The Unexpected Surprise


tus

The Unexpected Surprise by jeanitnut

Be careful what you wish for, because you just might get it.

Related with (*)

So, what is going on?”

Begitu aku menginjakkan kaki di kantor, Choi Sooyoung langsung menyerbuku dengan pertanyaan andalannya—yang tidak pernah absen menyapa telingaku setiap hari. Terhitung sejak aku berteman dengan Cho Kyuhyun.

Aku menatapnya galak yang dibalas senyum lebarnya. “Macet,” jawabku singkat, membuat wanita itu mendelik.

Tanpa kupersilakan, ia mendudukkan dirinya di depan kubikelku. Oh, aku harus bersyukur karena kubikelnya tidak bersebelahan denganku. Meskipun kami berada di divisi yang sama, letak kubikel kami dibatasi satu lorong.

“Im Yoona, dear, aku menghabiskan jam sarapanku bukan untuk mendengarkan informasi tentang arus lalu lintas.”

Aku tergelak sejenak. Mengabaikan tatapan tajam Sooyoung dan mulai membuka sarapan pagiku. Aku bukan jenis workaholic si penggila kerja, hanya saja pagi ini ada meeting penting yang harus kuhadiri. Bosku sudah mewanti-wanti memberi pengumuman dengan bonus tatapan jika kau terlambat maka jangan pernah menginjakkan kaki di kantor ini lagi.

Dan aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan masa muda yang sudah kususun sedemikian rupa hancur dalam sekejap. Aku mencintai pekerjaanku sebagaimana aku mencintai gedung kantorku yang prestisius ini. Lagi pula, mencari pekerjaan di jaman sekarang tidak semudah memanggang roti bakar.

Oh, astaga. Sepertinya otakku mulai tidak waras.

“Kau mau roti panggang?” Kusodorkan satu lapis roti panggang—yang di dalamnya sudah kuisi dengan margarin dan selai strawberry—pada Sooyoung.

Choi Sooyoung tak mengindahkan tawaranku. Wanita itu justru menatapku takjub, seakan aku ini alien yang berasal dari bintang. Helaan napas Sooyoung mengisi kesunyian. Ia masih diam menyaksikan aku sarapan. Hingga aku melahap potongan roti terakhirku, ia berujar, “is there something, that I should know, but you haven’t told me yet?”

Aku jelas tahu bahwa mengelak dengan alasan paling cerdik pun, pada akhirnya aku akan mengaku di hadapan Sooyoung. Wanita itu mengenalku luar dalam. Kebohongan sekecil apapun yang kukatakan, ia pasti tahu. Sesuatu yang—aku sendiri tidak tahu—harus kusyukuri atau mungkin kusesali.

“Kau ingat pria yang kutemui di New York beberapa bulan lalu?”

Namanya Aiden Lee. Pebisnis hebat dari Manhattan yang menghabiskan harinya terkungkung di kantor. Aku bertemu dengannya di sebuah bar minimalis di Selatan kota New York. Kami berbagi cerita bersama. Berpelukan. Berpisah. Dan segalanya berakhir hari itu.

Tidak ada telepon, pesan singkat atau email darinya. Hingga pagi ini. “Aku mendapati email dari dia pagi ini.”

Tidak ada tanggapan yang berlebihan dari Sooyoung. Wanita itu hanya mengangguk sekilas, menatapku—seakan menunggu penjelasanku berikutnya. Normalnya aku tidak akan bereaksi berlebihan hanya karena mendapatkan email dari Aiden; yang isinya hanya sebaris kalimat yang menanyakan bagaimana kabarku—sebagaimana aku menceritakan pada Sooyoung bahwa Aiden hanya salah satu strangers yang pernah kutemui.

Karena tak kunjung mendapat penjelasan lebih lanjut dariku, Sooyoung menyuarakan pertanyaannya. Yang susungguhnya merupakan pertanyaan yang kuajukan untuk diriku sendiri. “And then, why?”

Why and why. Selama tiga bulan ini aku jelas sudah menghapus nama Aiden Lee dari hidupku. Setidak warasnya seorang Im Yoona, ia masih bisa berpikir rasional untuk tidak berharap pada sesuatu yang mustahil; dalam kasusku bersama dengan Aiden Lee. Ingat, Aiden menghabiskan hidupnya di Manhattan sementara aku tidak mungkin menyusulnya ke sana—kecuali urusan pekerjaan.

“Jantungku tiba-tiba berdebar dan aku susah makan. Like an idiot, right?” jawabku jujur.

