Ephemeral


17669618668_f90a0aec0b_o

Ephemeral by jeanitnut

I just need thirty minutes to say; that you are still the one—that I love.

Aku tidak pernah merasa begitu gugup seperti saat ini selama hidupku. Napasku tak beraturan. Keringat dingin mulai bercucuran membanjiri pelipisku. Aku berada pada tahap dimana aku bisa memuntahkan isi perutku kapan saja.

Di hadapanku, sesosok perempuan bersurai gelap menatapku, dengan bibir merah muda yang terkatup rapat dan wajah sepucat kertas. Ketika aku menghela napas, menggeleng, menundukkan kepala, ia terus-terusan mengikuti gerakanku.

Kubasuh wajahku dengan air keran, dan dinginnya menghempasku; perempuan itu adalah diriku sendiri.

Aku menarik napas panjang-panjang, lalu berjalan ke luar. Melangkah dengan tegak—menegaskan kepercayaan diri yang kupunya. Kupegang sebuah buku usang yang kubawa erat-erat. Kusunggingkan senyum pada setiap orang yang lalu lalang.

Aku tiba di ruang bernomor kosong empat dan mendapati seorang perempuan—yang kutaksir berusia awal tiga puluh tahun—tengah menungguku. Dia tersenyum lebar dan memperkenalkan dirinya sebagai Hwang Miyoung.

“Kau punya waktu tiga puluh menit berbicara dengannya sebelum waktu berkunjung usai.”

Aku mendapati dua buah kursi dan sebuah meja—dengan sekelompok bunga melati di atasnya—begitu Miyoung membuka pintu utama.  Ruangan itu tidak terlalu besar, tapi cukup untukku bisa bernapas lega.

Di ujung kanan ada pintu lain yang menghubungkan dengan ruangan di dalamnya. Di dekatnya, ada sebuah lukisan sekelompok bunga sakura yang menggantung, begitu familiar, menarik penuh perhatianku.

“Orang asing tidak diijinkan masuk ke dalam, Nona Jung. Kau bisa menunggu di sini, aku akan memanggilnya.” Aku mengangguk patuh. Miyoung meninggalkanku sendiri dan aku mulai banyak berpikir.

Aroma melati seketika menyeruak memenuhi indera penciumanku, begitu menenangkan, dan berhasil menghilangkan kegugupanku meski hanya sedikit. Aku mengambil duduk dan memosisikan diriku senyaman mungkin. Agaknya keraguan yang melingkupiku tak juga mereda. Aku masih sedikit tidak percaya bahwa aku akan bertemu lagi dengan Byun Baekhyun setelah sekian tahun lamanya

Ada banyak pertanyaan yang membuatku penasaran. Apa yang ia lakukan selama ini? Dimana ia tinggal? Apa ia baik-baik saja?

Aku harus menahan rasa penasaranku dan menguburnya dalam-dalam. Mengingatkan diriku sendiri bahwa aku menemuinya demi pekerjaanku.

Miyoung kembali di hadapanku lima menit kemudian. Untuk alasan yang tak bisa kujelaskan, aku tidak suka mengetahui fakta bahwa waktu berkunjungku berkurang. Miyoung bersiap meninggalkanku, ia tersenyum lembut, “Good luck.”

Senyumnya mengandung arti lain—yang tidak kumengerti. Aku menelan ludah. Lalu, aku melihat Byun Baekhyun berjalan ke arahku dan mengambil duduk di depanku. Mataku mengerjap, memastikan bahwa lelaki yang sedang berhadapan denganku saat ini benar-benar Byun Baekhyun.

Baekhyun menatapku dengan sangat intens, tatapannya aneh—jika kubandingkan dengan tatapannya bertahun-tahun lalu. Atau mungkin aku yang aneh karena hingga detik ini aku masih menyimpan tatapannya di memoriku dengan begitu rapi.

“Hai, Baekhyun.”

Aku menunggu beberapa saat, berharap ia akan menjawab sapaanku atau memulai pembicaraan untuk mencairkan kekakuan di antara kami. Aku mengangkat kepala dan mendapati tatapannya yang masih ditujukan padaku. Ha. Dia bahkan tidak berusaha menutupi keterusterangannya.

