Falling to Pieces


sehuuuuuuuuuuuuuuuun

Falling to Pieces by jeanitnut

I love you. It’s real or not?

Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat tiba-tiba kau baru sadar cinta telah datang menyergapmu tanpa peringatan.

Warning.

Demi Tuhan, aku tidak tahu bahwa hal-hal yang pernah kuanggap sebagai omong kosong ternyata kini benar-benar kualami. Dan ketika hal itu datang, rasanya aku ingin menjedot-jedotkan kepalaku ke tembok.

Ha. Yang benar saja. Biar kuperjelas keadaanku saat ini. Aku berbaring di atas bed kamarku, memegang ponsel, senyumku tak urung menghilang, jantungku berdebar keras, mataku berbinar dan seolah-olah kini ada jutaan kupu-kupu yang meriak-riak di perutku.

Selama ini aku terus-terusan menyangkal bahwa aku tidak sedang menyukai seseorang. Berlagak seperti seorang hipokrit tapi tak pernah berhasil.

“Kalau dilihat-lihat Oh Sehun mirip denganmu, ya?”

Sungguh, aku tidak tahu siapa Oh Sehun kala itu. Hingga akhirnya aku melihat laki-laki berambut kuning itu di kelas Profesor Max. Serius deh, aku tidak habis pikir dengan warna rambutnya. As if I see poop in his hair.

Hal itu terjadi begitu saja seolah memang sudah seharusnya; seperti ketika aku memandangnya, melihat bagaimana cara ia berjalan, bagaimana cara ia berbicara dan bagaimana-bagaimana lainnya.

Aku tidak menyadarinya, hingga pada suatu sore, Oh Sehun berdiri di depan gedung fakultas; wajahnya nampak oranye terbias sinar lembayung senja.

“Choi Jinri? Kau Jinri, kan?”Adalah Kim Jongdae, teman semasa sekolah menengah atasku dulu.

Aku berbalik memandangnya. Menyapanya dan mengajukan pertanyaan basa-basi seperti, “Bagaimana kabarmu?”

Aku kadang tidak habis pikir, mengapa setiap kali kita bertemu seseorang, pertanyaan retoris seperti itu harus dipertanyakan, padahal kita jelas-jelas tahu keadaan seseorang itu karena ia berdiri di dekat kita.

But the point is, sore itu untuk kali pertama aku melihat Oh Sehun dari jarak begitu dekat. Jantungku berdebar tatkala ia tertawa. Sisa malam itu kuhabiskan dengan mendengarkan so many love songs. Dan ia mulai hadir di mimpiku. Mulanya hanya sehari, lalu berkali-kali.

Aku mulai membayangkan masa depan. Kupikir perasaan yang kumiliki untuknya hanyalah sejenis perasaan kagum sesaat. Karena ia anak kesayangan Profesor Max; yang berarti ia sangat cerdas. Karena Soojung—sahabatku—mengatakan bahwa aku mirip dengannya; dalam segala hal.

“Aku ini murahan banget ya?”

Dulu, aku pernah mengalami hal serupa semasa sekolah menengah atas. Tetapi perasaan itu hanyalah semacam rasa kagum karena kami sama-sama menyukai hal yang sama. Jenis perasaan yang tidak bertahan lama.

Soojung tertawa ketika aku bertanya demikian. Dia mengoceh sepanjang jam kuliah yang membosankan. Manajemen stress? Hell, seharusnya aku meminta bagian pendidikan mengubah mata ajar itu menjadi manajemen galau.

Interaksiku dengan Oh Sehun pertama kali terjadi di laboratorium. Aku sedang sial hari itu. Semua percobaan yang kulakukan gagal, dan aku bahkan memecahkan tabung reaksi. Ketika Profesor Max memintaku mengulang percobaan, rasanya aku ingin menenggelamkan kepalaku ke dalam cairan asam sulfat saat itu juga.

“Kim Jongin, kaulihat ammonium molibdat?”

Ketika laki-laki itu menunjuk bangku seberang—sebelah utara dari tempatku berada—aku segera pergi dan berterima kasih padanya. Bangku yang dihuni oleh beberapa orang yang wajahnya kurang familier di penglihatanku.

“Kalian lihat ammonium molibdat?”

Aku berdiri di antara dua laki-laki. Mungkin karena aku sedang kebingungan. Mungkin karena aku sedang tak fokus. Mungkin karena aku sedang sial. Ketika mendongak, mataku membeliak.