Lalu kudapati Sooyoung tertawa terbahak-bahak di depanku. I know this is so stupid, tapi itulah yang kualami pagi ini. Aku bahkan mengutuk Aiden Lee dan menyelipkan namanya dalam doa pagiku agar sosoknya ditelan bumi. Oh, aku tidak sungguh-sungguh mengatakannya.

“Jadi, cerita satu malam itu ternyata belum berakhir, ya?” Sooyoung masih terbahak, membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan berkas meeting yang kupersiapkan untuk pagi ini.

Shut up! Kalau ia muncul di hadapanku, aku akan memintanya menikahiku detik itu juga,” balasku asal.

Sooyoung akhirnya menghentikan tawanya. Ia menepuk pundakku sekilas sebelum berbisik, “good luck, Yoona.” Ia mengerling ke arahku, entah apa maksudnya, sebelum berlari ke luar.

Refleks aku melirik jam di ponselku. 06.59. Oh shit.

Aku datang tepat waktu, beruntungnya. Walaupun dengan dandanan ala kadarnya. Peluh membanjiri pelipis. Yeah, aku lupa bahwa lift kantor selalu penuh dan merupakan suatu keharusan menunggu pada pagi hari, sementara meeting diadakan di ballroom yang terletak di lantai dua puluh, sedangkan ruanganku ada di lantai dua belas.

“Mau kopi?”

Kim Heechul—rekan kerja yang kubikelnya bersebelahan denganku—menyodorkan sekaleng kopi yang segera kuterima. Selain Sooyoung, Heechul adalah salah satu orang yang kupercaya mendengar ceritaku. Pria itu lebih bijaksana dari kelihatannya. Jika kau mau tahu, penampilannya menunjukkan ia seperti pria yang suka seenaknya sendiri—tidak pernah memakai dasi, dan seringnya memakai celana jeans ke kantor—tapi pandanganmu akan berubah seratus delapan puluh derajak ketika kau mendengar nasihat-nasihat yang diutarakannya ketika kau dilanda masalah.

“Sesuatu terjadi padamu pagi ini?”

Aku terkekeh pelan. “Kau belajar membaca pikiran orang sekarang, uh?”

Kim Heechul tertawa. “Tertulis jelas di wajahmu, nona. Kau tidak biasa terlambat di meeting penting seperti ini.” Katanya, menekankan pada kata meeting penting. “Kau biasanya selalu perhitungan jika menyangkut rencana masa mudamu. Dan ditendang dari perusahaan ini jelas bukan satu dari banyaknya rencana yang kaususun, bukan?”

Ah, aku suka pria ini. Itulah yang kupikirkan kali pertama aku bertemu dengannya. Namun nampaknya Tuhan tidak berkehendak menyatukan kami, ketika esoknya aku tahu bahwa ia sudah bertunangan dan hendak menikah. Dan ia berakhir menjadi sahabatku.

“Seseorang yang sudah kuhapus dari hidupku tiba-tiba mampir dan mengacaukan sistim kerja otakku, kira-kira seperti itulah.”

Meskipun aku tidak menghadap ke arahnya, aku tahu bahwa Heechul sedang mengernyitkan dahi—seakan-akan berpikir keras.

And then?”

And then?”

Kim Heechul mendengus. “Biar kutebak. Nampaknya pria itu memberikan impresi mendalam padamu, begitu?”

Aku bergeming. Tak tahu harus menyahut bagaimana—lebih kepada aku takut mengakuinya. Apa yang dikatakan Heechul adalah kenyataan baru yang sekonyong-konyong menyadarkanku. Aku tak pernah mengerti sebelumnya; esensi dari debar jantungku pagi ini, pun memoar-memoar antara aku dan Aiden yang menyeruak secara tiba-tiba.

“Yah—kupikir—mungkin seperti itu. Bagaimana menurutmu?”

Dulu, aku berdoa pada Tuhan agar dikirimkan seorang sahabat yang bisa kupercaya—yang akan menyelamatkanku dari kebodohan-kebodohan yang kuperbuat—karena Sooyoung tidak bisa kuandalkan dalam situasi seperti ini. Uh, dia akan membunuhku jika tahu aku berpikir demikian..

“Cerita kalian, memang belum selesai. Tenang, hidup hanya sekali, nikmatilah. Ini tidak seperti kau baru saja dicampakkan.” Ia menepuk bahuku. “Aku butuh sarapan, mau secangkir kopi lagi?”

