan hal ini padaku. Entah karena ia sangat frustasi dan tidak memiliki teman atau ia percaya padaku. Untuk kedua alasan itu, aku bahkan tidak yakin.

“Perempuan itu adalah kau, kan? Yoona-ssi?” Jessica mengatakannya dengan tenang, tapi ada seraut emosi terluka yang terpancar dari tatapan matanya.

Dan aku hanya mematung, tak tahu harus mengatakan apa. Seorang perempuan kini terluka karena diriku. Jika dulu aku membenci Tiffany Hwang karena membuat Kim Taeyeon terluka, lantas, siapa yang harus kubenci sekarang?

Dear Karma, I really hate you right now, you made your point.

“Kau tidak perlu meminta maaf atau merasa bersalah. Aku tahu sejak awal hal seperti ini akan terjadi.” Jessica Jung masih tersenyum hangat padaku. Tapi aku seakan tertohok. Aku semakin membenci diriku sendiri karena telah menorehkan luka pada perempuan sebaik dia.

“Aku berdoa yang terbaik untuk kalian. Semoga bahagia.” Perempuan itu sudah bersiap untuk pergi. Aku tahu bahwa di sudut hatinya, ia terluka.

“Semoga kau bahagia selalu, Jessica-ssi.” Aku mengatakannya tepat ketika ia mulai berjalan pergi.

Jessica Jung tidak butuh kalimat penghibur, saat ini yang ia butuhkan hanyalah waktu untuk sendiri. Seperti Kim Taeyeon.

Seandainya dulu Taeyeon dan Tiffany saling berbicara seperti yang kulakukan dengan Jessica, mungkin persahabatan kami bisa diselamatkan. Dulu, kami masih terlalu muda untuk mengerti hal-hal seperti ini.

Suara ponselku yang menjerit-jerit kuabaikan begitu saja. Lee Hyukjae pasti sudah kebingungan karena tidak mendapatiku di ruang meeting. Persetan dengan meeting dan amukan Cho Kyuhyun, ada hal yang lebih penting yang harus kuluruskan.

Aku segera menaiki taksi begitu tiba di luar kantor. “Pak, tolong bisa lebih cepat jalannya?” Aku menggigit bibir bawahku untuk meredam kegugupan.

Dear universe, terima kasih karena nampaknya hari ini kau berpihak padaku. Jalanan cukup sepi hingga hanya butuh waktu duapuluh menit untuk tiba di Chareeta Restaurant. Iya, ini nama restoran yang akan dibangun Cho Kyuhyun, aku tahu ia tidak kreatif sama sekali.

“Yoona?” Lee Donghae menyambutku begitu aku tiba di sana. Dia mengajakku duduk di sisi luar bangunan sehingga kami bisa mengobrol dengan leluasa.

“Aku tidak percaya hubungan jarak jauh, kautahu, aku menyesali keputusanku saat itu selama berhari-hari.”

Ketika aku kehilangan arah dan tidak tahu siapa yang harus kupercayai, tepat ketika itu Donghae mengajakku pergi bersamanya. Mengejar impiannya di Eropa. Tapi aku menolak, dengan alasan bahwa aku tidak bisa meninggalkan keluargaku.

Tapi semua itu bohong. Aku terlalu egois saat itu, aku ingin mengejar karirku dan aku tidak percaya hubungan jarak jauh. Maka dari itu aku meminta untuk berpisah.

“Aku bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa tidak ada hal yang berubah dariku, selain rambutku, dan juga aku menyukai kopi—kopi yang selalu mengingatkanku padamu.”

Donghae tersenyum lantas menarikku dalam pelukannya. “Aku percaya,” bisiknya di telingaku.

Aku melepaskan pelukannya, memandangnya dalam-dalam. Aku percaya bahwa karma itu memang ada.

“Donghae, ada sesuatu yang mengusikku?” Dia hanya berdehem, masih memandangku dengan tatapan matanya yang begitu teduh. “Berhentilah merokok,” pintaku padanya.

Dia menatapku dengan satu alis terangkat dan senyuman asimetrisnya. “Aku akan mempertimbangkannya. Bukankah itu berarti kau harus terus bersamaku sepanjang hidupmu, hm?”

Lalu dia tertawa.

end

HELLO EVERYBODY!

Ada yang kangen saya atau YoonHae? Teruntuk kalian semua yang patah hati karena Yoona-Seunggi /digampar/ tenang aja, kalian gak sendiri kok. Saya juga awalnya syok waktu tau tapi sekarang sih fine fine aja. Masih banyak couple saya yang bisa jadi real /digamparlagi/

Inspired from: novel Memori by Windri Ramadhina

Any comments, critics and any other feedback are more than welcome 🙂

72 comments

  1. Endingnya manisss sekali. jadi ceritanya cinta lama belum kelar kkk~
    salut ya sama jessica, ga kebayang kalau jadi dia. sakit hatinya gimana itu (aishh ga kebayang)
    seperti biasa, tulisan eonni selalu bagus, pemilihan kata-katanya, jalan ceritanya, dan pemecahan masalahnya yang tak tertebak =D

    1. LOL iya ini istilah keren banget cinta lama belum kelar.
      jangan dibayangin jadi jessica, ntar sakit hati sendiri loh =D
      makasih ya udah baca dan komen hehehe

  2. aku kngennnn kkeke
    pasangan fanfic yg legendaris ini emang bikin kangn setengah hidup.
    eh jean, bikin kristal sm minhyuk lg dong. aku jg slah satu korban the heirs nih kke.
    semangaat utk kuliahnya yaaaaaa

  3. Meskipun aq telat bc tp aq jg suka bgt ma ni epep kata2nya mudah dipahami n konfliknya jg gk terllu berat. Sampai skrg aq te2p percaya yoonhae is real couple n yoonGi is fake couple.

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s