Aku berdeham dan berujar lagi, “Aku akan melewatkan sesi perkenalan kita karena kupikir itu tidak perlu.”

Baekhyun tak juga bersuara dan aku semakin menyesali keputusanku untuk menemuinya. Kupikir aku sudah mendapatkan waktu yang cukup untukku menyiapkan diri bertemu dengannya, namun kini ketika ia duduk di hadapanku, aku langsung meragukannya.

“Jadi, apa aku bisa mengajukan pertanyaan sekarang?”

Aku tahu sejak awal bahwa berbicara dengan Byun Baekhyun tidak pernah mudah. Dua bulan adalah waktu yang kuperlukan untuk membuatnya setuju menemuiku. Pada setiap pagi, aku mengirimkan pesan tanpa balasan padanya. Hingga dua hari lalu, aku mulai menyerah dan mengatakan dengan sangat jujur bahwa: Milana Jung ingin bertemu dengannya.

Kuanggap diamnya Baekhyun adalah sebuah persetujuan. “Bukumu yang terakhir sangat berbeda dari apa yang pernah kautulis, apa kau menulisnya berdasarkan pengalaman pribadimu?”

Baekhyun masih bungkam. Aku mengangkat kepalaku, menegakkan tubuh dan menatapnya penuh percaya diri.

Oke, aku tahu ia sengaja mengujiku—ia ingin membuatku kesal. Aku tidak terkejut sama sekali mendapati peringainya yang demikian, anehnya—karena aku mungkin, terlalu mengenalnya. Ini seperti permainan, jika aku berhasil mengenai titiknya maka aku akan mendapat jawaban akan pertanyaanku, begitu pun sebaliknya.

Maka, aku membalasnya dengan senyum manis, “Lalu, apa saat ini kau sedang bersembunyi?”

Aku tahu pertanyaanku membuat Baekhyun tertarik, karena detik berikutnya alisnya menyatu dan kedua belah bibirnya terbuka.

“Aku tidak sedang bersembunyi.” Untuk beberapa detik saja, aku terpaku. Suara Baekhyun begitu hangat, sangat berbeda dari tatapan intimidasi yang coba ia tunjukkan padaku. Aku bertanya-tanya, apa sejak dulu suara Baekhyun memang begitu hangat?

Masih menatapku dengan kedua iris cokelatnya, Baekhyun kembali menampilkan ekspresinya semula. Tenang, tanpa emosi—sangat monoton.

Kubuka buku usang yang kubawa. Aku sudah membacanya puluhan kali dan aku hafal betul cerita di dalamnya. Untuk alasan tertentu, aku tidak suka isi ceritanya. Terlalu menyedihkan.

Mataku menjelajahi isi buku, berpura-pura sedang memikirkan sesuatu. Kemudian aku kembali bertanya padanya, “Kau tidak berpikir bahwa cerita yang kautulis terlalu menyedihkan?”

Aku yakin bahwa sepersekian detik lalu ekspresi Baekhyun berubah. Jika aku tidak salah mengingatnya, itu adalah jenis ekspresi serupa yang ditunjukkannya saat terakhir kali aku melihatnya di halte bus dekat rumahku. Dan kali ini—aku mungkin benar, lagi.

Aku mulai menghitung waktu, dan menebak-nebak berapa lama waktu yang dibutuhkan Baekhyun untuk menjawab pertanyaanku. Waktu masih tetap berjalan sebagaimana mestinya. Dan untuk alasan yang enggan kuakui, aku tidak menyukainya.

Kira-kira empat menit, Baekhyun mengubah posisi duduknya, matanya memicing ke arahku. Suaranya begitu kaku, dan ia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya. “Ada sesuatu yang perlu kujelaskan, kau mau mendengarnya?”

Tidak seperti sebelumnya, Baekhyun mengulum senyum dan aku terjebak dalam tatapannya.

“Aku setuju bertemu denganmu bukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan konyolmu.”

Jika aku Lana yang dulu, aku pasti sudah jatuh di perangkapnya. Berusaha senormal mungkin menunjukkan ekspresiku, aku membiarkan ia terus berbicara.