Aku tertawa kecil lantas mengangguk. Suara sepatu Heechul yang beradu dengan lantai menggema. Kuteguk kopiku hingga tetes terakhir. Aku sepertinya butuh banyak kopi hari ini.

Matahari sudah berada sejajar dengan kepalaku dan aku tidak berniat kembali ke ruanganku. Katakanlah aku butuh istirahat karena berhari-hari lembur demi suksesnya meeting pagi ini. Dan rooftop kantor ini adalah spot favoritku, tempat di mana aku biasa menghabiskan waktu ketika sedang penat.

Tak berapa lama, aku mendengar suara langkah kaki seseorang mendekat. Aku tidak tahu di mana Heechul membeli sarapan hingga secepat ini—ia jelas bukan jenis orang yang suka berlari.

“Dimana kau—” kata-kataku terpotong ketika aku berbalik dan mendapati bukan sosok sahabatku yang hadir di sana. “—membeli?” Tetapi sosok pria bermata teduh yang punya senyum sehangat matahari pagi.

“Hai, Yoona.” Aiden Lee berdiri di depanku, dengan setelan kemeja rapi; dasi yang masih melilit lehernya, tatanan rambut yang disisir rapi menyamping. Senyumnya masih seperti yang terakhir kulihat. “Menikah denganku, ya?” imbuhnya seraya menyodorkan sebuah kotak merah beludru yang terbuka, menampakkan cincin yang berkilau tertimpa sinar matahari.

Oh my God. This is not real. Ini tidak mungkin nyata, kan? Aku masih mencerna kehadirannya di depanku yang sangat tiba-tiba. Dan sekarang ia memintaku menikah dengannya. Are you kidding me?

“Kau—” aku menelan ludah susah payah. “—benar-benar Aiden Lee?”

Aiden masih berdiri di tempatnya semula berpijak. Tersenyum hangat. Tampak sungguh-sungguh dengan apa yang baru saja dikatakannya.

Aku menatapnya dan ia sekali lagi menghipnotisku; seperti ketika ia menghipnotisku dahulu hingga aku menceritakan kisahku padanya. Dan aku hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaannya.

Menit berikutnya ia sudah menarikku dalam pelukannya. Tepat di telingaku ia berbisik, “I have been waiting for this moment for so long.

Setelah ini aku harus memberi tahu Choi Sooyoung untuk berhenti berharap akan hubunganku dengan Cho Kyuhyun. Meminta Kim Heechul untuk mengambil kopiku karena aku tidak membutuhkannya lagi. Dan menyumpal mulutku sendiri agar tidak berbicara asal—dan bersyukur karena Tuhan mengabulkan doaku begitu cepat.

Senyumku merekah dan kubalas dekapannya tak kalah erat. Cerita kami, ternyata memang belum berakhir.

fin

Hallow!~~~

Apa kabar semua? HEHE. Alhamdulillah akhirnya aku berhasil juga nulis lagi, setelah berbulan-bulan sampe blog ini lumutan. Rasanya bahagia banget bisa nulis lagi, karena aku rasanya udah musuhan aja sama ms.word tiap ketemu pengen jedotin ke tembok belum lagi semua draft aku ilang semua (drama-dramaku juga) pfft cerita lama. Yah, dengan ini aku juga berharap bisa nulis lagi mumpung libur panjang ahay~

Karena masih suasana lebaran, aku mau minta maaf kalo selama ini ada salah ya (terutama karena janji-janji dan hutang fanfict yang terbengkalai). Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin! 🙂

Advertisements

28 comments

  1. ya ampun cara melamar hae tdk romantis bgtt. menikah dgn ku ya…
    tp yaa klo yoona mau, aku bisa apah?? hehhee
    nice ff^^

  2. Jeanny, kangen tulisan kamuu ihhhhh.
    Aduh itu Donghae, walaupun cara ngelamarnya bener-bener ga romantis begitu tapi tetep aja ya dia Donghae, dan tatapan mata itu ahhhh bikin meleleh hihihihi

  3. ya allaaahhh.. kangen banget sama yoonhae
    dan apa-apaan itu.. aiden lee tiba-tiba dateng trus langsung bilang “menikah denganku, ya?” romantis. sederhana sih tapi, kena ga pake basa basi
    btw, yoonhae yg ngbuat aku kenal kamu ya, jean. siapapun pasangan mereka nantinya.. semoga kamu masih setia ya nulis tentang mereka ^^
    xoxo

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s