We Might as Well be Strangers


byuuun

We Might as Well be Strangers by jeanitnut

I don’t know your face no more or feel your touch that I adore.

Di antara semua kota di dunia, ribuan tempat, bertemu dengan the-adorable-ex-boyfriend di kota asing bukanlah suatu kebetulan. Dear world, aku tidak tahu cerita apa yang hendak kau sampaikan padaku.

“Lana?” Tubuhku beku. Mataku membeliak. Dan entah kegilaan apalagi yang kutunjukkan pada laki-laki di hadapanku. Tahu-tahu ketika sadar, dia sudah duduk manis di depanku, bersama Melya—aku mencium aroma madunya yang begitu kental.

Di depanku Byun Baekhyun, iya, Byun Baekhyun yang pernah kukenal dulu. Yang pernah menjadi bagian dari mimpi masa depanku. Yang senyumnya adalah favoritku. Yang jemarinya begitu kukagumi.

“Baekhyun, apa yang kaulakukan di sini?”

Crap. Aku harus meneguk air ludahku lebih dulu sebelum pertanyaan itu berhasil lolos dari bibirku. Melihat Byun Baekhyun nyengir lebar di depanku, membuatku semakin terlihat konyol.

“Kafe ini penuh. Kebetulan sekali aku melihatmu di sini, aku boleh bergabung, kan, Lana?”

Otakku tidak bisa memikirkan alasan paling masuk akal untuk mengusirnya pergi. Jadi kubiarkan dia duduk sambil menyesap kopinya di hadapanku.

Ketika bermenit-menit hanya ada keheningan yang menyelimuti kami, aku tahu bahwa aku sudah kehilangan harapan. Bertemu dengan Byun Baekhyun suatu hari nanti, kupikir tidak akan secanggung ini.

“Sudah banyak yang berubah ya,” Baekhyun menerawang. Bola matanya melirik kesana-kemari sebelum berangsur-angsur menatapku.

Aku menyesap Macchiato-ku sebelum berujar, “Kau juga berubah, Baek.”

Byun Baekhyun yang kukenal akan selalu mengomentari setiap hal yang dinggap ganjil. Seperti mengapa kita harus berbagi meja di sebuah kafe dengan strangers padahal seharusnya meja yang kita tempati adalah milik kita sepenuhnya. Tapi tidak hari ini, aku seolah kehilangan ‘like we used to be‘.

Yang kurasakan saat ini, aku tidak ingin naïf dengan mengatakan bahwa kehadiran laki-laki di depanku kini adalah hal yang kuinginkan. Karena kehadirannya yang tak terduga, kenyataan bahwa kami tidak akan bisa seperti dulu, membuat luka lama yang kubekukan perlahan mencair.

“Semua orang berubah, Lana. Coba katakan padaku, siapa yang sama saja seumur hidupnya?”

Aku Baekhyun, aku tidak berubah. Tapi jawaban itu hanya kusimpan seorang diri.

“Berubah sekarang atau nanti, itu sama saja, kan? Itu hanya masalah waktu. Semua orang tidak bisa mengelak. Hanya pikirkan perubahan seperti apa yang harus kita ikuti. Berubah lebih baik atau buruk.”

Baekhyun tersenyum, kupikir senyumnya ditunjukkan untukku. Hatiku mencelos, tangannya melambai ke arah pintu kafe. Dan aku menemukan sesosok perempuan cantik tengah tersenyum ke arahnya.

“Melihatmu baik-baik saja, itu melegakan, Lana.” Jantungku seakan ingin melompat. Kini aku seperti disuguhkan kembali memori tentang kami, berputar seperti roller coaster.

Baekhyun menyodorkan tangannya ke arahku. “It is really nice to see you again after almost two years.” Aku menjabat uluran tangannya.

Aku hampir tidak mengenali Byun Baekhyun ketika melihat rambutnya berubah kecokelatan. Kini, tidak akan ada kami yang seperti dulu. Jemari Baekhyun tidak sehangat dulu. We might as well be strangers. Tapi ada dua hal yang tidak berubah, yang tidak diketahui Baekhyun; bahwa senyumnya masih sehangat matahari di Maldives, dan hatiku yang masih dimenangkan olehnya.

-fin-

/jedotin kepala ke tembok/

Note: Fict sebelum mengurung diri di laboratorium. Judul sama quote-nya diambil dari lagunya Keane dengan judul yang sama. Thanks for reading!^^

Advertisements

23 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s