“Aku setuju menemuimu karena aku ingin bicara denganmu,” ia mencondongkan tubuhnya, seketika aku bergerak mundur, membuat punggungku menatap sandaran kursi. Kini, aku bisa melihat Byun Baekhyun dengan teramat jelas. “Lana-ya.”

Dan jawaban Baekhyun selanjutnya membuatku tak bisa lagi mengelak, aku diam tak berkutik di depannya. Aku melihat bayanganku di bola matanya, bagaimana mataku membelalak.

Kurasakan sekujur tubuhku bergetar.

Lana. Lana. Lana. Lana. Lana.

Bagaimana nama itu bisa terdengar begitu indah ketika Baekhyun mengucapkannya. Bagaimana aku sangat merindukan Baekhyun memanggilku demikian. Bagaimana aku jatuh berkali-kali hanya karena ia mengatakan namaku.

Byun Baekhyun menyentuh titikku hanya dengan empat huruf dan satu kata itu.

Masih berusaha mengatur napasku yang tak beraturan. Baekhyun mencuri celah dan menyerangku dengan pertanyaannya yang lain, “Kenapa aku?”

Aku mendengus dan memijat kepalaku frustasi. Detik itu, aku sudah kalah.

“Kenapa aku?”

Aku tahu pertanyaan ini tidak akan berakhir jika aku tidak memberikan jawaban. Baekhyun tidak akan pernah berhenti sebelum ia mendengar jawaban yang akan memuaskannya.

“Karena aku memilihmu.” Baekhyun tersenyum sangat lebar seketika kalimat itu terlontar. Di hadapanku, kini ia tampak seperti lelaki yang kukenal—yang kuberikan seluruh hatiku. Dia masih lelaki dengan kepercayaan diri luar biasa.

Senyum yang terlukis di wajah Baekhyun sangat lebar hingga membuatku kesulitan bernapas. Perutku rasanya seperti diaduk-aduk.

“Baek, bisa kupinjam toilet?” suaraku bergetar hebat. Aku beranjak tanpa menunggu jawaban Baekhyun.

Kubuka pintu ruangan—yang aku tidak diijinkan masuk menurut Miyoung. Persetan dengan cercaan wanita itu yang siap menyambutku, kupikir aku bisa muntah di hadapan Baekhyun, dan itu terdengar lebih konyol.

Setelah menumpahkan isi perutku, aku merasa sangat lega. Kutatap sesosok perempuan di hadapanku. Ia kini tampak bersinar; matanya berbinar, senyumnya sangat lebar dan pipinya merona merah.

Aku tidak tahu bahwa aku masih bisa memiliki perasaan seperti ini lagi; rasa yang mendebarkan dan menyenangkan. Aku bisa saja pergi dari hadapan Baekhyun semenjak detik ketika ia mengabaikan pertanyaanku. Nyatanya aku memilih tetap bertahan, alasannya sangat sederhana: karena aku ingin memiliki perasaan ini lagi.

Baekhyun menatapku dengan kekhawatiran yang jelas di sorot matanya ketika aku keluar. Seketika itu aroma aneh berhambur menyelimutiku. Mataku menjelajah ke seluruh penjuru ruangan. Ada banyak alat aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya. Putih dimana-mana—termasuk Baekhyun yang kini berdiri kurang dari dua meter di hadapanku. Untuk alasan aneh yang tiba-tiba memenuhi otakku, aku takut.

“Baek—” aku benar-benar terpaku menyadari di mana saat ini aku berada.

Baekhyun memotongku dengan senyuman tipis. Dia memangkas jarak antara kami, hanya menyisakan ruang untukku dan dia bernapas. Jemarinya yang panjang membelai lembut pipiku, menyingkirkan rambut dari wajahku. Ia menarikku mendekat, napasnya yang hangat terasa di leherku, ia merengkuhku seolah hidupnya bergantung pada diriku.

Tepat di telingaku, ia membisikkan jawaban-jawaban akan pertanyaanku. Tentang bagaimana lukisan yang kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke dua puluh tergantung di ruangan ini. Tentang bagaimana ia masih mengingat apa yang membuat Lana kalah darinya. Tentang pertanyaan yang tiap malam menghantuiku seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.