Oh Sehun berdiri di sampingku. Jarak diantara kami bahkan hanya satu senti. Membuatku menyadari bahwa aku hampir satu kepala lebih pendek darinya.

“Coba kaulihat di rak biru di sana,” ia menunjuk sebuah rak di pojok meja. “Aku baru saja mengambil kristal itu di sana.”

Tuhan, selamatkan aku! Oh Sehun punya suara yang luar biasa indah. Dia punya wajah tampan yang memikat. Segala hal yang kulihat saat itu tampak seakan-akan berbinar. Aku tersihir. Percayalah bahwa jika aku dalam keadaan waras, aku akan mengatakan bahwa Oh Sehun tidak setampan itu.

Aku mundur selangkah, mengucap terima kasih dan berlalu. Berjam-jam setelahnya, aku mendapati sebuah pesan singkat, dari nomor tak dikenal.

Choi Jinri, Profesor Max memintaku memberitahumu bahwa kau diminta menemuinya besok pagi. –Oh Sehun

Dalam keadaan waras aku pasti akan mengumpat tiada henti. Tepat ketika bibirku tertarik ke samping, aku sadar bahwa aku mungkin sudah gila. Aku terus-terusam memandang ponselku yang menampakkan pesan singkat darinya. Aku kebingungan memilih frasa untuk membalas pesannya. Dan aku bergerak gelisah menantikan pesan balasan darinya

Aku tidak percaya bahwa cinta bisa sesederhana itu. Ketika aku mulai memperhatikannya, ketika itu pula aku tertarik padanya. Lalu perasaan tertarik itu berubah menjadi rasa ingin bersama. Hingga akhirnya berkembang menjadi sebuah rasa ingin memiliki.

Aku tidak tahu mengapa Profesor memanggilmu. Fighting, Jinri-ya!

Seketika kesadaran menghantamku. Karena aku sudah gila, aku menyadari sesuatu. Bahwa aku mungkin memang sedang jatuh cinta.

fin

Note: Maaf ini curhat hahahhahahahahaha. Kalimat pembukanya itu quote dari novel Ai by Winna Effendi. Anggep aja rambut Sehun kuning kayak poop haha aku gak nemu foto dia yang oke rambut kuning:/

Thanks for reading and your feedback! 🙂

Advertisements

26 comments

  1. Sequel sequel 😛

    Sehun perasaannya belum ketahuan nih 😀 jadinya butuh sequel 😀

    Bahasanya bagus, castnya lebih bagus lagi, soalnya aku HunLli shipper 🙂

    Semoga Sehun juga suka trus mereka jadian*amin

    Bikin fanfic HunLli lagi ya! Keep writing!

  2. xixixixi ini lucu bangetlah!
    karena ini curhat, berarti kak jeany lagi ngalamin ya? hihihihi :3

    sehunnya manis bangeeeeeeeeeeeeeeeeeeet pas bales sms! pake nyemangatin jinri segala akhhh kalo ada cowok macam begini mah aduhhh ;;w;; dan itu, gimana kakak gambarin jinri-nya itu semacam ngepresentatifkan sifatku gitu hehehe gimana dia yang agak cuek sama hubungan asmara atau semacamnya dan kalo ngerasain sesuatu pasti ngelak dari perasaan itu. kayak, ‘cuma kagum, cuma kagum, cuma kagum.’ gitu. plus, seperti yang aku bilang sebelumnya kalau tulisan kakak ringan dan cantik. jadi gampang deh banget dapet feelnya.

    aku ketawa di beberapa bagian seperti rambut poopy-nya si Sehun. ya ampun dia kalo di kampus paling keliatan itu. udah tinggi, rambutnya kuning. mencolok mata sekali, saudara-saudara. suka kaaak! semangat terus ya! aku tinggal satu lagi kok ninggalin sampahnya hehehe

    1. hyaaaaaaaaaaa iya udah kemarin-kemarin ini aku kasmaran (kemudian muntah)

      jinri mirip kamu? duuuuuuuuuh mungkin kamu juga mirip aku, Vin. hampir semua cewek menurutku suka ngingkarin perasaannya sendiri, kalo di depan orang sih. tapi di dalem hati, terus deh berantem.

      soalnya rambutnya yang poopy itu karena aku bete banget liat rambut kuningnya dia. gak bisa ya dia tampil agak normal gitu. gantengnya aja udah gak normal jangan ditambahinlah huhu

      makasih banyak ya<3

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s