One Sweet Love


luhan

One Sweet Love by jeanitnut

So baby, I’ll do everything to make you stay beside me.


“Boleh saya lihat resep yang diberikan, Dokter, Ibu? Silahkan menunggu di ruang tunggu, di sana,” aku menunjuk bangku besi panjang di sebelah kananku.

Serius, ada apa dengan musim dingin tahun ini. Aku tidak habis pikir mengapa jumlah pasien begitu membludak. Jika biasanya aku bisa pulang pukul lima sore, kini pukul sepuluh malam adalah waktu paling sore aku berada di rumah.

Dahiku mengernyit, aku membaca baik-baik resep di tanganku. Kacamata baca sudah kukenakan, dan rasanya aku tidak pernah bermasalah dengan kemampuan bacaku. Aku bahkan bisa membaca tulisan paling buruk dari seorang dokter.

01-resep

Tapi ini, tidak ada kecocokan antara informasi pasien dengan takaran dan jumlah obat yang harus kuracik. Jika resep ini jatuh ke tangan orang lain, mungkin saja pasien ini bisa meninggal karena dosis obat yang terlalu tinggi.

Kutelusuri darimana asalnya resep tersebut. Mataku membulat—aku yakin jika aku melotot lebih lebar, mungkin bola mataku sudah copot.

Aku mengerang frustasi. Nama Luhan dengan segala gelar kebanggaannya berada di bagian paling atas. Ketika mendapati hal serupa tiap hari, seharusnya aku tahu bahwa ini hanya akal-akalannya saja.

“Hallo, Hana.” Luhan mengangkat teleponku di dering kedua dan ia tahu bahwa itu aku bahkan sebelum aku bersuara.

“Kau tahu itu aku bahkan sebelum aku bicara. Hebat sekali, Dokter.” Luhan tergelak, suara tawanya yang merdu memenuhi gendang telingaku.

Aku tahu Luhan sangat pintar, tapi ia bukan cenayang.

“Berhenti bermain-main, Luhan. Kau bisa membahayakan nyawa pasien. Bagaimana jika farmasis di apotek lain tidak mengecek resep tersebut lebih dulu? Tidak hanya membahayakan pasien, tapi kau juga membahayakan farmasis dan dirimu sendiri. Jika pasien meninggal, kau bisa dituntut, kau mau menghabiskan sisa hidupmu di penjara?”

Luhan tertawa. Oh sialan sekali laki-laki brengsek ini, ampuni dia Tuhan.

Aku memijit pelipisku, kepalaku rasanya sudah mau pecah. Belum lagi menghadapi pasien yang ributnya minta ampun; yang tak mengindahkan nasihatku dan justru memintaku berhenti ketika aku menjelaskan padanya.

Pasienku tersayang, aku hanya mencoba memberikan pelayanan terbaik sebagaimana profesiku. Mengapa begitu susah sih memberikan pandangan pada masyarakat bahwa farmasis bukan hanya menjual obat?

“Hei, Hana. Kau masih di sana?”

Aku tidak tahu apa yang dilakukan Luhan saat ini hingga ia masih bisa tertawa-tawa di telepon. Apakah dia tidak punya pasien atau bagaimana. Aku sudah cukup sibuk untuk memikirkannya.

“Jangan berikan resep sembarangan lagi, Lu. Kumohon,” kataku memelas.

Helaan napasnya terdengar. “Kau pikir aku sebodoh itu ya? Aku tidak akan memberikan resep sembarangan jika aku tahu bahwa pasienku tidak akan menebus obat di tempatmu. Dan aku tahu siapa Hana, perempuan paling teliti yang kutahu.” Aku mengernyit, tak membalas pujiannya. “Semua ini, tergantung padamu, Hana.”

Dahiku semakin menyatu, tak mengerti dengan apa yang diucapkan Luhan. Jika terus-menerus begini, aku yakin di usia tigapuluh tahun mungkin aku sudah keriput.

“Kenapa semua ini harus tergantung padaku?” Aku bertanya tak acuh dan mulai mengeluarkan catatan untuk menghitung takaran obat.

“Karena aku melakukannya supaya aku bisa mendengar suaramu. Kau hanya mau menghubungiku jika hal itu menyangkut pasien. Oh, dan hari Sabtu, itu tidak cukup, Hana.”

Tuhan, kumohon ampuni laki-laki ini. Jadi, kelakukan sembarangannya ini karena sifat kekanak-kanakannya.

“Aku punya dua opsi yang ingin kutawarkan; aku akan menulis resep yang salah untuk pasienku, memintanya untuk menebus obat di tempatmu, lalu kau akan menghubungiku seperti sekarang, atau, kau menikah denganku dan berdiri di sampingku selalu, hm?”

Tuhan, aku benar-benar memohon, ampuni laki-laki ini. Adakalanya aku membenci Luhan karena ia begitu pintar. Adakalanya aku membenci Luhan karena hidupnya terasa begitu mudah.

“Kau pasti memilih yang kedua, kan?” Dia terbahak. “Aku tahu orang seperti apa kau itu, Hana, kau, kan sangat menjunjung tinggi profesimu.”

Aku kehabisan kata untuk membalasnya. Dengan amat sangat terpaksa kuakui bahwa Luhan memang lebih pintar dariku. Dan dia sangat mengerti aku, melebihi diriku sendiri. Oh, my one sweet love.

The time that I’ve taken. I pray is not wasted. Have I already tasted my piece of one sweet love?

fin

Note: cuma mau bilang kalo farmasis/apoteker itu bukan penjual obat. Kuliah farmasi itu bahkan lebih susah dari dokter. Tapi penuh seni, kok xD. Dan ya, ini curhatan eh harapan eh mimpi sih. Terinspirasi dari One Sweet Love-nya Sara Bareilles. Thanks for reading!^^

Advertisements

21 comments

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s