Detak jarum jam yang menggantung di dinding memenuhi seluruh ruang, seakan menamparku. Dan aku telah kembali pada kenyataan.

Apapun yang Byun Baekhyun rencanakan, dalam waktu tiga puluh menit itu ia berhasil—ia berhasil menggoyahkanku seperti yang ia inginkan. Kuangkat kepalaku, menatapnya langsung di manik matanya yang memikat. Dan kukatakan semua yang ingin kusampaikan padanya.

“Aku merindukanmu, Baekhyun.”

Kini aku mengerti semua; arti senyum Miyoung, tatapan asing yang dimiliki Byun Baekhyun dan mengapa ia mengabaikan semua pertanyaan konyolku. Meski ia tak pernah ingin aku tahu—

—aku tahu dengan pasti akan kenyataan pahit bahwa aku—mungkin—tidak bisa bertemu lagi dengan Baekhyun entah sebanyak apapun aku menginginkannya.

fin

Hallo! Apa kabar semua? HEHEHE.

I’m back, did anyone miss me? Setelah sekian bulan aku berhenti nulis akhirnya aku bisa nulis lagi, betapa senangnya yay.

Aku tahu pasti banyak kurangnya fict ini. Aku udah baca berkali-kali dan ngerasa ada sesuatu yang hilang tapi gak tau itu apa. Kaku, absurd dan gak jelas T_T Tapi udah gatel rasanya pengen ngisi blog dengan sesuatu yang baru, so, here we go….

Last, aku terima kasih banget buat yang baca dan kasih kritikannya. It means a lot to me 🙂

Advertisements

5 comments

  1. KENAPA HARUS MUNTAH DISAAT ANTI KLIMAKS KU LANGSUNG BACANYA HEEEEEE WKWKWK But hamdallah feelingnya dapet lagi setelah baek menatapnya khawatir huhuhu :’3

    ini ngingetin aku sama ff yang waktu itu jean, kayak keflashback gt awalnya tapi you make your own point jadi aku tetep baca ya ini cerita kamu (ngerti a wkwk) soalnya diksi dan plotnyankan beda jadi wlpn awalnya aku keflashback tapi aku tetep baca ini jeany bgt, gitu ehehehe :”3

    Tapi overall aku tetep sukaaaa, bec baek always be the sweetest even in his worst condition :”)) karakter lana nya juga kuat banget the way she confessed her feeling is really something, she loves him that much.

    Tetep semangat nulisnya author-nim hihi ditunggu ceritanya jeany yang lainnnn ‘ㅅ’ wuff yu!!

    -kisses-

    1. hiiiiiiiiiiiii sweety!!!!!!!!!!!!!!!! tau gak sih kalo disini tuh aku mau matiin baek soalnya dia ruined my life banget gitu huhuhuhuhuhu

      aku kok udah lupa ya sama cerita yang di aff itu wkwk but i love this ephemeral word so much. angsty banget kesannya. dan aku sebenarnya pengen ngubah kisahnya jadi fluff gitu lol soalnya aku udah baca tiga cerita dengan judul yang sama dan semua angst;;;;

      YHA LANA IS ME WHEN SHE LOVES BAEK THAT MUCH YOU KNOW ME LAAAAAAAAAAA. aku sampe sekarang masih bikin karakter dia gak bisa lupain baek jahat sebenarnya hahaha. kamu ngerti kan ya keseluruhan ceritanya? u,u

      anw thanks so much! your comment really really make my day! ditunggu punyamu juga ya<33333

  2. oohhh.. haayyy.. aku kangen banget sama tulisan kamu, jean.
    aku pikir kamu bakal tutup blog ini selamanya.. huhu
    aku rasanya pengen peluk kamu dan bilang makasih karena nulis lagi. btw, yoona putus sama lee seunggi.. aku bahagia bgt denger kabar itu mhahaha *ketawajahat* *salahfokus*
    lana lana lana lana.. kalo aku yg manggil sama ga merdunya kyk baekhyun? haha

Give Your Review!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s